
Setelah itu, Darma segera mengambil jaket dan kunci motornya, lalu, mengajak Norma untuk ke kontrakan Pras.
Darma meminta alamat itu pada Pras dan tidak menunggu lama, Darma dan Norma sudah tiba di kontrakan.
Sesampainya di kontrakan, Norma kembali menangis setelah melihat anaknya yang sedang berbaring di kasur lepek.
"Pras, pulang aja, sih. badan kamu nanti pada sakit tidur di kasur kaya gini!" kata Norma.
Pras hanya diam, ia akan bicara lebih dulu dengan Zakira sebelum mengiyakan Ibunya.
Dan Zakira hanya bisa melihat tanpa mengatakan apapun.
Zakira yang sedang mengolesi obat di lengan suaminya itu bangun dari duduk. Ia mengambilkan minum untuk mertuanya.
Banyak yang mereka bicarakan dan setelah cukup lama, sekarang, Darma mengajak Norma untuk pulang dan lagi, Norma memaksa Pras untuk kembali ke rumahnya.
Setelah kedua mertuanya pulang, Pras pun mengajak Zakira untuk kembali ke rumah Norma.
"Memangnya, kalau kamu pulang, yang merawat kamu nanti siapa? Tetap aku juga, kan?" tanya Zakira dan Pras pun tak memaksa.
Pras ingin mencoba mengerti istrinya.
Apa yang membuat Pras untuk mengerti istrinya?
Beberapa jam yang lalu, saat Pras mengalami kecelakaan, yang ada di bayangannya adalah Zakira.
Sikap buruknya yang membuat Zakira menangis dan Pras yang hampir mati itu merasa kalau ini adalah teguran besar untuknya. Teringat saat jum'at lalu, Pras yang sedang mendengarkan khotbah yang mengingatkan pada semua kaum pria yang untuk bertanggung jawab pada pilihannya.
"Kau telah mengambilnya dari Ibu dan Bapaknya, sudah seharusnya menjaga bukan melukai, ingatlah... suami yang berbuat keji pada istrinya adalah suami yang durhaka dan Allah tidak menyukai, apa yang terjadi jika Allah tidak menyukai? Maka Allah tidak akan ridho. Wahai hamba Allah, sayangilah istrimu maka pintu rezeki dan rahmat Allah akan engkau dapatkan!" Kurang lebih seperti itu bunyinya.
Dan saat ini Pras masih merenungi, ia juga berpikir mungkin kalau jalan ini adalah jalan yang benar. Bisa saja yang Pras sukai dan inginkan tidaklah baik untuknya.
Pras menatap Zakira yang sedang melipat pakaian bersih.
"Yang!" panggil Pras dan Zakira yang mendengar itu merasa senang karena Pras memanggilnya dengan sebutan sayang lagi.
Zakira pun melihat ke arah Pras.
"Iya?"
"Kamu senang lihat aku terluka?" tanya Pras, ia merasa kalau Zakira akan merasa bahagia dan menganggap kalau Pras pantas mendapatkannya.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa? Kenapa nanya kaya gitu? Jelas aku khawatir!" jawab Zakira.
"Kamu enggak dendam?" tanya Pras dan Zakira menjawab kalau dirinya tidak pernah dendam dan selalu mendoakan Pras.
"Berarti doa kamu enggak manjur, buktinya aku jatuh dari motor!" kata Pras, keduanya sedang duduk di ruang tengah.
"Mungkin bukan doaku yang bukan enggak manjur, tapi... bisa jadi mengurangi sakitnya kamu hari ini, pernah enggak kamu mikir, kamu bisa aja sekarat karena ditakdirkan celaka hari ini dan karena ketulusan doaku, Allah menguranginya, jadi kamu mengalami luka kecil aja!" jawab Zakira seraya kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Allah enggak pernah tidur, walau aku enggak minta Allah untuk menghukum kamu, tapi kamu pasti akan dapat hukumannya sendiri, karma itu ada, Mas!" kata Zakira yang kemudian bangun dari duduk. Ia membawa pakaian yang sudah tapi ke belakang lalu memasukkan ke lemari.
Pras terdiam, ia memikirkan ucapan Zakira. "Benar, dia enggak do'ain keburukkan buat aku, tapi aku dapat sendiri karmanya!" batin Pras seraya mengingat betapa jahatnya Pras terhadap istrinya.
"Apalagi kalau dia berdoa buat keburukkan ku? Aku bisa celaka, sepertinya!" batin Pras.
Dan, apakah Pras akan berubah menjadi jadi baik? Kalau tidak, sungguh terlalu. 😌
Hari-hari telah berlalu, berlalu dengan baik karena Zakira merawat Pras penuh dengan kasih sayang, ia menggantikan perban dan mengganti dengan perban yang baru.
Pras mengucapkan terimakasih dan Zakira tersenyum.
"Udah seharusnya kamu berterimakasih," jawab Zakira seraya tersenyum.
Pras yang sudah membaik itu pun membawa Zakira ke pelukan, Pras mengucapkan kata sayang dan cintanya.
"Aku tau!" kata Pras.
"Tau dari mana?" tanya Zakira seraya mendongak, menatap suaminya yang sedang memejamkan mata.
"Kalau enggak, mungkin kamu udah pergi ninggalin aku!"
Zakira pun mengeratkan pelukannya dan berdoa, meminta pada sang pemilik hati supaya tidak membalikkan lagi hati suaminya...
"Jangan berubah, Mas! Tetap seperti ini!" pinta Zakira dan Pras menjawab kalau dirinya hanya mampu berusaha agar tidak melukai hati istrinya lagi.
Dan sore ini, Zakira juga Pras melakukan hubungannya dengan baik, penuh kasih dan sayang, sebelum melakukannya, Pras membaca doa lebih dulu, ia juga meminta supaya istrinya cepat hamil.
Selesai dengan itu, Zakira yang sudah mandi keramas itu pun mencuci piring, berdiri di depan wastafel dan Pras yang melihat itu pun memeluk istrinya dari belakang, kali ini, tanpa gangguan.
"Sayang, makasih!" ucap Pras yang setengah berbisik di telinga Zakira.
"Untuk?" Zakira bertanya karena ia merasa tak melakukan apapun.
__ADS_1
"Karena bertahan di sini, bersamaku!" ucap Pras yang kemudian mengecup pipi Zakira dan Zakira pun membalas dengan mengecup pipi Pras.
****
Beberapa hari berlalu, benar saja, Pras membuktikan kesungguhannya dalam mencintai Zakira dan sekarang, Pras menjadi suami yang pengertian.
"Yang, udah siap belum?" tanya Pras yang sedang menunggu Zakira di depan.
"Udah, ayo jalan," kata Zakira seraya mengunci pintu kontrakannya.
Sebelum ke rumah Norma, Zakira meminta pada Pras untuk menepikan motornya ke toko buah tepi jalan dan Pras bertanya, "Mau ngapain?"
"Beli buah, buat Ibu dan Bapak," jawab Zakira seraya akan turun dari motor.
"Enggak usah, di rumah udah banyak buah," kata Pras dan Zakira pun bertanya, "Jadi... kita bawa apa buat buah tangan?"
"Lain kali, sekarang udah mendung, ayo cepat, nanti kehujanan di jalan!" perintah Pras dan Zakira pun kembali naik ke motor.
Ternyata, di rumah Norma sedang sepi, Pras pun melihat Damar yang sedang bermain sepeda.
"Mar! Eyang mana?" tanya Pras yang memanggil keponakannya itu.
"Di rumah!" jawab Damar seraya terus mengayuh sepedanya, entah akan kemana dia itu, Pras tak sempat menanyakan.
Lalu, Pras pun mengajak Zakira ke rumah Ninik. Dan di tengah perjalanan, Pras juga Zakira bertemu dengan tetangganya yang merupakan teman baik Ninik.
"Eh, Mbak Zakira, gimana kabarnya?" tanyanya seraya mengulurkan tangannya.
"Saya baik, Bu. Alhamdulillah," jawab Zakira seraya membalas uluran tangan itu.
"Eh gimana... gimana, udah isi belum?" tanyanya dan Zakira tersenyum seraya menjawab belum.
"Kok lama, ya? Apa kalian menunda?" tanya tetangga Ninik yang sangat ingin tau.
"Maaf, Bu. Kami buru-buru!" kata Pras seraya menggandeng tangan Zakira.
"Ahh... iya silahkan, Mas Pras. Kebetulan di rumah lari ramai!" katanya dan Pras hanya menganggukkan kepala.
"Permisi," kata Zakira pada si tetangga dan si tetangga itu bergumam, mengatai kalau keduanya adalah pasangan sombong.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen, ya all. Dukung dengan vote juga giftnya, ya. Terimakasih.