I'M Not A Bad Girl!

I'M Not A Bad Girl!
Morning Monday


__ADS_3

Entah mengapa Pavita merasa sangat bahagia hari ini. Mungkin karena hubungannya dengan Mark sudah baik. Walaupun hubungannya dengan Nick sedang tak baik, tetapi entah mengapa itu tidak berpengaruh sama sekali untuknya.


Tin tin!


'Jangan-jangan itu kak Nick?!' Batin Pavita yang sudah rapi yang siap-siap pergi ke sekolah.


Dengan berat hati, Pavita memberanikan diri untuk keluar dan membuka pintunya kecil untuk mengintip siapa yang datang sebelum menutupnya kembali jika ternyata yang datang adalah Nick.


"Hey, kenapa bersembunyi seperti itu? Seperti Tom and Jerry saja..." Ledek Mark yang bingung melihat tingkah Pavita.


'Fyuh... Ternyata kak Mark...' Batinnya lega sambil mengelus dadanya Karen terkejut.


"Uh, mengaget-ngagetkan saja." Kata Pavita yang masih mengelus dadanya.


"Kamu Tom, aku Jerry. Hahaha..." Ledek Pavita.


"Hahaha... Yasudah, ayo berangkat." Ajak Mark.


"Ok." Jawab Pavita.


Sesampainya disekolah:


Seperti biasa, banyak tatapan tidak menyenangkan dari pengagum-pengagum Mark. Tetapi seperti biasa pula, Pavita tidak menganggapnya ada dan tetap tidak ingin lepas dari Mark yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


Kringgg!


Bel istirahat pertama sudah berbunyi. Pertanda Pavita wajib ke perpustakaan.


"Hey..." Panggil lelaki yang berlari kecil menghampiri Pavita. Pavita pun menoleh kebelakang.


"Eh, kak Mark. Kenapa lari-lari?" Tanya Pavita bingung.


"Kamu tidak pernah mengajakku pergi ke perpustakaan. Dan tidak sadar bahwa aku sudah memanggilmu daritadi." Kata Mark setengah kesal.


"Hehehe... Maaf. Kukira seorang ketua Osis akan selalu sibuk." Kata Pavita lugu.


"Baiklah. Ayo kita ke perpustakaan bersama-sama." Ajak Mark.


Sesampainya di perpustakaan:


Mark dan Pavita sibuk membaca buku. Terutama Pavita yang belum selesai membaca buku yang kemarin ia pinjam dengan wajah sangat serius. Saking seriusnya, dia tidak sadar jika Mark selalu menatapnya. Ya, Mark tidak sefokus Pavita saat membaca buku. Karena sebenarnya, tujuan utama Mark ke perpustakaan hanya untuk menatap wajah Pavita dengan lama. Karena hanya diperpustakaan dia bisa memandangi wajah Pavita dengan lama. Apalagi jika Pavita sedang sangat sibuk. Ekspresinya sangat lucu bagi Mark.


"Kenapa?" Tanya Mark panik melihat ekspresi wajah Pavita yang tiba-tiba pucat.


Dia menyentuh kening Pavita.


"Hey, kamu keringat dingin. Ayo kita ke UKS." Ajak Mark.


"Tidak usah." Jawab Pavita lemas.


"Hey, come on. Kamu harus ke UKS." Kata Mark memohon.


"Aku bilang tidak! Kalau sudah kubilang tidak ya tidak!" Bentak Pavita ketus.


Mark terkejut dengan sikap Pavita yang mendadak kasar seperti itu.


'Dia sakit karena terlalu lama dan fokus membaca buku sampai keringat dingin atau emosi membaca buku itu?' Batin Mark menerka-nerka. Tanpa pikir panjang, Mark merebut buku yang Pavita baca.


"Hey kembalikan!" Perintah Pavita.


"Akan kukembalikan jika kamu mau ke UKS." Kata Mark.


"Ufff..." Desah Pavita sambil berjalan keluar menuju kelas meninggalkan Mark. Mark pun menyusul sambil membawa buku yang Pavita baca tadi.


"Hey, pelan-pelan." Kata Mark yang setengah berlari untuk menyamakan langkah Pavita yang tidak Pavita hiraukan. Akhirnya, Mark menggendongnya.


"Hey, aku bisa jalan sendiri!" Berontak Pavita yang sekarang tidak Mark hiraukan.


"Kalau kau mau membawaku ke UKS, aku tidak akan minum obat!" Ancam Pavita.


"Baiklah. Apa maumu?" Tanya Mark tidak sabar sambil menurunkan Pavita dari gendongannya.


"Aku ingin buku itu kembali!" Kata Pavita.


"Ini? Tidak akan!" Kata Mark tersenyum sinis.


"Hey, kenapa?!" Tanya Pavita tidak terima.


"Jika membaca ini membuatmu sakit, maka aku akan menyita buku ini!" Kata Mark.


"Lagi pula kan kamu yang merekomendasikan buku itu! Tidak ada salahnya kan aku membacanya?" Balas Pavita dengan sinis.


"Iya. Aku tau itu, tapi itu sudah lama kan? Sekarang aku sudah tidak merekomendasikannya lagi." Kata Mark.


"Aku akan berhenti membaca buku itu ketika ceritanya sudah selesai!" Kata Pavita keras kepala yang teguh dengan pendiriannya.


"Terserah. Tapi buku ini akan kubawa pulang." Kata Mark sambil tersenyum sinis.


"Yasudah, aku bisa mencari lagi diperpustakaan." Balas Pavita yang juga tersenyum lebih sinis.


'Keras kepala sekali dia. Seandainya perpustakaan mengijinkan untuk meminjam buku lebih dari satu, aku akan meminjam semua buku seperti ini sampai habis. Kalau perlu aku borong sekalian, tak peduli berapa harganya. Walaupun mungkin hanya akan menjadi sampah digudangku.' Batin Mark yang masih tidak habis fikir dengan kekeraskepalaan gadis yang sedang bersamanya itu.


"Kenapa diam? Lagi pula, bagaimana jika kamu juga akan sakit setelah membaca buku itu, hah?" Tantang Pavita.


"Aku tidak akan sakit. Karena aku juga pernah lebih sakit daripada hanya membaca buku ini. Lagi pula ini hanya buku, tidak akan membuatku sakit." Kata Mark dengan sinis.


"Itu memang hanya sebuah buku, tapi aku bisa merasakan kesedihan tokohnya lewat kata-kata yang ada dibuku itu. Lagi pula kalau itu hanya buku, yasudah kembalikan padaku. Aku juga tidak akan sakit. Aku hanya sedikit pusing karena terlalu fokus membaca buku. Lebih baik sakit sebentar setelah membaca buku, daripada sakit hati mengalami kisah seperti dibuku itu kan?" Kata Pavita panjang lebar.


'Uh, cerewet sekali.' Batin Mark.


"Ok. Aku kembalikan bukunya. Tapi jangan terlalu fokus. Sesekali kamu harus melihat pemandangan luar seperti pohon, tanaman, dan tumbuhan-tumbuhan hijau lainnya." Kata Mark yang terkesan bijak.


Padahal sebenarnya kalah debat dengan Pavita sambil memberikan kembali buku yang sedari tadi disitanya.


"Nah, itu baru kak Mark..." Kata Pavita menggoda.


"Hmmm..." Respon Mark yang datar.


'Sepertinya nanti aku juga akan meminjam buku itu. Aku hanya penasaran apa isi ceritanya.' Pikir Mark.


Kringgg!


Bel istirahat kedua telah berbunyi. Pavita yang mencari Mark untuk mengajaknya pergi ke perpustakaan tidak menemukan Mark.


'Bagaimana sih? Dia bilang aku harus mengajaknya. Tapi dia sendiri meninggalkanku. Huft...' Batin Pavita kesal.


'Lagi-lagi dia tidak mengajakku. Dasar!' Batin Mark kesal yang sedari tadi mencari Pavita.


"An empty street, an empty house. A hole inside my heart. I'm all alone, the rooms are getting smaller..." Pavita bernyanyi sambil menuju keperpustakaan yang ia yakini bahwa Mark ada disitu.


'Seperti suara Pavita...' Batin Mark mencari-cari dimana sumber suara itu.


"So I say a little prayer, and hope my dreams will take me there. Where the skies are blue, to see you once again my love. Over seas from coast to coast. To find the place I love the most. Where the fields are green, to see you once again..." Pavita belum menyelesaikan sempat lagunya.


"To hold you in my arms..." Sahut Mark.


"My Love!" Pavita terkejut dengan suara Mark.


"My love?" Tanya Mark pura-pura bingung padahal dia merasa melayang.


"Jangan terlalu merasa. Hahaha... Tadi aku sedang bernyanyi tetapi belum sempat aku menyelesaikan nyanyianku, kamu sudah memotongnya dengan memanggilku." Ledek Pavita dengan wajah datar.


"Hmmm..." Jawab Mark datar yang sebenarnya sangat malu karena kepercayadiriannya.


'Bodoh! Bukankah kamu sudah tau kalau Pavita tadi bernyanyi?!' Umpat Mark pada dirinya sendiri dalam hati.


"To promise you my love. To tell you from my heart. You're all I'm thinking of..." Sambung Mark melanjutkan lagu yang sempat terputus tadi untuk mengalihkan pembicaraan.


"And reaching for the love that seems so far..." Sambung mereka bersamaan.


"Hahaha..." Tawa mereka yang lagi-lagi bersamaan yang masih berjalan menuju perpustakaan.


"Hey, kamu juga membacanya? Hahaha..." Ledek Pavita.


"Aku penasaran apa sih yang ada didalam buku itu sehingga membuat gadis terkeras kepala sedunia yang ada didepanku ini sakit. Atau bahkan menangis?!" Balas Mark meledek.


"Hey, aku tidak sakit dan tidak pernah menangis! Mau tau isinya? Isinya adalah tulisan! Itu saja tidak tau. Hahaha..." Balas Pavita tak mau kalah.


"Hmmm... Terserah." Kata Mark pasrah.


Biasanya, Pavita yang selalu sibuk membaca dan Mark hanya menatapnya. Kini Mark mulai serius membaca dan Pavita ganti menatapnya.


'Semakin lama semakin tampan saja dia.' Batin Pavita sambil terus memandangi wajah Mark.


"Jangan lihat-lihat, nanti jatuh cinta." Ledek Mark yang masih sibuk membaca tanpa menatap Pavita.


'Tapi semakin lama semakin menyebalkan!' Sambung Pavita dalam hati.


"Huft... Jangan merasa! Aku tidak melihatmu." Kata Pavita membela dirinya.


Beberapa menit kemudian...


"Hey, sudah kubilang jangan menatapku seperti itu. Hahaha..." Ledek Mark yang sekarang mulai membalas tatapan Pavita.


"Apa-apaan? Kamu terlalu merasa!" Balas Pavita.


"Bukankah kamu yang selalu memandangiku?" Sambung Pavita sambil menjulurkan lidahnya.


"Kalau memang iya kenapa?" Balas Mark yang juga menjulurkan lidahnya.



"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Hahaha..." Balas Pavita dengan percaya diri yang sempat tersipu malu dengan pernyataan Mark barusan.


"Hmmm..." Guman Mark sambil memutar bola matanya.


Kring kring kring!


Bel pulang sekolah pun berbunyi. Seperti biasa, Pavita berdiri ujung gerbang sekolah menunggu Mark atau Nick menjemput. Mungkin hari ini Mark yang ia tunggu. Intinya sekarang dia sedang menunggu salah satu dari kedua orang tersebut untuk menjemput.


Tiba-tiba...


"Hey, ayo pulang." Ajak Nick dengan ceria yang membuat Pavita sempat terkejut.


"Ah, kak Nick! Mengagetkan saja. Terima kasih, tapi tudak usah. Aku sudah pulang dengan kak Mark." Jawab Pavita sopan tapi agak sadis.


"Ayolah..." Rengek Nick.


"Aku bilang, kak Mark yang akan menjemputku!" Kata Pavita tidak peduli.


"Hey, Pavita. Sudah lama menunggu?" Tanya Mark yang datang tiba-tiba itu.


"Tidak juga." Jawab Pavita sambil tersenyum manis.


"Yasudah, ayo kita pulang." Ajak Mark.


"Yuk..." Jawab Pavita.


"Aku pulang dulu ya..." Pamit Pavita kepada Nick untuk formalitas.

__ADS_1


Nick hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya dan mengatupkan gerahamnya. Entah kepada siapa Nick harus marah. Kalau marah kepada Pavita, Pavita akan marah balik. Karena dia tidak suka dimarahi. Apalagi dimarahi oleh laki-laki. Jadi pada akhirnya pasti Nick yang akan mengalah. Tapi dengan Mark? Mark tidak salah apa-apa. Dia memang sudah dari tadi ingin menjemput Pavita. Entahlah, Nick sudah tidak tau lagi ia mau melampiaskan marahnya ke siapa, ke apa, dan dimana.


Akhirnya Nick menyalakan motornya dan mengendarainya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Sampai rumah:


'Eh, kak Nick?' Batin Pavita yang masih duduk dimotor Mark menuju rumah Pavita yang melihat Nick yang duduk diatas motornya yang sudah terparkir cantik didepan rumah Pavita.


"Hey, sudah pulang? Cepat sekali. Kukira akan mampir." Sambut Nick dengan senyum sinis melihat Pavita yang turun dari motor Mark.


"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Pavita memalingkan wajahnya.


"Ingin mampir. Setiap aku mengantarmu pulang, kamu selalu menawarkan Mau mampir sekalian?, yasudah sekarang saja aku mampir." Kata Nick sambil tertawa.


"Sayang sekali waktumu tidak tepat. Hahaha..." Jawab Pavita sinis.


"Hey, kenapa masih ada disini? Mau menginap disini? Hahaha..." Tanya Nick sinis kepada Mark. Mark hanya tersenyum sinis tak acuh.


"Nanti aku mau mengajakmu pergi. Bersiap-siaplah. Mandi dan ganti bajumu." Kata Nick.


"Oh, percaya diri sekali ya..." Jawab Pavita sambil tertawa sinis.


"Ayo, atau mau aku temani?" Tanya Nick sambil tertawa sinis.


"Oh, boleh. Tapi saat kamu kembali, namamu tinggallah nama. Hah!" Jawab Pavita sinis.


"Ayolah... Baiklah. Aku akan menunggumu disini saja. Yang penting kamu harus cepat." Kata Nick pasrah.


"Aku sedang lelah." Jawab Pavita singkat.


"Kalau tidak mau tidak usah dipaksa." Tegur Mark kepada Nick datar, menyela pembicaraan Nick dan Pavita.


"Tidak usah ikut campur!" Kata Nick emosi.


"Hahaha... Whatever." Jawab Mark sinis sambil mengangkat kedua tangannya. Nick hanya mengepalkan tangannya.


"Aku pulang dulu ya..." Pamit Mark kepada Pavita yang sebenarnya hanya mengetes Pavita dan Nick.


"Pulanglah!" Kata Nick tertawa sinis.


"Jangan... Kamu tidak mau mampir sekalian?" Tanya Pavita dengan puppy eyes-nya.


"Baiklah, baiklah..." Jawab Mark sambil tertawa.


"Hey, aku juga ingin mampir." Kata Nick memelas.


"Aku kasihan kepadamu. Sepertinya kehadiranmu tidak dibutuhkan disini, jadi pulanglah..." Kata Mark sambil tertawa sinis kepada Nick. Nick hanya mengepalkan tangannya.


"Yasudah. Kalian berdua masuk saja..." Ajak Pavita yang tidak tega melihat ekspresi Nick dan tentunya tidak mau melihat pertengkaran Nick dan Mark lagi.


"Minum tehnya dahulu..." Kata Pavita yang datang dari arah dapur sambil menaruh 3 gelas teh diatas meja.


"Terima kasih..." Jawab Mark ramah dan Nick yang merasa tidak enak.


"Ok." Jawab Pavita.


"Emmm... Pavita, aku mau minta maaf kepadamu saja. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau kuajak pergi. Yang penting dengan kamu memaafkanku saja sudah cukup. Apalagi kalau membuka blokiranmu. Aku sudah sangat senang." Kata Nick memulai pembicaraan dengan sedikit merasa tidak enak.


"Baiklah." Jawab Pavita merasa kasihan kepada Nick.


"Baiklah apanya? Memaafkanku, membuka blokirannya, atau semuanya?" Tanya Nick girang.


"Hahaha... Semuanya. Termasuk mengajakku pergi." Jawab Pavita geli.


"Ah, terima kasih..." Jawab Nick dengan wajah berseri-seri.


"Baiklah baiklah..." Jawab Pavita.


"Aku pulang dulu." Pamit Mark yang sudah menghabiskan tehnya dengan wajah agak kesal yang berjalan menuju pintu.


"Eh, baiklah. Hati-hati..." Jawab Pavita. Mark sama sekali tidak menoleh. Pavita pun keluar dan seperti biasa, melihat kepergian "tamu"nya.


"Sudahlah. Ayo masuk." Kata Nick sambil menyentuh sebelah bahu Pavita dari belakang yang sempat membuat Pavita terkejut.


"Baiklah." Jawab Pavita agak lesu.


"Kenapa?" Tanya Nick yang bingung melihat Pavita yang terlihat agak murung.


"Tidak." Jawab Pavita agak kecut.


"Benarkah?" Tanya Nick ragu.


"Yap." Jawab Pavita meyakinkan.


'Pasti karena Mark.' Batin Nick agak kecewa.


"Hey, kenapa sekarang kamu yang sedih?" Tanya Pavita sambil tertawa melihat wajah Nick yang mendadak sedikit murung.


"Hey, tidak apa-apa. Aku hanya sedih melihat kekasihku sedih." Jawab Nick sambil nyengir kuda.


"Hahaha... Baiklah." Jawab Pavita.


"Baiklah. Aku akan mandi, tunggu aku sambil minum tehmu." Kata Pavita.


"Baiklah." Jawab Nick.


"Eh, kamu akan pergi dengan pakaian itu?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.


"Hahaha... Ini kan sudah tidak kupaikai lagi besok. Jadi tidak ada yang tau kalau pakaian yang kupakai ini adalah yang aku pakai disekolah." Jawab Nick. Dia sekolah di sekolah elit yang para siswanya tidak memakai seragam. Termasuk Mark, tapi karena ada suatu kesalahan, murid angkatan Pavita dan kakak kelas sekaligus adik kelas Mark tidak boleh memakai pakaian bebas. Jadi saat ini hanya kelas 12 saja yang boleh memakai pakaian bebas.


"Maksudku, apa kamu mau mandi dulu? Aku akan mandi setelahmu saja." Tawar Pavita.


"Aku antar ke kamarku. Karena kamar mandinya ada dikamarku." Tawar Pavita.


"Ok." Jawab Nick.


Dikamar:


"Kamu pakai handuk yang ini ya. Tenang saja, ini tidak pernah kupakai." Kata Pavita.


"Ok ok ok." Jawab Nick.


Beberapa menit kemudian...


"Hey Pavita, aku sudah selesai. Tidak apa-apa lah aku tidak ganti baju. Lagi pula ini masih wangi. Hihihi... Oh iya, handuknya aku bawa dulu. Akan kucuci. Hehehe..." Kata Nick yang datang dari kamar Pavita menuju ruang tamu.


"Baiklah, terserah. Aku mandi dulu ya..." Kata Pavita lalu berlari kecil kearah kamar.


"Baiklah." Jawab Nick.


30 menit kemudian...


"Maaf menunggu lama. Biasa, perempuan kan harus dandan terlebih dahulu. Hahaha..." Kata Pavita.


"Tidak apa-apa. Yuk kita pergi..." Kata Nick.


"Ayo..." Jawab Pavita.


"Oh iya, dimana gelasmu?" Tanya Pavita.


"Sudah kucuci. Gelas Mark juga. Maaf jika aku lancang masuk dapurmu." Jawab Nick malu-malu.


"Hey, kamu tidak perlu melakukan itu. Aku kan bisa mencucinya. Hahaha..." Kata Pavita sambil menggelengkan kepalanya kagum.


"Tidak apa-apa kok." Jawab Nick.


"Baiklah. Kita berangkat..." Kata Pavita.


Diperjalanan...


"Oh iya, ngomong-ngomong kita mau pergi kemana kak?" Tanya Pavita.


"Ditempat biasa." Jawab Nick.


"Oh, ok." Jawab Pavita.


Ditaman:


Seperti biasa, ditempat biasa Nick memberi pemberian biasa untuk orang yang tidak biasa alias spesial.


'Ah, lolipop lagi...' Batin Pavita agak malas menerima uluran lolipop dari Nick.


"Terimalah. Kenapa diam?" Tanya Nick sambil tertawa yang masih mengulurkan lolipop.


"Baiklah. Terima kasih..." Jawab Pavita.


"Ok." Jawab Nick.


"Bisa geser kepaling ujung?" Tanya Nick.


"Baiklah..." Jawab Pavita pasrah.


'Tapi bukankah tempatnya masih luas?' Batin Pavita sambil mengernyitkan alisnya.


Nick tidur diatas paha Pavita. Sekarang Pavita mengerti.


"Dasar manja." Kata Pavita tertawa sambil mengelus-elus rambut Nick. Nick pun ikut tertawa sambil mendengkur seperti kucing yang sedang tidur nyaman.


"Kamu tau tidak kenapa aku suka ketempat ini?" Tanya Nick membuka pembicaraan.


"Karena pemandangannya bagus...?" Tebak Pavita.


"Hmmm..." Jawab Nick sambil menggelengkan kepalanya.


"Karena kamu teringat mantanmu?" Jawab Pavita menebak lagi.


"Hahaha..." Nick hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya dan mencubit kedua pipi Pavita.


"Lalu apa? Ufff..." Tanya Pavita kesal campur deg-degan karena Nick mencubit pipinya.


"Hahaha... Baiklah. Karena aku jadi teringat adikku. Dia suka sekali dengan padang bunga seperti ini. Jadi jika aku merindukannya, aku tinggal pergi ketaman saja untuk mengingatnya." Jawab Nick.


"Oh..." Jawab Pavita mengerti sambil menundukkan kepalanya.


"Hey, kenapa?" Tanya Nick melihat raut wajah Pavita yang terlihat sedih.


"Aku juga merindukan adik-adikku dan orang tuaku!" Jawab Pavita merengek. Lalu Nick mengelus pipi Pavita yang membuat Pavita tidak jadi bersedih karena tertawa menahan geli.


"Hey, kenapa tertawa?" Tanya Nick heran sambil tertawa.


"Kamu membuatku geli." Kata Pavita kesal lalu menangkis tangan Nick. Nick pun tertawa.


"Tenang saja. Masih ada kekasih sekaligus kakakmu disini." Kata Nick menenangkan.


"Memangnya tidak apa-apa aku mengaggapmu kakak?" Tanya Pavita.


"Tentu saja. Tapi ingatlah bahwa aku pacarmu. Hehehe..." Jawab Nick.


"Baiklah. Berarti kak Mark saja yang menjadi kakakku." Kata Pavita.

__ADS_1


"Kenapa harus dia?" Tanya Nick yang langsung melepas pelukannya.


"Baiklah. Bagaimana jika aku menggapmu kakak, dan menganggap kak Mark sebagai kekasihku...?" Tanya Pavita meledek.


"Hmmm... Lebih baik dianggap kekasih daripada dianggap kakak." Kata Nick sambil mendengus lalu tiduran diatas paha Pavita lagi. Pavita hanya tertawa.


"Oh iya, ngomong-ngomong berapa adikmu?" Tanya Pavita.


"4. Kamu?" Jawab Nick.


"4 hampir 5. Karena ibuku sedang hamil." Jawab Pavita.


"Wao..." Jawab Nick terkejut.


"Kenapa?" Tanya Pavita.


"Kita sama-sama punya banyak adik ya..." Jawab Nick.


"Coba sebutkan nama-nama adikmu beserta umurnya." Sambung Nick.


"Aku urutkan dari adikku yang tertua beserta kelasnya. Hehehe... Sasha berumur 12. Dia selisih 1,5 tahun denganku. Tapi dia kelas 1 SMP. Karena hanya aku yang sekolah terlalu cepat. Gilang berumur 10. Selisihnya 3 tahun denganku. Kelas 5 SD, Narnia, umurnya 4 hampir 5 tahun besok Februari. Dia belum sekolah. Dia akan masuk TK tahun depan. Dan Kanaya, dia berusia 1 tahun. Dan besok Januari dia berumur 2 tahun. Kata dokter, calon adikku besok adalah laki-laki. Dan orang tuaku akan memberi nama Ken. Mungkin saat aku berumur 15 tahun, dia sudah lahir." Jawab Pavita.


"Sekarang giliranmu." Sambung Pavita.


"Bobbie selisih 2 tahun denganku, Leslie selisih 6 tahun denganku, dan Angel selisih 7 tahun dibawahku. Dia kembarannya Aaron." Jawab Nick.


"Oh... Nama yang bagus." Puji Pavita. Nick hanya terkekeh.


"Oh iya, nama orang tuamu siapa? Hanya ingin tau..." Tanya Pavita.


"Ayahku Robert Carter, ibuku Jane Carter. Dan kamu?" Tanya Nick.


"Ayahku bernama Gara, dan ibuku bernama Dania." Jawab Pavita.


"Namanya yang unik." Puji Nick. Pavita pun hanya tertawa.


"Coba lihat foto keluargamu..." Rengek Pavita.


"Jujur saja, aku tidak pernah foto bersama keluargaku. Tapi aku punya 1 foto saat aku masih kecil." Jawab Nick.


"Coba lihat." Kata Pavita.


"Nih..." Kata Nick sambil mengulurkan dompetnya yang ternyata terbuka.



Terlihat foto Nick bersama perempuan berkulit gelap alias sawo matang, berambut pirang kecokelatan yang keriting, berbibir pink tipis, bermata almond, dan berhidung kecil tapi mancung berbaju ungu yang tak ada pengaitnya yang hampir luntur di dalam dompet Nick.


"Eh, siapa dia?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.


'Wao... Cantik sekali. Dia punya selera yang tinggi ya...' Batin Pavita kagum.


Glek!


"Eh, salah mengambil. Maaf..." Kata Nick mengalihkan pembicaraan sambil cepat-cepat menutup dompetnya tapi Pavita tahan.


"Mantanmu... Atau pacarmu?" Tanya Pavita agak pucat sambil membuka dompet Nick kembali.


"Itu sahabat lamaku Pavita..." Kata Nick sambil merebut dompetnya kemudian mengambil ponselnya dan mengulurkannya kepada Pavita.


"Ooo... Sahabat lama. Mencurigakan sekali." Kata Pavita.


"Kamu cemburu kan?" Tanya Nick jahil.


"Tidak. Hanya sedikit curiga."


"Curiga kenapa?"


"Jika hanya sahabat lama, kenapa kamu khawatir sekali saat aku ingin melihat fotonya lagi? Padahal kan aku sedang mengagumi kecantikannya." Kata Pavita sambil tersenyum sinis.


"Asal kamu tau, kamu tidak kalah cantik dengannya. Kamu itu manis. Dan unik seperti Unicorn." Kata Nick sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hoam... Cepatlah, aku ingin lihat foto saudaramu." Kata Pavita malas yang pura-pura menguap.



"Coba tebak yang mana aku?" Kata Nick sambil memperlihatkan ponselnya.


"Yang pakai baju merah sedang memangku gadis berambut cokelat kan?" Jawab Pavita dengan cepat.


"Wah, kamu mengenaliku dengan cepat." Kata Nick kagum sambil tertawa. Pavita pun hanya tertawa.


"Yang paling kiri itu ibuku yang sedang memangku Aaron, kemudian Bobbie, aku yang memangku Angel, dan ayahku yang sedang memangku Leslie." Sambung Nick.


"Sekarang kamu." Kata Nick.


"Aku tidak pernah foto bersama." Jawab Pavita sambil menunduk lesu.


"Oh, baiklah..." Jawab Nick tidak mau memaksa dan tidak mau bertanya karena takut salah. Takut membuatnya semakin sedih walaupun sebenarnya dia juga penasaran.


"Oh iya, tadi kita kan membahas tempat favorit. Kamu suka tempat apa?" Tanya Nick mencairkan suasana.


"Atau tempat berkesan yang kamu sukai." Sambung Nick.


"Aku suka pegunungan dan pantai. Terutama pegunungan. Tapi tempat berkesan yang memiliki kenang-kenangan lebih banyak terdapat di taman atau sekolah." Jawab Pavita.


"Oh, kenang-kenanganmu dengan mantanmu." Sela Nick dengan wajah agak masam.


"Hey, aku belum selesai. Memangnya harus selalu pacar ya? Memangnya kenang-kenangan dengan sahabatku tidak boleh?" Tanya Pavita.


"Hehehe... Maaf." Kata Nick merasa tidak enak.


"Hmmm..." Jawab Pavita dengan wajah datar.


"Aku ingin mengajakmu makan malam lagi." Kata Nick.


"Tenang saja, kejadian kemarin tidak akan terulang lagi." Sambung Nick meyakinkan.


"Ummm..." Pavita menimbang-nimbang.


"Baiklah." Jawab Pavita.


"Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian kemarin." Kata Nick sangat merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf kalau aku selalu memarahimu. Hehehe..." Kata Pavita merasa tidak enak.


"Yasudah, kita pulang yuk." Ajak Nick.


"Ayo." Jawab Pavita.


Sampai rumah:


"Tunggu aku seperti biasanya. Eh, jam 7 saja. Karena kalau kemalaman bisa terlambat berangkat sekolah." Kata Nick.


"Baiklah, terserah." Jawab Pavita pasrah.


"Ok. Aku pulang dulu..." Pamit Nick.


"Baiklah. Hati-hati..." Jawab Pavita. Nick pun hanya tersenyum lalu mengendarai motornya pulang.


19:00.


Tin tin!


'Ah, kak Nick!' Batin Pavita girang. Pavita yang sudah siap sedari tadi langsung berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


"Hey my Princess, ayo kita berangkat." Ajak Nick begitu Pavita membuka pintunya.


"Hey, tidak minum dahulu?" Tanya Pavita.


"Kita kan tidak hanya makan malam. Tapi juga minum disana." Jawab Nick sambil tertawa.


"Hmmm..." Jawab Pavita malas.


'Padahal sudah kubuatkan teh. Tapi tidak apa-apalah. Daripada kemalaman.' Batin Pavita agak kecewa.


Direstoran:


"Selamat malam... Mau pesan apa tuan?" Tanya pelayan restoran.


"Seperti biasa. Tapi khusus dia Lemonade dan steak saja." Kata Nick kepada pelayan sambil menunjuk kearah Pavita.


"Baiklah." Jawab pelayan tersebut.


Beberapa menit kemudian...


"Ini tuan..." Kata pelayan sambil mengulurkan sushi, steak, wine, dan lemonade masing-masing 1 porsi.


"Terima kasih..." Jawab Nick.


"Ayo makan." Ajak Nick.


"Ok. Terima kasih..." Jawab Pavita.


Setelah beberapa menit mereka makan dan berbincang-bincang, mereka pun pulang.


Sampai rumah:


"Terima kasih sudah mengajakku makan malam." Kata Pavita.


"Ok. Dan terima kasih atas waktunya. Aku pulang dulu..." Kata Nick sambil mengecup kening Pavita. Pavita hanya memejamkan matanya menikmati.


"Baiklah. Hati-hati..." Kata Pavita. Nick pun menyalakan motornya dan langsung pergi.


Lalu, Pavita masuk rumah dan berjalan menuju kamarnya untuk tidur.


Kukuruyuk! Suara kokok ayam mengagetkan Pavita yang sedang tertidur pulas.


"Uhhh... Rasanya dekat sekali dengan telingaku." Keluh Pavita saat bangun.


Pavita pun sudah sampai disekolah dan melakukan aktivitas seperti biasanya.


Kring kring kring!


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Dan kali ini Nick adalah orang yang lebih cepat daripada Mark walaupun dia tidak sesekolah dengan Pavita. Karena dia sudah menunggu Pavita didepan gerbang sekolah Pavita.


"Hey Princess... Ayo kita pulang." Ajak Nick yang sudah menunggu Pavita. Pavita yang sempat mencari-cari keberadaan Nick pun kini sudah menemukan Nick.


"Hey, kamu menungguku?" Tanya Pavita kagum.


"Yap. Bukan kamu yang menungguku." Jawab Nick sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Apa kamu sudah menunggu lama? bagaimana kamu bisa secepat ini? Biasanya kan aku yang selalu menunggumu. Hahaha..." Kata Pavita heran.


"Tidak kok. Hanya 15 menit. Kebetulan, mata pelajaran terakhirku itu bahasa Indonesia. Tapi gurunya tidak hadir. Sebagai ketua kelas, aku berusul untuk pulang saja. Dan kepala sekolah mengijinkan tanpa syarat. Yasudah aku langsung kebut datang kesini." Kata Nick panjang lebar.


"Hey, kebiasaan. Sudah kubilang jangan kebut-kebutan." Tegur Pavita agak kesal. Nick hanya terkekeh.


"Yasudah, ayo naik." Ajak Nick.

__ADS_1


Sampai rumah, Pavita hanya menghabiskan waktu seperti biasanya. Sambil sesekali memikirkan foto gadis yang ada didalam dompet Nick tadi.


__ADS_2