
Embun pagi belum tanggal dari dedaunan yang memeluknnya dari kenangan malam. Walau matari telah menyeluapkan rona kemerahan diufuk timur. Kicau burung meramaikan suasana hutan hingga para dedemit masuk dalam peraduannya.
“Adik-adik, sudah pagi, mari silahkan mandi di sungai boleh, di kamar mandi belakang juga boleh.” Atum telah bersimpuh pada ujung kaki tiga pemuda yang masih terbelit selimut, dan episode mimpi mereka masing-masing belum juga dibumbuhi kata “bersambung” atau “tamat”. Rio yang mendengar kata-kata Atum segera membukakan matanya. Terlihat samar-samar dari mata Rio, Atum yang tersenyum menyapa di pagi itu. Rio masih teramat kantuk. Hampir sepanjang malam ia tak dapat pejamkan mata seperti kedua temannya, Anto dan Topan.
“Makasi bu.” Jawab Rio membalas keramahan tuan rumah yang telah berbaik hati kepadanya. Rio bergegas bembangkitkan tubuhnya. Ia lihat Anto dan Topan masih terkunci matanya.
“Hei sudah siang bangun!” Tegur Rio. Tapi keduanya tak ada tanda-tanda setuju untuk bangun. Tetap dengan dengkuran yang nyaman.
Rio teringat dengan Ibu Ruscita dan Sisca. Segera ia menghampiri kamar mereke dan mengetuk pintunya.
“Pagi Ibu!” Sembari tangan Rio mengetuk pintu kamar tempat Ruscita dan Sisca tidur. Tak ada jawaban. Berkali-kali Rio menggedor pintu, tapi tak kunjung ada jawaban. Rio memberanikan diri menekan hendel pintu dan mendorongnya agak keras.
“Breekkk.” Pintu terbuka. Jantung Rio sedikit berdegup melihat pemandangan dihadapannya. Segera ia hampiri ranjang tempat Bu Ruscita dan Sisca terlelap. Rio perbaiki daster Bu Ruscita yang tersingkap dan kembali menyelimutinya. Perasaan tidak enak bergemuruh dalam dada Rio.
“Ibu, Ibu, sudah siang ibu, bangun bu, Sisca, hallo sis!” Rio bersuara agak keras, tapi tak mendapat respon dari saraf-saraf telinga kedua wanita itu. Rio memberanikan diri mengguncang bahu Ruscita.
“Ibu, bangun ibu, sudah pagu bu.” Rio mengguncang-guncang bahu Ruscita. Ruscita agal menggeliat. Namun matanya tetap terpejam. Rio memutuskan keluar membangunkan dua sahabatnya.
“Hei kamu bangun!” Teriak Rio. Kedua sahabatnya tidak juga segera bangun.
“Sial. Pasti ada sesuatu yang tidak beres disini.” Rio segera memanggil Atum.
“Ibu, Ibu, Ibu pemilik rumah, dimana kau?” Teriak Rio.
“Ya dik, ada apa nih, kok teriak-teriak?” Tergopoh atum datang menghampiri Rio yang mulai panas hati.
“Suami ibu dimana?” Rio sedikit membentak.
“Anu dik, bapaknya sudah keluar dari subuh tadi dik, belanja buat makan kita.” Jawab Atum sedikit gugup dengan Rio.
“Ibu kenapa gugup?” Desak Rio.
“Sa, Saya ngga bisa dibentak dik, saya takut.” Atum semakin gugup.
“Oh maaf bu, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membentak ibu. Maafkan saya ya bu. Ini teman-teman saya tidak ada yang bangun, sudah saya bangunkan. Bahkan Ibu Ruscita juga belum bangun jam segini. Setahu saya, Ibu Rus ini guru saya yang paling rajin, ngga mungkin bangunnya kesiangan begini.” Rio nyeroscos dan sedikit emosi dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
“Mung, mungkin mereka capek.” pungkas atum.
“Aku juga capek bu, tapi tidak segitunya. Rio menduga-duga, ada sesuatu yang telah dilakukan oleh Pak Pajo terhadap mereka. Rio masih ingat betul kelakuan Pak Pajo terhadap Ibu Ruscita dalam kamar tadi malam. hatinya mendidih. Geram, namun ia belum mau menceritakan kepada siapapun. Ia harus mendapatkan bukti yang kuat untuk mengungkap hal itu.
“Teh yang dibuat Pak Pajo kemaren malam masih ada bu?” Tanya Rio kepada Atum.
“Teh? Saya tidak tahu dik. Saya tidak tahu kalo suami saya membuat teh tadi malam. Saya ketiduran dik.” Jelas Atum dengan tetap sedikit gugup. Rio mondar-mandir dihadapan Atum. atum tertunduk dan sesekali melirik tingkah Rio.
“Coba saya bangunkan ya dik?” Atum langsung masuk ke kamar Ruscita dan Sisca.
Rio masih dengan muka yang menahan amarah. Hatinya berkecamuk. Hal yang membuat hatinya curiga. Tapi curiga tentang apa. Rio kembali menghampiri kedua sahabatnya yang masih terlentang dengan nikmatnya.
“Heiiii, bangun! Bangun! Bangun!” Teriak Rio. Topan menggeliat dan mulai membua matanya.
“Bangun kau pemalas!” Hardik Rio agar sahabatnya marah dan segera bangun.
“Aduh, aku lemas sekali, rasanya tak bisa membuka mata.” Suara Topan sangat lemah.
“Hei bangun!” Teriak Rio lagi.
“Biasanya kalian jam berapapun tidur, pagi sudah pasti bangun, mengapa sekarang susah?” Rio sedikit berteriak-teriak.
“Ada apa Rio?” Ruscita dari pintu kamar mau menghampiri Rio. jalan Ruscita agak sempoyongan. Ia berusaha berjalan normal, tapi kakinya lemas. Lemas sekali. ia pegang kening dan kepalanya. Berjalan menghampiri Rio.
“Ibu kenapa?” Rio bangkit dan langsung meraih tubuh Ruscita gurunya yang sempoyongan.
“Ada apa ini semua?” Gerutu Rio. Terlihat atum keluar dari kamar Ruscita dan langsung menuju kamar belakang.
“Ibu kenapa dengan ibu?” Rio menggoyang-goyang tubuh Ruscita yang dipeluknya.
‘Kepala ibu pening nak. Ibu sempoyongan.” Ruscita memegang keningnya. tubuhnya masih disangga oleh Rio muridnya. Dipapahnya tubuh gurunya oleh Rio menuju bangku memanjang dekat dinding kamar.
“Duduk ibu, menyender kalau masih pusing!” Bimbing Rio.
“Ibu tunggu sebentar ya. Saya keluar sebentar.” Jelas Rio. Tubuh gurunya ia sandarkan pada dinding kamar. Ruscita pasrah. Rio kemudian keluar. Beberapa saat kemudian ia datang dengan membawa setandan kelapa muda berwarna hijau. Rio kemudian membuka sebuah kelapa itu.
__ADS_1
“Ibu, minum air kelapa ini bu!” Suruh Rio pada Ruscita. Rio membimbing kelapa muda itu pada bibir gurunya. Ruscita berusaha menegak air kelapa itu.
“Och, makasi Rio.” Suara Ruscita. Matanya tetap terpejam. Rio kembali membuka beberapa kelapa itu dan memberikan kepada semua sahabatnya satu persatu.
Rio duduk dihadapan mereka yang semuanya lemas. Tetapi telah tersadar.
“Rio, kamu dapat darimana kelapa itu?” Ruscita bisa sedikit menumpulkan tenaga, menoleh pada Rio, namun tubuhnya masih tersandar di dinding kamar.
Di luar ibu, entah milik siapa. Untung ada pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi bu.” Jawab Rio.
“Kenapa kita kayak mabuk ya?” Kata Anto yang sudah mulai membaik, tapi masih menata nafasnya.
“Kalian memang mabuk. Terbius tepatnya.” Sergah Rio.
“Terbius?” Ruscita sedikit meyakinkan dengan pertanyaan. Perasaanya memang menyatakan kalau dia terbius sejak tadi malam. Tapi belum yakin dengan keadaan.
“Apa ibu tidak merasa demikian?” Tanya Rio.
“Iya nak, Tubuh ibu terasa lemas, lemas sekali.” Jawab Ruscita. Ia teringat ketika ia juga merasakan hal yang sama ketika ia tidur ketika dirampok dulu. Tubuhnya lemas hingga ia dibangunkan oleh Pajo. Pajo yang sudah berada dalam kamar membuat perasaan Ruscita sedikit terganggu. Tapi kejadian kemaren mengelabui rasa lemasnya ketika itu.
“Ibu minum teh yang dibuatkan Pak Pajo kemaren malam?” Tanya Rio pada Ruscita.
Ruscita mengangguk dan merasakan ada hal aneh. Dulu juga sempat dibuatkan teh oleh Pajo ketika akan tidur. Paginya terasa sangat malas untuk bangun. Seperti terbius.
“Tapi nak!” Ruscita memegang tangan Rio.
“Aku mengerti bu.” Rio menatap Ruscita.
“Aku tidak akan berbicara apa, sebelum tujuan kita disini selesai. Tapi kalau bisa kita harus selesaikan tujuan kita hari ini juga, kemudian kita kembali pulang.” Terang Rio
Semua terdiam. Tiada yang mengerti. mereka saling pandang. Sisca datang dari kamar dan langsung duduk di samping Ruscita, dan menyandarkan kepalanya pada dada Ruscita. Ruscita mengelus kepala Sisca.
“Aku lemas sekali bu.” Kata Sisca.
Aku buat mie ya bu, untuk sarapan kita.” Jelas Rio sembari mendekati tas ransel yang terongok di pojok ruangan. Atum datang dengan membawa minuman hangat dan mempersilahkan tamunya untuk minum. Rio mengeluarkan peralatan kemahnya. Atum kembali kebelakang. Semua saling pandang dan berusaha membersihkan sisa-sisa misteri tadi malam.
__ADS_1
......Hallo para readers 💚✨ Gimana ceritanya? Komen ya🤗 Jangan lupa like, komen and vote💚✨ Thank you readers 💚✨......