
Suasana pagi hari di kantor polisi terlihat seperti biasa. Semua anggota menjalankan tugasnya masing-masing. Detektif Sinta terlihat sedang sendirian di ruangan.
"Pagi detektif Sinta!" sapa Arya setelah masuk ruangan kerjanya.
"Pagi ya! Eh.... Detektif Denpa mana? Kok belum dateng?" tanya Sinta.
"Ciee..... Ada yang kangen nih" ujar Arya meledek.
"Ih...... Apaan sih ya. Cuma nanya doang kok" balas Sinta malu-malu.
"Iya deh iya. Detektif Denpa gak tau nih lagi dimana" ujar Arya.
Detektif Denpa pun akhirnya datang.
"Pagi semuanya!" Sapa Denpa tersenyum.
"Nah ini dia orangnya datang juga. Baru aja kita omongin" ujar Arya sedikit tertawa.
"Ngomongin apa nih gak ngajak-ngajak?" tanya Denpa.
"Itu Den. Sinta tadi nanyain kau" jawab Arya tertawa kecil.
"Oh ya. Ada apa Sin?" tanya Denpa pada Sinta.
"Nggak ada apa-apa kok.... Udah ah kita kerja" jawab Sinta dengan pipi memerah karna malu.
"Oh yah. Sekarang kita tugas kemana nih?" tanya Denpa lagi.
"Kita sekarang ke rumah korban. Lanjut cari barang bukti dan minta keterangan dari warga sekitar" jawab Sinta.
"Kalau masalah penyerangan anggota kita gimana?" tanya Arya.
"Aku dapat info dari iptu Dirga, katanya alat yang dipakai untuk penyerangan gak ada di TKP. Mungkin dibawa sama pelaku" jawab Denpa menjelaskan.
"Nanti kita coba telusuri lagi TKP nya. Siapa tau alatnya jatuh ditempat yang tertutup" ucap Sinta memberi saran.
"Nah iya betul tuh. Aku setuju!" timpa Denpa.
"Kita ke rumah korban jam berapa?" tanya Arya.
"Sekitar jam 9 aja" jawab Sinta.
"Oke deh" balas Arya.
Mereka bertiga pun mulai melakukan pekerjaannya dengan memeriksa beberapa dokumen terkait kasus yang akan ditangani.
Di lain tempat, karyawan toko sedang bekerja dan melayani para pembeli yang datang.
"Dre.... Si Putra kemana? Kok dari tadi gak keliatan batang hidungnya" tanya Dewi bingung.
"Dia gak masuk Wi. Tadi ngasih kabar katanya lagi gak enak badan" jawab Andre.
"Kita tengok yuk! Kasian dia di tempat kost sendirian" ajak Dewi pada Andre.
"Gak usah katanya Wi. Besok juga udah masuk lagi dia" balas Andre.
"Hemm..... Kok aneh ya. Kemarin tingkahnya aneh. Sekarang gak masuk. Apa ada hubungannya" ucap Dewi keheranan.
"Udah lah jangan disangkutpautkan sama kejadian kemarin. Mungkin kemarin dia aneh karna tanda-tanda mau sakit, terus hari ini baru kerasa kali badannya gak enak" balas Andre.
__ADS_1
"Iya sih. Semoga aja bener gitu ya. Semoga dia gak ngelakuin yang aneh-aneh" ucap Dewi.
"Yaudah kita kerja lagi yuk. Tuh ada pembeli datang!" ajak Andre melanjutkan pekerjaannya.
Mereka pun melanjutkan pekerjaannya lagi dan menyudahi obrolan itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 9. Ketiga detektif pun bersiap menuju ke rumah korban untuk melanjutkan penyelidikan dan mencari barang bukti.
"Kita ke ruangan Kompol Agus dulu! Ijin dulu sama komandan" ajak Denpa mengingatkan.
"Iya Den bentar. Mau ngerapihin dokumen dulu" jawab Sinta sambil membereskan dokumen di mejanya.
"Yaudah yuk!" ucap Sinta lagi.
"Yuk!" balas Arya.
Mereka bertiga pun menuju ruangan Kompol Agus.
"Tok..... Tok..... Tok" suara ketukan pintu ruangan Kompol Agus.
"Masuk!" perintah Kompol Agus.
"Permisi pak" ucap Denpa lalu masuk ke dalam ruangan bersama Arya dan Sinta.
"Silahkan duduk" ujar Kompol Agus.
"Ada apa detektif?" tanya Kompol Agus.
"Kami mau ijin pak. Mau ke rumah korban untuk melanjutkan penyelidikan dan pencarian barang bukti" ucap Denpa menjelaskan.
"Baiklah. Tapi tetap hati-hati ya! Jangan sampai kalian menjadi korban selanjutnya" ujar Kompol Agus mengingatkan.
"Silahkan" jawab Kompol Agus.
Mereka bertiga pun pergi menaiki mobil dan menuju rumah korban. Di perjalanan mereka mengobrol sedikit.
"Kalian sebelumnya udah ngelakuin penyelidikan dirumah itu belum?" tanya Sinta memulai obrolan.
"Kita belum pernah sih ngelakuin penyelidikan secara intens. Karna saat kita mau minta keterangan istri korban, kita malah nemuin istri korban sudah meninggal dan kita menyerahkan penyelidikan ke tim lain" jawab Arya menjelaskan.
"Oh gitu" balas Sinta.
"Makanya itu kita minta bantuan kau biar kasus ini cepat terungkap. Kau pernah kan menangani kasus kaya gini?" ujar Arya.
"Iya sih pernah. Cuma kasus yang serumit ini baru pertama kali" balas Sinta lagi.
"Kita pasti bisa kok pecahin misteri kasus ini!" ucap Denpa meyakinkan.
"Iya bener Den. Kita kalau kerja sama pasti bisa selesain kasus ini" balas Arya semangat.
Akhirnya mereka pun sampai di lokasi. Mereka turun dari mobil dan memasuki rumah tersebut.
"Ya kau minta keterangan dari tetangga rumah ini. Biar aku dan Sinta periksa dapur dan halaman belakang" ucap Denpa.
"Siap!" balas Arya.
Detektif Arya pun mendatangi rumah Sony untuk meminta keterangannya.
"Permisi..... Permisi....." panggil Arya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Sony keluar rumah dan menghampiri detektif Arya.
"Iya pak ada apa?" tanya Sony sambil membukakan pagar.
"Saya dari kepolisian, mau minta keterangan dari bapak. Apakah bapak berkenan?" jelas Arya.
"Oh iya pak. Silahkan masuk" ucap Sony lalu mempersilahkan masuk dan duduk di kursi depan rumah.
"Mau tanya apa ya pak?" ucap Sony penasaran.
"Terkait kasus pembunuhan Bu Dona. Apa bapak mengetahui sedikitnya tentang hal yang berkaitan dengan kejadian itu?" tanya Arya.
"Kalau masalah itu saya kurang tau ya pak. Soalnya semenjak kepergian pak Erik, Bu Dona lebih sering berada didalam rumah. Kalaupun keluar cuma untuk belanja aja pak" jawab Sony menjelaskan.
"Apa bapak melihat ada orang yang mencurigakan lewat depan rumah korban saat malam kejadian?" tanya Arya lagi.
"Gak ada sih pak. Waktu itu jalan ini sepi. Tapi saya denger suara teriakan. Saya gak hiraukan teriakan itu. Karna saya kira itu suara tv rumah saya. Soalnya istri saya kalau menonton tv, suaranya selalu keras. Dan kebetulan saat itu istri saya sedang menonton tv dengan volume yang keras" terang Sony pada detektif polisi tersebut.
"Baiklah pak. Terimakasih atas keterangannya. Kalau ada info langsung hubungi kepolisian saja ya" ujar Arya.
"Iya pak sama-sama" balas Sony.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak" ujar Arya berpamitan.
"Silahkan pak" ucap Sony.
Sementara itu, Denpa dan Sinta sedang memeriksa halaman belakang rumah.
"Gimana Den, ketemu sesuatu?" tanya Sinta.
"Belum nih Sin. Gak ada tanda-tandanya" jawab Denpa.
Saat sedang mencari, tiba-tiba Sinta mengagetkan Denpa.
"Den.... Aku Nemu barang bukti nih" ujar Sinta sambil menunjukkan pisau yang berdarah mengering.
"Langsung masukin kantong plastik Sin" ucap Denpa.
"Iya Den" balas Sinta.
"Kau temuin pisau itu dimana?" tanya Denpa.
"Itu dibalik tanaman itu" jawab Sinta sambil menunjuk ke arah sebuah tanaman.
"Ini kemungkinan pisau yang digunakan oleh pelaku" ucap Denpa.
"Yaudah kita langsung ke kantor aja Den. Kayanya ini udah cukup" ujar Sinta.
Mereka pun meninggalkan halaman belakang rumah dan menuju mobilnya untuk kembali ke kantor. Dihalaman depan ia berpapasan dengan Arya.
"Gimana Den.... Sin... Ketemu?" tanya Arya.
"Udah nih ya" jawab Sinta sambil menunjukkan kantong plastik berisikan pisau.
"Aku juga udah dapet keterangan dari tetangga dan nemuin kertas ini di tempat sampah" ujar Arya lalu menunjukkan secarik kertas.
"Yaudah kita sekarang langsung ke kantor" ajak Sinta.
Mereka bertiga pun lalu meninggalkan rumah korban dan menuju kantor untuk menyerahkan barang bukti untuk memproses kelanjutannya.
__ADS_1