HIDUPKU SETELAH MENIKAH

HIDUPKU SETELAH MENIKAH
Jangan Salahkan Orang Lain!


__ADS_3

Setelah keduanya sampai di rumah Ninik, mereka melihat kalau rumah itu sedang ramai. Ya, ada Lina dan Heru yang juga sedang berkunjung.


"Assalamu'alaikum," seru Zakira dan Pras bersamaan.


Semua orang yang sedang berkumpul pun menjawab, "Waalaikumsalam."


"Eh, Pras. Habis jatoh ya, katanya?" tanya Heru seraya menatap pada Pras.


"Iya," jawab Pras singkat.


Pras dan Zakira sama-sama melepaskan alas kaki lalu masuk ke rumah.


Dan Ninik menyuruh membuat minumnya sendiri.


"Bikin minum sendiri sekalian itu buat Pras!" kata Ninik seraya menatap Zakira.


Dan Zakira yang sedang bersalaman dengan Lina itu menganggukkan kepala.


Selesai bersalaman dengan semua orang, Zakira pun pergi ke dapur, ia menyiapkan minum untuk dirinya dan suami.


Di dapur, Zakira yang akan membuatkan es teh manis untuk suaminya itu melihat gelas miliknya di rak piring.


"Oo, pantesan ku cariin enggak ada," batin Zakira.


"Biarlah, mungkin Mbak Ninik lupa," kata Zakira dan Zakira menggunakan gelas lain, ia seolah tak melihat gelas miliknya.


Di depan, Zakira baru saja ikut duduk dan Zakira duduk di samping Pras.


Semuanya terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius.


Zakira yang tak mengetahui dari awal itu hanya diam untuk mendengarkan.


Lalu, Ninik dan Lina bersamaan menatap Zakira dan Zakira menjadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Kenapa mereka liatin aku kaya gitu?"


"Zakira aja! Kamu enggak usah ngontrak, tinggal aja sama Ibu, sekalian buat temen, kan bisa nabung juga," kata Lina yang masih menatap Zakira.


"Pantesan mereka natap aku kaya gitu, ternyata ada maunya!" batin Zakira.

__ADS_1


"Maaf, ini kalian terlalu ngatur menurut ku!" batin Zakira. Ia hanya bisa tersenyum dan tak menjawab.


"Iya, kalau kerja terus juga nanti kapan hamil? Mending enggak usah kerja, terus tinggal di rumah Ibu," sambung Ninik.


Siang ini, Zakira merasa menyesal karena telah mengunjungi mertuanya yang sedang berkumpul. Zakira seolah disudutkan oleh ipar-iparnya yang tak mau merawat Norma.


Dan Norma hanya diam. Ia sendiri merasa sedih, bahkan, Ninik yang anak kandung sendiri pun tak mau menemani.


"Udah dibilang, kataku... Ibu enggak usah capek-capek bolak-balik ke pasar, udah ngurus rumah aja, temenin cucu! Eh malah enggak mau!" kata Ninik seraya mengupas buah pir dari kulkasnya.


"Ibu capek lah! Waktuku muda ku ngurus kalian pada kecil, udah tua malah di suruh momong cucu! Mending jaga toko aku dari pada liat bocah pada enggak bisa diem, ngejar-ngejar bocah ke sana kemari!" jawab Norma yang merasa sebal pada Ninik.


Lagi-lagi, Ninik meminta pada Norma untuk mengawasi anak-anaknya selama ia berjaga toko.


Norma pun bangun dari duduk, ia pergi dari rumah yang dihuni Ninik dan kembali ke rumahnya.


Semua orang hanya bisa melihat begitu juga Zakira.


"Udah sih, Ra! Kamu aja tinggal sama Ibu!" kata Ninik pada Zakira.


"Ada maunya aja ngomong sama aku! Giliran enggak ada ya mana mau ngomong sama aku!" batin Zakira.


Dan lagi, Zakira yang merasa tidak enakan itu pun hanya diam, ia akan membicarakan itu pada Pras nanti.


Lalu, Zakira yang merasa tak mau terus menerus disudutkan itu pun mengeluarkan pendapatnya.


"Maaf, Mbak. Mbak Ninik kan bisa enggak ke pasar juga, karena di pasar udah ada karyawan yang bantu Bapak sama Mas Anto," kata Zakira, ia mengingatkan kalau orang yang paling tidak sibuk adalah dirinya.


"Lain, lah, aku kalau pun enggak ke pasar ada anak-anak yang harus ku jaga," jawab Ninik seraya melirik Zakira.


"Anak-anak udah pada gede, udah pada main sendiri aja!" timpal Pras dan Ninik pun menjawab kalau dirinya tidak cocok dengan Ibunya.


"Aku itu enggak cocok sama Ibu, pasti berantem terus!" jawab Ninik dan Zakira pun menjawab dalam hati.


"Bukan sama Ibu doang, kayanya sama yang enggak kamu sukai, Mbak. Mbak bakalan musuhin!" batin Zakira.


"Gimana, Pah?" tanya Lina pada Heru yang sedari tadi diam.


"Mau bawa Ibu sama Bapak ke Karawang ntar mereka enggak pada betah karena kita kan sibuk kerja, anak-anak kita juga enggak di rumah kalau siang, nanti sama aja sepi di sana!" lanjut Lina seraya menatap Heru.

__ADS_1


"Ya gimana, menurut ku, udah ada karyawan di toko ya tinggal Anto awasi aja, terus Bapak sama Ibu di rumah, udah pada tua biar pada rajin ibadah aja! Jadi Ibu enggak kesepian ada Bapak di rumah!" kata Heru seraya menatap adik-adiknya.


"Bapak mana mau, orang di rumah Ibu ngomel mulu, nyuruh ini nyuruh itu, ada orang tidur diomelin, enggak bisa istirahat juga Bapak kalau di rumah," timpal Ninik seraya menatap Heru.


"Ya mau gimana," jawab Heru terdengar pasrah.


"Suaminya sendiri aja enggak betah, gimana orang lain mau betah, coba," Zakira membatin.


Setelah itu, Zakira yang melihat perabotan bekas makan dan minum masih berantakan itu merasa kalau harus membantu Ninik sebelum dirinya kembali ke kontrakan.


Lalu, Pras pun mencari Zakira yang sedang berada di dapur.


"Kamu ngapain?" tanya Pras.


"Nyuci piring," jawab Zakira seraya menatap Pras.


"Udah, tinggal aja, kita pulang!" kata Pras yang tak mau melihat istrinya sibuk sendiri di dapur sedangkan yang lain sedang bercerita di depan.


Pras dan Zakira pun pamit pada semuanya.


Sebelum itu, Pras dan Zakira juga pamit pada Norma yang sedang menonton televisi di rumah.


"Ya, Hati-hati!" kata Norma pada Pras dan Zakira yang mencium punggung tangannya.


****


Keesokannya, di depan rumah Norma, ia sedang membeli sayur di gerobak keliling.


Norma pun bertemu banyak tetangganya yang juga sama sedang membeli sayur.


"Bu Norma, kemarin aku lihat anak dan mantumu, mereka keliatan sombong apa karena Pras salah pilih istri?" tanyanya pada Norma dan Norma menjawab kalau anak-anaknya itu sebenarnya baik jadi tergantung istri-istrinya.


"Iya... iya, semua anak-anak Bu Norma keliatannya pada takut istri, apalagi Mas Heru, dia kaya nurut dan manuuuuut banget sama Mbak Lina," katanya lagi dan Norma pun sebenarnya malas untuk mendengarkan, ia berpikir kalau anak-anaknya lebih memilih istri dari pada Ibunya sendiri.


Selesai dengan berbelanja, Norma pun masuk ke rumah, ia menjadi terbawa perasaan karena ucapan tetangganya itu.


Norma memasak dengan kesal sehingga membuat hasil masakannya itu menjadi tidak jelas rasanya.


Selesai dengan memasak, Norma pun mengantarkan masakan itu ke pasar. Di pasar, Norma menceritakan apa yang tetangganya itu katakan.

__ADS_1


"Bu, enggak salah Heru nurut sama Lina, kan dulu Ibu yang nyuruh Lina sama Heru buat mandiri dengan ngambil KPR di daerah sana karena di sana sedang ada promo, sedangkan Ibu tau sendiri kalau jaraknya ke sini itu jauh! Sudah, jangan salahkan orang!" kata Darma seraya menerima rantang bawaan Norma.


Bersambung.


__ADS_2