HIDUPKU SETELAH MENIKAH

HIDUPKU SETELAH MENIKAH
Cengeng


__ADS_3

Zakira memilih diam, ia merasa tak perlu bicara dengan suaminya, selain merasa sedih dan kesal, Zakira pun merasa sedikit jengkel, tidak ingin mengganggu suaminya lagi.


Dan sampai malam tiba, keduanya sama-sama saling diam, berbeda dengan Pras yang selalu bermain ponselnya, Zakira sedang menyiapkan sayur untuk dimasak besok pagi.


Selesai dengan itu, sebelum tidur, Zakira melaksanakan sholat Isya lebih dulu.


Dalam sholatnya, Zakira menangis, ia mengadu pada Tuhannya kalau suaminya tidak bijaksana.


Zakira pun berdoa, meminta supaya suaminya dijadikan pria yang penyayang, bertanggung-jawab pada keluarga dan dilembutkan hatinya.


Zakira juga tidak lupa memohon ampun atas segala dosanya.


Selesai dengan sholat dan berdoa, Zakira mengusap wajahnya. Menghapus air matanya, lalu, melepaskan mukenanya dan menyimpannya kembali.


Zakira pun tidur tanpa menunggu suaminya yang masih bermain game online dengan teman-temannya.


Hari libur telah berlalu, Zakira dan Pras tak melaluinya sebagaimana pasangan yang baru menikah, Zakira memilih diam ketika suaminya diam dan sekarang, sebelum subuh, Zakira sudah membuka mata, ia pergi mencuci wajahnya lalu mulai memasak sarapan sekaligus untuk bekal Pras.


"Semoga, lama-lama Mas Pras akan luluh dengan ketulusan aku!" batin Zakira.


Selesai dengan itu, Zakira pun mandi tidak lupa untuk sholat, selalu, di dalam sholatnya, Zakira membawa nama suaminya, mendoakan untuk kebaikannya.


Selesai dengan itu, Zakira pun bersiap, memakai seragam dan membungkus bekalnya.


"Mas." Zakira memanggil Pras, ia harus membangunkan suaminya.


"Hmm," jawab Pras yang masih terpejam.


"Udah siang, kamu enggak kerja?" tanya Zakira seraya menyisir rambut panjangnya.


"Berangkat, tapi siang!" Pras pun kembali melanjutkan tidurnya.


"Aku minta diantar, Mas!" kata Zakira seraya menatap Pras.


"Berangkat sendiri aja!" jawab Pras dan Zakira pun tak mengatakan apapun lagi, tetapi, Zakira mengirim pesan pada Pras.


Zakira mengatakan kalau dirinya sudah menyiapkan bekal di rak.


"Assalamu'alaikum," ucap Zakira seraya menutup pintu kontrakannya.


Tak ada jawaban, Pras yang membuka mata itu membuka ponselnya dan membaca pesan Zakira lalu beralih ke sosial media.


Setelah bermain sosial medianya, Pras pun segera mandi, lalu, bersiap untuk bekerja, walau sudah tau ada bekal, tetapi, Pras tak membawanya.


Pras ingin melukai hati Zakira dengan tak membawa apa yang sudah disiapkan.


Dan baru di tengah perjalanan, Pras tak sengaja melindas paku dan itu membuat ban motornya bocor.

__ADS_1


"Astaga, segala pakai bocor!" gerutu Pras dalam hati, pria itu turun dari motor dan mendorong motornya sampai ke bengkel. Pras menunggu sedikit lama untuk orang bengkel mengganti ban motor.


"Apes, mana gajian masih lama, ban segala pake bocor!" kata Pras seraya menatap layar ponselnya.


Ia melihat nominal saldonya yang menipis.


"Ngapain pusing, kan Rara bentar lagi gajian!" kata Pras seraya kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya.


****


Jam istirahat, Zakira yang melihat ada buah salak milik temannya di meja itu terdiam.


Zakira mengingat waktu dulu masih menjadi pacar Pras, Pras yang begitu menyayanginya tak ingin Zakira terluka karena mengupas kulit salak, tetapi, sekarang, justru Pras menorehkan luka di hati Zakira.


Sore ini, Zakira lembur dan Pras sudah menunggu di depan pabrik.


Sebenarnya, Pras ingin menjaga Zakira dari pria lain.


Pras takut kalau Zakira akan digoda atau direbut oleh pria lain. Ya, Pras curiga dengan Rama yang waktu itu terlihat memberi senyum pada Istrinya.


Selesai dengan jam kerjanya, Zakira yang sudah naik ke motor Ana itu melihat ke arah bawah pohon, di mana Pras selalu menunggunya dan benar saja, Zakira melihat kalau Pras sudah menunggu.


"Kak An. Aku dijemput, aku pulang duluan, ya. Terimakasih tawarannya," kata Zakira seraya turun dari motor Ana yang masih berada di dalam pagar.


"Iya, hati-hati!" kata Ana dan Zakira menganggukkan kepala.


"Kamu udah lama, Mas?" tanya Zakira seraya mengulurkan tangannya, gadis berseragam biru itu meminta tangan suaminya dan Pras pun mengulurkannya.


Zakira mencium punggung tangan itu, lalu segera naik ke motor suaminya.


Zakira yang selalu ingin memperbaiki hubungannya itu mencoba mendekati Pras dengan memeluknya dari belakang.


"Enggak usah nempel-nempel! Risih aku!" kata Pras seraya menggoyangkan punggungnya dan Zakira pun melepaskan pelukan itu.


Dan karena sudah lapar, Zakira pun bertanya, "Malam ini mau makan apa, Mas?"


"Terserah!" jawab Pras.


"Iya udah, kita beli pecel lele aja gimana?" tanya Zakira dan Pras pun tak menjawab.


"Gimana? Kamu mau enggak pecel lele?" tanya Zakira sekali lagi, ia menatap Pras dari kaca spionnya.


Pras yang fokus mengendarai motornya itu menjawab, "Iya udah, sih. Kalau mau pecel ya tinggal beli!"


Zakira pun menarik nafas.


"Astaghfirullah, Ya Tuhan. Lembutkanlah hati suamiku," doa Zakira dalam hati.

__ADS_1


"Iya udah, ku mau pecel lele," kata Zakira dan Pras yang melihat ada warung pecel pun menepikan motornya.


Zakira membeli dua pecel lele.


Sesampainya di rumah, Zakira yang tengah kelaparan itu langsung pergi mencuci tangan, mengambil minum untuknya dan Pras. Dan saat itu juga, Zakira melihat bekal Pras yang masih ada di rak piring.


"Dia enggak bawa bekal ini," batin Zakira. Zakira mencoba bersabar, ia tak ingin membahas soal bekal, tak mau menjadi masalah.


Setelah itu.


Zakira menyiapkan pecel tersebut di ruang depan. Tetapi, Pras memilih untuk berbaring di ruang belakang dengan memainkan ponselnya.


"Mas, kamu enggak makan dulu?" tanya Zakira seraya memindahkan pecel tersebut ke piring.


Pras tak menjawab, ia diam saja, memilih asik dengan gamenya.


Zakira pun melongokkan kepalanya, ia hanya membatin, "Giliran sama hape aja ketawa-ketawa, giliran sama istri aja marah-marah!"


Zakira pun melanjutkan makan malamnya sendiri.


"Bersuami tapi seperti tak bersuami," batin Zakira.


Setelah selesai semua dengan urusan beres-beres kontrakan, Zakira yang belum melaksanakan sholat Isya pun melaksanakannya.


Ia kembali menangis dalam sholatnya dan Pras mengetahui itu, tetapi, pria itu memilih untuk tetap acuh.


Dan baru saja Zakira berbaring, Pras meminta pada Zakira untuk diambilkan makan.


"Tadi diambilin enggak mau, sekarang minta makan," kata Zakira seraya kembali bangun dari berbaringnya.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Pras seraya menatap Zakira.


"Bukan gitu, tapi-" ucap Zakira yang terpotong karena Pras mencelanya.


"Kalau enggak mau ya udah, biar ku ambil sendiri!" kata Pras seraya bangun dari berbaringnya dan mengambil piring yang berada di tangan Zakira.


"Enggak papa, buka aku keberatan atau enggak mau," kata Zakira seraya menatap Pras.


"Lepas!" kata Pras yang menatap tajam istrinya.


Zakira pun menitikkan air matanya.


"Cengeng!" kata Pras yang melihat air mata itu.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen ya, all.

__ADS_1


Maafkan typonya ☺✌


__ADS_2