Hukuman Mati Si Pengingkar Janji

Hukuman Mati Si Pengingkar Janji
Yang Mencurigakan


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, ketiga detektif tersebut melakukan obrolan perihal penyelidikan tadi.


"Kau menemukan pisau itu dimana Sin?" tanya Arya penasaran.


"Dibalik tanaman belakang rumah" jawab Sinta.


"Kenapa kau bawa pisau itu? Kau yakin itu pisau yang dipakai oleh pelaku?" tanya Arya lagi.


"Aku sangat yakin! Karna di pisau ini ada bercak darah. Kemungkinan itu bekas darah korban" jawab Sinta sangat yakin.


"Kalau kau gimana Den? Nemuin sesuatu?" tanya Arya pada Denpa.


"Aku gak nemuin apa-apa. Di TKP cuma ada pisau itu aja yang bisa jadi barang bukti" jawab Denpa sambil mengendarai mobil.


"Kau gimana? Apa hasil wawancara tadi ke warga sekitar?" tanya Denpa pada Arya.


"Kalau dari hasil wawancara tadi sih, aku kurang lengkap dapet infonya. Karna dia pas malam kejadian cuma denger teriakan, tapi dia pikir itu dari suara tv yang sedang di tonton istrinya dan gak ngeliat ada orang yang mencurigakan" ujar Arya menjelaskan.


"Terus gimana lagi?" tanya Denpa lagi.


"Gak ada lagi sih..... Aduh aku lupa!" ujar Arya.


"Lupa apa Ya?" tanya Sinta bingung.


"Aku gak nanya soal pos satpam depan rumah korban yang kosong itu. Juga gak nanyain satpamnya kemana" jawab Arya menyesal.


"Oh masalah itu...... Udah ditanyain kok sama iptu Dirga. Katanya sih satpamnya pulang kampung" timpa Denpa.


"Kampungnya dimana?" tanya Arya pada Denpa.


"Dia gak tau sih. Tapi katanya ada karyawan roti yang sering datang ke rumah korban. Mungkin dia tau tentang satpam itu" jawab Denpa.


"Apa kita sekarang aja ke toko rotinya" ajak Sinta.


"Jangan sekarang. Kita harus laporan dulu ke komandan" balas Denpa.


Mereka bertiga pun akhirnya sampai di kantor polisi, lalu memberikan laporan hasil penyelidikannya kepada komandan.


"Tok..... Tok..... Tok" suara ketukan pintu ruangan Kompol Agus.


"Masuk!" perintah Kompol Agus.


"Silahkan duduk" tambahnya.


"Terimakasih pak!" jawab mereka serentak.


"Ada info apa para detektif?" tanya Kompol Agus.


"Kami kesini ingin menyampaikan laporan terkait penyelidikan yang dilakukan tadi pak. Kami menemukan sebuah pisau dengan kertas ini pak" jawab Denpa sambil menunjukkan pisau dan kertas yang ditemukan dirumah korban.


"Ini pisau ditemukan dimana?" tanya Kompol Agus.


"Di halaman belakang rumah pak. Tepatnya dibalik tanaman" jawab Sinta.


"Kalau kertas ini?" tanya Kompol Agus lagi.


"Itu ditemukan di tempat sampah di halaman depan rumah pak" jawab Arya.


"KAMU AKAN MATI DONA" baca Kompol Agus melihat tulisan itu.


"Ini bentuk tulisannya seperti di kertas ancaman sebelumnya" ujar Kompol Agus.


"Memang pak. Kemungkinan korban diteror oleh kertas itu sebelum ia dibunuh" balas Denpa.


"Bagaimana hasil keterangan dari warga sekitar?" tanya Kompol Agus.

__ADS_1


"Tetangga korban tidak begitu mengetahui tentang malam kejadiannya pak. Dia hanya mendengar teriakan, namun dia menyangka teriakan tersebut berasal dari tv yang sedang ditonton oleh istrinya. Dan juga dia tidak melihat ada orang yang mencurigakan berlalu lalang disekitar rumah korban" ujar Arya menjelaskan.


"Nanti kita periksa sidik jari pada pisau ini. Mungkin ini bisa jadi petunjuk kita untuk menemukan pelakunya" ucap Kompol Agus pada pada para detektif.


"Siap pak!" jawab mereka serentak.


"Saya juga mendapatkan info dari iptu Dirga tentang satpam di rumah korban. Katanya satpam itu pulang kampung sebelum malam kejadian" ucap Denpa.


"Apa kalian mencurigai satpam tersebut?" tanya Kompol Agus.


"Belum pak. Kita harus mewawancarai dulu karyawan toko roti korban. Karna menurut penuturan tetangga korban, karyawan tersebut sering mengunjungi rumah korban dan kemungkinan mengetahui tentang satpam tersebut" terang Denpa.


"Baik kalian boleh mewawancarai karyawan toko. Tapi tidak hari ini. Kalian hari ini lengkapi dokumen penyelidikan terlebih dahulu. Besok baru kalian mendatangi toko roti itu!" perintah Kompol Agus.


"Siap pak!" jawab serentak para detektif.


"Info dari kami sudah cukup sekian pak" ucap Denpa.


"Baik kalau sudah cukup. Kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian!" balas Kompol Agus.


"Baik pak kalau begitu kami permisi dulu" ucap Denpa lagi.


Para detektif pun keluar dari ruangan Kompol Agus dan menuju ruangan detektif untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Besok kemungkinan aku gak bisa ikut ke toko" ucap Sinta.


"Kenapa Sin?" tanya Arya.


"Ada tugas lain yang harus dikerjakan besok" jawab Sinta.


"Yaudah gak apa-apa. Aku berdua sama Denpa aja ke tokonya besok" balas Arya.


Mereka bertiga lalu melanjutkan pekerjaannya.


Keesokkan harinya, Denpa dan Arya berangkat menuju toko roti untuk meminta keterangan dari karyawan toko. Dalam perjalanan mereka mengobrol santai.


"Nggak kok Ya. Aku semangat kok" jawab Denpa menyangkal.


"Keliatan kok dari wajah kau.... Apa jangan-jangan karna gak ada detektif Sinta ya?" tanya Arya sambil tersenyum kecil.


"Nggak kok nggak. Aku selalu semangat kok walaupun gak ada detektif Sinta" jawab Denpa.


"Beda banget Den. Kemarin kamu semangat banget dan senyum terus. Kalau sekarang keliatan lesu gitu" balas Arya sedikit meledek.


"Gak ada bedanya kok Ya. Udah ah aku lagi fokus nyetir nih" balas Denpa sedikit kesal.


"Iya deh. Tapi jangan fokus sama detektif Sinta ya. Hahaha...." ujar Arya sambil tertawa.


Mereka pun akhirnya tiba di toko, lalu bertanya pada salah satu karyawan toko bernama Dewi.


"Ada bisa saya bantu pak?" tanya Dewi pada kedua detektif tersebut.


"Kami dari kepolisian ingin meminta keterangan dari salah satu karyawan disini. Kalau boleh tau siapa yang bertanggung jawab disini?" ucap Denpa.


"Oh iya pak tunggu sebentar. Saya panggilkan dulu" balas Dewi.


Dewi pun segera menghampiri Putra yang sedang merapikan susunan roti.


"Put.... Put..... Ada yang nyariin tuh" ujar Dewi memberi tahu.


"Siapa Wi?" tanya Putra.


"Katanya sih dari kepolisian. Kamu samperin deh biar jelas" jawab Dewi.


Putra pun menghampiri kedua detektif tersebut.

__ADS_1


"Anda yang bertanggung jawab disini?" tanya Arya.


"Iya betul pak. Bapak siapa ya?" balas Putra.


"Kami dari kepolisian. Perkenalkan nama saya Arya dan ini rekan saya Denpa" ujar Arya sambil berjabat tangan.


"Oh ya pak saya Putra. Euhh.... Ada apa ya pak?" tanya Putra bingung.


"Kami ingin menanyakan sesuatu pada Anda" jawab Arya.


"Kalau begitu mari ke ruangan itu aja pak" balas Putra sambil menunjuk ruangan kerja bekas Erik.


Putra dan kedua detektif tersebut pun memasuki ruangan dan duduk berhadapan.


"Mau tanya apa ya pak?" tanya Putra bingung.


"Apa benar Anda sering berkunjung ke rumah almarhum Erik semasa hidupnya?" tanya balas Denpa.


"Iya benar pak. Saya ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah pekerjaan" jawab Putra.


"Untuk urusan pekerjaan dengan almarhum Erik saja? Tidak ada urusan dengan yang lain?" tanya Denpa lagi.


"Iya pak hanya urusan pekerjaan saja" jawab Putra.


"Tapi.... Apa Anda mengenal Joko? Satpam rumah itu?" Denpa kembali bertanya.


"Euhh..... Saya hanya kenal saja pak. Tidak terlalu dekat dengan dia" terang Putra.


"Anda yakin?" tanya Arya menekankan.


"I.... Iya pak. Ss.... Saya yakin" jawab Putra gugup.


"Anda tau Joko sekarang pulang kampung kemana?" tanya Denpa.


"Saya tidak tau pak" jawab Putra.


"Baiklah kalau begitu saya rasa cukup. Terimakasih atas waktunya. Kami pamit dulu" ucap Denpa.


"Iya pak sama-sama. Mari saya antar" balas Putra.


Putra pun mengantar dua detektif tersebut menuju mobilnya.


"Kalau ada info apapun tentang kasus ini, harap segera lapor ke polisi" ucap Denpa.


"Baik pak!" balas Putra.


Kedua detektif tersebut pun berlalu meninggalkan toko. Dan putra kembali masuk ke dalam toko dengan wajah yang nampak kebingungan.


"Eh put.... Ada apaan sih?" tanya Dewi penasaran.


"Gak ada apa-apa Wi. Cuma nanya tentang almarhum pak Erik aja" jawab Putra.


"Aku lanjut kerja ya" lanjut Putra.


Putra pun melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan obrolan dengan Dewi.


"Apa yang diomongin polisi itu sama si Putra ya Dre?" ucap Dewi bertanya-tanya.


"Gak tau Wi. Soalnya kan mereka ngobrolnya di ruangan itu" balas Andre.


"Aku aneh soalnya pas polisi itu udah pulang, muka dia keliatan kaya ketakutan gitu" ucap Dewi bingung.


"Mungkin dia cuma grogi aja karna tadi ditanya-tanya polisi sendirian" ujar Andre.


"Mungkin juga ya" balas Dewi.

__ADS_1


"Yaudah ah ayo kita kerja lagi!" ajak Andre.


Mereka pun melanjutkan pekerjaannya lagi walau masih penasaran dengan Putra.


__ADS_2