
Zakira dan Pras tidur terpisah, Zakira yang memainkan ponselnya di ruang depan itu merasa lelah dan sampai tertidur.
Esoknya, karena hari libur, Zakira meminta pada Pras untuk diantarkan ke pasar tetapi, Pras yang masih memejamkan mata itu menolak.
"Sendiri aja sana! Aku masih ngantuk!" kata Pras seraya memutar kepalanya, ia tak mau menatap Zakira yang sedang menatapnya.
Akhirnya, Zakira pun bangun dari duduk, ia pergi ke pasar sendiri.
Setelah berbelanja, Zakira mulai mengolah belanjaannya.
Zakira memasak sayur asem beserta ayam goreng dan sambal terasi.
Selesai memasak, Zakira yang melihat suaminya itu masih berbaring di kasur lantainya pun membangunkannya.
"Mas, udah siang. Sarapan dulu!" kata Zakira seraya menggoyangkan lengan Pras.
Pras bangun dari tidurnya, ia pergi ke kamar mandi dan ia melihat sayur tersebut di rak piring. Pras yang tak menyukai sayur asem pun memprotesnya.
"Kenapa masak sayur ini, sih?"
"Loh, kenapa, Mas? Kan seger itu," jawab Zakira.
"Aku enggak suka!" Pras pun masuk ke kamar mandi.
"Tapi, waktu pacaran dulu, kamu doyan sayur itu, Mas?" Zakira merasa bingung dengan suaminya.
"Kalau ku bilang enggak suka ya enggak suka!" kata Pras yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Akhirnya, Pras pun makan dengan ayam goreng juga sambal terasinya.
"Terus, aku masak buat siapa ini?" tanya Zakira pada dirinya sendiri.
Selesai dengan sarapannya, Pras pun pergi mandi. Selesai dengan itu, Pras bersiap untuk pergi.
"Mas, mau ke mana?" tanya Zakira yang sedang membereskan pakaian dan memasukkannya ke lemari.
"Kerja, aku mau lembur!" jawab Pras dan Zakira pun menganggukkan kepala.
Setelah itu, Pras pergi tanpa permisi pada Zakira dan Zakira memanggilnya.
"Mas, cium tangan dulu!" kata Zakira yang berada di belakang Pras dan Pras pun dengan berat mengulurkan tangannya.
"Hati-hati," kata Zakira setelah mencium punggung tangan suaminya.
Dan Pras pun tak menjawab, pria itu mengeluarkan motornya lalu pergi begitu saja.
"Ya Allah, lembutkanlah hati suami ku," lirih Zakira dalam hati, ia berdoa untuk suami yang dicintainya.
Setelah itu, Zakira melanjutkan bebenah, setelah lelah, Zakira pun mengistirahatkan tubuhnya.
Seraya berbaring, Zakira menghubungi Mar. Zakira memberi kabar kalau dirinya tidak lagi di rumah Pras.
__ADS_1
Mendengar itu, Mar pun merasa lega.
"Lagian, kalau kamu terus di sana, Mama selalu kepikiran, kamu terlalu lelah, Mama tau itu!" kata Mar dari sambungan teleponnya.
"Iya, Ma. Iya udah, sekarang enggak usah banyak pikiran, Rara baik-baik aja, kok," kata Zakira dan Mar pun mengiyakan.
Mar menanyakan kapan Zakira akan pulang dan Zakira menjawab, "Nanti, Ma. Nunggu Mas Pras enggak sibuk," jawab Zakira.
Dan masih banyak obrolan diantara keduanya, Mar juga menanyakan apa terjadi sesuatu yang membuat Zakira keluar dari rumah Pras dan Zakira menjawab kalau hanya ingin mandiri.
Selesai bercerita ngalor-ngidul, sekarang, keduanya sudah mengakhiri teleponnya.
Merasa mengantuk, Zakira pun tertidur, Zakira yang kelelahan itu sampai tak mendengar suaminya mengetuk pintu.
"Ra!" Pras terus memanggilnya dan karena tak kunjung ada jawaban, Pras pun menghubungi Zakira, Zakira yang terkejut dengan bunyi ponselnya itu segera menerima panggilan Pras.
"Buka pintunya!" kata Pras yang kemudian segera menggeser tombol merah.
Zakira pun bangun dan segera keluar. Setelah membuka pintu, Zakira mengulurkan tangan, tetapi, Pras tak menghiraukan itu.
"Kamu capek, ya, Mas?" tanya Zakira seraya menatap Pras dari belakang, Pras yang sedang meletakkan helm di atas meja kecil itu tak menjawab.
Dalam hati Pras. "Ya capek, lah!"
Setelah itu, Pras pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah, tangan dan kakinya.
Sekeluarnya dari kamar mandi, Zakira langsung memberikan minum untuk suaminya.
Pras kembali ke ruang depan dan Zakira pun menyusul. Zakira ikut duduk di samping Pras yang sedang meluruskan kakinya.
"Gimana kerjaan, Mas? Lancar?" tanya Zakira dan Pras yang sedang memainkan ponselnya itu menatap Zakira.
"Bawel banget, sih! Bisa diem enggak?"
Zakira pun menatap suaminya, bertanya dalam hati, apa yang salah dengan dirinya sehingga suaminya menjadi seperti itu.
"Ada masalah sama kerjaan, Mas?" tanya Zakira yang ingin mengetahui alasan berubahnya sikap Pras.
"Mending kamu mandi nyuci sana kalau enggak ada kerjaan!" kata Pras seraya menatap Zakira.
"Pakaian kotor udah ku cuci semua," jawab Zakira seraya menatap Pras dan Pras sama sekali tak mau menatap wajah istrinya.
"Mas," lirih Zakira seraya tangannya menggenggam tangan kiri Pras.
Pras pun melepaskan tangan itu.
"Mana minum ku?" tanya Pras dan Zakira pun kembali mengambilkan minum untuk suaminya.
"Makan juga, Mas?" tanya Zakira seraya meletakkan gelas itu di depan Pras yang sedang asik memainkan sosial medianya.
"Ambilin aja sih, apa harus ku minta, kan itu kewajiban kamu!" kata Pras dan Zakira mengucap dalam hati.
__ADS_1
"Astaghfirullah, sabar... sabar!"
Zakira pun mengambilkan nasi beserta ayam dan juga sambal. "Ayam lagi... ayam lagi!" kata Pras seraya mengambil piring makanannya.
"Adanya ayam, Mas." Zakira menjawab.
Dan Pras masih terus dengan ponselnya tanpa melihat istrinya.
Selesai dengan makan, Zakira pun bertanya pada Pras.
"Kamu marah sama aku, Mas?"
"Pikir aja sendiri!" kata Pras seraya melepaskan celana jeansnya dan menggantikannya dengan celana kolor.
"Salah ku apa, biar ku perbaiki, biar kamu enggak marah lagi."
"Salah kamu banyak! Termasuk memisahkan aku sama Ibuku!" jawab Pras seraya menatap Zakira.
Zakira merasa sedih mendengar ucapan itu, sungguh... tidak ada niatan Zakira untuk memisahkannya keduanya.
"Kita udah berumah tangga, Mas. Udah seharusnya kita misah, jalani rumah tangga kita sendiri," Zakira mencoba memberikan pengertian.
Dan Pras tak mau mendengarkan.
"Aku juga enggak maksa kamu buat ikut aku, itu keinginan kamu sendiri, terus... kenapa sekarang kamu nyalahin aku?" tanya Zakira yang sudah mulai kesal.
"Karena kamu harus menderita!" ucap Pras masih dengan menatap Zakira.
"Astaghfirullah, kalau itu niatan kamu, kenapa enggak kamu pulangkan aja aku, Mas!"
"Kenapa? Biar kamu bisa sama yang lain?" tanya Pras seraya memajukan wajahnya dan Zakira merasa kalau Pras sangat mengerikan.
Zakira yang sudah berkaca-kaca itu tak habis pikir kalau suaminya berniat ingin menyiksanya.
"Kenapa kamu berubah, Mas?" tanya Zakira dan Pras mengabaikannya, pria itu lelah dan ingin istirahat.
"Apa yang harus ku lakukan, biar kamu enggak marah lagi sama aku, Mas?" tanya Zakira seraya menatap Pras yang memunggunginya.
"Pulang ke rumah!" jawab Pras tanpa melihat istrinya.
"Aku enggak bisa ngulang semuanya, Mas. Aku enggak mau!" jawab Zakira dan jawaban itu sesuai dengan apa yang Pras prediksi.
"Ya... ya... ya, ku udah tau jawaban kamu!" ucap Pras dan Pras tak mau lagi mendengar Zakira, di saat Zakira menjelaskan sesuatu, Pras menjawabnya, "Bla... bla... bla...."
Zakira hanya bisa menangis dan bersambung.
Kapankah Zakira akan menemukan kebahagiaan di dalam rumah tangganya?
jangan lupa like dan komen ya, all.
Maafkan untuk typonya.
__ADS_1