HIDUPKU SETELAH MENIKAH

HIDUPKU SETELAH MENIKAH
Apakah Merasa Kehilangan?


__ADS_3

Keesokannya, Norma yang sedang membeli nasi uduk untuk sarapan itu mendapatkan pertanyaan dari tetangganya yang kebetulan bertemu di sana.


"Bu, semalam, aku liat, menantu baru ibu itu pergi bawa koper, kemana, Bu."


"Menantu susah diatur, biarin aja dia pergi, enggak rugi!" ucap Norma dengan angkuhnya.


Setelah mendapatkan nasi uduknya, Norma pun segera pulang, ia menyantap sarapannya seorang diri.


Dan setelah melahap habis nasi itu, Norma pun merasa mulas dan ia pun teringat kalau dirinya tidak bisa makan makanan yang mengandung santan.


"Mau masak udah capek, beli enggak cocok sama lidah dan perut!" gerutu Norma.


Dan karena itu, Norma pun tidak menyusul Darma ke pasar untuk membantunya.


****


Di tempat kerja, Pras yang sedang duduk di bangku panjang salon mobilnya itu menunggu pesan dari Zakira.


tak dapat dipungkiri kalau Pras selalu memikirkan Zakira.


"Memangnya, siapa dia, sampai mengabaikan ku seperti ini?" kesal Pras.


Dan sore, Pras yang ingin mengetahui keadaan Zakira itu menyusul ke pabrik dan melihat Zakira yang juga akan pulang itu tengah membonceng motor Ana,


Zakira dan Ana baru saja keluar dari gerbang dan tanpa sengaja ponsel Zakira terjatuh dari tasnya yang lupa ia resleting.


"Ra!" seru Rama seraya turun dari motornya, pria berparas tampan itu mengambil ponsel milik Zakira.


"Ponsel kamu jatuh, Ra!" kata Rama seraya memberikan ponsel itu pada Zakira.


Rama tersenyum dan Zakira mengucapkan kata terimakasih.


Tentu saja, pemandangan itu membuat Pras merasa cemburu dan tak ingin melepaskan Zakira untuk pria lain.


"Kamu enggak bisa lepas dari aku, Ra!" kata Pras.


Pras yang sudah mengetahui di mana kos Ana itu tak lagi mengikutinya, Pras membiarkan Zakira untuk merasa lega lebih dulu sebelum dirinya hadir kembali ke dalam hidup Zakira.


****


Sore ini, Ana menemani Zakira mencari kos.


"Udah sih, Ra. Tinggal sama aku aja, aku kesepian tau!" kata Ana yang sedang mengantar Zakira.


"Enggak, Kak. Aku enggak enak nanti, apalagi urusan aku sama Mas Pras belum selesai. Kalau tiba-tiba dia datang, nanti aku enggak enak sama Kak Ana!"


Ana pun mengerti kekhawatiran sahabatnya itu, ia tak memaksa.


Beruntung, Zakira sudah mendapatkan kos dan Zakira pun tidak lama-lama menumpahkan di kos Ana.


"Kak, besok aku pindah, ya. Makasih loh," kata Zakira seraya tersenyum.


Ana pun menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Mama sama Bapak kamu tau, Ra?" tanya Ana.


Keduanya sedang menuruni tangga dan berjalan menuju parkiran.


"Belum, Kak. Aku belum siap buat kasih tau mereka," jawab Zakira terdengar lemas.


Bagaimana tidak lemas kalau hidupnya sekarang seolah hancur, tetapi, Zakira tak mau menjadi gadis lemah, ia akan bangkit untuk dirinya sendiri.


****


Di rumah Pras, pria itu mengurung dirinya di kamar, menghabiskan banyak waktu untuk bermain game.


Tetapi, bayangan wajah Rama tak mau pergi dari benaknya.


"Oh, jadi seperti itu, Zakira merasa laku, lepas dari aku akan secepatnya mendapatkan gantiku!" geram Pras.


Sementara itu, Ninik yang sedang berkumpul dengan teman-temannya sudah dapat tertawa bahagia. Sikap cuek dan angkuhnya itu sudah berhasil mengusir Zakira.


"Kemana adik ipar kamu, Nik?" tanya Bu Risky seraya mengambil teh hangatnya.


"Pergi, baperan banget masa!" kata Ninik seolah menyalahkan Zakira.


"Kamunya kali, Nik yang enggak mau kesaing!" sindir Bu Risky yang kemudian menyeruput tehnya.


"Halah, udahlah, enggak usah bahas dia!" kata Ninik seraya menepuk paha Bu Risky.


****


Di rumah, Darma yang baru pulang dari pasar itu melihat Norma sedang mengangkat jemurannya.


Norma mengerti maksud Darma yang sebenarnya ingin mengingatkan padanya tentang Zakira.


Norma tak menjawab ucapan itu.


Setelah mengangkat jemuran, Norma pun masuk ke kamar, ia menghubungi Heru dan Heru tidak menjawab panggilan itu.


"Kenapa, Bu?" tanya Darma yang masuk ke kamar, Darma mengambil handuk di gantungan baju.


"Heru susah dihubungi!" kata Norma.


"Dia kan sibuk, Bu." Setelah menjawab itu, Darma pergi mandi sebelum ia terlambat ke masjid.


Anak menantu jauh selalu dirindukan sedangkan yang ada tak terlihat keberadaannya, begitu lah Norma dalam menjalani kesehariannya.


Norma menangis setiap merindukan Heru, anaknya.


****


Merasa sepi, Norma pun ke rumah Pras, di sana, Norma dan Ninik tak terlihat akur, entah apa yang membuat keduanya seperti itu.


Walau di satu rumah yang sama tak membuat keduanya saling mengobrol.


Apalagi untuk meminta bantuan pada Ninik.

__ADS_1


"Makanya, kan udah Nik bilang, ngapain Ibu ke pasar, urusin aja rumah Ibu!" Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Norma.


Norma pun pergi ke belakang, melihat mesin cuci Zakira yang terletak di dekat dapur.


"Biasanya, dia yang nyuciin baju, ku!" batin Norma.


"Pras!" seru Norma kemudian dan Pras pun datang.


"Ada apa, Bu?" tanya Pras seraya tangan dan mata tetap pada ponselnya.


"Cara pakai mesin cuci gimana? Ajari Ibu biar Ibu bisa cuci sendiri!" kata Norma yang menatap Pras.


"Di laundry aja, Bu!" jawab Pras yang kemudian masuk ke kamar lagi.


"Kirain, kamu bakal bilang (sini, Pras aja yang nyuci!)" harap Norma.


Setelah itu, Norma memilih pulang ke rumahnya. Dan di ruang tengah, Norma melihat Wisnu sedang memakan mie instan.


"Emang Mama kamu enggak masak? Anak kok sering banget di kasih mie!" kata Norma dan Ninik yang mendengar itu pun menimpali, "Orang bocahnya yang minta, di kasih ini, itu enggak mau, maunya mie!"


Norma yang tak ingin berdebat dengan Ninik pun pergi tanpa menjawab apapun.


Dan Pras yang pikirannya tak tenang itu pun memilih untuk bangun dari berbaringnya.


Pras ingin melihat keadaan Zakira yang sekarang sedang membeli bubur ayam.


Zakira melihat Pras yang sedang memperhatikan dari jauh.


"Ternyata... dia mantau aku!" batin Zakira.


Tidak lama kemudian, Pras sudah berada di belakangnya.


Pras meminta pada Zakira untuk naik ke motornya.


"Banyak yang belum selesai diantara kita!" kata Pras dan Zakira merasa memang betul bahwa semua urusannya tidak bisa digantung lagi.


Setelah mendapatkan bubur ayamnya, Zakira pun membonceng Pras dan Pras mengajak Zakira ke tempat yang tidak terlalu ramai.


"Mau mu apa?" tanya Pras seraya menatap Zakira dari kaca spionnya, begitu juga dengan Zakira yang menatap Pras dari kaca spion.


"Mau ku mudah, cukup kamu mengerti aku!" jawabnya.


"Mengerti yang bagaimana? Namanya awal menikah sudah pasti banyak ke tidak cocokan!"


"Aku udah berusaha dan usaha ku enggak kalian hargai! Lalu, aku harus jadi kambing conge di sana?" tanya Zakira seraya turun dari motor Pras.


"Belum selesai!" kata Pras dengan nada sedikit tinggi.


"Selama obrolan kita hanya itu-itu saja, aku malas!" kata Zakira seraya pergi meninggalkan Pras.


"Berani nya dia!" gerutu Pras seraya menggenggam erat setir motornya.


Bersambung.

__ADS_1


Like dan komen ya all.


__ADS_2