HIDUPKU SETELAH MENIKAH

HIDUPKU SETELAH MENIKAH
Zakira Hamil


__ADS_3

Norma yang merasa kalau apa yang dilakukannya itu benar pun tak menerima ucapan suaminya.


"Ibu berbuat seperti itu juga buat kebaikan mereka, biar mereka jadi orang punya!" jawab Norma yang menatap Darma dengan sebal.


"Kalau begitu ya terima aja hasilnya, jangan mengeluhkan!" kata Darma dan Norma pun tak menjawab.


****


Sore harinya, Pras yang menjemput Zakira itu pun bertanya, "Mau langsung ke dokter atau mau pulang dulu?"


"Pulang dulu gimana? Biar mandi dulu?"


"Iya udah, yuk pulang," ajak Pras dan Zakira pun segera naik ke motor suaminya.


Pras membawa tangan Zakira untuk memeluknya dan Zakira pun menyandarkan dagunya di bahu suaminya.


Sesampainya di rumah, Pras segera menyuruh Zakira untuk mandi lalu bersiap.


"Tanggung maghrib, Mas. Kalau habis Maghrib aja gimana?" tanya Zakira dan Pras pun mengiyakan.


Kali ini, Zakira tidak sholat sendiri, iya menjadi makmum.


Zakira merasa bahagia saat suaminya benar-benar menunjukkan kesungguhannya.


Dalam sujud terakhirnya, Zakira memohon agar suaminya tetap mencintai sampai akhir dan memohon ampun atas dosa-dosa dirinya dan suaminya.


Singkat cerita, sekarang, Zakira sudah dalam pemeriksaan, dokter kandungan pun mengatakan kalau semua baik dan normal hanya menunggu waktu.


****


Sepulangnya, Pras mengajak Zakira untuk makan malam, Pras membelokan motornya ke sebuah kedai seafood.


Pras juga memesan untuk Norma dan Darma.


Seraya menunggu, Pras mengatakan kalau minggu depan dirinya memiliki waktu luang dan bisa pergi ke Bogor.


Zakira pun merasa senang. Ia memberikan senyum manis pada suaminya.


Selesai dengan makan malam, Pras dan Zakira mampir ke rumah Norma.


Norma yang membukakan pintu itu menanyakan dari mana mereka dan Pras menjawab, "Kami habis periksa, Bu!"


"Siapa sakit?" tanya Norma seraya menutup pintu.


"Enggak ada yang sakit, Bu," jawab Zakira.


"Terus buat apa periksa?" tanya Norma yang tak mengenal maksud Zakira dan Pras.


"Kami periksa kandungan, Bu. Alhamdulillah hasilnya semua baik, tinggal tunggu waktu aja," kata Pras yang mencoba menjelaskan.


"Enggak sabaran, emang ke dokter kandungan enggak bayar mahal? Buang-buang uang aja!" kata Norma.


Mendengar itu, Zakira dan Pras hanya saling menatap.


"Uang bisa dicari, Bu," jawab Pras seraya duduk di sofa ruang tamu.


"Bapak mana?" tanya Pras.

__ADS_1


"Udah tidur, kecapean, toko ramai!" jawab Norma seraya bangun berniat memberitahu Darma kalau ada anak dan menantunya.


"Enggak usah dibangunin, Bu. Kami sebentar aja, mampir bawakan ini buat Ibu sama Bapak," kata Pras seraya memberikan bingkisannya.


Mendapatkan perhatian yang seperti itu, bukannya senang, justru Norma mencela kalau keduanya suka menghamburkan uang dengan terus membeli makan di luar.


Zakira hanya bisa diam, ia tak ingin menjawab karena bisa dikatai tak sopan. Begitulah pikir Zakira.


Setelah itu, Pras pun mengajak Zakira untuk pulang ke kontrakan.


Di perjalanan, Pras meminta pada Zakira untuk tidak mengambil hati dari setiap ucapan Norma dan Zakira yang tengah memeluk Pras dari belakang itu pun mengiyakan.


Selama sikap Pras baik padanya, Zakira merasa tak akan merasa sakit atau memikirkan ucapan orang lain.


Setibanya di rumah, Pras yang langsung memasukkan motornya itu tidak lupa mengunci pintu.


Dan baru saja Zakira duduk di kasur lantainya, Pras sudah membawanya ke dalam kungkungannya.


Zakira yang berada di bawah Pras itu menatapnya seraya tersenyum, tangannya berada di bahu suaminya.


"Ayo, kita bikin dedek bayi, biar lengkap kebahagiaan kita!" ajak Pras dan Zakira pun mengiyakan dan terjadilah yang seharusnya terjadi.


****


Hari-hari telah dilalui dengan baik oleh Zakira dan Pras. Keduanya menjalani hari penuh dengan kasih dan sayang.


Zakira tak berhenti mengucap syukur.


Sekarang, Zakira yang sedang berdiri di seberang jalan itu merasa pusing dan hampir jatuh.


"Mbak? Sakit?" tanya wanita itu seraya memegangi lengan Zakira.


"Aku pusing, Bu." Zakira menjawab dengan memijit kepalanya.


"Oo, iya... iya, sekarang, Mbak mau kemana?" tanyanya pada Zakira.


"Mau ke seberang, Bu. Aku janjian di sana sama suami," jawab Zakira dan wanita itu pun membantu Zakira.


Zakira mengucapkan terimakasih dan wanita itu pergi setelah Pras datang.


Pras yang sudah mengetahui kalau Zakira sedang sakit itu pun membawa Zakira ke klinik.


Di sana, Zakira mendapatkan banyak pertanyaan termasuk kapan terakhir datang bulan.


Setelah itu, Zakira pun mendapatkan test pack dari dokter yang menyarankan untuk mengambil urin pertama di pagi hari.


****


Sesampainya di rumah, Pras merawat Zakira yang tengah sakit, ia mengambilkan makan malam dan membujuk Zakira supaya mau makan.


Pras juga membantu istrinya untuk berganti pakaian.


"Terimakasih, Mas," kata Zakira yang kemudian berbaring.


Setelah meminum obat, Zakira pun memilih untuk tidur dan Pras yang menemaninya itu memainkan ponselnya.


Keesokannya, Zakira yang bangun sebelum subuh itu merasa sudah sedikit membaik, lalu, Zakira yang tak melupakan pesan dokter pun segera mengambil urinnya, lalu mencelupkan alat tes kehamilan tersebut.

__ADS_1


Zakira menunggu dan hasilnya adalah garis dua.


Zakira merasa bahagia dan mengucap syukur dalam hati, setelah itu, Zakira segera keluar dari kamar mandi dan membangunkan suaminya.


"Mas... Mas. Bangun, Mas!" kata Zakira dengan semangat.


Pras yang masih dengan mengantuknya itu membuka mata menatap Zakira yang duduk di depannya.


"Ada apa?" tanya Pras seraya bangun merubah posisinya menjadi duduk.


Zakira menjawab dengan menunjukkan alat tes tersebut.


Lalu, Zakira berbicara dengan lirih, "Aku hamil."


Pras pun mengucap syukur, "Alhamdulillah."


Setelah itu, Pras memeluk Zakira dan mengucapkan terimakasih.


"Kamu harus jaga kandungan ini baik-baik! Nanti kita pergi ke dokter/bidan lagi!"


Zakira mengangguk dan saat itu Juga Zakira merasa mual dan Zakira mengalami morning sickness.


Zakira bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.


Dan Pras memijit tengkuk Zakira dengan lembut.


Melihat keadaan Zakira yang seperti itu, Pras pun menjadi khawatir dan melarang Zakira untuk bekerja.


"Tapi, Mas. Nanti gimana dengan kebutuhan kita?" tanya Zakira seraya menatap Pras.


"Rejeki pasti ada, kamu jangan khawatir!" kata Pras dan Zakira mengangguk.


Tetapi, Zakira meminta izin pada suaminya untuk berangkat bekerja, untuk terakhir kalinya dan Pras pun mengiyakan. Pras mengantar Zakira dan menjemputnya sepulang bekerja.


Sementara itu, di dalam pabrik, Zakira sedang bersalaman dengan semua rekan kerjanya.


Dari sebagian, mereka menangisi Zakira dan Zakira mengatakan kalau nanti pasti akan bertemu lagi.


Setelah itu, Zakira pamit pada Nia yang menunggunya di meja kerjanya.


"Kak, Rara pamit, ya. Rara minta maaf kalau selama ini banyak salah sama Kak Nia!" Zakira pun memeluk Nia dan Nia tak menjawab apapun.


Bagi Nia, Ini terlalu terburu-buru dan Nia berpikir kalau dirinya tidak akan semudah dan secepatnya menemukan rekan kerja seperti Zakira yang dapat diandalkan.


"Kamu yakin, Ra?" tanya Nia seraya melepaskan pelukan Zakira.


Zakira menjawab, "Yakin, lagi pula kalau aku mabuk gini, emang bisa kerja?"


"Iya udah, baik-baik. Jangan lupa sama gue!" kata Nia yang mencoba tegar dan tak ingin menangis.


Zakira pun mengiyakan.


Setelah itu, Zakira pun ikut membubarkan diri bersama dengan karyawan yang tengah hamil, ya, karyawan hamil mendapatkan hak istimewa yaitu keluar dari pabrik 5 menit sebelum bel berbunyi.


Bersambung.


Yeey... akhirnya Zakira hamil.

__ADS_1


__ADS_2