Hidrokarbon

Hidrokarbon
noot...noot...noot


__ADS_3

“Jangan macam-macam kamu! aku laporkan Polisi!”


“Mba, Rus, Mba Rus bangun, udah pagi.” Pak Pajo membangunkan Ruscita dari tidurnya.


“Och Bapak, maaf pak, saya...” Ruscita ngosngosan lepas dari mimpi buruknya.


“Mba mimpi ya?” Tanya Pak Pajo.


“Mmm yach pak, saya mimpi buruk.” Jawab Ruscita.


“Silahkan mandi dulu, Atum sudah siapkan sarapan.” Suruh Pak Pajo. Matanya tak berkedip sedikitpun melihat Ruscita memakai daster istrinya.


“Ya Pak makasi.” Ruscita bergegas turun dari ranjang dan keluar kamar. Ia risih dengan keberadaan Pajo dalam kamarnya. Memang pintu kamar tak ada kuncinya. Kemarin malam udara sangat dingin, lampu tempel kehabisan minyak. gelap gulita dalam kamar. Ruscita sangat lelap dalam tidurnya. Mungkin karena selimut yang diberikan begitu hangat


Dalam kamar mandi Ruscita membersihkan tubuhnya. Ada sedikit keanehan dalam liang pribadi yang ia rasakan. Sangat licin dan terasa perih. Mungkin akibat kemaren berlari-lari tengah malam pikirnya. Segera ia basuh tubuhnya dengan air, terasa teramat dingin.


“Mari Mba silahkan, sekedarnya untuk mengganjal perut, hanya ubi yang bisa saya sediakan.” Atum dan Pajo telah duduk di meja makan sederhana.


“Makasi bu pak, saya sudah merepotkan bapak.” Jawab Ruscita. Hatinya sedikit tidak enak melihat Pajo yang tersenyum-senyum tipis. Lelaki yang baru berumur lima tahun lebih tua darinya itu seperti memiliki niat-niat yang kurang ajar padanya. Tapi itu hanya dugaan. Ruscita masih trauma dengan kejadian kemaren. Ia takut kembali disekap dan tak tahu apa-apa disebuah tempat yang teramat asing baginya. Kini yang ia pikirkan bagaimana ia bisa pulang dan bertemu dengan teman-teman. Bahkan temannya Ibu Ianti yang ia tak tahu nasibnya dari kemaren dibawa oleh dua lelaki bercadar.


“Saya harus pulang bu pak, tapi saya tak punya apa-apa, tas saya hilang diambil para perampok.” Ruscita berkesah kepada Atum dan Pajo.


‘Tenang saja Mba, saya punya sedikit uang untuk ongkos, nanti juga saya yang akan mengantar Mbak ke Desa seberang. Ya kan tum?” Pajo tersenyum pada istrinya.

__ADS_1


“Iya mba, ngga usah sungkan-sungkan.” Tambah Atum.


Ruscita tersenyum tipis. Ada perasaan malu dan sungkan karena telah merepotkan orang yang baru saja kenal dengannya dan telah menolongnya malam tadi. Tapi ada rasa kurang enak dari tatapan mata Pajo terhadapnya. Entahlah naluri atau hanya prasangka saja.


Setelah sarapan, Ruscita dan Pajo berjalan menuju desa tempat mencari angkot yang akan mengantarkannya pulang ke kota tempat tinggalnya. Jalan setapak yang hanya cukup untuk satu orang melintas membuat Ruscita salah tingkah karena Pajo yang dibelakangnya seperti memperhatikan setiap lekuk tubuhnya. Pakain Atum yang ia kenakan membuatnya semakin tak memberinya ruang untuk berbuat apa. Terlalu banyak berhutang dengan pasangan suami istri dalam hutan itu.


“Mba pantes banget memakai pakaian Atum, malah lebih cantik.” Pajo berkelakar dibelakang Ruscita. Mendesir dada Ruscita mendengar candaan Pajo. Rasa risih membuatnya sedikit lambat memberikan jawaban.


“Oh, ach bapak ada saja. terima kasih pak, saya berhutang budi sama bapak dan ibu.” Ruscita merespon dengan sangat sopan.


“Ngga apa to mbak, sudah kewajiban, sesama saling membantu. Nanti kapan-kapan saya akan ke tempat mba, untuk bermain, boleh kan mba?” sambung Pajo.


“Ya pak, mmm boleh pak, sama ibu ya?” Ruscita agak canggung.


“Bapak bisa aja.” Jawab Ruscita.


“Mba di kota tinggal sama siapa?” Tanya Pajo lagi. Ruscita tak segera menjawab. Ia sadar kalau dirumah ia hanya sendiri setelah suami dan anak-anaknya pergi keluar negeri empat belas tahun yang lalu.


“Oh, saya, saya bersama keluarga pak.” Ruscita agak tersendat menjawab.


Hampir Dua setengah jam mereka menyusuri jalan setapak, akhirnya sampailah mereka disebuah terminal angkot desa. Ruscita dengan petunjuk Pajo akhirnya naik ke angkot. Ruscita melambaikan tangan dan ada Pajo. Pajo membalas. Mata Pajo tak lepas dari angkot yang bergerak malu hingga tubuh Pajo hilang dari pandangan Ruscita oleh sebuah tikungan tajam. dalam perjalanan diangkot yang penuh sesak oleh penumpang yang kebanyakan para petani yang membawa hasil kebun untuk dijual. Pikiran Ruscita melayang mengenang hari kemaren. tak pernah terbayang olehnya, ia dirampok, disekap, entah oleh siapa. Bagaimana ia harus mengungkap peristiwa ini. Belum lagi kabar Ibu Ianti yang sampai saat ini ia belum ketahui. Ingin sekali ia segera sampai dirumah dan bisa menghubungi Ibu Ianti.


Para penumpang banyak yang terlelap oleh goyangan angkot melintasi jalan-jalan berliku. Ruscitapun akhirnya ikut lepas dari ingatan, mengikuti mimpi yang tiada pernah orang mengerti.

__ADS_1


Hiruk pikuk suasana terminal kota membangunkan para penumpang. Ruscita menyerahkan uang kepada kenek dan langsung menuju pangkalan ojek. Saah satu ojek langsung memboncengnya menuju alamat rumahnya.


Di depan rumah, Ruscita kebingungan karena kunci pagar, kunci rumah dan semuanya ada pada tas yang diambil entah oleh siapa yang telah menyekapnya kemaren.


“Waduh, aku harus bagaimana nih?” Ruscita kebingungan di depan rumah. Tetangga rumah yang melihatnya langsung membantu membukakan gembok gerbang rumahnya. Walau gembok harus dipukul dengan linggis. Pintu rumah juga dibobol pake linggis. Apa boleh buat. Tetangganya pada heran kemana Ruscita meninggalkan kunci rumah. Tapi mereka percaya saja dengan penjelasan Ruscita.


Ruscita segera mengambil HP yang ada di rumahnya, segera ia hubungi nomor Ibu Ianti.


“Hallo...” Suara jawaban dari HP Ibu Ianti.


“Ya ibu, Ibu Ian dimana?” Ruscita tergesa bertanya.


“Ini siapa?” Tanya balik dari HP


“Saya Rus bu, oh ya saya bicara dengan siapa ya?” Ruscita gemetar


“Saya Ana mbak, Putri Ibu Ianti, Ibunya lagi opname di Rumah Sakit, Kemaren kecelakaan pulang dari kerja.” Jawab dari HP. Ruscita tak berkutik. Ia tak hiraukan lagi HPnya. Bergegas ia ke kamar mandi dan berganti pakaian. Tak berselang lama Ruscita pun meluncur menuju rumah sakit.


“Ibu Ian?” Ruscita melihat Ibu Ianti tubuhnya penuh dengan kabel. Nada noot..noot... mesin pada ruangan ICU.


Ibu Rus? seorang lelaki yang menjaga Ibu Ianti menyapa Ruscita.


“Ibu kenapa pak?” tanya Ruscita pada suami Ibu Ianti. Katanya kecelakaan dijalan bu, kemaren sedatang dari menengok seorang siswanya. Entah tertabrak atau jatuh sendiri. Untung ada orang yang menemukannya dalam selokan. Ruscita tak kuasa harus bicara apa. Karena ia tak mengerti apa yang telah menimpanya bersama Ibu Ianti. Ruscita diam. Hanya dia dan Ibu Ianti yang bisa menjelaskan semuanya. Karena kalaupun harus diceritakan. Apa yang harus diceritakan. Ruscita menangis disamping tubuh yang penuh kabel dan suara noot..nooot..noot. ICU rumah sakit

__ADS_1


__ADS_2