Hukuman Mati Si Pengingkar Janji

Hukuman Mati Si Pengingkar Janji
Ancaman Si Pembunuh


__ADS_3

Setelah tiba di kantor polisi, kedua detektif tersebut pun langsung menemui Kompol Agus.


"Tok.... Tok.... Tok" suara ketukkan pintu ruangan Kompol Agus.


"Masuk!" perintah Kompol Agus.


"Silahkan duduk. Ada kabar apa detektif?" ucap Kompol Agus lalu bertanya pada kedua detektif tersebut.


"Begini pak. Kami kesini mau memberikan kabar buruk sekaligus kabar duka" ucap Denpa.


"Kabar buruk dan kabar duka gimana maksudnya?" tanya Kompol Agus kebingungan.


"Euhh.... Tadi salah satu anggota kita yang sedang menyelidiki lokasi pembunuhan Bu Dona ditikam pak" ucap Denpa.


"Brakkk" Kompol Agus marah lalu menggebrak meja.


"Siapa korban dan pelakunya?" tanya Kompol Agus sedikit emosi.


"Untuk korbannya iptu Bram. Sementara pelakunya belum diketahui pak" ujar Arya.


"Kemungkinan pelakunya sama dengan pelaku pembunuhan pak Erik dan Bu Dona" ucap Denpa menambahkan.


"Bagaimana keadaan iptu Bram?" tanya Kompol Agus lagi.


"Tadi saya menerima informasi dari pihak rumah sakit. Iptu Bram meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit karna kehilangan banyak darah" terang Arya.


"Kita harus lebih berhati-hati, pelaku itu sangat nekat. Karna kita juga tidak tau siapa yang akan jadi korban selanjutnya. Mungkin saya, kalian atau anggota yang lain" ucap Kompol Agus mengingatkan dua detektif tersebut.


"Siap pak!" balas kedua detektif tersebut.


"Bagaimana di lokasi kejadian, apa masih dilakukan penyelidikan?" tanya Kompol Agus.


"Siap masih pak! Penyelidikan sekarang ini dipimpin oleh iptu Dirga" jawab Denpa.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya pak?" tanya Arya pada Kompol Agus.


"Sekarang kita tunggu saja laporan dari iptu Dirga untuk mengatur langkah selanjutnya" jawab Kompol Agus.


"Siap pak!" balas kedua detektif tersebut.


"Kalau begitu kami permisi dulu pak" ujar Arya.


"Silahkan" balas Kompol Agus.


Detektif Denpa dan detektif Arya pun meninggalkan ruangan Kompol Agus dan menuju lapangan olahraga didekat ruangan tadi.


"Haduh den.... Pusing banget aku sama kasus ini.... Gak selesai-selesai, malahan nambah panjang masalahnya" ujar Arya pada Denpa.


"Iya ya. Tapi kita harus bisa menyelesaikan kasus ini. Jangan ngeluh terus. Karna ini tanggung jawab kita" balas Denpa.

__ADS_1


"Iya sih den, tapi......" ujar Arya tertahan karna melihat sesuatu.


"Tapi apa ya?" tanya Denpa bingung.


"Itu den. Itu ada detektif Sinta" ujar Arya sambil menunjuk ke arah detektif Sinta yang sedang berjalan sendirian.


"Ayo kita samperin!" ajak Arya.


"Mau ngapain?" tanya Denpa bingung.


"Ayo ikut aja nanti juga kau tau" jawab Arya sambil menarik tangan Denpa.


Arya dan Denpa pun memanggil detektif Sinta.


"Detektif Sinta!" panggil Arya dengan suara lantang.


"Ada apa ya?" sahut detektif Sinta.


"Euhh..... Kita pengen ngobrol-ngobrol nih sin. Sebentar aja" jawab Arya sambil mengajaknya ke tempat duduk dekat lapangan olahraga.


"Mau ngobrol apa ya?" tanya detektif Sinta.


"Kita mau ngobrol tentang kasus yang lagi kita tangani. Kau kan pinter. Siapa tau bisa bantu kita menyelesaikan kasus ini" jawab Arya.


"Maksudnya kasus pembunuhan bos roti itu?" tanya Sinta lagi.


"Jadi kalian mau minta tolong apa dari aku?" tanya Sinta lagi.


"Euhh..... Kita pengen kau membantu kita menyelesaikan kasus ini. Siapa tau bisa lebih cepat selesai" jawab Denpa sedikit gugup.


"Denpa..... Bukannya kau biasanya bisa menyelesaikan kasus dengan mudah?" tanya Sinta mengagetkan Denpa.


"Gini sin, kan kasus ini rumit. Jadi kita sampai sekarang belum bisa mengungkap siapa pelakunya. Aku harap kau bisa bantu kita. Kita percaya kau pasti bisa bantu pecahin kasus ini" jawab Denpa penuh harap.


"Tapi aku kan bukan tim kalian. Mana bisa aku ikut campur kerjaan kalian? Nanti aku ditegur sama atasan gimana coba" ucap Sinta bingung.


"Tenang aja sin. Nanti aku akan bicara dengan Kompol Agus. Kau gak usah khawatir" jawab Arya meyakinkan.


"Iya sin. Tenang aja kau pasti aman kok sama aku..... Eh kita maksudnya" ucap Denpa salah tingkah.


"Tuh Sin Denpa udah berharap banget sama kamu. Kamu mau ya" tambah Arya sambil sedikit tertawa.


"Yaudah deh aku mau Den. Yaudah aku ke sana dulu ya" ucap Sinta sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.


"Makasih ya Sin" ucap Denpa dan Arya tersenyum penuh kemenangan.


Detektif Denpa dan detektif Arya pun lalu pergi menuju parkiran.


Namun saat mereka sedang melewati ruangan Kompol Agus tiba-tiba mereka dipanggil oleh Kompol Agus.

__ADS_1


"Detektif Denpa dan detektif Arya!" panggil Kompol Agus.


"Ya ada apa pak?" tanya Denpa sambil mendekati Kompol Agus.


"Ikut saya ke ruangan! Ada hal penting yang mau saya bicarakan" perintah Kompol Agus.


Dua detektif tersebut pun akhirnya masuk ke dalam ruangan Kompol Agus lalu duduk berhadapan.


"Ada apa ya pak memanggil kami kesini?" tanya Denpa.


"Tadi saya mendapat laporan dari iptu Dirga. Dia menemukan ini ditempat iptu Bram ditikam" jawab Kompol Agus sambil menunjukkan secarik kertas.


"JANGAN IKUT CAMPUR MASALAH INI. KALAU KALIAN TIDAK MAU KEHILANGAN NYAWA!" tulisan pada secarik kertas tersebut.


"Kita sekarang sudah dalam ancaman pelaku pak. Apa sudah diketahui siapa yang membuat tulisan ini?" tanya Denpa.


"Belum diketahui siapa yang membuat tulisan itu. Kemungkinan adalah pelaku yang sama yang menikam iptu Bram. Jadi kalian harus lebih berhati-hati dalam bertugas dan terus awasi bila ada orang-orang yang mencurigakan" ujar Kompol Agus mengingatkan.


"Baik pak. Kami akan berhati-hati dan selalu mengikuti perintah!" jawab Denpa tegas.


"Emmm.... Pak. Saya boleh bertanya?" tanya Arya pada Kompol Agus.


"Mau tanya apa detektif Arya?" tanya Kompol Agus.


"Begini pak. Tadi kan kami ngobrol-ngobrol dengan detektif Sinta untuk minta bantuan dia menangani kasus ini. Boleh tidak pak?" ujar Arya.


"Silahkan saja kalau kalian merasa tidak sanggup menyelesaikan kasus ini berdua. Karna mungkin akan lebih cepat pelakunya terungkap dan saya juga percaya dengan kemampuan detektif Sinta. Saya akan buatkan segera surat tugas untuk detektif Sinta" jawab Kompol Agus.


"Baik pak. Terimakasih" balas Arya.


"Saya rasa cukup diskusi dengan kalian. Silahkan kalian lanjutkan pekerjaan kalian kembali dan tolong sampaikan pada detektif Sinta, surat tugasnya akan segera saya buatkan" ujar Kompol Agus.


"Baik pak. Kalau begitu kami permisi dulu" ucap Denpa.


Kedua detektif tersebut pun meninggalkan ruangan Kompol Agus.


Saat keluar ruangan, kedua detektif tersebut bertemu dengan detektif Sinta lalu memanggilnya.


"Detektif Sinta!" panggil Arya.


"Ada apa ya?" tanya Sinta lalu menghampiri mereka.


"Tadi kami sudah bertanya pada Kompol Agus. Katanya kau boleh ikut kami. Nanti Kompol Agus akan segera buatkan surat tugas untuk kau" jawab Arya.


"Baiklah kalau begitu. Jadi sekarang kita satu tim?" balas Sinta.


"Iya benar. Kita akan segera selesaikan kasus ini bersama!" ujar Arya penuh semangat.


Mereka bertiga pun akhirnya berjalan berbarengan sambil mengobrol tentang kasus yang akan ditangani.

__ADS_1


__ADS_2