
Sesampainya di rumah, Pras yang merasa kesal itu kembali mendapatkan pertanyaan dari Darma.
"Di mana istri mu, Pras?" tanya Darma yang ternyata menunggu Pras di rumahnya.
"Ada, dia ngekos sama temennya," jawab Pras seraya memasukkan motornya ke dalam gerbang.
"Bapak tidak mengajarkan kamu jadi pria tidak bertanggung-jawab, Pras!" kata Darma seraya bangun dari duduk.
Pria tua yang semakin hari semakin kurus bangun dari duduknya, ia meninggalkan Pras yang mulai memikirkan rencana untuk membalas sakit hatinya pada Zakira.
"Baik, kalau itu keinginan Bapak. Pras akan menuruti keinginan Zakira!" kata Pras dan Darma yang baru saja keluar dari gerbang menjawab, "Memang seharusnya kalian tetap sama-sama!"
Setelah itu, Darma pergi meninggalkan Pras.
"Dia istri yang baik, Pras!" kata Darma dalam hati.
Pras pun mulai membuka ponselnya, ia mencari rumah kontrakan dan setelah mendapatkan, keesokannya, Pras pergi menemui si pemilik untuk melihat keadaan rumah tersebut.
"Nanti saya rapikan, kalau Masnya jadi ngontrak tempat ini, orang yang kemarin baru pindah, jadi belum sempat dicat baru lagi," jelas si pemilik kontrakan.
"Berapa sebulan, Pak?" tanya Pras seraya memperhatikan kontrakan 2 petak sudah dengan kamar mandi di dalam.
"800, Mas, udah bebas sama air dan uang sampah," jawabnya.
Pras menganggukkan kepala dan merasa kalau kontrakan itu akan cocok untuk tinggal berdua dibandingkan dengan kos-kosan yang hanya satu petak.
Setelah melihat kontrakan, sekarang, Pras menyusul Zakira dan Zakira yang sedang membawa koper itu mempertanyakan maksud kedatangan suaminya.
"Mau kemana?" tanya Pras yang masih duduk di atas motornya.
"Pindah ke kos sendiri, kamu ngapain ke sini?" tanya Zakira.
"Jemput kamu, aku udah dapat tempat tinggal untuk kita berdua!" kata Pras dan Zakira menatapnya.
"Serius?" tanya Zakira yang berpikir kalau Pras sudah mulai mengerti dirinya.
"Iya, besok kita pindah, sekarang kita pulang, besok kita kemasi barang-barang kita!" ajak Pras dan Zakira sedikit terdiam.
Lalu, Zakira yang masih teringat dengan perlakuan keluarga Pras itu berpikir kalau dirinya malu dan malas untuk kembali ke keluarga Pras.
"Kenapa bengong?" tanya Pras seraya menatap istri cantiknya.
"Aku tunggu di sini aja," jawab Zakira yang menolak secara halus aja kan Pras.
"Aku takut bohong, bilang mau ngontrak nanti ternyata kamu ajak balik aku ke rumah itu!" batin Zakira.
__ADS_1
Dan Pras mempertanyakan kalau bukan mereka yang membereskan barang-barangnya, lalu siapa.
"Kan cuma sedikit, kamu bisa kalau cuma ngurus beberapa barang aja, pokoknya aku tunggu di sini!" kata Zakira yang kemudian kembali ke kos Ana.
Dan Ana yang baru saja kembali dari minimarket itu bertanya-tanya.
"Ada apa?" tanya Ana seraya menatap Zakira dan Pras bergantian.
"Aku malam ini nginap di sini lagi, ya, Kak Ana," kata Zakira.
"Setiap hari juga boleh," jawab Ana seraya berjalan masuk ke kos meninggalkan Zakira dan Pras.
Ana tak ingin ikut campur urusan keduanya yang sepertinya sedang mengobrol.
"Ya udah, besok ku jemput kamu di sini!" kata Pras dan Zakira pun mengiyakan.
****
Singkat cerita, keesokannya, Pras menjemput Zakira, ia mengajak Zakira untuk mengemasi barang-barangnya bersama.
"Enggak usah menghindar dari keluarga ku, walau pun kita bakal ngontrak, tetep aja kan kapan-kapan pasti main ke rumah!" kata Pras dan Zakira pun mengiyakan.
Karena hari sudah petang, Zakira mengajak suaminya untuk sholat lebih dulu, tetapi, Pras hanya menunggu di luar mushola.
Dan karena lapar, Pras pun mengajak Zakira untuk makan malam lebih dulu.
Selesai dengan itu, Pras pun mencari pickup online untuk membawa barangnya.
Norma hanya diam saja di rumah, ia tak mau melihat anak dan menantunya itu pindah.
Dan Norma kembali membandingkannya dengan Heru.
"Enggak seperti Heru! Dia nabung dulu buat DP rumah, setelah itu baru menikah, enggak kaya mereka, di suruh nunggu 2 tahun lagi aja enggak mau dengan alasan akan mencari rejeki sama-sama!" batin Norma. Wanita berdaster itu sedang melipat pakaian bersihnya.
Tidak lama kemudian, Pras dan Zakira pun datang. Keduanya datang untuk berpamitan pada Norma yang berada di kamar.
"Hmm," jawab Norma seraya keluar dari kamar.
"Iya, kalau itu sudah keputusan kalian, kalau nanti susah atau ada apa-apa, balik ke sini aja, Pras!" kata Norma dan Pras hanya diam saja.
Setelah itu, Darma memberikan sedikit uang pada Pras dan Pras menolaknya.
"Enggak, Pak. Seharusnya, Pras yang kasih ke Bapak," kata Pras seraya menolak uang itu.
Dan Darma yang mendapatkan penolakan itu memberikan uang tersebut pada Zakira dengan memasukan uang itu langsung ke dalam saku tas Zakira.
__ADS_1
"Buat tambahan biaya ngontrak rumah, selagi ada," kata Darma dan Zakira pun sama, ia mencoba menolak dengan halus.
"Enggak usah, Pak. Kami kan sama-sama kerja," kata Zakira seraya mengambil uang itu kembali, tetapi, setelah melihat raut wajah kecewa Darma karena tak ada yang mau menerima, akhirnya, Zakira pun kembali memasukkan uang itu ke dalam saku tasnya.
"Kami pamit, Pak." kata Pras dan Zakira yang kemudian mencium punggung tangan Darma dan Norma.
****
Setelah 30 menit perjalanan, Pras dan Zakira sudah sampai di kontrakannya yang tidak terlalu jauh dengan tempat kerja dari keduanya.
"Mas, terimakasih. Kamu udah mau pertahankan rumah tangga kita!" kata Zakira dan Pras hanya diam saja.
Dan Zakira yang menganggap kalau Pras mempertahankan pernikahannya karena cinta itu pun mengulang memanggil suaminya, Zakira beranggapan kalau Pras tak mendengarnya.
"Mas," lirih Zakira dan Pras yang sedang sibuk dengan merapikan perabotan itu menjawab dengan sedikit kasar.
"Apa, sih. Bisa enggak, enggak usah berisik!" kata Pras tanpa melihat wajah istrinya.
Zakira terdiam.
"Dia kenapa, sih?" tanya Zakira dalam hati.
"Mungkin dia capek dan juga masih perasaan karena jauh dari Ibunya," batin Zakira.
Dan Zakira pun mulai membantu suaminya untuk berbenah.
Selesai dengan berbenah, sekarang, Zakira dan Pras sudah beristirahat. Pras berbaring di ruang depan seraya memainkan ponselnya, Pras menonton anime kesukaannya.
Sementara Zakira, ia memperhatikan Pras dari pintu ruang tengahnya, ia pun mencoba untuk kembali dekat dengan suaminya dengan cara ikut berbaring di atas karpet bersama Pras.
"Apaan sih, gerah, tau!" kata Pras seraya menggeser posisinya dan Zakira pun mengikuti Pras dengan sedikit tersenyum.
"Mas, jangan jutek-jutek, gitu!" kata Zakira seraya menatap suaminya.
Dan Pras yang memang bertujuan menyiksa istrinya itu pun meninggalkan Zakira, Pras pindah ke ruang belakang dan Zakira hanya bisa menarik nafas.
Zakira masih berpikir positif dengan suaminya yang cuek itu.
Berpikir kalau Pras belum terbiasa jauh dari Ibunya dan itu membuat Pras jengkel dengan Zakira.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
Vote/giftnya juga, terimakasih ☺
__ADS_1
****