
Keesokan harinya polisi yang memimpin penanganan kasus pembunuhan bos roti, yaitu Kompol (Komisaris Polisi) Agus Pratama yang melakukan pembicaraan khusus dengan dua detektif muda yaitu detektif Denpa Januar, si detektif formal dengan pakaian kemeja rapi berdasi dan jas serta detektif Arya Agustian, si detektif modis dengan pakaian khas anak muda.
"Kita harus sesegera mungkin menyelesaikan kasus ini!" perintah Kompol Agus.
"Baik pak" ucap detektif Denpa.
"Namun bagaimana kita menemukan pelakunya pak? Sementara di TKP tidak ada satupun saksi maupun rekaman cctv yang dapat membantu kita pak" tanya detektif Arya bingung.
"Kita harus memeriksa TKP secara mendalam. Barangkali disana kita akan menemukan barang bukti" ucap Kompol Agus.
"Siap pak. Kami akan bekerja keras untuk mengungkap kasus ini" ucap Denpa tegas.
Mereka pun bersama tim kepolisian lainnya langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara untuk menemukan bukti yang mengarah pada pelaku pembunuhan.
Sesampainya di TKP, duo detektif, Kompol Agus bersama tim kepolisian melakukan penelusuran secara seksama. Disana masih terdapat mobil korban.
Salah seorang polisi akhirnya menemukan sebuah pisau berdarah.
"Saya menemukan pisau ini didekat pohon pak" ucap seorang polisi sambil menunjukkannya pada Kompol Agus.
"Langsung masukan pada plastik sebagai barang bukti!" perintah Kompol Agus.
"Baik pak" jawab polisi tersebut lalu memasukkan pisau pada plastik.
"Bagaimana detektif Denpa dan detektif Arya. Apakah kalian menemukan barang bukti lain?" tanya Kompol Agus pada dua detektif tersebut.
"Belum pak" jawab detektif Arya tersebut sambil memeriksa mobil.
"Ini kemungkinan adalah kasus pembunuhan berencana pak. Dilihat dari barang-barang korban tidak ada yang hilang" ucap detektif Denpa pada Kompol Agus.
"Cari lagi barang bukti yang lebih kuat supaya kita segera mengetahui siapa pelakunya!" perintah Kompol Agus pada duo detektif tersebut.
"Siap pak!" jawab duo detektif itu kompak.
Sambil memeriksa isi mobil, Arya pun bertanya pada Denpa tentang pernyataannya tadi.
"Mengapa kau punya pendapat seperti itu?" tanya Arya heran.
__ADS_1
"Lihat saja disitu ada amplop yang berisi uang dan hp di dashboard mobil. Kalau ini kasus perampokan, pastinya uang dan hp itu akan diambil. Sementra ini tidak sama sekali" ucap Denpa sambil menunjukkan dashboard mobil.
"Mungkin saja sebagian uangnya sudah diambil oleh pelaku tersebut" ucap Arya menyanggah pernyataan Denpa.
"Tidak sepeserpun uang itu diambil. Karna lihat ini amplopnya tidak ada bekas dibuka" ucap Denpa sambil menunjukkan amplop pada Arya.
"Tapi mungkin saja perampok itu tidak sempat mengambil uang dan hp korban karna takut ketahuan oleh warga kan" Arya menyanggah pernyataan Denpa.
"Tidak mungkin. Kau tau kan jalanan ini saat malam sangat sepi dan saat kejadian tidak ada satupun orang yang melihat kejadian tersebut. Pelakunya pastinya punya kesempatan yang besar untuk mengambil uang dan hp korban tanpa khawatir akan diketahui oleh warga sekitar" ucap Denpa membantah sanggahan Arya.
"Jadi menurutmu siapa pelakunya?" tanya Arya.
"Aku belum tau siapa pelakunya. Tapi menurutku pelakunya bukan orang sekitar sini" ucap Denpa pada Arya.
"Bukan orang sekitar sini? Mengapa kau bisa sangat yakin seperti itu?" tanya Arya lagi.
"Karna jika pelakunya adalah orang sekitar sini, pasti akan dengan mudah ketahuan oleh warga yang lainnya" ucap Denpa.
Duo detektif muda itu dan tim kepolisian pun terus melakukan pemeriksaan TKP untuk menemukan barang bukti yang kuat untuk bisa dibawa ke kantor dan menjadi sinyal penemuan pelaku pembunuhan tersebut.
Setelah selesai melakukan olah Tempat Kejadian Perkara, duo detektif muda dengan tim kepolisian kembali ke kantor untuk menyimpan barang bukti dan menyiapkan tugas selanjutnya.
"Lantas bagaimana kelanjutannya pak untuk kita segera menemukan pelakunya itu pak? tanya Denpa pada Kompol Agus.
"Kita perlu pikirkan rencana selanjutnya! Karna pelaku ini melakukan aksinya dengan bersih tanpa meninggalkan jejak yang bisa kita lacak" ucap tegas Kompol Agus.
"Kejahatan tidak ada yang sempurna pak. Kita pasti bisa menemukan kecerobohan pelaku tersebut!" ujar Dengan sangat optimis.
"Ya kamu benar. Pelaku pasti nanti akan melakukan tindakan ceroboh dan kita harus bisa memanfaatkan itu" ucap Kompol meyakinkan.
"Pak, apa perlu kita meminta keterangan dari istri korban untuk lebih mendalami kasus ini?" tanya Arya pada Kompol Agus.
"Untuk saat ini kita belum bisa meminta keterangan dari istri korban karna dia masih dalam keadaan berduka. Kita tunggu beberapa hari untuk meminta keterangan dari dia" ucap Kompol Agus pada duo detektif tersebut.
"Baik pak. Kami tunggu perintah selanjutnya dari bapak" ucap Denpa pada Kompol Agus.
Selang tiga hari setelah peristiwa pembunuhan suaminya, hari-hari Dona mulai beranjak normal lagi seperti biasanya. Dona pun mulai mengikhlaskan kepergiannya dan beraktifitas seperti biasanya walaupun masih sering melamun mengingat suaminya yang biasanya selalu ada disisinya. Seperti hari itu juga Dona masih saja suka melamun, tapi lamunan itupun terganggu saat ada suara ketukan pintu dari luar rumahnya.
__ADS_1
"Tok...tok...tok" suara ketukan pintu dari luar.
Saat membuka pintu, Dona kaget melihat Joko didepan pintu.
"Eh pak Joko... Masuk pak" ucap Dona.
"Iya Bu" ujar Joko lalu masuk ke rumah Dona dan duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa ya pak?" tanya Dona.
"Emm... maaf Bu sebelumnya. Saya kesini mau minta ijin sama ibu buat pulang kampung" ucap Joko pada Dona.
"Pulang kampung? Emangnya bapak mau apa pulang ke kampung?" tanya Dona bingung.
"Emm...anu... saya mau tengok istri saya Bu. Karna dia masih sedih atas kepergian anak saya Bu" ucap Joko mengagetkan Dona.
"Meninggal? Sejak kapan pak?" tanya Dona.
"Tiga hari yang lalu Bu" terang Joko.
"Kenapa bapak gak bilang dari waktu itu?" tanya Dona lagi.
"Saya gak mau mengganggu ibu. Ibu kan waktu itu sangat berduka atas kepergian pak Erik" jawab Joko.
"Turut berdukacita ya pak. Maaf saya gak bisa datang langsung ke sana" ucap Dona.
"Iya Bu terimakasih. Gak apa-apa kok Bu" ujar Joko.
"Yasudah bapak boleh pulang kampung. Ini uang dari saya untuk gaji bapak yang belum sempat dibayar dan tambahannya" ucap Dona sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Iya Bu. Terimakasih banyak. Saya permisi dulu" ujar Joko lalu keluar rumah Dona untuk siap-siap pulang kampung.
Joko pun lalu membereskan pakaiannya dan langsung berpamitan pada Dona.
"Bu saya pergi dulu" ujar Joko pada Dona.
"Iya pak. Hati-hati dijalan. Salam buat istri bapak" ucap Dona.
__ADS_1
"Iya Bu nanti saya sampaikan" ujar Joko lalu menyalakan motornya
Joko pun akhirnya pergi meninggalkan rumah majikannya itu dengan menggunakan motornya.