Hidrokarbon

Hidrokarbon
Flashdisk


__ADS_3

Pada jalan berliku, dari Rumah Swarnita, Ibu Ianti membonceng Ruscita, roda motor meticnya berputar perlahan sekali. Tikungan dan tanjakan membuat ibu-ibu itu sedikit pelan menstarter motornya. Jalan yang rada licin akibat gerimis menambah tantangan bagi kedua guru itu. “Brakkkk...” Gelap tak terasa apa. kedua tubuh wanita itu hilang keseimbangan. Keduanya telah kehilangan kesadaran. Sebuah motor metic tergeletak dipinggir jalan. Hujan kian melebat...


“Halo ibu-ibu, sudah pada bangun ya?” sosok gempal bercadar mengusik pipi Ruscita. Ruscita belum sadar betul apa yang sedang dialaminya. Ia coba buka matanya walau kepalanya terasa pusing. Samar-samar ia bisa kuasai keadaan.


“Ibu Ian?” Ruscita ingat kepada teman seprofesinya. Ruscita terus meronta hingga ia sadar kalau-kalau tangannya terikat. Tubuhnya terasa sakit sekali. Ia lihat tubuh Ianti terkolek disampingnya. Masih tak sadarkan diri. Tangannya pun terikat.


“Ibu...” Teriak Ruscita. Hatinya berdebar. Ketakutan tiada terkira. Ia menangis.


“Hey, jangan teriak-teriiak! kalau mau selamat jangan ribut. Kami bisa saja habisi nyawa kalian.” suara membentak membuat ciut nyali Ruscita. Ia menggigil. Terlihat olehnya tiga laki-laki bercadar sedang mengawasi mereka. Ruscita menggigil ketakutan.


“kamu boleh singkirkan wanita itu dulu. aku akan bersenang senang dengan guru cantik ini dulu.” kata salah seorang dari mereka. Ruscita dadanya bergetar. Dua laki-laki itu selanjutnya membopong tubuh Ianti, entah dibawa kemana.


“Kamu jangan takut bu guru! Santai saja. Kami tak ingin apa-apa. Dan kami tak ingin menyakiti kamu, he he he...!” Laki-laki itu berdiri berkacak pinggang di hadapan Ruscita. Ia masih tak paham dengan keadaan dan dengan siapa ia berhadapan. Pikirannya kacau. Ia takut sekali akan disiksa atau dibunuh.


“Kami hanya ingin kamu bersedia memberikan hasil uji coba yang dilakukan oleh kamu dan murid-murid kamu tentang Hidrokarbon itu! Bersedia? Kamu aman. Kamu juga harus mencabut kalau uji coba itu bukan dari kalian! paham?” lelaki itu mengambil dagu Ruscita. Ruscita semakin menggigil. jantungnya kian tak menentu degupnya.


“Ayo serahkan!” Lelaki itu semakin memaksa. Ruscita semakin lemas, dan....


Petir menggelegar sangat keras. Ruscita terbangun. Lama ia tak sadarkan diri. Ia sangat ketakutan. Lelaki yang membentaknya kini sudah dilihatnya kembali. Ia kumpulkan segala kekuatannya.


Ibu Iantiii, Ibu...Ibu Ian...” Ia panggil-panggil temannhya. Namun tak ada yang menyahut.

__ADS_1


Ia meronta berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Dan akhirnya bisa walau tangannya terasa sangat sakit dan panas. Ia bangkit dan berlari keluar ruangan. Hari telah gelap. Ia tak tahu di mana lokasi itu.


“Ibu Ianti...” Ia terus memanggil temannya. Ia telusuri jalan didepannya. Ia terus berlari menelusuri jalan tanah, entah mengarah kemana. Ia belum tahu tempat itu dimana.


Hingga akhirnya ia sampai pada pinggir jalan beraspal. Ia terus berlari mencari walau gelap menyekapnya. Sebuah cahaya lampu terlihat dari kejauhan. Ruscita terus bergerak menuju cahaya itu. Dan akhirnya ia sampai pada sebuah pekarangan rumah.


“Permisi, permisi...” Ruscita terus mengucap kata itu. Berharap ada yang keluar dari rumah tersebut.


“Ya, siapa?” sahut seorang perempuan dari dalam kamar rumah. Pintupun terbuka dan keluar seorang perempuan paruh baya sambil memperbaiki kain yang ia gunakan. Kegelapan membuat perempuan itu harus berusaha keras mengenali suara dari depan gerbang pekarangannya.


“Siapa ya?” perempuan itu bertanya sambil mendekati Ruscita yang telah basah kuyup oleh air hujan.


“saya bu, saya Ruscita.” jawab Ruscita.


“Maaf bu, saya mengganggu, saya tidak tahu jalan, saya tidak tahu ini dimana. Saya habis kerampokan bu, tolong saya.” Ruscita menangis dihadapan perempuan itu.


“Ya, ya, waduh, Bapak, Bapak bangun dulu pak!” perempuan itu memanggil suaminya.


“Ya, ya, ada apa bu? Lho siapa ini?” suami perempuan itu bingung.


“Saya Ruscita pak, saya tak tahu jalan pulang. Saya habis dirampok.” Jawab Ruscita.

__ADS_1


“Waduh, dirampok?”Laki-laki itu makin terkejut.


“Bu tolong kasih baju dan selimut dulu, kasihan.” Suruh lelaki itu pada istrinya. Istrinya segera mengajak Ruscita kedalam kamar. Lelaki itu melihat-lihat kedepan pekarangannya.


“Silahkan diminum dulu air hangatnya bu! Maaf kalo pakaiannya kurang nyaman. Hanya itu yang ada.” perempuan yang menolongnya itu menyuguhkan secangkir air jahe hangat. Setelah Ruscita mandi dengan air hangat dan berganti baju. Pikirannya masih tiada menentu.


“Terima kasih banyak bu, pak, saya harus membalas dengan apa kebaikan ibu, bahkan saya juga belum tahu, ibu dan bapak siapa.” Ruscita menahan debaran jantungnya yang masih tiada menentu.


“Kami tidak meminta balasan atas semua ini bu. Saya Pajo dan ini istri saya Atum. Kami sudah sepuluh tahun didaerah ini, maklum kami tak punya apa-apa. jadi kami mondok disini, didaerah larangan ini.


“daerah larangan?” Ruscita terkejut.


“Iya, hutan belantara. tiga kilometer ke timur baru ada desa. Ibu darimana dan hendak kemana?” Pajo bertanya kepada Ruscita. Ruscita masih belum bisa berkata-kata. Ia ingat temannya Ibu Ianti, entah dimana temannya itu sekarang.


“Saya Ruscita pak, bu. Saya Guru di SMANCERIA Kota. saya dari menengok salah satu murid yang akan menerima beasiswa, dijalan saya dicegat, saya lupa dan tak tahu apa yang terjadi, hingga saya sudah sadar dan tangan kami diikat. Satu teman saya entah dimana sekarang.” Ruscita menjelaskan.


“Waduh, jauh banget itu bu, kotanya.” Pajo keheranan.


“Kita harus berjalan tiga kilo dari sini menuju desa sebelah, dari sana baru ada angkot menuju kota.” Sela Atum.


“Terimakasih pak, bu, saya sudah merepotkan kalian.” Ruscita menunduk.

__ADS_1


Hari kian malam, Ruscita tiada bisa memejamkan matanya, ia terus teringat dengan Ianti teman di sekolahnya. Tas yang diambil perampok juga membuatnya berpikir. segalanya didalam tas itu. Termasuk Flashdisc yang berisikan hasil penelitian kimianya bersama murid-murid kesayangannya.


“Flashdisc itu, dalam tasku.” Ruscita bergumam dalam hatinya. Lampu templek yang menyala didinding kamar kian meredup. minyaknya kian menipis, dan akhirnya....


__ADS_2