Hidrokarbon

Hidrokarbon
Sama Namun Beda Rasa


__ADS_3

Tiga minggu telah berlalu. Peristiwa yang belum dipahami dan dimengerti oleh Ruscita. Ianti belum pulih benar dari sakit akibat kecelakaan. Entah apa yang membuat Ruscita bisa selamat dari kecelakaan itu, sedangkan Ianti badannya babak belur akibat jatuh dari motor yang mereka kendarai.


“Maaf bu, apa yang telah terjadi dengan ibu dan ibu Ianti?” Tanya Rio.


“Ibu belum mengerti juga nak, hujan agak gerimis serta tiba-tiba seperti ada yang menyergap kami berdua. Entah apa yang membius kami, kami hingga tak sadarkan diri. Ibu baru sadar setelah beberapa orang yang bercadar membangunkan ibu. Ibu ketakutan sekali, setelah mereka meminta penelitian kita, mereka mengambil tas ibu. Ibu Ianti dibawa oleh dua orang laki-laki bercadar. Ibu sudah ketakutan sekali. Ibu kembali tak sadarkan diri. Hingga keadaan sepi dan Ibu bisa keluar dari ruangan itu. Hari sudah gelap. Ibu ketakutan, dan terus berusaha menelusuri jalan setapak. Dan akhirnya bisa sampai pada sebuah pondok milik Pak Pajo dan istrinya.” Ruscita menghela nafas.


“Dimana tempat itu bu?” Tanya Sisca.


“Kata Pajo, Desa Selingsing tempat ibu naik angkot, tapi Pajo tinggal di lereng Gunung Sengenge, dalam hutan. Yang membuat ibu tak mengerti, ibu dan Ibu Ianti pingsan selama hampir 4 jam. Karena sepulang ibu dari Desa Selingsing memakan waktu dua setengah jam, sebelum samapai desa ibu berjalan hampir dua jam juga dari rumah Pajo.” Ruscita mengenang.


“Apa perlu kita kesana lagi bu? Saya bersama beberapa teman akan menemani ibu kesana. Gimana bu?” tanya Rio.


“Ibu minta ijin sama Bapak Kepala Sekolah dulu ya? Tapi masalah ini ibu hanya bercerita kepada kalian berdua saja. Ibu susah dan hampir tak punya bukti untuk menyatakan bahwa ibu kerampokan. Kejadiannya sangat cepat dan hampir tak bisa dijadikan bukti. Hanya tas ibu yang hilang.” Jelas Ruscita.


“kami siapkan mobil dan perbekalan bu, siapa tahu kita harus menginap di daerah itu.” Usul Rio.


Ruscita dan Sisca setuju.


“Aku akan ajak Topan dan Anto juga ya bu?” Tanya Rio lagi.


Ruscita mengangguk.


Hari itu setelah pertemuan di sekolah, Ruscita kembali menjenguk Ianti ke rumah sakit.


hari masih diselimuti misteri. Misteri yang tiada mampu untuk dijelaskan. Hanya dirasakan, itupun hanya Ruscita yang merasakan. Ianti belum bisa diajak untuk berbincang. Tubuhnya masih lemas, walau telah sadar. Dokter masih membatasi agar jangan dulu mengajak Ianti berbincang-bincang.


“Ibu sudah siap?” Tanya Sisca kepada Ruscita.


‘Iya nak. Ingat bawa minyak angin dan lotion obat nyamuk ya! Banyak pacet kayaknya di hutan Sangenge.” Pinta Ruscita pada Sisca.


“Apaan pacet bu?” Tanya Sisca.


“Semacam lintah nak, tapi hidupnya di dedaunan busuk yang ada di tanah.” Jawab Ruscita.


Topan dan Anto sedang sibuk memasukkan barang-barang kedalam mobil APV.


“Rio mana?” Tanya Ruscita.


“Lagi ke warung bu.” Jawan Anto.


“kalian udah pada sarapan?” Ruscita bertanya kepada semua.


“Sudah bu, nanti ngemil di jalan aja juga.” jawab Topan.


‘Rio, udah sarapan kamu nak?” Tanya Ruscita kepada Rio yang baru datang.

__ADS_1


“Sudah bu, sudah siap semua?” Tanya Rio.


“Sudah, sudah, semua sudah aku masukkan. Tenda aku taruh di atas.” Jawab Topan.


“Kok bawa tenda segala/” Tanya Ruscita.


“Buat jaga-jaga bu, siapa tahu kita harus bermalam di tengah hutan.” Jawab Rio.


Mobil APV meluncur melintasi jalanan kota. Semakin jauh dan keluar dari keramaian kota. Walau masih dalam penyesuaian new normal, tapi kota sudah lumayan ramai. Dalam mobil mereka berbincang, dengan berbagai topik dan tema. Sehingga Rscita sedikit terhibur dan mulai melupakan kejadian yang menimpa dirinya dan Ianti. Anak-anak kelasnya memberinya semangat untuk selalu berbahagia. Inilah alasannya, Ruscita tak mau meningalkan kota tempat ia memulai hidup. Suami dan ketiga anak-anaknya memilih pindah ke negara lain untuk memulai hidup yang baru. Ruscita tetap pada pendiriannya, hidup untuk tetap bisa mengajar anak-anak di kota kelahirannya.


“Kita harus ke desa apa namanya bu?” Tanya Rio.


‘Desa Selingsing Rio. Dari sana kita jalan kaki menuju rumah Pak Pajo. Nanti kita minta tolong Pak Pajo agar membantu mengantar ke tempat dimana ibu dibawa oleh orang-orang itu.” Jawab Ruscita.


“Ibu masih takut?” Tanya Topan.


“Mengingat waktu itu, jantung ibu berdebar-debar, termasuk sekarang kalau sudah membicarakan itu. Yang ibu takutkan hanya satu. Orang-orang itu membunuh ibu.” Ruscita agak menghela nafas.


“Jalan dari rumah Swarnita, dimana ibu dicegat. Dicegat atau diapain bu?” Desak Rio.


‘Ibu langsung tak sadarkan diri, karena motor yang dikendarai Ibu Ianti jalannya pelan sekali. Motor oleng dan jatuh, Ibu sudah tak sadar. dan sadar setelah dibangunkan oleh orang-orang itu.” Ruscita menerangkan.


“Sial, orang-orang jahat bergentayangan. Sampai di kota kitapun ada orang jahatnya.” Gerutu Rio.


“Jangankan di kota brow, di sekolah kita aja banyak orang jahatnya, kau tak ingat Handoko yang membawamu ketahanan Polda?” Kelakar Anto.


Ruscita mengurut Punggung Rio.


“Sabar nak, kita orang baik akan selalu dilindungi oleh kebaikan pula. Bukan begitu?” Ruscita mengusap kepala Rio.


Rio, menghela nafas dan tersenyum walau tak memandang guru yang duduk disampingnya, karena harus fokus mengendalikan kuda besi, APV mobilnya.


“Dalam pelajaran Agama Hindu disebut, Dharmo Raksata Raksitah bu.” Sela Topan.


“Cuiihh, calon guru agama bu.” Sergah Anto.


“Iya, Topan mahir banget dengan sloka-sloka dalam pelajaran agama.” Sambung Sisca.


“Kau pasti GR Pan.” Ledek Anto.


“Ach, GR dikit boleh lah.” Jawab Topan ringan.


“Semua orang punya bakat masing-masing nak. Seperti suami ibu, ayahnya anak-anak, pinter sekali dengan pelajaran agama dan budaya. Tapi untuk pelajaran ilmu pasti, exsak, dia nyerah.” Ruscita tersenyum mengenang.


“Ibu, maafkan saya ya kalau lancang. Kalo boleh tahu, suami dan anak-anak ibu kok ngga pernah ada di rumah? Dimana bu?” Tanya Sisca.

__ADS_1


“Oh, panjang ceritanya nak. Tapi baiklah, ibu ceritakan.” Ruscita mulai serius membuka masa lalunya.


“Lima belas tahun yang lalu, keluarga ibu dirundung masalah. Suami ibu berselisih pendapat dengan pemuka adat di lingkungan ibu tinggal dulu. Jadi sebelum ibu pindah ke kota, ibu tinggal di kampung. Entah apa duduk perkaranya, keluarga ibu dikenai sangsi. Sejak saat itulah, suami ibu memilih untuk pergi ke luar daerah. Tapi ibu bersikeras tidak mau. Ibu tidak mau meninggalkan daerah. Tapi kerasnya hati suami ibu, ia tetap pergi bersama anak-anak, dan ibu memilih untuk tetap di sini.” Ruscita menghela nafas.


‘Ibu bercerai dengan suami?” Tanya Rio.


“Tidak nak, ibu tetap istri suami ibu, tapi kami ingin menjalani hidup sesuai keinginan kami masing-masing dulu, nanti jika sudah waktunya, kita akan berkumpul kembali.” Jawab Ruscita.


“Sudah berapa lama bu?” Tanya Anto.


“Hampir lima belas tahun nak.” Jawab Ruscita


“Apa?” Hampir serentak.


“Waow... Lima belas tahun? Kuat sekali ibu?” Sisca keheranan. Begitu juga yang lain.


“Ibu yakin dengan suami masih menyayangi ibu?” Desak Rio.


“Ibu percaya nak, karena ibu ikhlas. Dan juga kami tetap saling bertukar kabar. suami ibu sekarang ada disebuah perguruan Shaolin semacam itulah, mendalami ajaran meditasi. Begitu menurut penuturan suami ibu.” Ruscita memandang kedepan seperti menatap pandangan kosong. Anak-anak semuanya tertegun mendengarkan.


“Ya begitulah nak, pilihan hidup. Harus ada konsekwensinya.” Ruscita bersemangat. tangannya mengelus punggung Rio. Rio tersenyum namun tetap pada tatapan depannya. mengendalikan stir APV.


“Sekali lagi maafkan kami bu, sudah mengungkit kehidupan keluarga ibu.” Sisca kembali meminta maaf.


Ruscita membalikkan tubuhnya melihat ke arah duduk Sisca persis dibelakang joknya. Ruscita tersenyum, ingin rasanya Ruscita membelai rambut Sisca karena rasa sayangnya. Mereka berempat tersebut sudah seperti anak-anaknya sendiri. Dekat dalam segala hal.


“Kita sudah hampir samapai nak. Waktu ibu dari desa ini dengan perasaan yang terguncang di dalam angkot, tetap saja bisa tertidur. Entahlah, badan ibu terasa lemas sekali waktu itu. Tapi sekarang bersama kalian, tak terasa. Perjalanan jadi sangat indah dan tidak membosankan.” Jelas Ruscita.


“Mungkin karena kami bu.” kelakar Topan.


“GR lho brow.” Sergah Anto.


“Memang, kalian penyemangat ibu. Dulu sebelum kalian, ada juga kakak-kakak kelas kalian yang dekat dan baik seperti kalian.” Ruscita terkenang.


“Yang nakal ada juga kan bu?” Ucap Anto.


Ruscita tersenyum. Senyum bahagia seorang ibu. Tak berselang lama, akhirnya mereka sampai pada terminal desa. Mereka turun dan menyegarkan badan mereka dengan menghirup udara pedesaan yang masih alami.


‘Permisi pak, kalo jalan menuju daerah lereng gunung ada ya pak?” Tanya Ruscita pada seorang bapak-bapak pedagang di terminal desa itu.


“Ada sih bu, tapi jalannya ngga bagus. Biasanya motor yang rodanya banyak gerigi, atau mobil yang bannya besar besar gitu, baru bisa bu.” Jawab bapak itu polos.


“Kita taruh mobil disini aja bu, kita jalan keatas. Semua perbekalan kita bagi bawanya.” Jelas Rio.


Ruscita mengangguk dan semuanya sepakat.

__ADS_1


Jalan setapak yang pernah Ruscita lewati bersama Pak Pajo, kini mereka telusuri kembali. Ruscita masih ingat dengan perasaan risih terhadap Pak Pajo yang berjalan mengikutinya dulu. Tapi kini hatinya senang sekali diikuti oleh murid-murid kesayangannya. Masih jalan setapak yang sama. Namun beda rasa.


...Terimakasih buat para readers💚 Semangat bacanya biar author juga semangat nulis nya💚...


__ADS_2