
Walau begitu, Pras yang sebagai pria normal itu tetap memiliki rasa ingin mencurahkan hasratnya, Pras yang selesai dengan makan itu melihat Zakira berbaring pun mulai melepaskan pakaiannya.
Zakira yang sedikit terganggu itu pun membuka matanya, ia menatap Pras yang sedang sibuk melucuti apa yang dikenakan istrinya.
"Kamu mau apa, Mas?" tanya Zakira seraya menatap Pras.
"Aku mau jatah ku!" kata Pras yang kemudian tidak menunggu lagi jawaban dari Zakira, pria itu memaksa istrinya untuk melakukannya.
Dalam hati Zakira, kenapa Pras begitu kasar sedangkan dirinya membutuhkannya.
Selesai dengan itu, Pras kembali ke semula, ia kembali mengabaikan Zakira yang sekarang menatapnya, Pras sudah kembali dengan game onlinenya.
"Mau main game sampai jam berapa? Ini udah malam, baiknya istirahat!" kata Zakira seraya menatap Pras dan Pras yang acuh itu tetap acuh.
Pria itu justru tertawa-tawa karena chat dari temannya.
"Sama hape aja kamu ketawa mulu, sama aku marah mulu!" kata Zakira seraya memunggunginya.
Pras hanya menatapnya dan Pras bermain game sampai hampir subuh menjelang.
****
Karena susah dibangunkan, Zakira pun akhirnya berangkat sendiri dan Pras yang mengantuk itu kembali kesiangan.
Pras melihat jam di ponselnya, waktu menunjukkan pkl 07.00 wib.
"Zakira, kamu enggak bangunin aku! Arrrggghhh," geram Pras seraya bangun dari tidurnya.
Pras segera mandi dan karena terlambat, Pras sampai tak sempat untuk sarapan.
Pras juga tak melihat apapun di rak piring.
Beruntung, sebelum pergi, Zakira sudah menyiapkan pakaian Pras lebih dulu dan sekarang, Pras yang sudah siap itu segera pergi sebelum benar-benar terlambat.
Sesampainya di tempat kerja, Pras mendapatkan godaan dari Fery.
"Yang pegangin baru, hampir telat tiap hari, lembur terus nih kayanya!"
Pras hanya diam saja, karena bukan itu kenyataannya.
Dan selesai bekerja, Pras pergi ke rumahnya, ia ingin melihat keadaan ibunya.
Norma mengabaikan Pras yang dianggapnya tak dapat membawa istrinya supaya tunduk padanya.
__ADS_1
Pras yang tak mau diabaikan itu pun mendekati Norma yang sedang menonton televisi, Pras ikut menonton bersama.
"Tumben, Ibu enggak di pasar? tanya Pras seraya melihat Ibunya.
" Mbak mu marah-marah terus, nyuruh Ibu di rumah!" jawab Norma yang tetap fokus dengan menonton televisinya.
"Bu...," panggil Pras dan Norma pun melihat ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Norma yang menoleh ke Pras.
"Ibu marah sama Pras?" tanya Pras, pria yang masih mengenakan seragamnya itu nampak sedih karena merasakan perubahan dari Ibunya yang menjadi dingin.
"Kenapa harus marah, toh, itu udah keputusan kamu!" jawab Norma.
Pras pun menarik nafas dalam.
"Jangan ngambek lagi dong, Bu. Kan, Pras masih sering datang, enggak kaya Mas Heru yang jarang datang," kata Pras yang mencoba membujuk Norma.
"Biar apa, sih? Ngontrak sendiri? Biar ngabisin uang?" tanya Norma seraya menatap Pras.
"Udah dong, Bu. Enggak usah pikirin itu, namanya juga udah berumah tangga, semoga Ibu ngerti Pras," kata Pras yang berusaha membujuk Norma.
"Alah, kamu salah pilih istri, Pras! Bukannya kamu yang ngatur tapi malah istri kamu yang ngatur!" kata Norma dengan kesalnya.
"Seharusnya kamu lihat Mas Heru dan Mbak Lina, mereka gampang diatur!" kata Norma pada Pras supaya mencontoh Heru dan Lina.
"Ngapain pelit ke diri sendiri, ada duit ya nikmatin! Enggak punya duit ya cari lagi!" batin Pras seraya menatap televisi.
Tak ingin urusan menjadi panjang, Pras pun merasa kalau saat ini dirinya harus diam, tidak ingin membuat Norma mengeluarkan kata-katanya lagi.
Dan ketika keduanya diam, ada Dewi yang datang menemui Norma.
"Assalamu'alaikum," seru Dewi dari depan pagar.
"Waalaikumsalam," jawab Pras dan Norma bersamaan.
Norma menyuruh Pras untuk membukakan pintu dan Pras yang mengenal Dewi itu pun menyuruhnya untuk masuk.
"Eh Nak Dewi, ada apa? Tumben main ke rumah?" tanya Norma seraya bangun dari duduknya.
Dewi yang datang dengan membawakan jeruk itu memberikan jeruknya.
"Kata Bapak, Ibu lagi enggak sehat, makanya Dewi datang bawakan jeruk, cepat sehat, Bu!"
__ADS_1
"Ya, Ibu memang tidak enak badan, kecapean, semua kerjaan rumah Ibu kerjakan sendiri, anak perempuan Ibu sibuk sama toko dan anak-anaknya, punya menantu sibuk kerja juga!" kata Norma seraya mengajak Dewi untuk ikut duduk di ruang tengah.
Dan Pras, pria itu memakai jaketnya lalu pamit dari rumah Norma.
"Pras pamit dulu, Bu!" kata Pras seraya meraih tangan Ibunya, lalu mengecup punggung tangan itu.
"Loh, mau kemana, Mas Pras?" tanya Dewi yang melihat Pras bersiap-siap.
"Pulang, kan mereka sekarang ngontrak sendiri, biar mandiri katanya!" jawab Norma dengan nada yang tak mengenakan hati Pras.
Pras merasa bersalah karena telah membuat hati ibunya menjadi benci pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Pras pun pergi dari rumah Norma.
****
Berdua dengan Dewi di rumah, tentu saja Norma memiliki teman untuk bergosip, gosip apa lagi kalau bukan Zakira yang sekarang tak disukainya.
Sedangkan Dewi hanya mendengarkan, ia sendiri tak mengenal Zakira dan niat kedatangannya pun bukan untuk ikut campur urusan Pras dan Zakira, Dewi datang murni dengan niatan menjenguk Norma.
Dewi sendiri merasa kasihan pada Norma yang sering berkeluh kesah dengannya. Norma sering membicarakan Heru yang sudah sukses, tetapi jarang pulang walau sekedar untuk menjenguk.
"Aku enggak minta duitnya, Wi! Aku enggak minta dibawain apa-apa! Ditengokin aja aku udah seneng!" kata Norma pada Dewi dan kata itulah yang membuat Dewi merasa iba.
sekarang, Dewi menawarkan memijit bahu Norma dan Norma pun tak menolak.
"Kamu tau, Wi? Aku punya menantu belum sekali pun mereka memijit bahuku!" kata Norma dan Dewi hanya mendengarkan.
"Seandainya kamu jadi menantuku, Wi!" kata Norma seolah menyesali bermantu-kan Zakira.
Dewi hanya bisa tersenyum mendengar itu.
"Seandainya Pras enggak nolak dijodohkan sama kamu, Wi. Pasti aku enggak kesepian seperti ini!" batin Norma, wanita itu menikmati pijitan Dewi.
****
Hari-hari telah berlalu dan berubahnya waktu tak membuat sikap Pras ikut berubah menjadi baik, justru Pras semakin menyiksa batin Zakira dengan mengabaikannya selama berhari-hari.
Hari jumat pun tiba, sekarang, Zakira yang baru saja pulang dari rumah itu melihat Pras sudah lebih dulu pulang.
Zakira yang mengucapkan salam itu dijawab oleh Pras dan Zakira yang sudah masuk ke kontrakannya itu melihat jari-jari tangan kiri Pras tengah terluka.
Zakira pun meraih tangan itu dan menanyakan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Enggak usah sok perduli kamu!" kata Pras seraya menarik tangannya.
Bersambung.