
"Hoam..." Pavita terbangun dari tidurnya dan menengok ke kanan dan ke kiri entah apa yang ada di pikirannya.
Tiba-tiba...
"Oh, aku baru ingat kalau hari ini kak Mark akan mengajakku pergi lagi!" Kata Pavita heboh.
Pavita pun langsung beribadah, mandi, dan sarapan. Dia juga sengaja membuat teh. Karena setiap pagi Pavita selalu minum teh dan kali ini dia sengaja membuat 2 teh panas untuknya dan untuk Mark. Dia sengaja membuat teh yang panas agar saat Mark datang, tehnya sudah dalam keadaan hangat.
Setelah sarapan dia menyikat giginya dan mencuci muka dengan sabun mukanya. Lalu dia mulai memoles wajahnya dengan make up natural khasnya. Dia memang suka dandan. Bukan hanya karena ada tamu saja dia harus terlihat cantik (walaupun tanpa make up sebenarnya juga sudah cantik), tapi dimanapun dia berada dia tetap harus terlihat cantik.
Beberapa menit kemudian...
Tin tin! Suara motor Mark terdengar dari luar. Pavita keluar untuk membukakan pintu.
"Kak Mark!" Seru Pavita bersemangat.

"Ssst..." Kata Mark menyuruhnya diam sambil mengangkat bunga kecil-kecil yang lucu keatas kepalanya dan memberikannya pada Pavita yang sempat membuat Pavita terkejut.
"Hahaha... Baiklah. Ayo masuk dan duduklah..." Kata Pavita ramah mepersilakan Mark sambil menerima bunga kecil-kecilnya dan menaruhnya diatas meja kemudian berlari kecil menuju dapur.
"Ini kak tehnya..." Kata Pavita sambil menaruh 2 gelas teh untuk Mark dan untuk dirinya sendiri.
"Terima kasih..." Kata Mark malu yang sempat menatap Pavita kagum.
Mark menyeruput teh hangatnya dan terlihat sangat menikmatinya.
'Pas sekali. Manisnya pas, dan waktunya pun pas. Disaat sedang kedinginan seperti ini, teh hangat memang yang paling cocok untuk diminum.' Batin Mark.
"Oh iya, kita jadi jalan-jalan kan? Sepertinya aku tidak perlu menunggu lama-lama melihat penampilanmu yang sudah rapi. Jika kamu mau..." Kata Mark percaya diri namun sedikit ragu Pavita mau ikut atau tidak walaupun dia tau bahwa tadi malam Pavita menyetujuinya.
"Tentu saja." Kata Pavita.
"Kita mau kemana?" Tanya Pavita.
"Aku akan mengajakmu kesuatu tempat yang sederhana tapi berkesan." Kata Mark dengan senyuman cool khasnya.
"Hmmm... Baiklah." Kata Pavita pasrah.
"Kita sudah sampai." Kata Mark.
Pavita melihat-lihat tempat yang belum pernah ia datangi itu.
"Ayo, ikut aku." Ajak Mark.
"Oke..." Jawab Pavita.
"Dimana ini sebenarnya?" Tanya Pavita bingung.
"Oh iya, aku lupa memberitahumu.
Selamat datang di bumi perkemahan..." Kata Mark.
"Oh, apa kita akan berkemah?" Tanya Pavita terkejut karena ia kira ia hanya akan bermain, bukan menginap.
"Kita hanya akan bermain disini." Kata Mark meyakinkan Pavita yang mulai ragu.
"Oh, baiklah." Jawab Pavita lega.
'Fyuh... Kukira akan menginap.' Batin Pavita geli.
Mereka berdua pergi ke rumah pohon tak jauh dari mereka berdua.
"Ini adalah markas kita ya. Hehehe..." Kata Mark percaya diri sambil senyum malu-malu.
"Ya, aku tau ini milik umum. Tapi jika kita ingin bertemu, kita bisa bertemu disini. Kalau kamu keberatan, kita masih bisa bertemu ditaman belakang rumahmu." Kata Mark.
"Baiklah, terserah." Jawab Pavita.
Mereka berdua pun naik ke rumah pohon dan tiduran tengkurap bersama sambil berhadap-hadapan disana. Mereka menghabiskan waktu untuk bercerita sambil makan camilan yang Mark beli sebelum menjemput Pavita dan minum minuman dingin yang ia beli didekat bumi perkemahan.
"Emmm... Kamu sudah punya pacar?" Tanya Mark ragu yang merasa bodoh.
'Bodoh! Kenapa aku harus bertanya seperti itu?! Tapi apa boleh buat, kalau dia memang mau menjawabnya.' Umpatnya dalam hati.
"Aku jomblo menahun. Hahaha..." Jawab Pavita.
"Hey, jangan berkata seperti itu. Memangnya berapa lama kamu single?" Tanya Mark bingung bagaimana bisa perempuan seramah dia bisa-bisanya belum punya pacar.
"Hehehe... Hanya melajang 12 tahun." Jawab Pavita santai.
"12 tahun?!" Tanya Mark yang terkejut.
"Iya. Bayangkan saja, sejak aku lahir, aku baru pacaran sekali saat umurku masih 10 tahun. 2 tahun kemudian, hubunganku berakhir. Sebenarnya belum berakhir, tapi aku bingung masih ingin menganggapnya pacar atau mantan. Sepertinya lebih pantas dianggap mantan. Hahaha... Dan sampai saat ini aku menyendiri selama 2 tahun." Kata Pavita.
'Benar juga. Betapa bodohnya aku, sampai aku bisa tertipu. Hahaha...' Batin Mark kesal campur geli.
"Huft... Kamu benar-benar jahil!" Kata Mark gemas sambil mencubit kedua pipi Pavita yang chubby.
"Awww..." Celetuk Pavita sambil memanyunkan bibirnya.
"Lucu sekali ekspresimu." Ledek Mark yang hanya ditanggapi pemutaran bola mata oleh Pavita.
"Sayang sekali sudah 2 tahun tapi berakhir begitu saja." Sambung Mark.
"Tidak juga. Hehehe..." Jawab Pavita polos.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Pavita.
"Hah?" Tanya Mark yang sempat tidak mengerti.
"Eh, oh... Aku juga." Sambung Mark yang akhirnya mengerti apa yang Pavita katakan.
"Berapa lama? Jangan bilang 11 tahun." Kata Pavita menyipitkan matanya.
Glek!
"Bagaimana kamu tau?" Tanya Mark kagum campur deg-degan.
'Seharusnya bukan seperti itu pertanyaanku.' Batin Mark kesal.
"Jadi itu benar?!" Tanya Pavita terkejut.
'Padahal aku hanya asal menebak.' Batin Pavita geli.
"Mungkin." Jawab Mark tidak enak.
"Karena, wajah-wajah sepertimu sepertinya sudah mengenal cinta dari awal masuk SD. Bahkan sebelum SD. Hahaha..." Ledek Pavita.
"Memangnya wajahku bagaimana?" Tanya Mark menggoda.
"Tampan. Hihihi..." Jawab Pavita walaupun sebenarnya itu bukan jawabannya.
Seketika pipi Mark yang sudah merah semakin memerah.
"Hey... Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Pavita berlebihan.
"Ada apa memangnya?" Tanya Mark bingung dan penasaran.
"Katakan padaku, apa yang terjadi dengan pipimu. Apa ada orang yang menamparmu?! Atau kamu alergi sesuatu?!... Jangan bilang kamu pakai blush on..." Ledek Pavita dengan nada yang dibuat panik.
"Hey, pipiku memang seperti ini!" Kata Mark sambil memanyunkan bibirnya.
'Menyebalkan sekali gadis ini.' Batin Mark kesal campur geli.
"Hey, ada apa dengan bibirmu?! Apa ada lebah yang menyengat bibirmu sampai bengkak dan merah seperti itu?!..." Ledek Pavita lagi.
"Hey... Kamu iri ya?" Tanya Mark meledek.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya ingin bertukar bibir dan warna pipi denganmu. Hahaha..." Kata Pavita masih menggoda Mark.
"Bertukar?" Tanya Mark dengan wajah jahilnya yang mendekatkan wajahnya ke wajah Pavita.
Pavita hanya diam dan tanpa sadar memundurkan kepalanya perlahan-lahan.

"Bagaimana caranya?" Tanya Mark jahil.
"Emmm..." Pavita sedang mencari alasan.
Pavita pun kabur turun dari rumah pohon dan Mark mengejarnya. Mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil. Pavita tertangkap dan Mark menggelitikinya sampai Pavita memohon agar Mark menghentikan gelitikannya dan Pavita berlari lagi.
Tapi saat Pavita sedang berlari, tba-tiba dia tersandung akar rumah pohon yang keluar dari tanahnya dan Mark langsung menangkap Pavita dengan memegangi kepalanya dan tidak sengaja menyentuh bibir Pavita menggunakan bibirnya karena Mark sempat berhenti mendadak dan tidak sempat menyeimbangkan badannya.
"Hey!" Amuk Pavita tidak terima sambil mendorong Mark yang bibirnya masih menempel dibibir Pavita. Dan Pavita pun langsung membersihkan bibirnya.
"Hey, aku tidak bermaksud seperti itu..." Kata Mark memohon sambil menyentuh bibirnya yang sepertinya tidak akan dia bersihkan.
"Ya, aku tau. Dan aku mau pulang!" Kata Pavita marah.
Akhirnya Pavita nekat berjalan sendiri tanpa Mark karena kebetulan Pavita masih ingat jalannya setelah 3 jam bersama Mark.
"Hey, jangan keras kepala. Ayo pulang denganku..." Kata Mark sambil mengendarai motornya pelan-pelan agar bisa berdampingan dengan langkah Pavita.
"Tidak usah!" Bentak Pavita.
Tiba-tiba...
Tin tin!
Mereka berdua pun menoleh kebelakang karena mereka merasa mereka tidak memenuhi jalan, tetapi mengapa masih ada motor yang seolah-olah menegur. Ternyata, motor tersebut tidak menegur, tetapi menyapa Pavita. Klakson itu adalah suara klakson motor Nick.
"Hey Pavita. Kamu mau pulang jalan kaki?!" Tanya Nick yang heboh.
Pavita hanya meliriknya dan melanjutkan langkahnya.
"Please..." Mata Mark memohon kepada Pavita agar dia pulang bersamanya saja.

"Ayo pulang denganku." Ajak Nick yang melepas helmnya sambil melirik Mark.
"Terima kasih, tapi aku bisa jalan sendiri. Lagi pula tanggung, ini sudah mau sampai halte juga kan?" Kata Pavita.
"Ayolah..." Kata Nick memohon yang tidak Pavita hiraukan.
"Pavita, ikutlah denganku." Kata Nick tidak berhenti memohon.
"Hmmm... Baiklah." Kata Pavita pasrah daripada Nick memaksanya terus.
"Ayo naik." Kata Nick dengan sangat senang.
Lalu, Nick dan Pavita pergi meninggalkan Mark sendirian begitu saja.
"Seandainya kamu tau kalau tadi itu aku tidak sengaja..." Kata Mark masih menatap kepergian Pavita sambil mengingat-ingat kejadian yang membuat Pavita sangat marah tadi.
"Hey, ini bukan jalan pulang!" Kata Pavita kesal.
"Aku ingin mengajakmu pergi sebentar." Kata Nick.
"Hey, kamu bilang ayo pulang denganku tadi!" Kata Pavita mengingatkan.
"Tapi setelah itu aku berkata Pavita, ikutlah denganku kan?" Kata Nick sambil tertawa.
'Benar juga.' Batin Pavita kesal bercampur malu.
"Ufff... Kalian sama saja!" Kata Pavita kesal sambil memanyunkan bibirnya.
"Lain kali, aku tidak akan mau ikut denganmu lagi!" Sambung Pavita jengkel.
"Baiklah, jangan marah. Lain kali aku akan meminta ijinmu. Tapi kali ini aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat." Kata Nick membujuk.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Pavita kemudian.
"Jam 9 seperempat." Jawab Nick sambil menatap jam tangan di tangan kirinya.
'Disaat marah pun dia masih sempat menanyakan jam.' Batin Nick geli.
Taman bunga:
Nick dan Pavita berjalan menuju kursi taman dan duduk berdua disitu.
'Wah... Indah sekali bunga-bunganya...' Kata Pavita kagum dalam hati.
"Sebenarnya sudah lama aku rindu padamu. Tetapi kamu selalu sibuk dengan orang lain. Hahaha..." Kata Nick membuka pembicaraan sambil tersenyum masam.
"Aku tidak sibuk. Tetapi saat ada waktu longgar dan ada orang yang mengajakku pergi, kenapa tidak? Lagi pula terkadang aku juga bosan berada di kos-kosan sendirian." Kata Pavita sambil tersenyum formalitas.
"Baiklah. Mulai besok aku akan menghampirimu lebih dulu sebelum ada orang lain yang akan menghampirimu." Kata Nick.
"Hmmm... Kalau aku tidak sibuk." Kata Pavita.
Kemudian, Nick berdiri dan memetik bunga mawar merah dan menaruhnya disela-sela telinga Pavita.
"Cantik." Kata Nick sambil tersenyum. Pavita hanya menunduk malu.
"Pavita, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Nick kemudian.
"Boleh. Tentang apa?" Tanya Pavita.
"Emmm... Apa kamu sudah memiliki pacar?" Tanya Nick malu-malu.
"Belum. Memangnya kenapa?" Tanya Pavita.
"Tidak..." Jawab Nick sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Dan kamu?" Tanya Pavita basa-basi.
"Aku juga belum punya. Sudah 3 tahun ini aku sendiri." Jawab Nick sambil unjuk gigi.
"Oh... Sejak lulus SMP ya berarti?" Tanya Pavita mengira-ngira.
"Yap." Jawab Nick bangga.
Lalu, Nick menyodorkan lolipop berwarna-warni besar berpita merah kepada Pavita.
"Apa?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Untukmu." Kata Nick masih menyodorkan lolipopnya.
"Untukku?" Tanya Pavita sambil menyeringai malas.
'Memangnya aku anak kecil?!' Batin Pavita kesal campur geli.
"Yap." Jawab Nick bangga.
"Bukalah..." Perintah Nick.
"Emmm... Baiklah." Kata Pavita sedikit keberatan. Karena sebenarnya dia tidak suka lolipop.
"Jangan khawatir. Itu tidak ada racunnya." Kata Nick meyakinkan saat melihat keraguan Pavita.
"Hah..." Pavita hanya tertawa terpaksa.
'Aduh... Makan lolipop yang biasa saja bisa lama, apalagi lolipop sebesar ini.' Batin Pavita mengeluh.
"Kau menyukainya?" Tanya Nick senang.
__ADS_1
"Emmm... Sebenarnya kalau aku boleh jujur, aku tidak terlalu suka lolipop." Kata Pavita yang sedikit sarkastik.
'Oh, sepertinya aku salah. Ternyata Pavita tidak menyukai pemberianku...' Batin Nick sedih.
"Tapi kali ini aku akan tetap memakannya." Kata Pavita sambil tersenyum masam melihat ekspresi Nick yang tiba-tiba terlihat sedih.
"Baiklah. Aku tidak akan memberi lolipop lagi. Yang penting kali ini kamu mau menerima pemberianku..." Kata Nick yang terlihat sangat senang.
'Fyuh... Lagi pula lolipop sudah tidak cocok dengan lidahku lagi.' Batin Pavita lega mendengar Nick tidak akan memberinya lolipop lagi.
Lalu, Nick dan Pavita mengobrol seperti biasanya.
'Sepertinya dia sangat menyukainya. Dia tidak melepaskan mulutnya dari lolipop yang aku berikan. Aku akan membawakannya lagi.' Batin Nick dengan senang.
"Oh iya. Pavita, kalau sudah besar kamu mau jadi apa?" Tanya Nick.
"Aku ingin menjadi perawat atau guru bahasa Inggris. Bagaimana dengan kak Nick?" Tanya Pavita.
"Aku ingin menjadi aktor atau menjadi boyband sungguhan." Jawab Nick.
"Semoga impian kita terwujud. Amin..."
"Amin..."
Beberapa menit kemudian...
"Aku rasa, sudah 15 menit tapi kamu belum selesai makan lolipop..." Kata Nick geli.
"Kalau kamu tau, sebenarnya bisa lebih lama aku makan lolipop. Lolipop ukuran kecil saja bisa 15 menit. Apalagi ukuran sebesar ini. Hahaha..." Sindir Pavita.
"Oh..." Jawab Nick.
'Berarti aku harus memberi lolipop ukuran kecil ya. Padahal kan aku sengaja membawa ukuran besar untuk orang spesial.' Batin Nick yang tak peka-peka kalau Pavita tidak suka lolipop.
"Ok unicorn..." Celetuk Nick.
"Unicorn?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Yap." Jawab Nick singkat.
'Kamu adalah unicornku...' Batin Nick.
"Maksudmu?" Tanya Pavita masih bingung.
"Tidak. Lupakan..." Kata Nick sambil senyum-senyum sendiri.
'Dua orang aneh...' Batin Pavita sambil mengingat-ingat celetukan aneh Mark.
"Oh iya, ini kan sudah hampir siang. Bagaimana kalau kita makan siang? Aku sudah lapar. Hehehe..." Rayu Nick.
"Yah, tapi kamu bilang hanya sebentar..." Kata Pavita agak manyun.
"Please..." Kata Nick memohon.
"Hmmm... Baiklah. Kali ini saja. Besok aku tidak peduli jika kamu tidak menepati janjimu." Kata Pavita malas.
"Ok ok ok." Jawab Nick pasrah.
Nick mengendarai motornya ke cafe yang tidak jauh dari taman tersebut.
Sampai di cafe:
"Mau pesan apa?" Tanya pelayan cafe tersebut dengan genit kepada Nick.
"Lemonade 2 dan menu paling enak disini juga 2." Kata Nick.
"Baiklah. Menu paling enak, pesanan siap diantar." Jawab pelayan tersebut masih dengan wajah yang genit.
"Hey, mengapa diam? Cemburu ya?" Tanya Nick percaya diri sambil menahan tawa.
"Hey. Kamu tidak tau apa-apa!" Jawab Pavita agak kesal.
"Oh, baiklah singa betinaku..." Goda Nick sambil menutup mulutnya. Pavita hanya meliriknya.
"Diamlah Mr. Blonde!" Balas Pavita.
"Wao! Ternyata aku juga punya panggilan kesayangan darimu..." Kata Nick girang. Pavita hanya memutar bola matanya.
"Ini pesanannya..." Kata pelayan tadi dengan nada yang masih genit sambil mengulurkan 2 porsi lemonade, sup labu, dan pai labu.
"Oh, jadi ini menu spesialnya?" Tanya Nick.
"Iya. Menu spesial hari ini." Jawab pelayan tersebut lalu pergi.
"Ayo kita makan..." Ajak Nick.
"Ok." Jawab Pavita.
"Kamu suka labu?" Tanya Nick mengernyitkan alisnya.
"Iya. Kenapa?" Tanya Pavita mengernyitkan alisnya.
"Tidak apa-apa." Jawab Nick.
"Kamu tidak suka ya?" Goda Pavita.
"Sebenarnya iya. Tapi apa yang kamu suka akan menjadi kesukaanku juga. Jadi aku harus makan sup dan pai labu ini." Kata Nick yakin.
"Baguslah kalau begitu. Lagi pula labu kan menyehatkan." Rayu Pavita.
Nick pun memakannya dengan sangat terpaksa.
'Eh, ternyata enak!' Batin Nick sambil membelalakkan matanya.
"Enak kan..." Goda Pavita sambil menyipitkan matanya.
"Ternyata enak sekali Pavita!" Kata Nick heboh.
"Huuu..." Ejek Pavita sambil tertawa. Nick pun tertawa.
Nick terlihat sangat menikmati sup labunya.
"Hati-hati. Nanti tersedak." Kata Pavita mengingatkan.
"Ok." Jawab Nick senang karena Pavita yang perhatian.
"Tau tidak mengapa dulu aku tidak suka labu?" Tanya Nick.
"Karena labu adalah lambang Halloween?!" Tebak Pavita.
"Hey, itu dulu alasanku waktu kecil. Karena aku sempat takut dengan bentuk labu untuk pesta Halloween. Setelah dewasa aku tidak takut hantu lagi. Tapi aku masih tidak suka labu karena aku merasa labu itu menjijikkan. Lembek dan uh... Sangat-sangat tidak cocok dilidahku. Tapi ternyata, labu itu tidak buruk." Kata Nick.
"Tak kenal maka tak sayang." Kata Pavita sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hahaha... Yeah..." Jawab Nick setuju.
Setelah selesai makan, Nick mengantar Pavita pulang.
Sampai rumah:
"Mau mapir sekalian?" Tawar Pavita.
"Kapan-kapan saja." Jawab Nick.
"Baiklah. Hati-hati..." Jawab Pavita.
"Ok." Jawab Nick.
'Kak Nick. Maafkan aku yang selalu galak padamu. Karena kamu memang sangat menyebalkan. Hahaha...' Batin Pavita sambil tersenyum-tersenyum sendiri memandangi kepergian Nick dan mulai masuk rumahnya.
__ADS_1
'Tetapi dengan Kak Mark, aku tidak pernah marah. Karena dia itu romantis. Yah, romantis sekali. Tetapi sekali membuat jengkel, tingkat menyebalkannya mengalahkan kak Nick. Memang kak Nick tidak seromantis kak Mark, tetapi sekali berbuat romantis, romantisnya akan mengalahkan semua keromantisan kak Mark. Hmmm... Terkadang aku bingung dengan dua orang itu.' Batin Pavita yang kini sudah berada dikamarnya.
Lalu Pavita pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berganti baju.