
Sebelum melangkah dari rumah Bu Ningsih, Arman terlebih dahulu meminta nomor hp Ara agar mudah menghubunginya.
" maaf Ara, boleh minta nomor kamu...? tanya Arman yang melihat Ara hendak pergi dan menyerahkan hpnya pada Ara.
" boleh mas... ucap Ara mengambil hp tersebut dan mengetikkan nomornya di ponsel Arman.
Setelah berpamitan Ara dan Adel menuju ke mobilnya dan disana sudah ada Lili dan Susi yang menunggu.
" sering-sering main ke sini walaupun udah nggak tinggal disini... ucap Susi mengingatkan Ara yang baru kemarin mereka ngobrol ngalor ngidul.
" insyaallah mbak... kalo Ara nggak sibuk... Ara akan sempetin main ke sini...!
Setelah berpelukan mereka berdua menuju ke mobil. Mobil melaju membelah jalanan ibu kota menjelang adzan Maghrib. Tidak sampai setengah jam mobil sudah sampai di kediaman rumah Surya dan Wina.
" assalamu'allaikum... salam Ara dan Adel bersama.
" wa'allaikum salam... eh... yang ditunggu baru nongol... kemana aja sih...? tanya Aya yang merasa mereka berdua terlalu lama datangnya.
" tadi pamit dulu kak... masak iya Ara langsung pergi gitu aja nggak pakek acara pamit... kan nggak sopan...!
" iya... kakak ngerti... buruan sana beres-beres... bentar lagi kita makan... ucap Aya.
" ehmmm... Kak... boleh Ara tanya sesuatu...?
Aya mengernyitkan alisnya. " apa...? "
" maaf, apa di rumah ini nggak pernah sholat berjama'ah...? tanya Ara yang langsung membuat Aya sedikit tegang.
" ehm... jujur nggak dek... karena kesibukan sampai nggak sempet sholat... jelas Aya.
__ADS_1
" kakak sama Adel mau nggak sholat jama'ah sama Ara...? tanya Ara memastikan.
" mau dek....
" aku juga mau kak... emang udah lama banget kita nggak pernah sholat... kita jama'ah yuk... Adel ke kamar dulu mandi terus kita sholat jama'ah di kamar belakang ya Kaka Aya. terang Adel.
" ya dek... di sana kan luas... cukuplah buat kita bertiga sholat bareng... ucap Aya membenarkan.
" mama kak...? tanya Ara.
" kakak ajak mama... kakak lihat ke kamar mama dulu ya... ucap Aya melangkah menuju kamar mama ya yang ada di lantai bawah.
Ara dan Adel menuju ke kamar mereka masing-masing. Kemarin sebelum Ara pulang, dia sudah diperlihatkan kamarnya yang nantinya akan dia tempati.
Setelah bersih-bersih, tak lama mereka sudah berkumpul di kamar yang mereka maksud untuk melakukan sholat berjama'ah. Terlihat Wina, bi Imah dan juga mang Ujang ikut berkumpul di sana.
Karena tadi setelah dari kamar Wina, Aya melihat mang Ujang dan juga bi Imah yang akan melakukan sholat berjamaah, makanya Aya mengajak mereka untuk sholat bersama-sama.
" iya non, ucap mang Ujang menuju sajadah yang sudah di persiapkan untuk menjadi tempat imam. Setelah itu di belakang di tempati oleh para perempuan.
Selesai sholat, Ara menyalami sang mama sambil menangis bahagia dalam hati dia berdoa karena telah dipertemukan dengan mama dan kakak kandungnya. Seluruh orang yang ada di ruangan itu terharu dan bahagia.
" ma, maafin Ara yang selama ini ada salah sama mama... ucap Ara sambil mencium punggung tangan mama ya dan memeluknya.
" bukan Ara yang salah nak... tapi mama... mama yang sudah memisahkan kalian berdua dan juga mama menyesal telah memisahkan kamu Aya dari ayah kamu... ucap Wina dalam tangis harunya penuh penyesalan karena kemarin juga Ara sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Ara dan Aya saling peluk melepas kerinduan yang sudah 20 tahun lebih mereka tak pernah bertemu dan saling kenal.
" kedepannya, kita harus selalu bersama dan saling menyayangi... ucap Aya memeluk Ara dan juga Adel yang ada di sampingnya. Sekarang, kita tiga bersaudara, jangan pernah malu untuk berkeluh kesah apapun itu... ucap Aya di sela pelukannya.
__ADS_1
Selesai acara tangis bahagianya, mereka berkumpul di meja makan yang sudah di siapkan oleh bi Imah. Ara sungguh merasa sangat bahagia karena sejak kemarin dia selalu bisa bersama keluarganya. Merasakan bagaimana rasanya makan semeja dengan orang yang dia sayangi. Bersenda gurau dengan mereka. Ara memandangi wajah mama, kakak dan adeknya yang selalu tersenyum.
Suara pintu terbuka dan mereka berempat menoleh ke asal suara... Aya, Adel dan Wina pasti sudah tahu siapa yang datang. Terdengar suar salam dari orang yang mereka sayangi.
" assalamu'allaikum... waaah... lagi bahagia nih rupanya.... papa ikut gabung dong...!!
" sini pah... papa kok baru dateng...? tanya Adel.
" maaf sayang kan kamu tahu sendiri Jakarta kota macet makanya jangan di tanya bagaimana rasanya kalo sedang di jalan dalam kondisi macet. Sungguh rasanya papa pengen cepet nyampek rumah, bisa segera bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang selalu membuat papa rindu... Oia Ara, sudah tempatikah kamar di sebelah Aya...? tanya Surya melihat ke arah Ara yang sedang mengunyah makanannya, dan dia mengambil posisi duduk yang ada di ujung meja, karena tempat itu memang khusus buat Surya.
Ara menjawab sambil tersenyum, " sudah pa... barusan juga aku sama Adel dari kostan ngambil baju.
" papa harap, kamu bisa selalu bahagia tinggal di sini... walaupun papa bukan papa kandungmu tapi papa sudah anggap kamu dan Aya anak kandung papa... jadi kalo ada butuh sesuatu jangan pernah sungkan... jelas Surya.
" iya pa... Ara mau ucapin makasih juga buat papa yang sudah menyayangi mama dan kak Aya secara tulus, Ara bahagia kok pa tinggal di sini apalagi selama ini kan Ara belum pernah merasakan gimana rasanya berkumpul dalam satu keluarga seperti ini... ucap Ara yang membuat mama ya tiba-tiba diam. Ara tahu kondisi mama ya yang merasa bersalah.
" ma, maafin Ara... Ara nggak ada maksud buat mama sedih... ucap Ara mengelus punggung tangan Wina.
" nggak kok sayang, mama sedih aja karena sudah lama kamu nggak pernah merasakan kasih sayang dari mama... sekali lagi maafin mama ya... ucap Wina membalas mengelus punggung tangan Ara.
" sudah... kok malah jadi melow gini... sekarang keluarga kita sudah lengkap maka, hilangkanlah perasaan sedih kita isi hari-hari ke depannya dengan kebahagiaan... ucap Surya sambil tersenyum.
" hore... Adel juga setuju apa kata papa...
" Aya juga...
" ya sudah... ehm... papa mau makan sama apa nih...?
" iya menunya banyak, papa makan udang saos aja ma... sama itu sambal teri, kayaknya enak banget tuh...!
__ADS_1
Wina mengambilkan apa yang diminta suaminya. Wina merasa sangat bahagia karena suami barunya bisa menerima anak sambungnya dan menganggap nya sebagai anak kandungnya. Sungguh dia merasakan bahagia yang sungguh-sungguh bahagia karena bisa berkumpul lagi dengan kedua putri kandungnya, dengan anak dan suaminya.