
Esok harinya di kantor polisi, semua anggota beraktifitas seperti biasanya, begitupun dengan dua detektif muda Denpa dan Arya.
"Den, nanti kita ke rumah Bu Dona jam berapa?" tanya Arya.
"Kita tunggu aja perintah dari komandan" jawab detektif Denpa.
"Sarapan dulu yuk den! Aku lapar nih" ajak Arya pada Denpa.
"Ayo deh sambil nunggu komandan. Aku juga lapar" ucap Denpa mengiyakan.
Saat sedang menyantap sarapan, keduanya pun didatangi oleh Kompol Agus.
"Detektif Denpa dan detektif Arya!" panggil Kompol Agus.
"Siap pak!" jawab keduanya sambil berdiri dan hormat.
"Kalian nanti jam 9 pergi ke rumah Bu Dona minta keterangan dari dia!" perintah Kompol Agus.
"Siap pak!" jawab keduanya serentak.
Keduanya pun melanjutkan menyantap sarapannya dan dilanjut dengan mengobrol hingga jam 9.
"Menurutku ini kasus yang paling sulit dari kasus-kasus sebelumnya yang pernah kita tangani" ujar Arya.
"Ya memang. Karna tidak ada saksi maupun rekaman cctv di TKP yang bisa jadi petunjuk ataupun barang bukti buat kita" ucap Denpa.
"Kalau kasus ini bisa kita selesaikan. Kita pasti terkenal dan bisa naik jabatan nih" ujar Arya sambil tersenyum berharap.
"Kau ini pikirannya begitu terus. Kita menyelesaikan kasus ini karna tanggungjawab pekerjaan, bukan biar terkenal dan naik jabatan.....Tapi terkenal dan naik jabatan itu cuma bonus aja" ucap Denpa mengingatkan.
"Iya deh iya. Eh udah jam 9 nih. Sekarang aja yuk" ujar Arya mengingatkan.
"Yaudah ayo kita pergi sekarang!" ucap Denpa pada Arya.
Saat keluar ruangan, mereka berdua bertemu dengan Kompol Agus.
"Ijin pak! Kita akan pergi ke rumah Bu Dona sekarang!" ucap Denpa pada Kompol Agus.
"Baik. Hati-hati dijalan dan pastikan info yang didapatkan lengkap!" perintah Kompol Agus.
"Siap pak kami akan melaksanakannya dengan baik!" ucap kedua detektif tersebut.
Kedua detektif muda tersebut pun berangkat menuju rumah Bu Dona dengan menaiki mobil.
Selama diperjalanan, keduanya mengobrol berbagai macam obrolan termasuk masalah percintaan.
"Den aku mau tanya dong. Tapi kau harus jawab jujur ya" ujar Arya.
"Iya. Mau nanya apa?" ucap Denpa.
"Kau ini udah punya pacar belum sih? Kok aku gak pernah liat kau jalan sama cewe" tanya Arya heran.
"Ehh kirain nanya apaan. Gak mau jawab ah" jawab Denpa.
__ADS_1
"Yah kok gitu. Kan udah janji mau jawab jujur" ujar Denpa kecewa.
"Kau sendiri gimana?" tanya Denpa membalas.
"Kok malah nanya balik. Aku kan yang nanya duluan. Jawab dong penasaran nih" ujar Arya penasaran.
"Iya deh aku jawab tapi kau juga harus jawab pertanyaan yang tadi" ucap Denpa.
"Oke siapa takut!" balas Arya menantang.
"Sebenarnya aku punya perasaan sih sama cewe detektif itu" jawab Denpa.
"Cewe detektif yang mana? Kan banyak detektif cewe ditempat kita tuh" tanya Arya bingung.
"Itu loh detektif Sinta" jawab Denpa sambil tersenyum.
"Oh detektif Sinta... Pantes aja kau suka. Dia emang cantik dan pinter" ujar Arya.
"Kalau kau gimana? tanya Denpa pada Arya.
"Aku sih belum ada. Lagi males nyarinya" jawab Arya kemudian tertawa.
"Halah.. bilang aja gak ada yang mau" ucap Denpa tertawa.
"Eh gak gitu den. Banyak kok yang suka sama aku" balas Arya membanggakan diri.
"Ah masa sih?" tanya Denpa sedikit meledek.
Keduanya pun akhirnya sampai dirumah Dona.
"Permisi.... Bu Dona...." teriak detektif Arya.
Kemudian tak lama tetangga Bu Dona pun keluar dari rumahnya.
"Cari siapa pak?" tanya orang tersebut.
"Kami cari Bu Dona pak. Bapak siapa ya pak? ucap detektif Arya.
"Oh iya kenalin pak saya Sony, tetangganya Bu Dona" jawab orang tersebut kepada Denpa dan Arya lalu berjabat tangan.
"Oh iya pak, Bu Dona nya kemana ya? Tadi kami panggil-panggil kok gak ada jawaban" tanya Denpa.
"Kayanya ada didalam ya. Soalnya saya juga belum liat dia keluar dari tadi. Kita masuk aja pak silahkan saya antar" jawab Sony sambil mengantar masuk kedalam.
"Iya pak terimakasih" ucap Arya.
Mereka pun akhirnya memasuki rumah Bu Dona setelah tidak mendapat jawaban juga saat dipanggil berkali-kali.
"Bu....Bu Dona....ini ada yang nyariin Bu" teriak Sony.
Ketika Sony memeriksa ke dapur, ia terkejut melihat Bu Dona tertelungkup tak bernyawa dengan bersimbah darah.
"Bu.....Bu Dona...." teriak Sony.
__ADS_1
"Astaghfirullah Bu..... Bu Dona... Bu bangun Bu....." Sony berusaha membangunkan namun gagal, lalu memanggil dua detektif tersebut ke dapur.
"Pak....tolong....pak kesini cepat....." teriak Sony kepada dua detektif tersebut.
Kedua detektif tersebut pun langsung menuju dapur setelah mendengar teriakkan Sony.
"Ada apa pak?" tanya Arya.
"Ini pak Bu Dona tergeletak disini. Sepertinya sudah meninggal pak" jawab Sony.
Mereka pun terkejut saat melihat Bu Dona sudah tidak bernyawa dengan bersimbah darah.
"Cepat telpon ambulans dan polisi kesini!" perintah Denpa kepada Arya.
Tak lama kemudian ambulans dan polisi pun langsung datang ke lokasi untuk mengevakuasi jenazah Bu Dona.
"Bagaimana kok bisa Bu Dona jadi korban pembunuhan juga?" tanya Kompol Agus pada kedua detektif tersebut.
"Kami juga tidak mengetahui pak. Karna saat tadi kami kesini memanggil Bu Dona namun tidak ada jawaban, kami langsung masuk mencari Bu Dona, lalu kami menemukan Bu Dona sudah tidak bernyawa" jawab Denpa.
"Lelaki yang sedang ditanya polisi itu siapa?" tanya Kompol Agus lagi.
"Itu pak Sony. Tetangga dari Bu Dona yang juga tadi menemukan Bu Dona di dapur" jawab Arya.
"Kalian bersama tim lakukan penyelidikan ditempat ini. Kumpulkan barang bukti dan bawa ke kantor polisi!" perintah Kompol Agus pada kedua detektif itu.
Kompol Agus pun lalu pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Sementara itu detektif Denpa dan detektif Arya beserta tim kepolisian langsung menyelidiki lokasi kejadian tersebut.
Saat sedang menyelidiki lokasi dapur, detektif Denpa melihat seorang polisi yang sedang melakukan penyelidikan dihalaman belakang rumah ditikam oleh orang yang tak dikenal lalu kabur saat akan dikejar oleh Denpa.
"Hey berhenti!" teriak Denpa pada orang tak dikenal lalu mengejarnya.
"Hah.. sial... Pelaku itu kabur!" gerutu Denpa.
"Ada apa Den?" tanya Arya.
"Ini pak Bram tadi ditikam oleh orang tak dikenal. Cepat panggil ambulans kesini!" jawab Denpa.
Ambulans pun datang dan membawa polisi bernama Bram itu ke rumah sakit dalam keadaan kritis dan pendarahan
"Bagaimana pak Bram bisa ditikam den? Siapa pelakunya?" tanya Arya pada Denpa.
"Nanti aku jelaskan di kantor sambil memberitahukan Kompol Agus" jawab Denpa.
"Ayo sekarang kita segera ke kantor!" ajak Arya.
"Pak Dirga kami mau ke kantor dulu. Tolong bapak dengan yang lainnya lanjutkan menyelidiki lokasi ini. Dan ingat selalu hati-hati takut ada serangan lagi!" ucap Denpa pada seorang polisi.
"Baik detektif" ucap polisi tersebut.
Detektif Denpa dan detektif Arya pun langsung menuju kantor polisi menggunakan mobilnya.
__ADS_1