
Pras tak menjawab perkataan Zakira, karena, dulu memang Pras tak pernah berbuat kasar dan sekarang, itu adalah bentuk kekesalan Pras terhadap Zakira yang akhirnya berhasil membawanya keluar dari rumah ibunya.
Itulah alasan berubahnya Pras.
Dan Zakira yang awalnya sangat yakin dapat merubah sikap suaminya itu mulai ragu, ragu karena merubah sifat/sikap seseorang tidaklah semudah merubah diri sendiri.
Berubah, itu adalah kemauan dari hati seseorang. Zakira akhirnya sadar akan itu dan pasrah terhadap ketentuan yang Maha Kuasa.
Lalu, Zakira yang masih duduk di atas sajadahnya itu berpikir, seandainya dirinya hamil dan ada buah hati diantara keduanya, mungkin akan bisa sedikit merubah sikap suaminya.
Zakira pun menatap Pras yang sudah terlelap.
Hari-hari telah Zakira lalui dengan sikap Pras yang masih sama dan akhirnya Zakira yang merasa lelah dengan dirinya sendiri pun bertanya.
Pras yang sedang berada di ruang depan, memainkan ponselnya itu menatap Zakira yang memanggilnya.
Zakira ikut duduk di samping Pras, ia meminta padanya untuk menyimpan sejenak ponselnya.
"Aku mau bicara serius," kata Zakira seraya menatap Pras.
Pras pun menyimpan ponselnya.
"Mau sampai kapan kita kaya gini?" tanya Zakira dan Pras sedikit tersenyum, senyum yang sulit diartikan.
"Sampai kamu merasa lelah," jawab Pras seraya menatap Zakira.
"Aku udah lelah, jadi, mau kamu apa? Aku mau berhenti untuk kamu siksa lahir dan batinku!" kata Zakira, sekuat dan sebisa mungkin, ia menahan air matanya.
Tak ingin terlihat lemah di depan suaminya yang selama ini tak bersikap adil padanya.
"Pulang ke rumah Ibuku! Aku akan berhenti menyiksa kamu!" kata Pras dengan kekeh yang masih meminta Zakira untuk pulang ke rumah Norma.
"Dengan sikap kamu yang seperti ini, aku ragu, ragu bisa bertahan dengan semua! Lagi pula, aku pernah kasih kesempatan dan kamu menyia-nyiakan kesempatan itu, aku engga bisa kasih kesempatan itu lagi!" jawab Zakira yang tak mau kembali ke rumah mertuanya.
"Kalau kamu mau pulang, silahkan pulang! Tidur di ketek ibumu, sana!" kata Zakira dengan sangat kesal, ternyata, selama ini, ia menikah dengan Pras yang sama sekali belum dewasa dan terlalu menjadi anak Ibu yang tak mau jauh dari Ibunya.
Zakira pun bangun dari duduknya.
Ia merasa kesal dengan Pras dan tak mengerti arah pernikahan ini akan dibawa kemana.
__ADS_1
Zakira menangis dan karena hatinya masih terlalu terbawa amarah, Zakira pun kembali ke luar dan meminta pada Pras untuk memulangkannya pada orang tuanya.
"Dari pada kamu siksa aku seperti ini, lebih baik, kamu pulangkan saja aku, Mas!" kata Zakira dan Pras mengatakan kalau tidak akan melakukan itu, bahkan Pras juga menegaskan kalau dirinya tidak akan menceraikan Zakira.
"Aku mencintaimu, aku tidak akan melepaskan kamu!" kata Pras yang kemudian meraih ponselnya lagi dan kembali mengabaikan Zakira.
"Cinta... kamu siksa aku dengan sikap kamu, kamu bilang itu cinta?" tanya Zakira dan Pras tak menghiraukannya.
Lalu, Pras yang masih kekeh dengan pendiriannya itu kembali mengajak Zakira.
"Aku juga capek, kita baikan, kita kembali ke rumah Ibuku!" kata Pras dan Zakira menjawab lebih baik dirinya menjadi janda jika Pras sama sekali tak bisa mengerti dirinya.
"Mas, kamu ajak aku ke rumah ibumu, aku enggak nolak, walaupun kamu enggak mau ke rumah orang tuaku, aku coba sabar, aku udah baik ke keluarga kamu walaupun aku enggak dapat perlakuan yang sama! Aku juga enggak melarang kamu buat kasih ke orang tua kamu, walaupun kamu sendiri pelit ke orang tuaku! Aku enggak bisa balik lagi ke rumah itu!" ucap Zakira dengan tegas.
Zakira kembali ke ruang tengah. Ia merasa telah salah menerima Pras sebagai suaminya.
Keesokan paginya, keduanya masih saling diam, Zakira pergi tanpa pamit dan Pras yang pagi ini masih dengan sikap acuhnya itu mengalami kecelakaan.
Ya, di depan Pras ada seorang pengendara wanita, wanita itu memberikan sen kiri, tetapi, arah motornya ia bawa ke kanan dan Pras hampir menabrak, demi menghindari wanita itu, Pras pun dengan cepat menghindarinya dan tak sengaja, Pras lah yang menjadi korban.
Pras harus ditabrak dari belakang oleh pengendara lainnya dan begitu tanpa merasa berdosanya, si wanita berlalu begitu saja tanpa melihat ke arah belakang sama sekali.
Beruntung, tak ada luka serius, Pras hanya mengalami luka lecet di lengan dan lututnya.
****
Di pabrik, Zakira yang sedang bekerja itu mendapatkan pesan dari Pras, Pras mengatakan kalau dirinya berada di rumah sakit karena kecelakaan.
Membaca pesan itu membuat Zakira berpikir yang macam-macam, Zakira pun menjadi lemas.
Zakira berjalan mendekati Nia yang sedang berbicara dengan manager.
"Ada apa, Ra?" tanya Nia yang melihat kepanikan Zakira.
"Mas Pras, Kak. Dia kecelakaan, aku mau minta ijin," pintar Zakira dengan air mata yang menetes.
Nia pun menenangkan Zakira dan mengatakan kalau suaminya pasti baik-baik saja, Zakira pun mengangguk.
Setelah itu, Zakira pamit pada Nia dan manager. Ia segera berlari keluar dari pabrik menuju lokernya, mengambil tas kecil miliknya, lalu segera memesan ojek online.
__ADS_1
Zakira yang sedang menunggu ojek itu mengirim pesan pada Pras, menanyakan keadaannya.
Pras menjawab, "Kamu ke sini aja, liat sendiri!"
"Ya, aku lagi nunggu ojek," jawab Zakira dan tidak lama kemudian, ojek tersebut datang.
Zakira meminta cepat pada ojek tersebut dan bapak ojek mengingatkan kalau keselamatan adalah yang utama.
Zakira hanya bisa membenarkan ucapan itu.
Setelah beberapa menit, sekarang, Zakira sudah sampai dan setibanya di sana, Zakira melihat Pras yang memiliki banyak luka.
Zakira menangis tak tega melihat suaminya.
"Enggak usah nangis, aku enggak apa-apa, kok." Pras membawa Zakira ke pelukannya.
"Kaya gini kamu bilang enggak papa!" lirih Zakira yang masih menangis.
Setelah itu, Zakira meminta pada Pras untuk menceritakan yang sebenarnya dan Zakira merasa sebal pada wanita yang salah menggunakan sen.
Beruntung, pria yang menabrak suaminya itu bertanggung jawab dan sekarang, Zakira hanya perlu membawa Pras pulang.
Sesampainya di rumah, Pras dan Zakira memberi kabar pada orang tuanya.
Norma yang sedang dalam perjalanan ke pasar itu meminta pada ojek langganannya supaya lebih cepat, Norma harus memberitahu itu pada Darma.
Sesampai di toko, Norma menangis memanggil-manggil Darma.
"Pak!" seru Norma seraya menangis dan semua orang di pasar yang melihat itu pun bertanya-tanya.
Begitu juga dengan Dewi yang letaknya tokonya tidak jauh dari toko Norma.
"Ada apa, Bu?" tanya Darma seraya keluar dari toko berjalan ke arah Norma yang terlihat lemas.
"Pras kecelakaan, Pak!" tangis Norma seraya meraih kedua tangan Darma.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, all 🤗 maafkan untuk typonya.
__ADS_1