I'M Not A Bad Girl!

I'M Not A Bad Girl!
Baikan


__ADS_3

Hari libur semester pertama sudah tiba. Seperti biasa, dia selalu bangun pagi dan bersiap-siap walau hanya dirumah.


Klontang klonteng!


"Hey, berisik!" Teriak tetangga sebelah kos-kosan Pavita.


"Ups... Berisik ya?" Gumam Pavita sambil menyeringai karena kegaduhannya saat mencuci piring.


"Maaf!" Balas Pavita setengah berteriak agar tetangganya bisa mendengarnya.


🎶 Fufufufufu... 🎵


Pavita bersiul karena dia senang akhirnya liburan semester telah tiba.


Setelah membereskan rumah, dia baru mandi. Ya, ketika hari libur dia memang agak siang untuk mandi.


Beberapa jam kemudian...


Pavita sedang menulis daftar belanja di ruang tamunya. "Hari ini aku akan belanja sayur, daging, dan..."


"Sebenarnya apa sih yang ingin kumasak?" Tanya Pavita bingung pada dirinya sendiri.


"Aha! Aku ingin membuat capcay saja. Dan aku juga akan membeli santan, kacang hijau, dan beras ketan." Sambung Pavita semangat setelah menimbang-nimbang apa yang akan ia beli hari ini lalu mengambil tas belanjanya.


Kemudian Pavita pergi ke pasar berjalan kaki.


"Aduh, jika saja aku punya sepeda atau motor, mungkin aku akan lebih cepat sampai pasar." Muh Pavita diperjalanan.


Sebenarnya dia ingin naik angkutan umum, tapi dia harus sangat hemat. Apalagi liburan seperti ini, mungkin dia akan lebih boros daripada hari-hari biasanya.


Selain itu, ibunya juga sudah berjanji akan datang ke kos-kosannya untuk mengajaknya membeli sepeda. Jadi Pavita bisa bersabar sebentar.


Sampai dipasar:


'Wao... Ramai sekali.' Batin Pavita.


Pavita berjalan ke bazar sayuran yang terdapat sayur yang segar.


'Sepertinya yang itu sayurnya bagus-bagus dan segar-segar. Aku akan beli disitu saja deh...' Batin Pavita.


Tapi Pavita terhenti. Karena ia melihat penjual yang sudah tua renta dan dagangannya yang tidak terlalu menarik itu membuat penjualannya sedikit sepi. Entah karena dagangannya yang tidak terlalu menarik atau karena tempatnya yang terlihat sedikit kumuh dan jorok.


"Hey nak, mau beli apa?" Sambut nenek itu girang.


"Saya mau beli 2 bahan-bahan sup. Ada tidak?" Tanya Pavita dengan sopan.


"Tentu saja. Masih segar lho..." Kata nenek itu dengan lugunya.


"Wah... Anak kecil sudah bisa masak sendiri ya... Tidak sekalian beli bumbunya?"


'Anak kecil.' Batin Pavita agak kesal.


"Saya sudah membeli bumbu racik instannya nek." Jawab Pavita dengan merasa tidak enak.


'Jika aku punya banyak uang, aku ingin sekali memborong daganganmu nek.' Batin Pavita.


"Oh iya, nek, yang berjualan kacang hijau dan beras ketan dimana ya?" Tanya Pavita.


"Oh, diujung sana nak. Apa kamu melihatnya?" Jawab nenek tersebut sambil menunjuk ke ujung pasar dan menyerahkan sekantung plastik sayur kepada Pavita.


"Oh, iya. Terima kasih nek." Kata Pavita sambil menerima sayurnya.


"Berapa nek?" Tanya Pavita.


"Rp.11.000,00 saja." Jawab nenek tersebut.


'Murah sekali. Tapi tanggung.' Batin Pavita. Ingin sekali dia memberinya uang, tapi dia takut nenek itu tersinggung.


"Oh ya, ini uangnya..." Kata Pavita sambil mengulurkan uang Rp.20.000,00.


"Eh, ini kebanyakan. Belum ada kembaliannya nak."


"Tidak apa-apa nek. Kembaliannya untuk nenek saja..."


"Terima kasih..." Kata nenek itu berseri-seri.


"Ya..."


Pavita pun berjalan menuju ujung pasar kemudian tersenyum lebar setelah melihat pedagang kacang hijau yang ia cari.


Beberapa menit kemudian...


Setelah beberapa menit, Pavita sudah membawa belanjaannya lengkap. Pavita melewati parkiran dan tiba-tiba berhenti karena dia melihat laki-laki serba putih, bertopeng putih, bertopi putih, dan berjaket putih yang sedang menatap kearahnya.


Tanpa pikir panjang, Pavita langsung kabur tak tentu arah dan hampir menabrak orang-orang yang ada dipasar yang membuatnya mendapat tatapan tajam dari orang-orang. Pavita hanya menyeringai karena merasa bersalah.


Akhirnya, Pavita lebih memilih kabur lewat kamar mandi umum yang ada dipasar daripada lewat gerbang pasar.


Tiba-tiba...


"Hey..." Panggil lelaki tadi dengan suara yang agak serak.


"Si-siapa kamu?" Tanya Pavita terkejut dan heran bagaimana dia bisa ada didepannya secepat itu dan mencoba menutupi rasa takutnya.


"Ayo ikut aku." Kata lelaki tersebut yang langsung menarik tangan Pavita tanpa pikir panjang.


"Jawab atau aku akan teriak?!" Bentak Pavita mengancam. Lelaki tersebut sempat terlihat tertegun dengan bentakannya. Tapi langsung ia tutupi.


"Baiklah, tapi jangan marah ya?"


"Untuk apa aku marah? Aku akan lebih marah jika kamu tidak mau jujur!"


"Baiklah." Kata lelaki tersebut sambil mencopot topi putihnya dan melemparnya ketanah kemudian merapikan rambutnya.


Dan Pavita terkejut saat penculik tersebut sudah mencopot topengnya dengan wajah antagonis.





Ternyata itu Nick! Pavita tidak menyangka bahwa Nick akan se posesif itu. Kemudian Nick menyeringai melihat Pavita yang menatapnya begitu serius.

__ADS_1


"Hey, apa-apaan ini?" Tanya Pavita yang tersadar dari lamunannya.


"Aku hanya penasaran apa yang gadisku lakukan saat liburan, kukira akan pergi bersamanya lagi." Ungkit Nick dengan wajah yang sinis.


"Hah, kamu masih mengungkitnya? Sayang sekali itu topik yang sudah sangat basi!" Kata Pavita sarkastik.


"Basi atau memang kamu tidak punya kata-kata lagi untuk membantah?" Tantang Nick.


"Hoam... Jika kamu datang untuk mengajak ribut, pergilah dan urusi saja Britneymu!" Kata Pavita pura-pura menguap.


"Hey, apa-apaan?" Tanya Nick tidak terima sambil mengepalkan tangannya.


"Sudahlah, jika akui saja jika kamu memang sudah speechless." Ejek Pavita kemudian meninggalkannya.


Nick mengambil topinya kembali yang ada ditanah dan meletakkannya kedalam jaketnya beserta topengnya lalu mengejar Pavita.


"Hey, jangan pernah bahas tentang Britney lagi." Kata Nick sambil menggenggam tangan Pavita.


Pavita berhenti dan berkata. "Jangan bahas lagi? Kamu kira aku juga akan dengan senang hati menerima tuduhanmu tentang aku dengan kak Mark?" Tanya Pavita sinis sambil melepaskan tangan Nick.


"Lagipula, Britney lebih cantik dan lebih pantas untukmu. Sedangkan kak Mark? Dia tidak se bad boy kamu yang hampir menjerumuskan kekasih-maksudku menjerumuskanku kejalan yang tidak benar!" Sambung Pavita kemudian berlari meninggalkan Nick. Nick pun mengejarnya.


"Hey, aku bisa jelaskan!" Kata Nick setengah berteriak karena Pavita sudah meninggalkannya jauh.


"Oh, peka juga kamu. Tapi sayangnya aku tidak mau memaafkan orang yang tidak pernah jera membuatku kecewa!" Teriak Pavita dari kejauhan. Dia tidak peduli ada orang yang mendengarnya.


Nick hanya terdiam ditengah jalan sampai ada mobil yang menegurnya dengan klaksonnya.


"Oh, maaf..." Kata Nick kemudian berjalan ketepi karena merasa tidak enak sudah berdiri di tengah jalan.


'Ah, ternyata dia masih mengingatnya!' Batin Nick kesal.


Dirumah:


"Ah, sial! Aku lupa beli dagingnya." Maki Pavita kepada dirinya sendiri yang bisa sepelupa itu.


"Yasudah, aku pakai telur saja sebagai gantinya." Sambung Pavita kemudian berjalan menuju kulkas kecilnya.


Beberapa menit kemudian...


Tok tok tok!


"Ada tamu rupanya." Kata Pavita lalu berjalan menuju ruang tamunya.


Ngek!


'Ah, dia...' Batin Pavita malas.


"Pavita, beri aku 1 kesempatan untuk menjelaskan." Kata Nick sebelum Pavita menutup pintunya.


"Baiklah, masuklah." Kata Pavita agak malas. Lalu Nick dan Pavita pun duduk di sofa.


"Soal kemarin aku mengajakmu ke rumahku itu... Aku benar-benar sangat merindukanmu karena kamu membuatku gila selama berhari-hari." Kata Nick menjelaskan.


"Dan tentang Britney itu? Sudahlah, itu hanya mantanku. Jangan diungkit-ungkit lagi." Sambung Nick malas.


"Mantan atau pacar pertama?" Tanya Pavita ragu.


"Aku tidak percaya dan terpengaruh kepadanya. Aku hanya ingin membuktikannya sendiri." Kata Pavita.


"Baiklah, aku dan Britney~sebenarnya belum ada kata putus. Karena kami berpisah secara tiba-tiba. Dan kami sudah tidak pernah chatingan atau berhubungan lagi." Kata Nick.


"Benarkah?" Tanya Pavita ragu.


"Benar Pavita..." Jawab Nick agak gemas dengan Pavita yang selalu meragukannya.


"Hmmm... Baiklah." Kata Pavita.


"Jadi bagaimana?"


"Apanya?"


"Apa kita sudah baikan?" Tanya Nick sambil menyeringai dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya... Tapi tentang kamu membawaku kerumahmu itu~aku tidak bisa menerimanya!" Kata Pavita emosi.


"Hey, aku akui, saat itu memang aku sangat gila, tapi aku tidak bermaksud macam-macam denganmu. Sama sekali tidak ada niat jahat kepadamu dalam benakku." Kata Nick sambil menggenggam tangan Pavita.


"Jika kamu mengulanginya lagi, aku tidak mau memaafkanmu lagi! Kesempatan tidak datang dua kali." Kata Pavita merajuk.


"Baiklah, aku janji." Kata Nick melepaskan tangan Pavita dan mengulurkan jari kelingkingnya.


"Ok. Aku pegang janjimu!" Kata Pavita setelah membalas uluran jari kelingking Nick dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Nick.


Nick tersenyum senang dan memeluk Pavita. Pavita pun sebenarnya juga sangat senang, tapi dia tutupi agar terlihat biasa saja.


"Sekeras kepalanya kamu, aku tau kamu itu orangnya tidak tegaan dan pemaaf." Kata Nick sambil mengelus lembut punggung Pavita.


"Ah, terserah." Kata Pavita malas.


"Jangan lupa buka blokirannya." Kata Nick sambil mengedipkan sebelah matanya setelah melepas pelukannya.


"Oh iya, aku lupa. Baiklah..." Kata Pavita sambil menyeringai.


Tiba-tiba...


"Oh, maaf mengganggu." Kata Mark malu.


"Hey, ayo masuk kak. Jangan pergi begitu saja." Kata Pavita menarik lengan Mark.


"Baiklah." Jawab Mark yang masih Pavita tuntun menuju sofa lalu duduk.


"Sebentar..." Kata Pavita lalu bergegas kedapurnya karena ponselnya dia tinggal disitu. Kemudian Pavita kembali dengan 2 piring nasi beserta sayuran yang telah ia masak dan 2 gelas teh hangat menggunakan baki.


"Kalian harus makan dan memberi rating untuk makanan ini." Paksa Pavita setelah mengulurkan nasi dan teh kepada Nick dan Mark.


"Ok. Terima kasih..." Kata mereka berdua.


"Ini masakanmu?" Tanya Nick kagum setelah makan capcay buatan Pavita.

__ADS_1


"Iya." Kata Pavita malu-malu.


"Enak sekali! Aku beri rating 9,5. Karena ada yang kurang, yaitu kamu tidak menyuapiku. Hahaha..." Ledek Nick. Pavita pun tertawa.


"Ratingku 9. Karena ini sedikit keasinan." Kata Mark.


"Iya. Aku juga kesal setiap aku memasak pasti selalu keasinan." Kata Pavita tertawa.


"Tapi aku akui, ini memang enak. Benar-benar enak. Kamu berbakat jadi koki atau istri idaman." Goda Mark sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat pipi Pavita sempat memerah.


"A~apa? Istri idamannya siapa?" Tanya Nick tidak terima.


"Mungkin pacarnya atau bisa saja pengagum rahasianya." Kata Mark santai. Nick hanya cemberut. Pavita hanya bisa menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


"Sudahlah, lanjutkan makannya. Aku juga akan makan bersama kalian." Kata Pavita kemudian berjalan kedapur dan kembali dengan sepiring nasi dan segelas teh melati hangatnya.


"Sudah kubuka." Kata Pavita setelah mengotak-atik ponselnya.


"Ha? Oh, Terima kasih..." Kata Nick yang sempat tidak mengerti.


'Apanya yang sudah dibuka?' Batin Mark bingung.


"Oh iya, liburan semester ini enaknya pergi kemana ya?" Tanya Nick kepada Pavita.


"Ah, musim panas seperti ini membuatku malas untuk keluar rumah." Kata Pavita.


"Ah, terima kasih sudah memberiku ide. Kita pergi ke pantai saja." Kata Nick semangat.


"Dimusim panas seperti ini?!" Kata Pavita.


"Hey, justru kepantai itu lebih seru saat musim panas seperti ini." Kata Nick.


'Seharusnya aku tidak datang jika hanya menjadi angin lalu bagi mereka.' Batin Mark kesal.


"Aku tidak mau kulitku tambah gosong."


"Hey, kamu tidak hitam, jadi tidak akan bertambah hitam hanya karena berjemur dipantai."


"Aku hitam dan aku tidak mau tambah hitam."


"Menurutku warna kulitmu itu sexy." Goda Nick. Pavita hanya memutar bola matanya.


"Iya. Orang Eropa, Amerika, dan orang-oramg Barat suka dengan perempuan yang kulitnya sepertimu, sawo matang. Kalau disini kebanyakan laki-laki menyukai perempuan yang putih, maksudku berkukit terang atau kuning langsat. Hahaha..." Kata Nick. Pavita sebenarnya sudah tau tentang teori itu.


"Ah, sudahlah. Jadi kita mau kemana?" Tanya Pavita malas.


"Pantai. Seperti yang kukatakan tadi." Kata Nick.


"Bagaimana jika berkemah di pegunungan saja?" Sela Mark menyarankan.


"Hey, aku suka pegunungan! Ide yang bagus..." Seru Pavita setuju dengan semangat.


"Tapi lebih baik kamu pergi kepantai dahulu saja." Kata Mark yang tidak tega melihat Pavita menolak ajakan Nick.


"Hmmm... Baiklah. Tapi besok kita ke gunung ya..." Rengek Pavita.


"Baiklah baiklah..." Kata Mark.


'Huft... Aku hanya menjadi obat nyamuk~eh, jadi nyamuk maksudku.' Batin Nick malas.


"Jadi bagaimana? Jadi kepantai?" Tanya Nick.


"Ok. Tapi sore. Jangan siang-siang." Kata Pavita.


"Baiklah..." Jawab Nick pasrah.


'Padahal aku lebih suka pergi kepantai saat siang. Tapi tidak apa-apalah. Yang penting dia mau.' Batin Nick.


"Kamu harus ikut kak!" Ajak Pavita semangat.


"Baiklah..." Kata Mark.


'Walaupun aku pasti hanya akan menjadi patung lagi.' Batin Mark.


"Oh iya, ngomong-ngomong, kapan kita akan pergi kepantai?" Tanya Pavita kepada Nick.


"Secepatnya. Nanti sore atau besok." Kata Nick.


"Nanti sore saja. Aku benar-benar sudah merindukan pantai." Sambung Nick semangat.


"Jangan, lebih baik seminggu atau 3 hari lagi." Kata Pavita sambil mengambil piring-piring dan gelas-gelas diatas meja lalu mencucinya.


"Ah, lama sekali." Kata Nick tidak setuju.


"Yasudah kalau tidak mau." Kata Pavita tak acuh.


"Baiklah baiklah..." Kata Nick pasrah.


Beberapa menit kemudian...


"Oh iya, liburan semester ini kalian tidak pulang kerumah?" Tanya Pavita setelah kembali dari dapur mencuci piring.


"Wah, memangnya kamu senang jika aku kembali ke New York?" Tanya Nick.


"Maksudku, memangnya kalian tidak merindukan orang tua kalian atau saudara kalian?" Tanya Pavita sambil menepuk jidatnya.


"Aku rindu sih, tapi..." Kata Nick.


"Aku sudah terlanjur nyaman di Indonesia. Jadi mungkin aku pulang saat lulus atau saat sudah benar-benar rindu." Kata Mark.


"Oh..." Jawab Pavita.


"Tapi kenapa kak?" Tanya Pavita kepada Nick.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu. Walaupun aku tidak tau kamu akan merindukanku atau tidak. Hahaha..." Kata Nick sambil tertawa kecut.


"Tentu saja aku akan sangat merindukanmu." Kata Pavita sambil tersenyum. Nick hanya tersipu malu.


"Oh iya, ngomong-ngomong soal pantai. Kurasa tidak buruk jika kita pergi nanti sore." Kata Pavita.

__ADS_1


"Horeee...! Baiklah, nanti aku akan menjemputmu." Kata Nick girang. Pavita hanya tersenyum sambil mengangguk.


Setelah beberapa menit, Mark pamit yang disusul oleh Nick. Lalu Pavita pun bersiap-siap untuk pergi ke pantai.


__ADS_2