
“Pagi Rio, belum bangun nih?” Kata-kata Sisca dari HP Rio.
“Udah bangun, kan udah bisa ngangkat HP, nuduh aja” Rio agak ketus
‘Yeee, ngedumel pagi-pagi lho, cepet tua.” Ejek Sisca lagi
“Biarin, semua juga akan tua, termasuk situ.” Sahut Rio cuek
“Udah ah, kok pagi-pagi udah sarapannya pedes, udah denger belum, kalo Mega temen kita masuk rumah sakit? Tanya Sisca.
“Emang sakit apa, yang ngasi tau lho siapa ca?” Rio balik tanya.
“Topan yang WA aku, Mega masuk rumah sakit katanya, kalo sakitnya apa aku belum tahu.” Jawab Sisca.
“Wah, kita bisa besuk nggga, kondisi pandemi gini serba susah kalo udah urusan sakit.” Jawab Rio.
“Ya deh, aku cari tahu dulu info-infonya ya.” Sisca memberi saran.
Mega adalah teman sekelas mereka. Mega anak perempuan yang bertubuh agak gendut. Dia sering kali menjadi bahan bulian teman-teman sekelasnya.
__ADS_1
Matahari pagi itu terasa lembab, akibat hujan lebat semalam. Bekas-bekas pasir yang hanyut akibat sapuan air banjir yang coklat semalam. Sampah-sampah berserakan seperti seperti memberontak dari sapuan air yang menghanyutkan.
Dalam ruang sal rumah sakit. Di atas pintu kamar tertulis R. Melati 04. Mega terbaring diatas ranjang dengan belitan tali selang infus. Matanya terpejam.
“Mega...” Suara lirih mengharuskannya untuk membuka mata. Sisca telah duduk di sampingnya. Masker penutup mulutnya menghalau suaranya yang biasanya nyaring.
“Hey Sisca, udah lama ya?” Tanya Mega perlahan. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya.
“Udah ngga usah bangun Ga, tduran aja.” Kata Sisca melarang sahabatnya agar tidak bangun dari berbarig.
Mega tak kuasa menahan air matanya yang mengalir menyelusuri lekung mata dan pipinya. Sisca segera menyekanya dengan tisu.
“Aku sedih Ca, aku...” Mega tak kuasa menahan tanngisnya. Perempuan memang begitu. Terlalu banyak air mata.
“Mengapa kamu lakukan itu teman?” Sisca bertanya.
“Kamu menyiksa diri Mega. Brsyukur saja ya!” Imbuh Sisca. Mega mengangguk sambil mengusap matanya yang lembam akibat genangan air mata.
“Aku malu Ca, malu dengan tubuh ini.” Mega terbata.
__ADS_1
Sisca menggeleng tersenyum tangannya kembali mengusap pipi temannya.
“Kamu malu dengan anugerah Tuhan Ga? Kamu malu karena tubuh kamu begini? Maaf teman, kamu salah, aku bersahabat denganmu tidak pernah mempermasalahkan tubuhmu kan? kami sayang kamu, sayang sekali.” Sisca menyemangati temannya.
“Aku malu, aku sering dikata-katain...” Mega masih membendung beban dalam dadanya.
“Ya, aku tahu, tapi kami-kami tidak pernah menghinamu bukan? Aku, Rio, Topan, Anto... semua sayang kepadamu bukan?” Sisca mengenangkan.
“Ya, Ca, tapi yang lain...” Jawab Mega sambil kembali menyeka air matanya.
“Tidak usah kau siksa tubuhmu, jika kamu ingin diet, bukan berarti harus menyiksa diri begini. Kamu tidak bahagia bersahabat dengan kita? Berbahagialah teman. Berbahagia itu sangat sederhana.” Sisca mengurut-urut kaki sahabatnya.
“Penampilan itu bukan yang utama Ga, persahabatan kita adalah anugerah, yang semestinya kita syukuri.” Sisca menyemangati Mega.
“Maafkan aku Ca!” Mega mengambil tangan Sisca.
Sisca menggenggam tangan Mega.
“Kita akan selalu bersama Ga. Kita masih harus belajar, masa depan kita masih panjang. Hidup bukan hanya masalah penampilan. Cantik, sexy, hanya masalah hati. Kamu setuju kan?” Sisca mengusap rambut Mega. Mereka berangkulan. Mega tak kuasa menahan air mata. Siscapun mengurut-urut punggung Mega.
__ADS_1