
Tak lama Sania mengetuk pintu rumah orang tuanya. Hingga sang bunda yang muncul dibalik pintu.
" assalamu'allaikum Bu... salam Sania diikuti Ara.
" wa'allaikum salam... loh Sania kok kamu balik lagi memang kamu nggak jadi pulang...? tanya dan ibu.
" tadi ada sedikit masalah Bu... untung ada Ara yang bantuin Sania.
" masalah... masalah apa... kandungan kamu nggak papa nak... ucap ibunda Sania mengkhawatirkan kandungan Sania.
" kandungan aku Alhamdulillah aman buk... Sania nggak mau sang bunda kepikiran akan kondisinya makanya dia nggak membicarakan apa yang tadi terjadi agar sang bunda tidak khawatir.
" Oia buk ini kenalin mutiara... ucap Sania mengalihkan pembicaraannya.
" mutiara... siapa dia Sania...? tanya ibu Retno ibunda dari Sania dengan lembut
Mutiara langsung meraih tangan ibu Retno dan menciumnya takjim. Ara merasa iri melihat kedekatan Sania dan ibunya karena selama ini dia belum pernah merasakan di khawatirkan oleh mamanya.
" saya Mutiara budhe panggil saja saya Ara... ucap Ara lembut dan tersenyum kepada ibu Retno yang wajahnya jauh lebih tua dari ayah Ara makanya Ara manggilnya budhe
" wajah kamu mengingatkanku pada seseorang tapi siapa ya... ucap ibu Retno mengingat-ingat wajah siapa yang mirip dengan gadis ini.
" emang mirip siapa buk...? tanya Sania.
" entahlah... ibu lupa... tapi wajah ini sangat familier...
" benarkah ibu lupa...? dia Ara Bu, saudara kembar Aya anak dari pak Santoso dan ibu Wina... ucap Sania menjelaskan.
" Ara... Aya.... ucap Bu Retno mengingat-ingat. Masyaallah... astaghfirullah haladzim... ini beneran Ara... Ara Mutiara.... ucap Bu Retno langsung memeluk Ara yang masih nampak bingung.
__ADS_1
" iya Bu... ucap Sania menimpali.
" ya Allah ya Gusti... sudah hampir 22 tahun kita nggak ketemu nak... kamu cantik sekali... iya wajah kamu mirip sekali dengan ayah kamu... hiks...hiks...hiks... gimana kabar Santoso nak... apa ayah kamu sehat...? tanya Bu Retno disela Isak tangisnya.
" ayah sudah meninggal budhe... 2 bulan yang lalu... ucap Ara sedih kala mengingat ayah tercintanya.
" innalilahi wainnailaihi rojiun... maaf budhe nggak tahu nak...
" nggak papa budhe... memang sepeninggal ayah, ayah menulis surat wasiat agar Ara datang ke ibu kota untuk mencari mama dan kakak kembar saya... Apa budhe tahu kemana mereka pergi...? tanya Ara.
" maafkan budhe Ara... budhe nggak tahu kemana perginya mama sama kakak kamu... karena tak berapa lama setelah kamu dan ayah kamu pergi dari rumah itu, mama mu juga menjual rumah itu... terang Bu Retno
" huuuuft... Ara menghembuskan nafas... sepertinya memang Ara belum bisa langsung ketemu dengan mereka... ucap Ara.
" Oia Ara... rencananya setelah ini kamu mau kemana...? tanya Sania.
" entahlah mbak... Jakarta seluas ini... gimana harus menemukan mereka sedangkan informasi apapun tak aku dapatkan selain alamat rumah lama.... mungkin aku akan mencari pekerjaan saja mbak dan mencari kost-kostan untuk aku tinggal...
" iya mbak... aku guru di SMU di tempatku...
" guru... waaaah... kebetulan sekali loh kalo kamu seorang guru karena saya juga seorang guru Ara... Dan kenapa saya bilang kebetulan karena aku mau resign dari tempatku mengajar. kamu tahu sendirilah gimana kondisi aku... sedangkan suamiku sendiri menganjurkan aku untuk fokus mengurus rumah tangga setelah melahirkan nanti...
" ehm... mbak ngajar dimana...?
" di SMU KARTIKA BANGSA... lumayan jauh dari rumah ini tapi kalo dari rumah mbak sendiri nggak terlalu jauh kok... nanti aku tanyain sama temen mbak yang sesama guru yang ngekost di dekat sekolah tersebut... semoga aja masih ada tempat yang kosong... dan kebetulannya lagi, guru pengganti mbak belum ada... makanya besok kamu ikut mbak ke sekolah menghadap kepala sekolah agar menjadi guru pengganti buat mbak... gimana kamu mau nggak...?
" mau... mau banget mbak... kapan lagi aku bisa dapat keberuntungan seperti ini semoga saja semuanya dipermudah...
" aaaammmiiiiin... jawab Bu Retno dan Sania kompak.
__ADS_1
" Ara... kamu belum makan kan... ayo ke dapur dulu... makan dulu... kamu sepertinya juga lelah sekali... nanti istirahat disini saja dulu ya... ucap Bu Retno.
" iya Ara... kamu habis perjalanan jauh mana tadi bantuin mbak ngelawan jambret lagi... ucap Sania tanpa sadar
" apa... jambret... jadi masalah yang kamu maksud tadi jambret, Sania...? ucap Bu Retno kaget.
" upssss... keceplosan... hehehehe ... iya Bu... tapi tenang ada Ara... ternyata dia jago silat loh Bu... 2 preman tadi dikalahin sama Ara....
" ck...ck...ck... Sania... Sania... dibilangin Ibuk jangan naik angkot kok masih aja naik angkot... dasar kamu ini bandelnya... ucap Bu Retno mengacak-acak rambut kesayangan putrinya. Ara yang melihat hal tersebut juga tersenyum senang. ikut merasakan kasih sayang ibu dan anak.
" buah jatuh memang nggak bakalan jauh dari pohonnya... ucap Bu Retno kemudian.
" maksud ibu...ucap Sania.
" udah ayo temani Ara makan dulu nanti budhe akan cerita tentang masa lalu kamu dan keluarga kamu Ara...
Mereka bertiga tiba di meja dapur dan duduk mengitari meja. Makanan tersaji di atas meja, ayam goreng, telur mata sapi dan sambal bajak ikan teri yang menggugah selera ada di depan mata. Ara menelan ludah melihat makanan kesukaannya. Entah firasat atau apa yang pasti bu Retno hari ini ingin sekali memasak sambal bajak ikan teri karena selama ini Bu Retno menghindari memasak itu dengan alasan alergi.
" loh... Bu... ini kok nggak biasanya ibu masak sambal teri... kan ibu alergi... lagian tadi ibu cuma buat sambal bajak aja kan...ucap Sania.
" entahlah Sania... setelah kamu keluar tadi kok ibu kepingin bikin sambal teri...
" budhe... sambal teri makanan kesukaan Ara... terang Ara yang sudah menelan ludah berkali-kali melihat sambal teri yang menggugah seleranya.
" kamu beneran suka sambal teri Ara... ternyata kesukaan kamu mirip sama mama kamu... mungkin Allah memang menggerakkan hati budhe agar memasak ini karena tahu kamu akan ke sini... ayo dimakan Ara... habiskan... nanti budhe buatkan lagi... mama kamu suka banget sama sambal teri buatan budhe... ucap Bu Retno sambil meneteskan air mata mengingat Wina mama Ara.
" Ara, dulu sebelum kamu lahir... ayahmu berjualan nasi goreng di pinggir jalan dekat gang mau menuju ke rumah budhe. usaha ayahmu laris manis hingga ada tetangga yang iri akan keberhasilan ayah kamu. Tapi tetap saja orang tuamu tidak menghiraukan. Kehidupan rumah tangga orang tuamu juga harmonis saja hingga setelah kamu lahir dan berumur hampir 2 tahun, tragedi itu terjadi.
Ara mendengarkan penuturan Bu Retno dengan seksama. Sepulang ayahmu dari jualan, saat itu mamamu sedang di acara kondangan temannya di jalan merdeka VI dengan membawa kamu dan Aya. Di jalan ayahmu bertemu dengan Lastri wanita bersuami yang tergila-gila dengan ayah kamu tapi ayahmu tak pernah menanggapi atau membalas Lastri. Lastri nekat memberikan minuman yang sudah diberi obat tidur kepada ayahmu dengan alasan kasihan melihat ayahmu yang kecapekan mendorong gerobak. Awalnya ayahmu menolak tapi karena melihat paksaan dari Lastri akhirnya ayahmu tidak bisa menolak. Diminumlah seteguk air dalam botol itu hingga tiba-tiba ayahmu pingsan dan diangkatlah tubuh ayahmu oleh Lastri dan juga suami Lastri. ditidurkannya ayahmu di kamar, Lastri berpose seperti orang yang sedang bercinta dengan ayahmu dan suami Lastri yang memotretnya... budhe bercerita sambil terisak-isak.
__ADS_1
" memang budhe tahu sendiri gimana kejadiannya...
" budhe nggak tahu tapi suami budhe yang tahu, saat itu suami budhe mengintip apa yang terjadi dan ketahuan tapi karena diancam akan dibunuh makanya kami diam sampai mama kamu mendapat kiriman foto dari tukang pos tentang kejadian tersebut. Hingga ayah kamu diusir dari rumah peninggalan kakek nenek kamu dari pihak mama kamu... maafkan budhe Ara, budhe merasa sangat bersalah sudah bertahun-tahun kami menyembunyikan fakta tersebut... kami tidak bisa berbuat apa-apa Ara karena kondisinya waktu itu anak budhe masih kecil-kecil... ucap budhe dengan terisak Isak begitu juga dengan Sania.