
Setelah Zakira tak terlihat, ternyata, Nia menangis, ia tak mampu lagi menyembunyikan sedihnya karena harus berpisah dengan Zakira.
Tatiana yang sedang berjalan kearah pintu keluar pun berhenti sejenak, ia meminta pada Nia untuk tetap semangat dan Nia memeluk Ana.
"An... cepet banget, sih. Masa dia keluar gitu aja, mau gue tahan kondisinya lagi hamil!" kata Nia seraya sesenggukan, ia mengusap ingus yang mengalir bersamaan dengan air mata.
Ana pun menepuk punggung wanita berbadan sekali itu. "Sabar, kita doakan aja semoga Zakira tetap bahagia, suaminya enggak berubah lagi jadi jelmaan siluman!" kata Ana dan Nia pun segera melepaskan pelukannya.
"Udah, pulang sana, gue ada lembur sampai jam 8!" kata Nia seraya mengelap matanya yang basah menggunakan tisu.
"Iya, semangat ya, brai! Tolong, kalau sempat, di meja gue ada permakan, tolong di permak sekalian biar enggak ketinggalan ekspor!"
"Enak aja lo, siapa lo nyuruh-nyuruh gue!" sebal Nia pada Ana dan Ana hanya menjawab dengan tersenyum.
Sementara itu, Zakira dan Pras sudah berada di klinik dan keduanya sedang mengantri di Poli Kia.
Tidak lama menunggu, Zakira pun segera dipanggil dan Pras menemani istrinya masuk.
Ini adalah USG pertama, ternyata, melihat kehamilan Zakira yang masih sebesar biji kacang hijau itu mampu membuat hati Pras berdesir, merasakan kebahagiaan dan ia mengusap rambut Zakira yang hitam.
"Dia perempuan atau laki-laki, Bu?" tanya Pras yang tak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anaknya.
Zakira dan bidan pun tersenyum.
"Belum bisa diprediksi, ya, Pak. Nanti usia kehamilan tiga bulan ke atas baru bisa, jangan lupa vitaminnya diminum, jaga kesehatan, jangan terlalu lelah!" kata Bidan pada Zakira dan Pras.
Keduanya mengiyakan dan segera pulang setelah mendapatkan vitaminnya.
Di jalan, tak berhentinya Pras memegangi tangan Zakira yang melingkar di perutnya.
"Mas, fokus aja nyetirnya," kata Zakira yang menyender pada suaminya.
"Aku selalu fokus, sayang!" jawab Pras dan Zakira pun tersenyum, walau terlihat pucat, Zakira masih cantik dan manis.
Sekarang, keduanya sudah sampai di kontrakan, Pras meminta pada Zakira untuk istirahat dan sebelum itu, Pras menyiapkan makan dan minum lengkap dengan vitaminnya.
Walau tak selera saat melihat makanan, tetapi, demi janin yang ada di kandungannya, Zakira pun tetap melahap bubur ayam yang dibelikan oleh suaminya.
"Kok enggak habis, Yang?" tanya Pras yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, aku masih mual, khawatir nanti bukannya ke isi malah keluar semua!" jawab Zakira dan Pras pun tak memaksakan.
__ADS_1
Dan malam ini, keduanya tidur dengan berpelukan sampai pagi, Zakira yang masih dengan mualnya itu tetap menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya dan karena tidak memasak, sebelum bekerja, Pras mencarikan makanan lebih dulu, setelah itu, Pras dapat bekerja dengan tenang.
"Hati-hati di rumah, jaga diri, jaga kandungan!" kata Pras dan Zakira yang baru saja mencium punggung tangan Pras itu menganggukkan kepala.
****
Karena bosan, Zakira yang sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya itu memilih untuk tidur.
Dan tak terasa ternyata hari sudah sore, Zakira pun melaksanakan sholat ashar, selesai dengan itu, Zakira membuka pintu saat Pras yang kembali dari bekerja itu mengetuknya.
"Kamu bawa apa, Mas?" tanya Zakira yang melihat Pras membawa bingkisan besar.
"Selama ini, aku sering dapat tips, aku kumpulkan dan sekarang, bisa buat beli kasur ini!" jawab Pras seraya membuka bungkusannya dan merapikan kasur lepeknya.
"Biar kamu sama dede kita enggak masuk angin atau sakit badannya!" kata Pras seraya mengusap perut Zakira yang masih rata.
"Alhamdulillah, makasih, Mas. Semoga rejeki kamu makin lancar!" kata Zakira yang mendoakan suaminya seraya mengusap pipinya.
Pras pun mengecup kening Zakira dan meminta pada Zakira untuk segera memasang sprei lalu beristirahat bersama.
Hari-hari bahagia dilalui oleh Pras dan Zakira yang tengah menanti kehadiran anak pertamanya.
Setelah beberapa bulan mengandung, sekarang, Pras yang bekerja sendiri tanpa dibantu Zakira itu baru saja mendapatkan rejeki yang tak diduga.
Pras yang tengah bahagia itu ingin berbagi dengan Ibu dan Ayahnya, di hari libur Pras mengajak Zakira ke rumah Norma.
"Yang, karena kamu lagi hamil, kita jadi enggak bisa perjalanan jauh, kamu sabar, ya!" kata Pras dan Zakira pun mengiyakan.
"Iya, tapi... Mama dan Bapak yang ke sini boleh?" tanya Zakira dan Pras menjawab boleh.
****
Setelah selesai bersiap, sekarang Pras dan Zakira sudah dalam perjalanan menuju rumah Norma.
Karena jarak yang dekat, itu membuat keduanya tak membutuhkan lama.
Sesampainya di sana, Norma semakin sensitif terhadap Zakira yang menurutnya manja.
Di saat Pras sedang mencuci motor di depan, Norma yang sedang bersantai itu menyuruh Zakira untuk memasak.
"Masak sana, Ra! Nanti mau makan enggak ada makanan!" perintahnya.
__ADS_1
Dan Pras yang akan mengambil shampo motor itu mendengar.
Pras ingin melarang, tetapi, takut membuat Ibunya kecewa.
Pras pun hanya bisa diam walau dalam hatinya tak tega melihat istrinya yang berbadan gendut itu harus kelelahan.
Pras melanjutkan pekerjaannya dan setelah itu, Pras dihampiri oleh Zakira yang berbadan gendut, Zakira memanggil Pras untuk makan siang.
"Mas, ayo makan dulu," ajak Zakira.
"Bentar, lagi tanggung!" jawab Pras yang sedang mengelap motornya.
Setelah itu, Pras pun masuk menyusul Zakira dan ikut bergabung di meja makan.
Di sana, Pras memberitahu kalau sekarang Pras sudah menjadi karyawan tetap.
"Alhamdulillah," jawab Norma seraya menatap Pras.
"Berkat doa Ibu!" kata Norma dan Zakira dalam hati pun menjawab, "Juga ada doaku untuk suami ku, Bu."
Selesai dengan makan siang, Zakira pun mencuci semua perabotan bekas memasak dan makan siangnya.
Melihat istrinya yang tak dapat istirahat, Pras pun mengajak Zakira untuk pulang, tetapi, Norma mencegahnya dengan memintanya diantarkan makan siang Darma.
"Iya udah, aku ke pasar dulu, ya!" kata Pras pada Zakira dan Zakira sebenarnya ingin ikut, tetapi, Pras pasti akan melarang.
Setelah Pras tak terlihat, Norma yang sedang duduk bersama dengan Zakira di ruang tengah itu mengatakan sesuatu.
"Berapa banyak yang anak saya habiskan untuk kalian dalam sebulan?" tanyanya pada Zakira.
Zakira pun menjawab dengan apa adanya.
"Semua kebutuhan rumah tangga, Bu. Lagi pula, ini kan sudah menjadi tanggung-jawab Mas Pras sebagai kepala rumah tangga."
"Kenapa enggak balik lagi aja sih, ke sini, itu rumah nanti saya sekat biar kamu mau pindah!" kata Norma dengan datarnya, matanya terus memandang lurus ke depan, ke layar kaca televisi.
"Maaf, Bu. Kami udah nyaman seperti ini," jawab Zakira.
"Halah, suami bisa jadi orang punya itu tergantung perempuannya!" kata Norma dengan ketus.
Dalam hati, Zakira menyebut nama Allah, "Ya Allah... namanya juga rumah tangga, udah pasti ini hidupku sama Mas Pras, kalau dipaksakan di sini tapi enggak nyaman buat apa?" tanya Zakira dalam hati.
__ADS_1
Zakira hanya bisa menjawab dalam hati, ia tau kalau di teruskan tidak akan ada akhirnya. Lebih baik diam, begitulah pikir Zakira.
Bersambung.