Hukuman Mati Si Pengingkar Janji

Hukuman Mati Si Pengingkar Janji
Firasat Yang Menyayat


__ADS_3

Keesokan paginya, seperti biasa Erik sarapan bersama istrinya sebelum dia berangkat ke toko.


"Pah sarapan dulu, udah mamah siapin nih" ucap Dona sambil menyajikan makanan.


"Iya mah" ucap Erik sambil menyantap makanannya.


"Pah mamah minta maaf ya soal tadi malem" ujar Dona menyesal.


"Iya mah gak apa-apa, semalam papah cuma lagi kesel aja tambah capek lagi" ucap Erik menenangkan.


"Oh yah mah nanti kalau papah belum pulang juga, mama makan sama tidur duluan aja ya. Gak usah nungguin papah" ucap Erik memberitahu.


"Mau kemana pah? Kok gak biasanya sih. Biasanya kan papah selalu pengen ditungguin sama mamah" tanya Dona heran.


"Gak kemana-mana kok mah. Papah cuma gak mau aja mamah kesel karna nungguin papah gak pulang-pulang" ucap Erik.


"Mamah pasti selalu nungguin papah kok. Kan mamah harus jadi istri yang baik buat papah" ucap Dona sambil tersenyum.


"Yaudah deh terserah mamah aja. Papah pergi dulu ya" ujar Erik buru-buru.


"Iya pah hati-hati dijalan ya" ucap Dona.


"Iya mah. Jaga diri baik-baik ya walaupun gak ada papah" ucap Erik sambil mencium kening Dona.


Setelah itu Erik pergi menaiki mobilnya dan Dona pun merasakan tidak enak hati karna ucapan suaminya. Ia merasakan firasat akan ditinggal pergi oleh suaminya. Namun ia tidak mau memikirkan hal itu karna tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan. Ia pun kembali masuk kedalam rumah.


Sementara itu di toko roti, Erik pun datang dan disambut oleh karyawannya.


"Selamat pagi pak" ucap seluruh karyawannya.


"Pagi" ucap Erik sambil tersenyum.


"Oh yah untuk gaji kalian nanti saya kasih ya sebelum kalian pulang" tambah Erik.


"Iya pak terimakasih" ucap seluruh karyawan penuh semangat.


Erik pun memasuki ruangannya dan seluruh karyawan melakukan pekerjaannya kembali.


"Eh put.. kamu merasa ada yang aneh gak sama pak Erik?" tanya Andre pada Putra.


"Aneh gimana maksudnya Dre? Aku sih liatnya biasa aja tuh" ujar Putra.

__ADS_1


"Ya aneh aja gitu tiba-tiba sikapnya berubah gitu. Kaya orang mau mati aja" ucap Andre heran.


"Hush... Jangan ngomong sembarangan kamu. Kalau pak Erik denger gimana? Udah-udah kita lanjut kerja aja" ujar Putra pada Andre.


Putra dan Andre pun melanjutkan pekerjaannya walaupun Andre masih merasa aneh pada sikap pak Erik yang tiba-tiba berubah pada karyawannya.


Tiba saatnya toko ditutup dan Erik mengumpulkan seluruh karyawannya sebelum pulang.


"Sebelumnya saya minta maaf kalau sikap saya selama ini bikin kalian sakit hati atau buat kalian gak nyaman. Saya merasa bersalah sekali kepada kalian karna udah bikin kalian kesusahan" ucap Erik penuh penyesalan.


"Ini gaji kalian yang belum saya bayarkan. Semoga kalian tidak kesusahan lagi ya. Dan saya sekali lagi minta maaf karna takutnya saya gak ada waktu lagi buat minta maaf sama kalian" tambah Erik.


Seluruh karyawan pun akhirnya mendapatkan gaji mereka, namun mereka sangat bingung dengan sikap pak Erik yang sangat berubah.


"Saya pulang dulu ya" ucap Erik sambil tersenyum pada seluruh karyawannya.


"Iya pak hati-hati dijalan" balas seluruh karyawan.


Setelah Erik meninggalkan toko, Andre masih saja heran dan bertanya-tanya tentang perubahan sikap bos nya itu pada karyawannya.


"Tuh kan put saya bilang juga apa. Pak Erik tuh kaya orang mau mati aja sampai bilang gitu!" ucap Andre.


"Mungkin dia emang sadar aja sama kesalahannya. Bukan karna mau mati. Kamu ini omongannya kok ngelantur sih!" ucap Putra membalas Andre.


"Iya Dre. Saya juga pusing denger omongan kamu yang ngelantur itu" ucap Putra menaiki motornya juga.


Kemudian mereka pun akhirnya pulang dengan motornya masing-masing.


Sementara itu dirumah Erik, istrinya sudah menunggu dari tadi kepulangan suaminya itu. Dia tidak mau makan duluan sebelum suaminya pulang, walaupun suaminya sudah mengingatkan untuk tidak menunggunya.


"Duh papah kemana ya. Kok lama banget sih. Udah ditelpon gak dijawab-jawab" ucap Dona khawatir.


Sambil menunggu Dona pun menonton tv. Saking lamanya Dona menunggu, dia pun ketiduran di sofa ruang tamu.


Hingga dia terbangun oleh suara telpon yang masuk.


"Kring...kring....kring..." suara dering telpon. Dona pun mengangkat panggilan telpon.


"Halo dengan siapa ini?" tanya Dona.


"Halo selamat malam Bu. Apa benar ini dengan istri dari saudara Erik?" ucap seseorang dari telpon.

__ADS_1


"Iya benar. Ini siapa ya?" tanya Dona kembali.


"Saya dari kepolisian, ingin memberitahu ibu bahwa suami ibu, saudara Erik menjadi korban pembunuhan. Dan jenazahnya sekarang berada di Rumah Sakit Bela Medika. Ibu dimohon segera ke rumah sakit". Kaget dan sedih Dona mendengar berita seperti itu. Ia tidak menyangka bahwa suaminya telah meninggal dunia dan tadi pagi adalah percakapan terakhir dengan suaminya.


Setelah itu ia lalu bergegas menuju rumah sakit dan minta ditemani satpam rumahnya.


"Pak Joko... Pak Joko... antar saya ke rumah sakit pak" dengan suara lirih Dona.


"Ada apa Bu?" Joko bertanya bingung.


"Bapak meninggal pak" ucap Dona sambil menangis.


"Hah? bapak meninggal Bu? tanya Joko kaget.


"Iya pak" ucap Dona kembali


Baik Bu saya antar" ucap Joko.


Selama perjalanan, Dona tak henti-hentinya menangis. Ia menyesali karna belum bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya itu, bahkan belum memberikan kebahagiaan yang sangat suaminya idam-idamkan yaitu memberinya anak. Namun semua itu hanyalah jadi sebuah penyesalan dan tidak bisa membuat suaminya hidup kembali.


Sesampainya di rumah sakit ia bertemu dengan pihak kepolisian yang sedang menunggu kedatangannya.


"Pak dimana suami saya?" tanya Dona pada seorang polisi.


"Tenang ya Bu, jenazah suami ibu sekarang berada di kamar jenazah. Mari saya antar" ucap polisi tersebut.


Ketika Dona sudah memasuki kamar jenazah ia lalu melihat jenazah suaminya yang sudah ditutup oleh sebuah kain putih. Tangis Dona kembali pecah setelah melihat suaminya yang sudah terbujur kaku, lalu ia memeluk tubuhnya. Dona menangis sejadi-jadinya dan tak henti-hentinya memanggil nama suaminya itu.


"Pah bangun pah. Maafin mamah pah" ucap Dona terus menangis.


"Yang tabah ya Bu" ucap polisi menenangkan.


Setelah mulai mereda tangisannya, Dona lalu bertanya pada polisi.


"Siapa yang tega membunuh suami saya pak?" tanya Dona dengan suara gemetar.


"Kami belum mengetahuinya Bu. Karna di lokasi kejadian tidak ada satu orangpun yang melihat peristiwa itu" ucap polisi tersebut.


"Tapi ibu tenang saja. Kami akan melakukan penyelidikan kasus ini sampai tuntas" tambah polisi itu.


"Cepat cari pembunuh suami saya pak. Saya gak terima suami saya dibunuh" ucap Dona penuh amarah.

__ADS_1


"Baik Bu. Kami akan segera menemukan pelakunya" ucap polisi pada Dona.


Malam yang kelam itu pun terus berlalu dengan diiringi kesedihan Dona yang teramat mendalam atas kepergian suaminya.


__ADS_2