
Ara dan Agam adalah sahabat sejak di bangku SMA sekaligus saat mengikuti ekskul bela diri. Mereka menjadi murid yang paling unggul dalam ekskul bela diri hingga menghantarkan mereka berdua ke tingkat provinsi dan dalam beberapa bulan mereka masih aktif hingga setelah lulus Ara melanjutkan kuliah di salah satu universitas yang terkenal yang ada di Malang. Sedangkan Agam harus mengikuti jejak sang ayah yang dipindah tugaskan ke ibu kota karena ayahnya seorang Tentara. Hingga Agam kuliah di ibu kota.
Sejak saat itu hubungan antara Agam dan juga Ara terputus karena hilangnya hp Agam saat berangkat ke Jakarta.
" apa masih boleh gabung...? tanya Ara dengan senyum senangnya.
" tentu saja...
" apa masih boleh bertanding...?
" tentu saja...
" tapi sayangnya aku nggak bawa baju gam...?
" tenang saja sekolah ini seperti sekolah kita yang dulu memberikan fasilitas baju ganti... jelas Agam.
" waaah benarkah...!
" tentu... silahkan kalo kamu mau ganti di sana sudah tersedia tinggal kamu pilih yang paling pas dan cocok tapi kelihatannya banyak yang cocok karena kamu nggak berubah cuma sedikit berisi saja... ucap Agam berbicara apa adanya.
Ara mengangguk dan menuju ke tempat yang tadi di tunjukkan Agam. Sekolah ini memang menyediakan ruangan demi ruangan khusus bagi mereka yang mengikuti berbagai macam ekskul karena terkadang baju tersebut dibutuhkan pagi siswi perempuan tetapi dengan catatan setelah dipakai harus dicuci bersih dan harum.
Ara melangkah menuju ruang ganti. Disana terdapat banyak almari baju khusus bagi mereka-mereka yang mengikuti ekskul. Ara sudah mendapatkan kunci yang tadi di berikan oleh Agam untuk almari baju pencak silat.
Ara membuka almari tersebut, nampak baju berwarna putih lengkap dengan celana dan bermacam sabuk. Ara memilih baju yang cocok walaupun bukan baru tapi nampak bersih dan harum. Setelah memilih yang cocok, diambilnya baju tersebut dan menuju ruangan kecil untuk mengganti bajunya.
" hemmm... baju ini pas di badan aku dan masih nampak cocok jika aku pakai... ucap Ara sambil melihat cermin besar yang terpampang di ruang ganti yang ada di dalam.
Setelah itu dipasangnya sabuk hitam yang menjadi tingkatan tertinggi dalam pencak silat. Ara tersenyum melihat pantulannya di cermin. Ara segera keluar dan menata baju dinas beserta sepatunya ke dalam almari dan mengunci kembali almari tersebut.
Ara keluar dari ruangan dan berpapasan dengan beberapa siswa yang nampak menganga melihat penampilan Ara karena dia mengikat rambut panjangnya ke atas seperti ekor kuda. Biasanya Ara akan membiarkan rambutnya terurai.
Beberapa siswa nampak kagum dengan Ara dan banyak yang mengikuti kemana Ara akan pergi. Banyak yang bersorak karena melihat penampilan Ara yang tak seperti biasanya.
__ADS_1
Di lapangan yang luas Ara menghampiri Agam yang masih nampak kagum dengan penampilan Ara.
" perfect... ucap Agam spontan. Kamu masih sama cantiknya seperti yang dulu Ra...!
" gombalmu nggak pernah berubah gam...!!!
Ara dan Agam saling memberi hormat begitupun Ara memberi hormat pada anak didik Agam.
Atas perintah Agam, anak didiknya membuat lingkaran mengelilingi Ara dan Agam. Sedangkan siswa yang lain sudah bergerombol untuk menyaksikan. Begitu juga dengan Adelia yang nampak kagum dengan kakak ya yang sudah di kelilingi begitu banyak murid.
Lagi Ara dan Agam saling membungkuk memberi hormat, setelah itu mereka berdua memulai aksinya. Hampir 4 tahun berlalu Ara vakum. Tapi karena ilmu dasar yang sangat dikuasai jadi tidak sulit jika harus benar-benar menghadapi musuh.
Ara dan Agam memulai aksi mereka menunjukkan bakat dalam bertanding, mereka berdua menjadi tontonan yang seru bagi siswa siswi begitu juga guru yang sedang melintas atau mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
Hingga keduanya sama seri, setelah sekitar 10 menit uji coba mereka mendapat applaus meriah dari para murid.
" ternyata kemampuan kamu nggak pernah berubah, masih saja selalu jago...! ucap Agam yang kagum pada Ara.
" terima kasih pak Agam... Anda juga sangat jago...!
Sekitar pukul 4 sore sekolah bubar karena waktunya pulang, sesuai janji Anisa menemani Ara ke rumah Bian. Tak lupa Adel juga ikut.
Tak sampai 20 menit akhirnya mereka sudah sampai di kampung halaman rumah Anisa dan Bian. Rumah Bian nampak biasa saja dan sepi, terlihat seperti tak berpenghuni.
" Anisa, rumahnya kok sepi banget... Bian tinggal sama siapa...? ucap Ara kedtika mobil berhenti di depan rumah Bian.
" Bian tinggal sama orang tuanya Bu... tapi... ucap Anisa mengambang.
" tapi kenapa...? tanya Ara penasaran.
" itu Bu... ehmmm... ayah Bian jahat banget Bu ... jelas Anisa nampak takut untuk menjelaskan.
" jahat gimana maksud kamu...? ucap Ara mengernyitkan kedua alisnya.
__ADS_1
" ehmmm... itu... Bian sering kena pukul kalo tidak melakukan perintah ayahnya dan ayahnya seorang pemabuk, ibunya bekerja sebagai buruh cuci jadi ibunya nggak pernah berani melawan suaminya karena pernah suatu ketika sang ibu melawan berujung pemukulan juga... semua orang disini sudah tahu bagaimana sifat ayah Bian...! jelas Anisa.
" kok nggak ada yang lapor polisi kan itu sudah termasuk KDRT...! jelas Ara.
" kami semua takut Bu... karena ayahnya Bian sering mengancam kami dengan sepilah parang jika ada yang berani melapor...jelas Anisa.
" astaghfirullah hal'adzim... nggak bisa dibiarkan ini... saya harus menolong Bian agar masa depannya tak terganggu. Apa Bian sering nggak masuk...?
" i...iya Bu... Bu .. Anisa mohon ibu jangan macam-macam dengan ayah Bian... Anisa takut kalo ayah Bian akan berbuat nekat pada ibu...
" iya kak... Adel nggak mau kakak kenapa-napa...! sela Adel ikut bicara yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia.
" kalian berdua tenang saja... insyaallah semua akan baik-baik saja. Sekarang saya akan turun dan kamu Anisa terima kasih karena sudah mengantarkan ibu... lebih baik sekarang kamu pulang dan kamu Adel, jangan keluar dari mobil. Kakak ingin menemui orang tua Bian... jelas Ara kemudian turun dari mobil.
Mang Ujang dan Adel yang mendengar cerita dari Anisa sedikit melarang Ara agar mengurungkan niatnya menemui orang tua Bian. Tetapi dengan senyum Ara tetap saja melangkah menuju rumah Bian.
Setelah agak dekat, Ara mendengar suara tangisan dari seorang perempuan dan juga seorang laki-laki. Ara menajamkan pendengaran. Hingga dia mengetuk pintu depan rumah Bian.
tok
tok
tok
" assalamu'allaikum... salam Ara yang membuat suara tangisan segera terdiam.
Tak lama nampak seorang lelaki paruh baya dengan wajah garangnya keluar membukakan pintu. Wajah garang seketika tersenyum melihat kedatangan wanita cantik ke rumahnya.
" permisi bapak... apa bapak ayah dari Bian...? tanya Ara tanpa rasa takut.
" iya saya ayah Bian... Anda siapa...? tanya ayah Bian dengan nada lembut menahan emosi yang tadi meluap-luap... melihat wanita cantik yang ada di depannya membuat matanya serasa adem.
" boleh saya masuk pak...! pinta Ara.
__ADS_1
" tentu saja... kenapa nggak buat orang secantik anda... mari silahkan masuk...? ucap lelaki itu dengan berusaha tersenyum dari wajah garangnya.
Ara masuk mengikuti langkah ayah Bian menuju kursi tamu yang nampak sudah usang.