
“Ya pak, saya menyesal, saya tidak akan mengulangi lagi. Saya ingin belajar kembali pak ke sekolah seperti sediakala, saya kangen dengan bangku sekolah, saya kangen dengan guru-guru saya..” Rio tertunduk dihadapan penyidik dari Polres.
‘Baik, saya akan sampaikan penyesalan ini, semoga saja yang kamu hina itu bisa memaafkan kamu.” Tim penyidik menyudahi tugasnya.
Rio menatap langit dari halaman Rutan. Biru sekali langit sore itu. Kepala penatnya ia serahkan pada awan-awan yang bergentayangan mengeroyok birunya langit. Hendak berebut menutupi birunya langit, dengan warna kelam putih menghitam.
Awan-awan itu terus bergerak hendak menguasai langit. Seperti bersuara sumbar bahwa, merekalah langit, karena mereka diatas. Diatas karena merangkak menguap dari air laut yang biru. Awan itu berkelakar, bahwa mereka juga biru sebiru langit waktu di laut.
Rio teringat kata-kata bu Ruscita. Jangan sia-siakan waktumu.
“Terima kasih bu, aku akan selalu ingat ibu. Kau bahkan lebih baik dari ibu aku yang melahirkan aku. Perhatianmu membesarkan aku, mendewasakan aku, entah karena apa bu.” Bisik hati Rio mengenang masa-masa sekolah dulu. Pandemi ini mengubah segala yang biasa menjadi kebiasaan yang baru. New normal.
“New normal, ach aku juga harus menjadi anak yang baru. Anak yang mampu berbuat terbaik untuk banyak orang, paling tidak, untuk masa aku saat ini. Aku sadar, dulu aku masih sangat anak-anak. Cari perhatian sana-sini, Ngga mau belajar, suka bolos. Ach, aku ingin berubah, aku harus berubah. Untuk hidup aku.” Rio tersenyum dalam hatinya. Bibirnya terlihat melengkung keatas. Ada harapan baru dalam hidupnya.
“Rio, ada yang mau bertemu kamu.” Penjaga berkata kepada Rio.
Rio diantar ke tempat menerima kunjungan.
__ADS_1
“Hai Rio, Kamu baik-baik Rio?” Beberapa teman sudah ada di tempat menunggunya.
“Wah kalian, susah-susah kemari, ngapain?” canda Rio.
“Bukan susah-susah, kami kangen kamu Rio. Ternyata kenakalan kamu membuat kami rindu, ha ha ha.” Topan mulai dengan candaannya. Anto pun ikut tertawa.
“Kami berdoa, agar kamu cepat dibebaskan.” Celetuk Sisca.
Rio tersenyum haru. Topan dan Anto pun terharu. Mereka merasakan bahwa pertemanan mereka sampai saat ini sangat kuat.
“Ya terima kasih semuanya.” Rio menjawab lemah.
“ Ya Rio, setelah ini kita akan bersama lagi, dengan tatanan yang baru, dengan cara hidup yang baru.” Anto menambahkan.
“Kamu yang sehat dan rajin berdoanya ya!” Sisca menekankan, memandang Rio dengan rasa yang teramat dalam, penuh harap dan Sisca merasakan ada perubahan besar dalam diri Rio.
“ Kalian semua, kawan-kawan aku yang terbaik. Aku berterima kasih pada kalian.” Rio memandangi teman-temannya satu persatu.
__ADS_1
“Berterima kasihlah pada Bu Ruscita Rio, dia wali kelas kita yang kita sayangi. Beliau gigih membantu kita sebagai muridnya. Beliau tulus. Tulus mendidik kita.” Sela Sisca.
“ Ya, Sis. Akupun baru menyadarinya. Ternyata Bu Rus, tidak saja sebagai guru mata pelajaran Kimia kita saja, beliau juga membimbing hati kita, membimbing kita untuk menjadi pemuda yang berguna.” Anto menambahkan dengan pandangannya.
“ Ya Kawan-kawanku, akupun kini telah tersadar. Ada hal penting yang harus kita siapkan mulai saat ini. Selama ini, kita hanya melakukan hal-hal yang biasa, bahkan menganggap semua tanpa guna. Ternyata, hidup ini adalah persoalan yang harus kita pelajari. Tidaj gampang menjadikan sesuatu sebagai pelajaran, karena kita hanya sibuk mencari kepuasan diri saja.” Rio dengan lancar memaparkan pandangan filsuf itu. Ketiga temannya saling pandang. Mereka heran dan tiada menyangka.
“Bila tidak bisa jadi pohon cemara diatas bukit,jadilah belukar di lembah yang menghias parit, jadilah perdu, bila tak bisa jadi pohon. Bila tak mampu jadi perdu, jadilah rumput, yang menghias pinggir jalanan.” ha ha ha, itu aku kutip dari buku kawan-kawan. Buku Dale Carnegie yang mengutip syair dari Douglas Mallock.” Rio tertawa girang.
Topan dan Anto ternganga, saling pandang, bingung, tak mengerti. Sisca tersenyum haru, dan matanya berkaca-kaca.
“Kamu sudah berubah Rio, kamu hebat. Aku bangga menjadi kawanmu.” Sisca mengerlingkan air mata, dan dengan segera ia seka dengan jari manis tangan kirinya.
“Kita wajib berubah kawan, kita memang harus berubah. Masalah ini, Pandemi ini adalah pelajaran untuk kita semua. Kita harus berubah menjadi yang lebih baik. Berubah untuk memertahankan hidup kita.” Rio melanjutkan.
“Kalian sekarang pulanglah, aku yakin semua akan baik-baik saja.”
Sisca lalu memegang pundak Rio. Topan dan Anto tersenyum haru.
__ADS_1
New Normal memberi tatanan baru dan menjadi peradaban baru manusia.