HIDUPKU SETELAH MENIKAH

HIDUPKU SETELAH MENIKAH
Zakira Melahirkan


__ADS_3

Sepulang dari pasar, Pras pun segera menjemput Zakira, ia tidak lupa pamit pada Ibunya.


Begitu juga dengan Zakira, ia mencium punggung tangan Norma.


Tidak banyak yang dibicarakan selama perjalanan, Pras lebih menjaga Zakira yang kini sudah semakin gendut. Pras sangat berhati-hati saat mengendarai motornya.


Sesampainya di kontrakan, Pras yang sedang meletakkan helm itu bertanya, "Ibu bilang apa aja?"


"Banyak," jawab Zakira yang terdengar lemas.


Setelah itu, Pras pun memeluk Zakira dari belakang, Zakira yang sedang mencuci tangan di wastafel itu tersenyum pada suaminya.


"Enak juga, ya. Tinggal berdua kaya gini, jadi enggak ada yang ganggu kalau mau mesra-mesraan," kata Pras dan Zakira menengok, ia menatap Pras yang akhirnya bisa membedakan betapa indah dan nyamannya bila menjalani berumah tangga terpisah dari orang tua atau saudara.


"Iya, Mas!" kata Zakira yang kemudian mencium pipi Pras.


"Kamu mancing aku, yang!" kata Pras dan Zakira pun tersebut.


"Kamunya aja yang mudah terpancing!" jawab Zakira seraya melepaskan tangan Pras yang melingkar di pinggangnya.


Dan bukan melepaskan, tetapi, Pras justru mengeratkan.


"Kasian dedenya, Mas!" kata Zakira dan Pras pun melepaskan seraya matanya mengedip dan itu Zakira sudah tau kalau Pras akan mengajaknya ke kasur dan benar saja. Tetapi, hanya bermesraan.


"Yang, nanti kamu mau dipanggil apa sama anak kita?" tanya Zakira pada Pras yang sedang menciumi wajahnya.


"Apa, ya. Abi enggak pantas, Papah apa lagi, Ayah aja gimana?" tanya Pras dan Zakira mengiyakan.


"Kalau kamu mau panggil apa?"


"Mama aja, Mas!" jawab Zakira.


Setelah itu, Pras pun memanggil istrinya.


"Yang."


"Iya, kenapa?" Zakira seraya mendongak, menatap suaminya.


"Jangan pernah masukin ucapan Ibu ke hati, ya. Penting, aku tetap sayang kamu! Aku akan melakukan apapun untuk menjaga kita!" kata Pras dan Zakira pun mengiyakan.


"Selagi kamu baik sama aku, aku pasti enggak akan sedih, Mas!" jawab Zakira dan setelah keduanya itu bercengkrama, mereka pun tertidur.


****


Setelah beberapa bulan kemudian, Pras yang sedang bekerja itu mendapatkan panggilan untuk ke kantor.


"Duh, ada apa, ya? Kok aku deg-degan?" tanya Pras dalam hati.


Pras yang sedang bekerja itu pun segera pergi memenuhi panggilan tersebut.


"Bang, titip dulu, ya!" kata Pras pada Ferry yang sedang fokus memasang kaca film mobil.


****


Tok... tok... tok, Pras mengetuk pintu ruangan pimpinannya.


"Masuk!"

__ADS_1


Setelah itu, Pras pun mendorong pintu itu perlahan.


"Iya, Pak. Maaf, mengganggu," kata Pras seraya menganggukkan kepala.


"Tidak, duduk, Mas! Ada yang mau saya sampaikan!" kata pimpinan seraya mempersilahkan Pras untuk duduk.


Pras pun duduk dan mulai mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh pimpinannya.


"Begini, Mas Rendra saya tempatkan ke salon cabang, dia harus meng-handle di sana karena salon itu baru saja buka," kata pimpinan dan Pras yang menunduk pun mendengarkan, lalu, menganggukkan kepala.


"Jadi, saya mau... Mas Pras untuk mengisi jabatan Mas Rendra sebagai kepala salon di sini!"


Pras yang tak menduga itu pun mengangkat kepalanya, ia menatap pimpinannya dengan tatapan yang tak percaya kalau dirinya menjadi salah satu orang kepercayaannya.


"Harus mau, dan besok Mas Pras sudah menjabat sebagai kepala salon!"


"Tapi, Pak. Saya tidak terbiasa mengatur orang-orang, saya takut, Pak," jawab Pras yang masih belum yakin dengan kemampuannya sendiri.


"Harus yakin, Mas Pras pasti bisa!" kata pimpinan seraya memberikan selembar kertas yang untuk Pras tanda tangani.


Pras membaca isi dari selembar kertas itu dan tertera kalau pendapatan Pras pun ikut naik.


"Alhamdulillah, mungkin ini rejekinya utun!" kata Pras dalam hati.


Dan saat Pras sedang menandatangani itu, Pras mendapatkan panggilan dari tetangganya yang memberitahu kalau Zakira akan melahirkan.


Pras pun segera bangun dari duduknya.


"Maaf, Pak. Istri saja mau melahirkan, saya boleh pamit dulu," ucap Pras seraya mengatupkan dua telapak tangannya.


Pras tak lupa membawa selembar kertas itu dan Pras juga tidak sabar untuk memberitahu Zakira.


Pras berjalan cepat, ia melewati semua teman-temannya yang sedang bekerja, ada juga yang sedang bersantai.


"Pras, kemana?" tanya salah satu dari mereka.


"Istri gue mau lahiran!" kata Pras, ia menjawab seraya berlalu, segera mengambil kunci motornya di loker.


Karena ini adalah pertama kalinya, tentu saja, Pras panik, ia takut dan juga senang karena buah hatinya sebentar lagi akan hadir untuk mengisi dan melengkapi kebahagiaannya bersama Zakira.


Tidak menunggu lama, Pras sudah sampai di rumah sakit, ia mencari Zakira yang sekarang masih berada di IGD.


"Sayang, kenapa tiba-tiba, perkiraan lahir masih dia minggu lagi," kata Pras seraya menggenggam tangan Zakira yang dingin.


Zakira yang sudah merasakan mulas itu hanya diam. Perasaannya tidak menentu, lalu, seorang perawat datang, ia meminta pada Pras untuk mengurus semua berkasnya.


Dan Pras pun membodohkan dirinya sendiri karena tadi tidak pulang untuk mengambil berkas.


Pras pun pamit pada Zakira dan Zakira menggelengkan kepala.


"Berkasnya udah siap, Mas. Ini... tadi tetangga yang ingatkan untuk sekaligus membawa."


Pras pun menarik nafas dalam.


Pras merasa tidak tega melihat istrinya lemas dan karena sudah menunggu lama, akhirnya, dokter menyarankan untuk mengambil jalan operasi.


Pras bertanya, "Kenapa? Apa terjadi sesuatu sama istri saya?"

__ADS_1


Perawat pun menjelaskan kalau saat ini kondisi Zakira lemah dan dikhawatirkan tidak memiliki banyak tenaga dan waktu lagi.


Mendengar itu, Pras pun meminta yang terbaik untuk istrinya.


Setelah menunggu selama dua jam, sekarang, Pras dipanggil untuk masuk ke ruangan bayi.


Pras pun meng-Adzani anaknya yang berjenis kelamin perempuan.


Sesuai keinginan Pras, ia sangat ingin memiliki anak perempuan.


Pras meng-Adzani putrinya itu menitikkan air mata, teringat dengan saat dulu, di mana dirinya dengan sengaja menyiksa Zakira.


"Sayang, maafkan aku!" ucap Pras dalam hati.


Setelah itu, Pras pergi ke ruang pemulihan dan di sana, Zakira belum sadarkan diri.


Pras menyentuh tangan istrinya, lalu, mengecupnya.


"Terimakasih, sayang. Anak kita cantik! Seperti Mamanya!" ucap Pras dan Zakira membuka mata saat mendengar suara suaminya.


Pras pun segera memeluk Zakira tanpa memperdulikan pasien lain yang juga sedang masa pemulihan.


Pras pun segera memberitahu kalau hari ini juga, ia kembali naik jabatan.


"Selamat, Mas!" kata Zakira dengan lirih, Zakira pun mencium punggung tangan suaminya.


"Semoga, keberkahan dan kebahagiaan senantiasa berada di keluarga kita, selamat dan semoga kamu tetap jadi Mas Pras yang amanah!" lirih Zakira dan Pras pun menganggukkan kepala, lalu, mengecup kening Zakira dengan lembut.


Setelah pulih, sekarang, Zakira dipindahkan ke ruang rawat dan Zakira pun dapat melihat bayinya.


Naluri keibuannya mengatakan kalau Zakira harus mengangkat bayinya, tetapi, Pras yang melihat itu merasa kalau sangat menyeramkan.


"Sayang, apa kamu bisa?" tanya Pras yang memperhatikan Zakira.


Zakira yang sedang mengangkat bayinya itu pun tersenyum.


"Harus bisa, kalau enggak, siapa nanti yang merawat?" tanya Zakira.


"Tapi, apa luka operasi kamu enggak sakit, yang?" tanya Pras seraya membantu Zakira untuk duduk.


"Aku terlalu bersemangat!" jawab Zakira seraya tersenyum.


Setelah itu, Pras pun mengambil gambar bersama istrinya.


Pras memposting foto itu di grup chat keluarganya.


"Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami dengan selamat," kata Pras dan cerita ini sampai di sini.


Kebahagiaan selalu menyertai keluarga Zakira, dan layaknya hidup, tak selamanya perjalanan cinta Zakira dan Pras berjalan lurus.


Tetap ada kerikil-kerikil kecil yang membuat keduanya semakin kuat dalam menjalani ibadah berumah tangga.


Tamat 🙏


Mohon maaf untuk segala kekurangan dari tulisan saya. Semoga karya ini dapat menghibur pembaca sekalian di mana pun berada.


Terimakasih banyak sudah membaca dan jangan lupa untuk klik judul novel lainnya ☺

__ADS_1


__ADS_2