
Hari pun berganti. Pagi hari tiba dan semua melakukan aktifitasnya masing-masing. Tak terkecuali Andre, karyawan toko roti yang sedang mengendarai motornya menuju toko roti. Namun Andre memilih jalan lain yang tidak seperti biasanya.
"Arah jalan lain aja lah. Sekalian pengen liat keadaan rumah almarhum pak Erik" ujar Andre.
Saat melewati rumahnya, Andre terkejut karna melihat garis polisi terpasang dirumah tersebut.
Lalu ia pun bertanya pada tetangga rumah pak Erik karna penasaran.
"Permisi pak. Saya mau tanya. Itu kenapa ya dirumah almarhum pak Erik dipasang garis polisi? Bukannya almarhum meninggal di lokasi lain ya?" tanya Andre heran.
"Mas gak tau ya? Kemarin istri almarhum pak Erik ditemukan meninggal didalam rumahnya. Saya yang ngeliat langsung. Dari keterangan polisi sih katanya dia ditikam dari belakang dan banyak darahnya keluar" jawab tetangga tersebut.
"Maksud bapak istri almarhum pak Erik itu Bu Dona?" tanya Andre terkejut.
"Iya mas Bu Dona. Mas kenal?" balas tetangga itu.
"Iya pak saya kenal. Kebetulan saya kerja di toko roti milik almarhum suaminya" ujar Andre.
"Oh gitu ya mas" ucap tetangga tersebut.
"Kalau boleh tau, bapak gimana bisa liat langsung Bu Dona meninggal? Bapak masuk ke rumahnya?" tanya Andre pada tetangga tersebut.
Tetangga tersebut pun menjelaskan bagaimana ia bisa menemukan Bu Dona meninggal didalam rumahnya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Andre lalu pamit dan segera pergi ke toko.
Setelah sampai di toko, Andre langsung memberitahu informasi itu ke teman-temannya, terutama Putra.
"Eh put...put... Tau gak info terbaru?" ujar Andre pada Putra.
"Info apa Dre? Baru datang tiba-tiba nanya gitu" ucap Putra bingung.
Lalu salah satu rekan kerja mereka berdua yang bernama Dewi nimbrung karna penasaran dengan obrolan mereka berdua.
"Ada apaan nih? Dre, Put kok keliatan serius gitu?" tanya Dewi penasaran.
"Itu Wi. Tadi aku lewat rumahnya almarhum pak Erik. Disitu ada garis polisi. Aku kan penasaran ya, langsung aja aku tanyain ke tetangga disana..... Ternyata Bu Dona meninggal dunia dibunuh dirumah itu" ujar Andre menjelaskan.
"Hah? Seriusan Dre?" tanya Dewi terkejut.
"Iya beneran Wi" jawab Andre.
"Duh gak nyangka banget ya. Waktu itu pak Erik dibunuh, sekarang istrinya. Apa pelakunya sama ya?" ucap Dewi menduga-duga.
"Aku sih gak tau ya Wi. Kasusnya sekarang masih diselidiki pihak kepolisian" ujar Andre.
"Semoga cepet ketangkep pelakunya ya" ucap Dewi.
"Eh put... Kenapa? Kok diem aja sih dari tadi" ucap Dewi lagi melihat Putra diam saja.
"Euhh... Nggak... Gak apa-apa" jawab Putra.
"Gak apa-apa kok diem aja Put?" tanya Andre heran.
"Aku.... Aku ke kamar mandi dulu ya" jawab Putra gugup.
__ADS_1
Putra pun berlalu menuju kamar mandi meninggalkan obrolan mereka berdua.
Andre dan Dewi masih kebingungan karna Putra diam saja.
"Kenapa si Putra tuh? Kok diem aja ya dari tadi" tanya Andre bingung.
"Gak tau Dre. Biasanya gak gitu" ucap Dewi juga kebingungan.
"Apa dia ada masalah ya?" ujar Andre mengira-ngira.
"Entahlah Dre. Kita lanjut kerja aja yuk!" ajak Dewi pada Andre.
Mereka berdua pun melanjutkan kerjanya walaupun masih diselimuti dengan rasa penasaran terhadap sikap Putra yang berbeda dari biasanya.
Sementara itu disekitaran rumah pak Erik, aktifitas terlihat normal, termasuk pak Sony yang sedang mengurus tanaman hiasnya.
"Eh pak Sony. Lagi sibuk pak?" tanya seseorang menyapa pak Sony.
"Eh pak Hendra.... nggak pak. Cuma lagi ngurusin tanaman hias aja pak" jawab Sony pada orang tersebut yang diketahui bernama Hendra.
"Wah banyak juga ya tanamannya pak" ujar Hendra.
"Iya nih pak. Ngomong-ngomong ada apa nih pak? Tumben bapak kesini?" tanya Sony pada Hendra.
"Nggak ada apa-apa pak. Cuma jalan-jalan aja sekalian mampir kesini" jawab Hendra.
"Silahkan duduk pak" ucap Sony.
"Terimakasih pak" balas Hendra.
"Gak usah repot-repot pak. Saya cuma mau ngobrol-ngobrol aja sama bapak" ujar Hendra.
"Mau ngobrol apa pak? Kayanya serius nih" tanya Sony.
"Itu kejadian kemarin di rumah pak Erik. Gimana ceritanya Bu Dona ditemukan meninggal?" ujar Hendra penasaran.
"Jadi gini pak. Kemarin kan saya lagi rawat tanaman, nah dirumah pak Erik tuh kedatangan tamu dua orang. Saya tanya ada perlu apa. Ternyata itu polisi yang mau minta keterangan dari Bu Dona. Pas saya bantu panggilkan Bu Dona, gak ada sahutan juga. Saya dan dua polisi itu cari ke dalem rumahnya. Pas saya cari di dapur, saya kaget karna ngeliat Bu Dona telungkup udah gak bernyawa dan banyak keluar darah. Terus polisi itu langsung aja panggil ambulans dan nyelidikin rumah itu. Tapi ada kejadian lagi pak...." ucap Sony menjelaskan.
"Kejadian apa pak?" tanya Hendra memotong.
"Salah seorang polisi yang lagi nyelidikin di halaman belakang ditikam sama orang misterius gitu pak" ucap Sony lagi.
"Misterius gimana pak?" tanya Hendra bingung.
"Orangnya pake pakaian serba hitam dan pake penutup muka. Jadi gak tau itu pelakunya siapa" jawab Sony.
"Waduh serem juga ya pak" ujar Hendra.
"Iya pak serem. Saya juga jadi khawatir saya dan keluarga jadi korban selanjutnya" ucap Sony ketakutan.
"Semoga pelakunya cepat ketangkap ya pak. Biar kita aman dan gak ketakutan kaya gini" balas Hendra berharap.
"Iya pak. Satpam kompleks ini juga jadi lebih memperketat jaga malam" ucap Sony lagi.
"Bagus tuh biar lebih aman dan gak ada korban lagi" ujar Hendra.
__ADS_1
Keduanya pun terus mengobrol membahas kejadian kemarin yang membuat heboh.
Jam makan siang hampir tiba dan karyawan toko pun berniat membeli makanan untuk makan siang.
"Kalian pada mau nitip gak? Aku mau beli makanan nih buat makan siang" tanya Andre pada teman-temannya.
"Iya Dre. Kita nitip dong" jawab Dewi.
"Ayo Wi kamu ikut aja sekalian" ujar Andre.
"Yaudah deh aku ikut" balas Dewi.
"Si Putra mau nitip gak tuh?" tanya Andre.
"Gak tau. Dia lagi layanin pembeli soalnya" jawab Dewi.
Andre pun menghampiri Putra yang sedang melayani pembeli.
"Put mau nitip makan gak?" tanya Andre pada Putra.
"Euhh.. iya Dre. Samain aja lauknya. Nih uangnya" jawab Putra sambil memberikan uang pada Andre.
Andre dan Dewi pun menuju warteg untuk membeli makanan untuk makan siang
.
"Wi... Si Putra kenapa ya? Dari tadi aneh gitu sikapnya" ujar Andre keheranan.
"Gak tau nih Dre. Apa jangan-jangan ada hubungannya sama kasus pembunuhan Bu Dona" ucap Dewi menduga-duga.
"Hush.... Jangan sembarangan ngomong Wi. Mana mungkin dia nekat begitu. Aku tau dia orangnya kaya gimana" balas Andre.
"Ya aku ngira gitu karna pas tadi kita ngomongin pembunuhan Bu Dona, dia diem aja. Kaya orang yang lagi nutupin sesuatu" timpa Dewi.
"Tapi aku gak percaya sih kalau si Putra tuh berbuat gitu. Dia orangnya baik banget" ujar Andre.
"Kamu tanyain coba ke dia, kenapa sikapnya gitu. Biar kita juga gak ngira dia yang nggak-nggak" ucap Dewi memberi saran.
"Iya deh nanti aku coba tanyain dia" balas Andre.
Makanan pun selesai dibungkus dan mereka langsung ke toko untuk makan siang bersama teman-temannya.
Setelah makan siang, mereka semua melanjutkan pekerjaannya sampai waktu toko tutup.
Saat toko sudah tutup, Andre buru-buru menghampiri Putra dan menanyakan alasan sikapnya begitu.
"Put. Tunggu put!" panggil Andre.
"Ada apa Dre?" tanya Putra.
"Kamu kenapa sih dari tadi sikapnya aneh gitu? Kalau ada apa-apa cerita aja sama aku" ujar Andre penasaran.
"Gak apa-apa kok Dre. Aku pulang dulu ya" balas Putra lalu menaiki motornya dan meninggalkan Andre.
Andre pun sendirian di parkiran toko dengan kebingungan yang masih hinggap padanya. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pulang dan menanyakan pada Putra nanti.
__ADS_1