
Suatu malam yang sunyi disebuah komplek perumahan, ada rumah seorang pengusaha terkenal bernama Erik Purnama bersama dengan istrinya Dona Pratiwi. Erik dan Dona menikmati kesunyian malam didalam rumahnya dengan kemesraan sebagai sepasang suami istri.
"Mah, udah berapa lama ya kita nikah?" tanya Erik pada istrinya.
"Udah hampir dua tahun pah. Kenapa?" ujar Dona.
"Kita udah nikah hampir dua tahun, tapi kok belum punya anak juga ya? Mamah juga belum ada tanda-tanda hamil" Erik heran.
"Sabar dong pah, mungkin belum rejekinya kita punya anak". Dona menimpanya.
"Pasti itu terus yang mamah bilang, belum rejekinya lah...belum waktunya...mau sampai kapan mah!" Erik mulai kesal pada istrinya.
"Papah kok marah sih? Ya kita emang belum rejekinya aja buat punya anak!" Dona pun mulai emosi.
"Udahlah papah mau tidur aja. Males ngomong sama kamu mah" ucap Erik kesal.
Malam pun semakin larut menyaksikan pertengkaran mereka berdua. Dan merekapun tertidur lelap dengan saling membelakangi.
Keesokan paginya Erik bersiap-siap untuk berangkat ke toko roti miliknya.
"Mah papah pergi ke toko dulu" ucap Erik.
"Sarapan dulu pah. Tuh udah mamah siapin" ujar Dona sambil menyajikan makanan.
"Gak deh mah, udah lambat nih" ucap Erik sambil memakai sepatu.
"Nanti sakit lagi pah kalau gak sarapan dulu" Dona mengingatkan.
"Gak akan mah. Oh yah maafin papah ya semalam udah marah ke mamah" ucap Erik menyesal.
"Iya pah maafin mamah juga ya". sambil berpelukan.
Mereka pun berpelukan erat tanda menyesali perbuatannya.
Sesampainya di toko, Erik disambut oleh semua karyawannya yang sedang bersiap untuk membuka toko.
"Selamat pagi pak" ucap seluruh karyawan.
"Pagi" balas Erik.
"Oh iya, Putra tolong buatkan saya kopi dan antar ke ruangan saya" perintah Erik pada salah satu karyawannya.
"Baik pak" ucap karyawannya.
"Eh put, sekalian tanyain ke pak Erik tentang gaji kita ya" ucap teman putra yang bernama Andre.
"Saya takut nih Dre. Gimana kalau pak Erik marah coba?" ucap Putra bingung.
"Berani dong put, daripada kita gak gajian. Kasian juga kan temen-temen kita" timpal Andre.
"Yaudah deh saya coba tanyain" jawab putra.
__ADS_1
Putra pun membuat kopi dan mengantarkannya ke ruangan Erik.
"Tok tok tok" suara ketukan pintu ruangan Erik.
"Masuk" perintah Erik.
"Ini pak kopinya" ucap Putra.
"Taruh saja di meja" perintah Erik.
"Pak saya boleh bicara dengan bapak?" tanya putra.
"Mau bicara apa?" tanya Erik ketus.
"Gini pak, kita kan belum dapat gaji nih pak. Kira-kira kapan ya kita bisa dapat gajinya? Udah lewat tanggal pak soalnya" ucap Putra sedikit gugup.
"Kamu apa-apaan sih put! Kan sudah saya bilang pasti saya akan gaji kalian! Sabar dong!" bentak Erik pada putra.
"Maaf pak kalau saya lancang" ucap Putra.
"Yaudah sana kamu keluar! Balik kerja!" perintah Erik.
Putra pun keluar ruangan pak Erik dengan wajah kebingungan karna belum dapat kepastian tentang gajinya dan teman-temannya.
"Gimana put berhasil?" tanya Andre.
"Gagal Dre. Malahan pak Erik marah sama saya" ucap Putra menyesal.
"Gak tau Dre. Padahal aku juga lagi butuh uang banget" ucap Putra kebingungan.
"Pak Erik tuh emang gak punya perasaan ya sama kita. Kita kesusahan malah dia enak-enakan sendiri banyak duit!" ucap Andre kesal.
"Hush.. jangan bilang gitu Dre! gimana kalau pak Erik denger?" ucap Putra mengingatkan.
"Habis saya kesel put sama dia. Kita kesusahan tapi dia malah enak-enakan gak mikirin kita!" ucap Andre kesal
.
"Udah.. udah.. kita lanjut kerja aja!" ucap Putra pada Andre.
Tiba waktunya toko tutup dan Erik segera pulang dengan menaiki mobil pribadinya tanpa berpamitan dengan karyawannya.
"Dasar bos sombong!" ucap Andre kesal.
"Udah Dre biarin aja. Mungkin pak Erik lagi buru-buru. Jadinya dia gak sempet pamitan sama kita" Putra menenangkan Andre.
"Kan seenggaknya dia hargain kita lah. Minimal kasih tau kalau dia mau pulang gitu" Andre makin kesal.
"Udah ah kita pulang aja!" ajak Putra pada Andre.
Selama perjalanan Erik memikirkan karyawannya yang terus menanyakan gaji kepadanya. Akhirnya dia sampai depan gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Tin... Tin...." Suara klakson mobil Erik.
Gerbang rumah pun dibuka oleh satpam penjaga rumah yang bekerja pada Erik. Erik pun keluar dari mobil dan langsung ditanya oleh satpam itu.
"Pak maaf... Saya boleh tanya?" tanya Joko satpam rumah Erik.
"Tanya apa?" tanya Erik kesal.
"Gini pak.. istri saya tadi telpon saya, dia nanyain kapan ngirim uang karna anak saya sakit pak. Apa bapak bisa ngasih gaji saya sekarang pak? Saya butuh sekali buat pengobatan anak saya" ucap Joko memohon.
"Bapak bisa sopan sedikit gak? Saya tuh baru pulang! Capek!" bentak Erik.
"Maaf pak...tapi pak anak saya gimana?" tanya Joko.
"Itu urusan bapak! Kan sudah saya bilang kamu gajiannya nanti! Sudah saya mau masuk dulu" ucap Erik kesal.
Joko pun akhirnya hanya bisa pasrah dan kembali ke pos satpam.
"Papah pulang!" teriak Erik.
"Eh papah udah pulang. Ayo pah kita makan malam" ujar Dona.
"Iya mah" ucap Erik.
"Mamah masak apa nih? Keliatannya enak banget" tanya Erik.
"Mamah masak sayur sop, ayam goreng, sama tempe goreng" jawab Dona.
Erik langsung menyantap masakan istrinya itu.
"Enak banget ini mah, mamah jago!" ucap Erik pada istrinya.
"Papah bisa aja" ujar Dona.
"Oh yah pah tadi ada apa kok papah marah-marah gitu didepan?" tanya Dona.
"Itu pak Joko nanya tentang gajinya. Padahal kan papah baru pulang" jawab Erik.
"Papah harusnya jangan marah-marah gitu, kan kasian pak Joko. Apalagi dia emang udah telat gajinya dari yang papah janjikan" ujar Dona mengingatkan.
"Yah gak bisa gitu dong, harusnya dia sabar. Pasti papah gaji kok dia. Apalagi tadi karyawan toko juga minta gaji. Papah pusing mah!" ucap Erik kesal.
"Sabar dong pah, mereka kan cuma minta hak mereka aja. Papah kasih lah gaji buat mereka" ucap Dona menenangkan.
"Tapi kan mah penjualan roti lagi sepi, jadi papah gak bisa kasih gaji mereka" Erik kesal.
"Kasian mereka pah. Udah kasih aja pake uang tabungan kita" ucap Dona memberi saran.
"Ah udahlah papah mau tidur. Udah gak selera makan!" ucap Erik sambil menggebrak meja dan meninggalkan istrinya.
"Hargain aku dong pah! Udah masak capek-capek malah gak dihabisin" ujar Dona kesal.
__ADS_1
Dona pun menyelesaikan makannya sendiri dan membereskan piringnya lalu pergi untuk tidur.