I'M Not A Bad Girl!

I'M Not A Bad Girl!
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Pagi yang cerah. Seorang perempuan bernama Pavita sedang berlari menuju sekolah barunya. Ya, karena hari ini adalah hari pertama dia masuk SMA. Dan ini pasti akan menjadi hari yang sangat berkesan baginya.


-Pavita: Gadis berkulit sawo matang, bermata hitam dengan lingkar mata yang juga hitam, berambut hitam pekat yang panjangnya sebahu, dengan tinggi sekitar 135 cm yang berumur 13 tahun.


Kring kring kring!


Bel masuk sudah berbunyi. Pavita langsung memilih meja tengah paling depan. Ya, dia memang anak yang rajin. Kalau teman-temannya takut duduk di depan karena berhadapan dengan gurunya, dia malah tampil beda. Dia memang senang bisa dekat dengan guru dan papan tulis. Apalagi dekat pintu.


Lalu, datanglah perempuan cantik yang menghampiri Pavita.


"Hai... Boleh duduk denganmu?" Tanya gadis tersebut.


"Oh, boleh saja..." Jawab Pavita ramah.


"Terima kasih... Ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya gadis tadi.


"Namaku Pavita. Dan siapa namamu?"


"Namaku Mikha. Salam kenal..."


"Senang bertemu denganmu..." Balas Pavita dengan ramah.


"O iya, minta nomor ponselmu dong..." Kata gadis yang bernama Mikha tadi.


"Ok. Aku juga minta nomormu ya..." Jawab Pavita. Lalu mereka berdua pun saling bertukar nomor ponsel.


-Mikha: Gadis berkulit sawo matang, berambut dan bermata coklat yang berumur 15 tahun.


Tiba-tiba, datanglah 5 laki-laki yang berjalan paling menuju kelas Pavita yang tidak disadari oleh murid-murid baru kelas 10.


"Halo, selamat pagi semuanya...


Perkenalkan, saya Mark, ketua Osis disini. Dan perkenalkan teman-teman saya ini..." Kata laki-laki yang bernama Mark dengan ramah seraya memperkenalkan anggota-anggota Osis lainnya setelah sampai di kelas.


-Mark: Lelaki berkulit terang atau kuning langsat, bermata biru dan agak bulat, dengan alis tebal panjangnya yang sedikit naik. Rambutnya cokelat pekat, berlesung pipi, berbulu mata lentik, berhidung mancung, berbibir merah yang lebar dan tebal alias sexy, dengan pipi yang merona pink, dan berumur 18 tahun dengan tinggi 179 cm.


Seketika, kelas yang tadinya ramai karena anak-anak yang sedang saling berkenalan menjadi sepi karena kehadiran Mark, ketua Osis yang memperkenalkan dirinya.


Pavita yang sedang asyik berbicara dengan teman sebangkunya tidak menghiraukan orang yang ada didepan mejanya itu.


Dan pandangan Mark pun beralih pada meja gadis yang ada didepannya itu. Ia sempat menatap Pavita dan mengulanginya lagi. Entah apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba saja dia menjadi speechless ketika orang yang ditatapnya itu menatapnya balik dan tersenyum padanya.



Mark membalas senyumannya, dan dengan cepat dia mengalihkan pandangannya agar seisi kelas tidak curiga pada tingkahnya yang tiba-tiba menjadi aneh.


Karena Pavita merasa tidak enak diperhatikan oleh ketua Osis, dia pun menghentikan obrolannya dengan Mikha dan mulai memperhatikan apa yang anggota-anggota Osis itu bicarakan.


"Baiklah. Sekarang waktunya presensi ya..." Kata Mark.


"Aldo Saputra?"


"Hadir".


"Angga Yunanda?"


"Hadir."


"Mikha Tambayong?"


"Hadir." Jawab teman sebangku Pavita.


"Pavita Palupi?"


"Hadir." Jawab Pavita sambil mengangkat tangannya seperti murid lainnya.


'Oh, namanya Pavita...' Batin Mark sambil melihat tanggal lahirnya di buku presensi yang ia pegang.


'Hmmm, 25 Mei 2004? Muda sekali. Berarti dia juga Gemini sepertiku.' Batin Mark sambil mengangguk-angguk sendiri kemudian melanjutkan membacakan presensi.


30 menit kemudian...


"Baiklah. Hari ini hanya perkenalan dan presensi saja ya... Setelah ini kalian mulai pelajaran." Kata Mark kemudian pergi bersama teman-teman Osisnya.


Dan pelajaran pun sudah dimulai.


Kringgg!


"Yey... Istirahat pertama! Aku sudah lapar! Hahaha..." Kata Pavita riang dengan polosnya.


"Mikha, ayo kita ke kantin bersama..." Ajak Pavita kemudian.


"Ok. Ayo..." Kata Mikha.


"Eh, tunggu!" Teriak lelaki berkulit terang, berbadan tinggi agak membungkuk dengan bibir yang agak maju, bertompel, berkacamata bulat tebal, bermata cokelat, dan berambut cokelat pekat yang di belah tengah yang terkesan nerd yang berlari kecil mengejar Pavita.


"Eh, hai..." Sapa Pavita ramah.


"Apa aku boleh ikut?" Tanya lelaki tersebut malu-malu.


"Tentu saja." Jawab Pavita ramah.


"Hey, aku cari kemana-mana. Ternyata disini rupanya. Ayo ke kantin!" Ajak laki-laki berkulit terang, berbadan tinggi, berambut hitam pekat, bermata agak bulat kepada lelaki yang mendekati Pavita tadi.


"Yasudah. Kita berangkat bersama-sama saja." Jawab lelaki nerd tersebut.


Dikantin:


"Eh, tadi ketua Osisnya tampan sekali ya..." Kata perempuan diseberang meja makan Pavita. Pavita dan Mikha pun menoleh.


"Iya. Beruntung ya kita bisa sekolah disini. Hihihi..." Balas perempuan yang semeja dengan gadis tersebut.


"Eh, itu kak Mark!" Sambung gadis tadi heboh.


"Halo kak Mark!" Sapa gadis-gadis diseberang meja Pavita.


Pavita dan teman-teman semejanya ikut menoleh kearah Mark yang sedang berjalan bersama 4 lelaki yang tadi masuk ke kelas Pavita menuju kantin untuk memesan makanan.


Mark hanya tersenyum kepada gadis-gadis yang menyapanya tadi.


Mark yang tidak sengaja melihat Pavita dan teman-temannya yang tidak jauh dengan meja gadis-gadis tadi juga tersenyum kepada mereka berdua. Terutama dengan Pavita. Senyumnya penuh arti. Walaupun Pavita tidak tahu apa artinya.


Pavita dan kawan-kawan pun membalas senyuman ramah seperti biasanya. Senyum tulus nan ramah seperti biasanya.


"Kyaaa... Tampan sekali!!!"


"Iya. Lihat deh tadi lesung pipinya. Aduh... Sepertinya nanti malam aku tidak bisa tidur..." Kata salah satu dari kedua gadis yang ada diseberang meja Pavita tadi.


"Yang itu juga tampan." Tambah gadis tersebut sambil menunjuk orang yang berjalan bersama Mark.


"Iya. Itu juga anggota Osis yang tadi mengisi acara MOS kelas kita kan?" Jawab temannya.


"Yups..." Jawab gadis tadi.


"Namamu siapa?" Tanya lelaki tadi yang duduk didepan Pavita walaupun sebenarnya dia sudah tau namanya.


"Eh. Namaku Pavita. Siapa namamu?" Jawab Pavita yang sempat melamun melihat tingkah teman seberang mejanya. Entah apa yang ada dipikirannya kala itu.


"Oh, namaku Aldo." Jawab lelaki yang bernama Aldo itu malu-malu.


"Oh, salam kenal." Kata Pavita ramah.


"Kenalkan, namaku Angga." Rebut lelaki yang duduk didepan Mikha kepada Pavita.


"Salam kenal." Jawab Pavita ramah.


Aldo dan Angga pun juga berkenalan dengan Mikha.


"Jadi, kita mau pesan apa Pavita?" Tanya Aldo.


"Emmm... Apa ya? Bakso dan es teh saja deh." Jawab Pavita.


"Ok." Jawab Aldo.


"Hey, aku ikut!" Teriak Angga yang berlari kecil menyusul langkah Aldo.


Aldo dan Angga pun pergi menuju tempat pemesanan yang berseliringan dengan Mark dan kawan-kawan dari arah berlawanan.


"Hey, boleh gabung?" Tanya lelaki yang datang bersama Mark menghampiri meja Mikha dan Pavita dengan tiba-tiba itu sehingga membuat Mikha dan Pavita mendapat tatapan tajam dari gadis-gadis disekitarnya.


"Tentu saja..." Jawab Mikha ramah walaupun sebenarnya membuat Pavita merasa tidak enak.


"Ayo Mark." Ajak orang tersebut menyeret kursi didepan Mikha untuk duduki. Mark hanya tersenyum malu-malu sambil menyeret kursi didepan Pavita untuk diduduki.


"Dan hey Bri, Nick, Ki, kalian duduk disitu saja ya. Hehehe..." Sambung orang tersebut kepada 3 teman-teman-temannya tadi, Brian, Nicky, dan Kian.


"Hmmm... Baiklah." Kata mereka bertiga pasrah.


-Brian: Lelaki tinggi berbadan besar, berkulit terang atau kuning langsat yang bermata almond berwarna biru, berambut pirang yang dibelah tengah dengan bagian bawah dagunya agak membelah yang membuat wajahnya terlihat seperti baby face, berbibir pink tipis, dan berhidung mancung tapi tumpul.


-Nicky: Lelaki berkulit terang atau kuning langsat, berambut pirang yang dibelah tengah ke samping, bermata almond berwarna biru, berbibir pink tipis, dan berhidung mancung.


-Kian: Lelaki berkulit terang atau kuning langsat, berambut pirang berponi, bermata almond berwarna biru, berbibir pink tipis, dan berhidung mancung.


"Namamu Mikha kan?" Tanya lelaki tersebut yang duduk berhadapan dengan Mikha, teman yang duduk disebelah Pavita.


"Iya kak." Jawab Mikha malu.


"Dan siapa namamu?" Tanya Mikha balik.


"Oh, namaku Shane." Jawab Shane, laki-laki tadi.


-Shane: Lelaki berkulit terang atau kuning langsat, bermata almond berwarna biru dengan bulu matanya yang lentik, berambut cokelat pekat, berhidung mancung, dan berbibir pink tipis.


'Hmmm... Berarti dia tidak memperhatikan Mark saat Mark memperkenalkanku tadi dikelas 10.' Batin Shane agak kecewa.


"Dan siapa namamu?" Tanya Shane yang kemudian beralih ke Pavita yang duduk berhadapan dengan teman sebelahnya, Mark.


"Namaku Pavita. Salam kenal kak Shane..." Jawab Pavita ramah.


"Salam kenal juga..." Jawab Shane ramah.


"Kamu tidak memperkenalkan dirimu Mark?" Tanya Shane kepada Mark.


"Halo... Namaku Mark." Kata Mark sambil menyalami Mikha.


"Iya. Namaku Mikha." Jawab Mikha.


"Namaku Mark. Salam kenal..." Kata Mark sambil menyalami Pavita.

__ADS_1


"Aku Pavita. Salam kenal..." Jawab Pavita ramah.


Sebenarnya Mark sudah mengenal dua gadis yang ada didepannya itu karena dia yang membaca presensi kelas tadi pagi. Mikha dan Pavita pun juga sudah mengenalnya karena Mark juga sudah memperkenalkan dirinya walaupun Mikha dan Pavita lupa dengan nama anggota-anggota Osis yang Mark kenalkan dikelas. Tetapi mereka tetap saling berkenalan untuk formalitas.


"Maaf, aku pindah tempat ya..." Kata Pavita merasa tidak enak.


"Eh, kenapa?" Tanya Mikha bingung yang diangguk-angguki Mark dan Shane sambil mengernyitkan alisnya.


"Emmm... Aldo dan Angga tidak kebagian tempat. Hehehe..." Jawab Pavita.


"Tidak apa-apa. Aku akan mencari meja lagi." Kata Angga santai yang baru saja datang sehabis memesan makanan. Aldo hanya tersenyum masam.


"Benarkah? Aku minta maaf ya." Kata Pavita merasa sangat tidak enak melihat ekspresi Aldo.


"Tak masalah... Jangan khawatir, lain kali saja kita makan bersama." Kata Aldo tersenyum masam.


"Baiklah." Jawab Pavita yang sebenarnya masih merasa tidak enak.


"Hey, kenapa masih berdiri? Duduklah." Kata Mikha sambil tertawa seperti tidak ada rasa bersalah. Pavita pun duduk sambil melihat kepergian Aldo. Mark hanya menatap datar Pavita yang melihat kepergian Aldo sedari tadi.


Beberapa menit kemudian...


"Ini pesanannya..." Kata ibu kantin sambil mengulurkan 2 porsi bakso dan mie ayam, 1 gelas es teh, dan 3 gelas es jeruk kepada Shane, Mark, Mikha, dan Pavita.


"Terima kasih..." Jawab mereka berempat.


"Baiklah..." Balas ibu kantin tersebut.


Dan mereka berempat pun mulai memilih sajian diatas meja dan bersiap-siap untuk menyantapnya. Shane dan Mark mengambil mie ayam dan es jeruk mereka, Mikha mengambil bakso dan es jeruknya, dan Pavita menikmati bakso dan es tehnya.


"Kita mau kemana setelah ini?" Tanya Mikha kepada Pavita yang masih makan.


"Aku ingin keperpustakaan. Kalian mau ikut?" Tawar Pavita kepada Mikha, Shane, dan Mark.


"Tentu saja. Kebetulan aku juga ingin keperpustakaan." Jawab mereka bertiga.


"Hey, Aldo dan Angga! Nanti aku mau keperpustakaan. Apa kamu mau ikut?" Ajak Pavita yang meneriaki Aldo diseberang mejanya.


"Tidak, terima kasih..." Jawab Aldo sopan yang masih agak kecewa yang sedari tadi menatap Pavita dan juga membalas tatapan datar Mark.


"Ya, tidak usah." Kata Angga yang ikut-ikutan Aldo sambil tersenyum ramah.


"Baiklah." Jawab Pavita yang lagi-lagi merasa tidak enak.


Setelah selesai makan, mereka pun pergi keperpustakaan bersama.


Sesampainya diperpustakaan sekolah:


"Ah, tidak ada yang seru." Keluh Pavita.


"Jadi bagaimana? Kamu ingin kembali kekelas?" Tanya Mikha.


"Aku dengar, di belakang taman sekolah ada perpustakaan perbatasan SMA kita dengan SMA sebelah. Sepertinya, aku akan pergi kesana saja." Kata Pavita.


"Mau kutemani?" Tanya Mikha menawarkan.


"Tidak usah. Terima kasih..." Jawab Pavita ramah.


"Baiklah, hati-hati ya..." Kata Mikha dengan senyum manisnya.


"Ok." Jawab Pavita yang tidak sadar diikuti oleh Aldo dan Angga yang disusul Mark dari belakang.


"Tadi katamu kamu tidak mau keperpustakaan..." Tegur Angga dengan wajah datar.


"Jangan berisik!" Kata Aldo.


"Hmmm..." Jawab Angga sambil memutar bola matanya.


Diperpustakaan belakang taman:


Pavita sedang mengambil buku di rak yang lumayan tinggi. Dan dia merasa ada yang menarik bukunya dari arah yang berlawanan. Lalu, terjadilah perang kecil, yaitu tarik-menarik buku. Akhirnya buku jatuh ditangan Pavita. Lalu, disela-sela buku yang tadi diambil Pavita, muncullah sepasang mata biru menatap mata Pavita yang juga kebetulan mengintipnya dari celah tersebut dengan mata terbelalak.


Pavita bingung mengapa mata biru tersebut membelalakkan matanya ketika menatap mata Pavita.


Kemudian, datanglah yang tadi sempat berebut buku dengan Pavita saat Mark hendak menolong Pavita mengambil buku di rak yang lumayan tinggi yang kemudian Mark urungkan dan bersembunyi entah kemana.


Aldo yang melihatnya hanya bisa mengawasinya dari jauh. Angga hanya menatap sahabatnya heran.


"Hey, jangan melamun!" Kata Angga sambil tertawa.


"Hmmm..." Jawab Aldo datar.


Pavita terdiam menatap kagum lelaki yang baru saja mendatanginya.



Lalu laki-laki tersebut tersenyum padanya dan mengulurkan tangannya.


"Hai... Siapa namamu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu." Kata lelaki tersebut yang memandangi Pavita dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Namaku Pavita. Aku kelas 10. Mungkin karena aku murid baru. Hehehe... Dan siapa namamu?" Tanya Pavita yang merasa tidak enak dipandang seperti itu sambil membalas uluran tangan Nick.


"Oh, kamu dari sekolah sebelah ya?


Namaku Nick, aku kelas 12." Kata lelaki yang bernama Nick tersebut yang belum melepas tangan Pavita.


"Oh, salam kenal. Senang bertemu denganmu kak..." Kata Pavita dengan ramah sambil mencoba melepas tangannya hingga akhirnya dilepas oleh Nick yang terlihat malu karena tidak sadar jika sudah memegang tangan Pavita terlalu lama.


"Maaf." Kata Nick sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Tidak apa-apa." Jawab Pavita ramah.


"Iya. Aku juga... Eh, jangan panggil aku kak. Panggil saja Nick." Kata Nick.


"Tidak apa-apa. Kamu kan lebih tua daripada aku." Jawab Pavita.


"Hmmm... Terserah. Lagi pula, kita kan hanya selisih 2 tahun kan? Atau 3 tahun?" Tanya Nick.


"Mungkin 4 atau 5 tahun." Jawab Pavita.


"Bagaimana bisa?" Tanya Nick bingung.


"Iya. Umurku masih 13 tahun. Aku masuk SD umur 5 tahun. Sedangkan teman-temanku masuk SD berumur 7 atau 6 tahun." Kata Pavita.


"Oh..." Jawab Nick yang masih tidak habis pikir.


'Dia yang terlalu muda masuk SD atau aku yang terlalu tua masuk SD?' Pikirnya heran.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Pavita.


"Aku umur 8 tahun. Hehehe...


Waktu umur 7 tahun, aku masih malas sekolah. Tapi saat aku melihat teman-teman seumuranku sudah sekolah semua, aku memutuskan untuk sekolah. Akhirnya aku harus menunggu 1 tahun lagi untuk mendaftar sekolah." Jawab Nick malu.


"Oh..." Jawab Pavita.


'Hmmm... Sepertinya memang benar kata teman-temanku bahwa aku terlalu muda untuk ukuran anak SMA.' Batinnya.


"O iya, ini buku yang mau kamu ambil tadi kan?" Sambung Pavita sambil mengulurkan buku yang tadi direbutnya.


"Kalau kamu mau membacanya, baca saja. Tidak apa-apa kok..." Jawab Nick ramah.


"Tidak. Aku hanya penasaran apa isi buku itu. Ternyata hanya buku IPA. Hehehe..." Kata Pavita masih mengulurkan bukunya.


"Yasudah, aku ambil saja ya. Terima kasih..." Kata Nick.


"Baiklah, maaf..." Kata Pavita merasa tidak enak setelah merebut buku Nick.


"Tidak apa-apa." Kata Nick ramah.


Lalu, mereka berdua duduk bersama di tempat duduk yang sudah disediakan perpustakaan dan membaca bersama-sama. Sesekali Nick menatap Pavita dan Pavita pun membalasnya yang membuat Nick menjadi malu-malu.


"Oh iya, kamu dari SMP mana?" Tanya Nick mencairkan suasana. Suasana ruangan dan juga suasana hatinya tentunya.


"Aku sekolah di SMP daerah Jogja." Jawab Pavita.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Pavita.


"Oh, aku di Jamestown, New York." Jawab Nick.


"Oh, Amerika ya..." Kata Pavita mengangguk-angguk mengerti.


"Iya." Jawab Nick.


"Oh iya, apa tidak sebaiknya kita bertukar nomor ponsel?" Tawar Nick sambil unjuk gigi.


"Hmmm... Boleh juga." Jawab Pavita. Lalu mereka berdua pun mulai bertukar nomor ponsel.


Beberapa menit kemudian...


Kringgg!


"Ah, sudah masuk. Aku pergi dulu ya kak..." Kata Pavita.


"Baiklah. Sampai jumpa di istirahat kedua. Aku tunggu di perpustakaan. Kita akan makan siang bersama." Kata Nick dengan percaya diri.


"Baiklah." Jawab Pavita dengan senang hati.


Diperjalanan menuju kelas...


"Aduh... Aku lupa dimana kelasku." Kata Pavita panik sambil menggigit kuku jarinya.


"Bagaimana ini? Bel masuk sudah berbunyi. Betapa cerobohnya aku. Bagaimana aku bisa sepikun ini?" Umpat Pavita kepada dirinya sendiri.


"Hey..." Panggil laki-laki yang berlari kecil menyusul langkah Pavita yang ternyata adalah Mark.


"Iya?" Jawab Pavita yang sempat menoleh ke belakang.


"Belum masuk?" Tanya Mark yang menghampirinya dari belakang.


"Hehehe... Iya. Aku lupa dimana kelasku." Kata Pavita dengan sangat malu yang sebenarnya membuat Mark merasa geli mendengarnya.


"Oh... Eh~panggil aku Mark saja." Kata Mark.


"Iya. Tapi kan..." Kata Pavita yang langsung direbut Mark.


"Ya, aku tau. Selisih umur kita 5 tahun kan?" Tanya Mark yang mungkin mengetahui tanggal lahirnya dikertas presensi tadi pagi atau karena Mark mendengar obrolan Pavita dengan Nick saat diperpustakaan.


"Iya. Jadi, aku memanggilmu kak." Kata Pavita.

__ADS_1


"Hmmm... Baiklah, terserah." Kata Mark pasrah.


'Tunggu, 5 tahun? Berarti dia seumuran dengan kak Nick.' Batin Pavita.


"Oh iya, mau aku antar ke kelasmu?" Tawar Mark yang sebenarnya merasa geli dengan Pavita yang lupa dengan kelasnya sendiri.


"Ah, terima kasih. Kak Mark sangat baik. Maaf merepotkan..." Kata Pavita.


"Tidak apa-apa..." Kata Mark.


"Ok." Jawab Pavita.


Mereka berdua pun berjalan berdua menyusuri lorong-lorong sekolah.


Kelas X IPA 1.


"Ini kan kelasmu?" Tanya Mark memastikan walaupun sebenarnya dia sudah tau.


"Iya. Sekali lagi terima kasih..." Kata Pavita yang masih malu dengan kebodohannya.


"Oke." Jawab Mark.


"Nih..." Lanjut Mark sambil merogoh kantung bajunya kemudian mengulurkan ponselnya.


"Ketikkan nomor ponselmu dan simpan nomorku diponselmu." Sambung Mark sebelum Pavita bertanya.


"Baiklah." Jawab Pavita sambil mengetikkan nomor ponselnya sambil merogoh ponselnya di saku roknya dan mengetik nomor ponsel Mark diponselnya.


"Terima kasih. Sampai jumpa..." Kata Mark yang kemudian berlalu meninggalkan kelas Pavita.


"Ok." Jawab Pavita.


Pavita pun langsung masuk ke kelasnya.


"Belum ada guru kan?" Tanya Pavita kepada Mikha.


"Belum. Mungkin sedang jamkos. Lagi pula ini kan masih hari pertama kan?" Kata Mikha.


"Fyuh... Benar juga." Kata Pavita lega sambil memasuk akali kata-kata Mikha.


"Sudah 1 jam tidak ada guru. Sepertinya memang jamkos." Kata Pavita.


"Yap." Kata Mikha tersenyum.


2 jam kemudian, mata pelajaran sudah berganti. Datanglah guru lain yang hendak mengisi jatah mengajarnya.


"Selamat siang anak-anak. Hari ini kita akan belajar..." Kata guru tersebut belum selesai bicara.


Kringgg!


"Baiklah. Pelajaran akan dimulai setelah istirahat saja." Lanjut guru tersebut yang sedikit kecewa dan malu karena salah jam.


"Ya bu..." Jawab murid-murid dan guru pun keluar.


"Horeee... Istirahat kedua!" Kata Pavita dengan semangat.


"Hmmm... Sepertinya semangat sekali. Kelihatannya kamu sudah sangat lapar ya..." Kata Mikha sambil tertawa.


"Hehehe..." Jawab Pavita malu.


"Emmm... Mikha, maaf, sepertinya aku tidak bisa makan siang bersamamu hari ini. Aku ada janji dengan temanku. Hehehe..." Kata Pavita tidak tega.


"Tidak apa-apa. Lagi pula temanku juga mengajakku makan siang bersama tadi." Kata Mikha ramah.


"Baiklah. Sampai jumpa..."


"Hati-hati!"


Di perpustakaan:


Pavita mencari buku dan membacanya.


10 menit kemudian...


'Hmmm... Tadi katanya sih mau ketemuan disini. Tapi dari tadi aku belum melihat dia...' Batin Pavita yang masih membaca buku selagi menunggu Nick.


Tiba-tiba...


"Hai Pavita! Apa kamu sudah menunggu lama?" Tanya Nick.


"Emmm... Tidak juga. Hanya 10 menit." Kata Pavita dengan senyuman ramah khasnya yang seharusnya masam.


'Huft... Sebenarnya lumayan.' Batin Pavita.


"Oh, aku minta maaf ya. Tadi ada rapat Osis sebentar yang dadakan. Hehehe..." Kata Nick.


'Oh, dia adalah anggota Osis disekolahnya...' Batin Pavita yang tidak jadi kesal.


"Oh, tidak apa-apa..." Jawab Pavita ramah.


"Ayo kita makan siang bersama." Ajak Nick.


"Kita akan makan siang kemana?" Tanya Pavita diperjalanan.


"Cafe ujung jalan." Jawab Nick.


Kring kring kring!


Pulang sekolah...


"Aduh... Panas sekali, busnya juga tak kunjung datang. Huft..." Keluh Pavita.


"Hey, mau aku antar pulang?" Tawar Mark yang membuka jendela mobilnya yang sempat membuat kaget Pavita karena kehadirannya yang tiba-tiba itu. Aldo yang baru saja ingin menawarkan tumpangan sepedanya pun mengurungkan niatnya melihat respon Pavita kepada Mark.


"Eh, tidak usah repot-repot." Jawab Pavita dengan tidak enak hati.


"Tidak apa-apa. Naiklah..." Kata Mark sambil membukakan pintu untuk Pavita kemudian mempersilakannya masuk.


"Baiklah. Terima kasih..." Jawab Pavita yang masih tidak enak itu.


Diperjalanan...


"Dimana rumahmu?" Tanya Mark.


"Hampir sampai kak. Lurus terus, nanti belok kanan." Jawab Pavita.


"Terima kasih tumpangannya. Tidak sekalian mampir kak?" Tanya Pavita ketika sudah sampai rumah.


"Tidak, terima kasih. Kapan-kapan saja..." Jawab Mark.


"Baiklah. Hati-hati kak..." Kata Pavita.


"Terima kasih." Jawab Mark sambil tersenyum.


Sesampainya dirumah:


Pavita memasak makanan untuk dirinya yang tinggal sendirian di kos-kosan.


Setelah makan selesai makan, Pavita berlari kekamarnya bersiap-siap enghampiri ponselnya dan benar saja, sudah ada 4 notifikasi dari orang berbeda.


Ya, orang tersebut adalah Nick, Mark, dan Mikha yang entah mengapa membuat jantung Pavita berdebar kencang seketika. Lalu, siapa yang keempat?


From Kak Nick: Hai Pavita. Apa yang sedang kamu lakukan?


From Kak Mark: Hai Pavita. Apa yang sedang kamu lakukan?


From Mikha: Halo... Sedang apa kamu?


From Bunda: Pavita, bagaimana hari pertama sekolah?


'Ternyata bunda. Aku senang sekali...' Batin Pavita yang bangga mempunyai ibu seperti bundanya yang sangat perhatian.


Ya, pesan keempat adalah pesan dari ibunya.


'Hmmm... Pesannya sama.' Batin Pavita saat memahami pesan ketiga sahabatnya itu.


To Bunda: Menyenangkan sekali bun. Pavita langsung punya sahabat-sahabat yang baik. (Emotikon tersenyum tulus)


To Kak Nick: Aku sedang membalas pesanmu. (Emotikon menahan senyum) Bagaimana denganmu?


To Kak Mark: Aku sedang membalas pesanmu. (Emotikon menahan senyum) Bagaimana denganmu?


To Mikha: Sedang membalas pesanmu. (Emotikon menahan senyum) Kamu?


From Kak Nick: Hmmm... Jahil sekali ya kamu. Aku ada di tempat gym dan tentunya membalas pesanmu juga.


From Kak Mark: Hahaha... Baiklah. Aku juga sedang membalas pesanmu dan aku sedang membuat pop corn. Will you come? Hehehe...


From Mikha: Hmmm... (Emotikon wajah datar) Aku juga membalas pesanmu sambil menonton TV.


From Bunda: Syukurlah... Siapa namanya?


To Bunda: Ada Mikha, kak Nick, dan kak Mark.


To Kak Nick: Okay...


To Kak Mark: Wow... Sepertinya enak. Hahaha...


To Mikha: Oh, okay...


'Ternyata kak Mark tidak sedingin yang aku bayangkan. Hahaha...' Batin Pavita sambil tersenyum.


From Bunda: Oh, nama yang bagus. Bunda jadi ingin melihat muka mereka.


To Bunda: Yah, kapan-kapan jika Pavita punya fotonya atau sedang video call dan kebetulan ada mereka Pavita beri tahu. Oh iya, bunda dan ayah bagiamana kabarnya?


From Bunda: Oke... Baik kok.


To Bunda: Bun, Pavita pengen video call. (Emotikon berkaca-kaca dan meringis) Sibuk tidak? (Emotikon tertawa lebar dengan sebulir keringat diatas kepala)


From Bunda: Oh, tidak kok. Yasudah ayo video call.


To Bunda: Ok. Hehehe...


Lalu Pavita pun langsung video call dengan ibu, ayah, dan adik-adiknya.


Pavita rasanya ingin menangis karena senang dan rindu.


'Jangan cengeng Pavita, kamu baru 1 hari tinggal sendirian di Jakarta. Apalagi kamu itu kakak, jangan permalukan dirimu didepan adik-adik kecilmu.' Batin Pavita yang mencoba menahan tangis disela-sela video call.

__ADS_1


__ADS_2