HIDUPKU SETELAH MENIKAH

HIDUPKU SETELAH MENIKAH
Ketulusan Zakira


__ADS_3

Sadarkah Pras, hari-hari sialnya itu adalah karma baginya, karma karena selalu melukai hati istrinya.


Pras membayangkan kejadian siang tadi, saat dirinya membersihkan mobil dan tangannya yang terjepit pintu mobil tersebut.


Pras yang mengira kalau itu adalah kutukan Zakira pun menanyakannya.


"Kamu nyumpahin aku, kan?" tanya Pras seraya menatap Zakira.


Zakira menggelengkan kepala, ia sama sekali tak pernah mendoakan keburukan bagi suaminya.


"Walaupun kamu jahat sama aku, Mas. Aku enggak pernah minta yang jelek buat kamu, aku selalu berdoa untuk kebaikan kamu, keselamatan, kesehatan dan juga aku minta biar Allah lembutkan hati kamu," jawab Zakira seraya menatap Pras yang tak mau mendengarkan.


"Bohong kamu!" kata Pras seraya meninggalkan Zakira.


Zakira hanya bisa berdoa, berharap, suatu saat nanti, doanya akan terkabulkan.


Dan Pras yang masih dengan egonya itu menatap Zakira yang sekarang sedang melaksanakan sholat, seperti biasa, Zakira mendoakan suaminya.


"Aku salah karena melukai Zakira yang taat, jangan-jangan ini bukan kutukan, melainkan teguran!" batin Pras, setelah itu, Pras memutar balikkan badannya. Ia tak mau menatap Zakira yang sedang menatapnya.


Setelah itu, Zakira pun menyusul Pras ke kasur lantainya dan Zakira memeluk lengan Pras sampai dirinya tertidur.


Pras menangis, ia tak menyangka kalau dirinya telah tega berbuat seperti itu pada istri yang mendoakannya.


Keesokannya, setelah beres semua pekerjaan, Pras yang terbiasa bangun siang itu melihat istrinya sedang berhias.


"Mau kemana kamu?" tanya Pras dan Zakira yang sedang bercermin itu melihat kearah Pras.


"Dandan buat suami, bukan berarti mau kemana, kan?" Setelah itu, Zakira memoles tipis bibirnya menggunakan lipstik kesukaannya.


Setelah itu, Zakira menyiapkan sarapan untuk suaminya dan kembali... Pras tak menyentuh makanan itu.


"Mas, sarapannya," kata Zakira yang baru saja selesai menyajikan makannya.


Pras yang sudah bermain game itu tak menjawab.


"Diambilin enggak ngerespon, enggak diambilin katanya tinggal siapin aja!" batin Zakira.


Setelah selesai dengan permainan pertamanya. Pras pun meninggalkan ponselnya dan memakan makanan itu.


Pras menyuruh Zakira untuk bersiap.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Zakira dan Pras menjawab kalau akan ke rumah Norma.


Tak membutuhkan waktu lama, sekarang, Pras dan Zakira sudah sampai di rumah Norma.


Sesampainya di sana, Norma mengulurkan tangannya terpaksa pada Zakira.

__ADS_1


Dan karena di rumah tidak ada makanan, Norma pun menyuruh Zakira untuk memasak, padahal, sama sekali Zakira belum mendarat duduk cantik di sofa mertuanya.


"Masak, Ra! Itu ada beras, ada sayuran juga di kulkas, kalau mau sup tulangan ada juga di kulkas.


" Iya, Bu." Zakira bangun dari duduknya. Ia segera pergi ke dapur dan Pras yang berbaring menonton televisi memperhatikan Zakira dari tempatnya.


Zakira memasak dibantu oleh Norma, selama memasak, Norma selalu membicarakan Lina dan Heru yang selalu dibanggakan. Dan Zakira hanya mendengarkan.


Dalam hati, Zakira membenarkan ucapan orang-orang yang mengatakan di mana yang kaya yang akan disanjung.


****


"Walaupun enggak serumah, atau berdekatan, Zakira tetap bisa berbakti, benar katanya," batin Pras dan Pras pun tertidur.


Pras dibangunkan untuk makan siang.


"Mas, makan siang," kata Zakira seraya menggoyangkan lengan Pras yang dilipat depan dada.


"Baru juga makan tadi, aku belum lapar!" jawab Pras dan Zakira yang kembali ke dapur itu kembali mendapatkan perintah dari Norma.


"Enggak usah ditawarin, diambilin aja makannya!" kata Norma seraya mengambilkan makan untuk putranya.


"Tapi, Mas Pras masih kenyang katanya, Bu," kata Zakira yang mencoba menjelaskan.


"Dia itu kalau enggak diambilin enggak mau makan!" kata Norma yang memaksa dan Zakira pun akhirnya mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Udah dibilang, aku belum lapar, kamu mau aku gendut, ya?"


Zakira menarik nafas dalam, Norma memaksa untuk Pras makan dan yang dipaksa menolak. Zakira dalam situasi yang tak mengenakan.


Lalu, Zakira pun menjelaskan kalau itu perintah Norma. Akhirnya, Pras mau tak mau memakan makanan tersebut.


"Kamu ambilin nasi banyak banget, sih!" protes Pras yang merasa kalau perutnya sudah tidak muat lagi.


"Ibu yang ambilin, Mas." Zakira menjawab dan Pras hanya bisa menerima.


Setelah hari sudah sore, Zakira pun mengajak Pras untuk pulang, Zakira ingin beristirahat di rumah dan Pras mengajak Zakira untuk menginap.


Zakira pun mengiyakan dan di kamar lama Pras, Zakira menanyakan kapan menjenguk Mar dan Jalen lagi.


Pras menjawab tidak tau dan Zakira meminta setelah gajian.


"Tanggal muda, ya, Mas. Setelah gajian!"


"Liat aja nanti," kata Pras yang sedang memunggunginya.


Zakira menarik nafas dalam, setiap malamnya ia hanya bisa menatap punggung suaminya.

__ADS_1


Lalu, Zakira pun memeluk Pras dari belakang.


Dalam hati, Pras merasa heran dengan Zakira yang walau sudah diperlakukan kasar, tetapi, Zakira masih saja berbuat baik padanya.


Selesai dengan hari libur, Pras yang kembali bekerja itu tak mengalami kejadian apapun.


"Apa karena aku enggak bikin dia nangis, ya?" kata Pras dalam hati.


Sepulang dari bekerja, Pras harus menunggu lama untuk dibukakan pintu, Pras memprotes Zakira.


"Ngapain aja, sih?" tanya Pras dan Zakira menjawab kalau dirinya harus membuang air besar.


Pras tak mau tau yang Pras mau, Zakira tidak mengulanginya lagi, Pras tak mau menunggu terlalu lama.


Zakira hanya bisa menjawab, "Iya, akan ku usahakan."


"Ya Allah, aku tau, aku bukanlah hamba yang baik, tapi aku mohon, Ya Allah, lembutkanlah hati suamiku," doa Zakira dalam hati.


"Mas, aku tau aku salah, tapi seenggaknya, kamu bisa kan bicara dengan baik?"


"Apa, sih. Enggak usah lebay!" jawabnya.


Tak mau berdebat, Zakira pun mengambilkan makanan untuk Pras dan Pras menolak makanan yang Zakira sajikan, Pras meminta pada Zakira untuk dibelikan nasi goreng.


Zakira pun berangkat untuk itu.


Setelah mendapatkan nasi gorengnya, Zakira yang berjalan kaki ke pangkalan nasi goreng itu segera kembali dan sesampainya di rumah, Pras sudah memakan makanan yang Zakira siapkan sebelumnya.


"Terus, nasi goreng ini buat siapa, Mas?" tanya Zakira seraya menatap memelas pada Pras yang seolah mengerjainya.


"Kasih aja buat tetangga!" jawab Pras dan Zakira pun memberikan nasi goreng tersebut pada anak tetangganya.


"Mungkin aku disuruh berbagi lewat Mas Pras yang begitu!" batin Zakira.


Dan Pras yang merasa heran itu pun mempertanyakan itu pada Zakira.


"Hati kamu terbuat dari apa, sih? Kenapa enggak pernah marah?" tanya Pras seraya menatap Zakira yang sedang mengambil mukenanya.


"Kenapa? Kamu mau aku jadi pemarah?" tanya Zakira.


"Ya heran aja, padahal aku udah berbuat buruk," jawab Pras yang kemudian berbaring di kasur lepeknya.


"Karena aku yakin dan percaya kalau kamu itu sebenarnya orang yang baik, Mas," kata Zakira dan Pras pun tak mempertanyakan apapun lagi.


Apakah Pras mulai luluh dengan ketulusan Zakira?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2