Hukuman Mati Si Pengingkar Janji

Hukuman Mati Si Pengingkar Janji
Mengungkap Tersangka


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, dua detektif polisi Denpa dan Arya masih memikirkan hasil penyelidikan dengan salah satu karyawan roti yang dilakukan tadi.


"Aku curiga dengan karyawan toko roti itu Den" ujar Arya.


"Kenapa kau curiga sama dia?" tanya Denpa sambil menyetir.


"Kau liat aja dari sikapnya dia saat bertemu dan dari jawaban dia yang seakan-akan menutupi sesuatu sama kita" jawab Arya.


"Tapi itu gak bisa kita jadikan tolak ukur Ya. Bisa aja kan dia begitu karna kaget ngeliat kedatangan kita. Kasus sebelumnya kan pernah gini juga. Dan ternyata orang tersebut cuma kaget karna ditanya-tanya sama kita" balas Denpa.


"Iya sih Den, tapi perasaan aku beda. Aku yakin banget dia itu lagi nutupin sesuatu. Keliatan kaya ketakutan gitu pas ditanya-tanya sama kita" ujar Arya lagi.


"Kita laporkan aja dulu sama komandan biar jelas kita harus ngapain lagi. Biar kita gak salah langkah" balas Denpa.


"Iya Den" ujar Arya.


Mobil mereka terus melaju di jalan yang cukup ramai oleh lalu lalang kendaraan jalan raya. Hingga akhirnya mereka berdua pun sampai di kantor, lalu segera melaporkan hasil penyelidikannya tersebut.


"Tok..... Tok...... Tok" suara ketukan pintu ruangan Kompol Agus.


"Masuk!" perintah Kompol Agus.


Kedua detektif pun memasuki ruangan dan duduk didepan meja kerja Kompol Agus.


"Bagaimana hasilnya detektif Denpa dan detektif Arya?" tanya Kompol Agus.


"Tadi kami berdua ke toko roti milik almarhum pak Erik. Kami disana meminta keterangan mengenai keberadaan pak Joko dari salah satu karyawan yang bertanggung jawab, dia bernama Putra. Dari hasilnya, karyawan tersebut tidak mengetahui keberadaan tepatnya pak Joko. Dia juga tidak mengenal kenal dekat dengan pak Joko, dia hanya kenal sepintas saja dan tidak mengetahui kampung halamannya juga" terang Denpa.


"Apakah ada informasi lain lagi yang kalian dapatkan dari dia?" tanya Kompol Agus lagi.


"Saya merasa aneh dengan dia pak" jawab Arya.


"Aneh bagaimana?" tanya Kompol Agus bingung.


"Dia bertingkah aneh saat pertama kali ketemu sampai akhirnya kita pulang. Dan saat kita bertanya-tanya pada dia pun, jawaban dia begitu meragukan. Seperti ada yang ditutupi oleh dia. Kelihatan ketakutan begitu pak sama kita" jawab Arya menjelaskan.


"Kalian curiga sama dia? Beralih curiga dari Joko jadi kepada dia?" tanya Kompol Agus.


"Untuk saat ini kami curiga pada keduanya pak. Mungkin mereka ada keterkaitannya dengan kasus ini. Tapi kami saat ini lebih mencurigai Putra, karyawan toko roti itu" jawab Denpa.

__ADS_1


"Lakukan investigasi! Amati gerak-gerik dia! Supaya kita tau apa yang dia sembunyikan dan supaya bisa menjadi jawaban dari kecurigaan kita" perintah Kompol Agus pada kedua detektif.


"Siap pak!" jawab serentak kedua detektif.


"Untuk menghindari kecurigaan terduga dan kebocoran informasi. Lakukan investigasi oleh satu orang dari kalian atau lakukan secara bergantian. Saya percaya dengan kinerja kalian karna sudah berpengalaman. Tapi saya akan terus mengingatkan agar kalian selalu berhati-hati dan tidak meremehkan tugas yang diberikan. Supaya tidak ada lagi nyawa yang hilang dari penyelesaian kasus ini" perintah Kompol Agus lagi.


"Siap pak!" jawab mereka serentak.


"Kalau begitu kami permisi dulu pak" ucap Denpa.


"Silahkan!" balas Kompol Agus.


Mereka berdua pun kemudian meninggalkan ruangan Kompol Agus.


"Siapa nih yang mau jadi investigator?" tanya Arya.


"Aku bingung nih Ya. Emm.... Apa kita tanya detektif Sinta dulu? Biar tau juga" saran Denpa.


"Ehem...... Pake alasan nanya detektif Sinta. Bilang aja kau pengen ketemu" ujar Arya sambil tersenyum.


"Bukan gitu Ya. Tapi......" "Kring... Kring..." suara nada dering pesan hp Denpa.


Denpa membuka hpnya lalu membaca pesan yang ternyata dari detektif Sinta.


"Gimana penyelidikannya Den?" isi pesan tersebut.


"Aman Sin. Ini aku sama Arya udah sampai kantor dan tadi baru dari ruangan komandan" jawab Denpa.


"Sini ke ruangan, kita bahas sama-sama" balas Sinta.


Denpa pun mengajak Arya untuk menemui Sinta di ruangannya untuk membahas persoalan tersebut.


"Ya. Kita ke ruangan! Sinta ada disana" ajak Denpa.


"Baru aja diomongin. Udah di chat aja" ujar Arya tersenyum kecil.


"Udahlah ayo!" balas Denpa.


Denpa dan Arya pun menghampiri Sinta di ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Sin udah beres?" tanya Arya.


"Udah Ya. Oh ya Gimana hasilnya tadi?" tanya balik Sinta.


"Tadi disana kita tanya-tanya sama salah satu karyawan yang bertanggung jawab. Dari hasilnya kita curiga sama dia karna keliatan gugup dan takut sama kita dari awal sampai kita pulang" jawab Denpa.


"Gugup dan takut gimana?" tanya Sinta lagi.


"Sikap dia tuh kaya orang yang lagi nutupin sesuatu. Makanya itu kita curiga sama dia" jawab Arya.


"Kenapa kau bisa sangat yakin gitu?" tanya Sinta pada Arya.


"Aku yakin lah. Karna pengalaman menangani kasus seperti ini, jadi aku tau orang yang lagi nutupin sesuatu itu gimana tingkah lakunya" jawab Arya sangat yakin.


"Tapi kan itu belum tentu dia lagi nutupin sesuatu. Bisa aja karna ditanya-tanya oleh polisi, jadinya dia gugup dan ketakutan gitu" balas Sinta.


"Nah makanya itu Sin. Kita diperintahkan sama komandan buat melakukan investigasi untuk mengamati pergerakan dia, supaya kita tau dia nutupin sesuatu apa" ucap Denpa pada Sinta.


"Siapa yang jadi investigator nya?" tanya Sinta.


"Belum tau Sin. Bingung!" jawab Denpa bingung.


"Kau aja Ya. Kau kan bisa naik motor tuh, jadi lebih gampang buat nyamar dan investigasinya" ucap Sinta memberi saran.


"Kok aku? Kalian aja lah salah satu" balas Arya menolak.


"Gak bisa lah Ya. Kita kan pake mobil. Susah buat investigasinya" balas Denpa.


"Hemm....... Yaudah deh aku mau" jawab Arya mengiyakan.


"Nah gitu dong Ya" ucap Sinta.


"Trus kita investigasinya kapan?" tanya Arya.


"Mulai besok aja deh Ya" jawab Denpa.


"Gimana nih strateginya?" tanya Sinta.


"Jadi gini...." Denpa menjelaskan.

__ADS_1


Mereka bertiga pun berdiskusi membahas strategi investigasi yang akan dilakukan besok oleh Arya.


__ADS_2