I'M Not A Bad Girl!

I'M Not A Bad Girl!
Bullied


__ADS_3

Sabtu. Sudah seminggu Pavita sekolah. Dan kini ia sedang membaca buku yang ia pinjam di perpustakaan andalannya dikelas. Entah sudah berapa lama dia meminjamnya tapi dia masih belum selesai membacanya.


Tiba-tiba...


"Hey!" Bentak segerombolan gadis-gadis sadis yang sempat hampir mengejutkan Pavita.


"Hai..." Sapa Pavita ramah.


"Dasar anak kecil yang berlagak baik!" Bentak Marlin, penggemar berat Mark yang juga sekelas dengan Mark. Dia termasuk ketua geng pembasmi pecinta Mark yang mencoba menyainginya.


"Maaf ya kak, tapi aku tidak punya waktu untuk meladenimu." Jawab Pavita santai.


"Kurang ajar! Anak kecil sudah berani sama orang yang lebih tua!" Teriak Marlin sambil menjambak rambut Pavita dengan keras.


"Aaa~aduuuh..." Keluh Pavita kesakitan.


"MARLIN!!!" Teriak Mark menggelegar yang membuat seisi kelas Pavita yang masih sepi terdiam ketakutan. Termasuk Pavita yang merasa jantungnya hampir copot karena kaget sambil mengelus kepalanya yang masih perih setelah dijambak. Refleks, Marlin melepas rambut Pavita dari tangannya.


Tanpa sadar, Marlin meneteskan air mata karena ia baru pertama kali dibentak oleh laki-laki. Apalagi laki-laki tersebut adalah laki-laki yang sangat ia puja-puja.


'Eh, sejak kapan dia ada disini?' Batin Pavita heran dengan aksi heroik Mark yang menjadi pahlawan kesiangannya.


Dengan wajah merah padam, Mark menghampiri Marlin dan menatapnya tajam.


Melihat Mark dengan wajah seperti itu, Pavita langsung mendekati Mark untuk memastikan Mark tidak akan memukul atau berbuat yang tidak-tidak kepada Marlin.


"Sudahlah kak..." Bujuk Pavita.


"Tidak bisa dibiarkan, dia sudah menjambak rambutmu tanpa alasan!" Kata Mark tidak terima.


"Tenanglah kak..." Kata Pavita sambil mengelus lembut bahu Mark. Yang membuat Mark luluh dan redam emosinya.


Mark menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan selama tiga kali agar dia bisa mengontrol emosinya.


Marlin sudah berhenti terisak. Kini dia berlari keluar dari kelas Pavita setelah sebelumnya menatap tajam kearah Pavita.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Mark yang sekarang sudah tenang sambil memeluk Pavita dan mengelus-elus kepalanya lalu mencium keningnya.


'Eh, kenapa dia jadi mendadak hangat seperti ini?' Batin Pavita yang sempat terkejut saat Mark menciumnya.


"Yah, rasanya seperti ada beberapa helai rambut yang copot. Memang perih sih, tapi tidak apa-apa..." Jawab Pavita kemudian melepas pelukan Mark.


"Sungguh keterlaluan! Lihat saja nanti dikelas!" Kata Mark geram.


"Sudahlah kak. Semakin kamu membelaku, semakin mereka keterlaluan kepadaku. Jadi tolong kontrol emosimu. Apalagi kamu laki-laki. Perempuan bukanlah tandinganmu. Kamu tidak mau terlihat lemah dihadapan para laki-laki dan orang-orang yang kamu sayangi kan?" Kata Pavita menasihati.


'Benar juga. Aku laki-laki, aku tidak boleh kasar terhadap perempuan.' Batin Mark sambil memejamkan matanya.


"Baiklah. Terima kasih kamu sudah mengingatkanku Pavita... Aku pergi kekelasku." Kata Mark sambil tersenyum simpul kemudian keluar dari kelas Pavita.


Kringgg!


Bel istirahat pertama sudah berbunyi. Seperti biasa, Pavita pergi ke perpustakaan andalannya untuk membaca buku dan bertemu Nick tentunya.


Tiba-tiba...


Grep grep grep!


Suara langkah kaki yang sangat keras dan terdengar banyak membuat Pavita menoleh kebelakang.


"Pavita!!!" Teriak perempuan-perempuan yang hendak menyerang Pavita dari depan dan belakang.


Pavita pun berlari. Bukan karena dia takut, tapi yang menyerangnya banyak. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi ada 8 orang yang mendatanginya. 4 orang geng Marlina, 4 orang lagi dari sekolah sebelah. Yap, sekolah Nick. Belum lagi ada gadis-gadis dari sekolah lain yang baru datang dan langsung mengejar Pavita.


'Mimpi apa aku semalam?!' Batin Pavita yang terus berlari entah kemana tujuannya.


Tiba-tiba...


Bruk!


Pavita menabrak Mark entah darimana dia datang yang dengan sigap langsung Mark tangkap sebelum Pavita terjatuh. Seketika gadis-gadis yang mengejar Pavita langsung berhenti ditempat.


"Kak Mark? Kak Nick?" Kata Pavita terkejut.


"Ternyata mereka belum kapok!" Kata Mark geram.


"Aaargh! Bedebah-bedebah laknat!!!" Teriak Nick yang hendak menyerang sekumpulan gadis-gadis yang mengejar Pavita setelah sedari tadi menahan emosinya yang langsung dicegah oleh Mark dan Pavita.


Ya, ini kali pertama bagi Nick membentak gadis. Dan Gladys juga shock, karena seketus-ketusnya Nick saat menolak cinta Gladys dengan mentah-mentah, Nick belum pernah membentak dan memakinya seperti itu.


Nick dan Mark adalah laki-laki yang lembut. Jika tidak benar-benar keterlaluan yang memulainya, mereka tidak akan tega membentak. Apalagi dengan perempuan.


'Ternyata dia seram juga saat sedang marah.' Batin Pavita sambil mengelus dadanya pelan agar tidak ketahuan jika sebenarnya dia juga terkejut.


"Kak Nick!!! Sadarlah!" Teriak Pavita kemudian.


"Ka~kamu membentakku?" Tanya Nick setelah sebelumnya terdiam karena shock.


"Aku tidak membentakmu. Aku hanya menyadarkanmu. Jika dengan cara lembut kamu tidak mau dengar, maka dengan cara kasar aku menasihatimu." Kata Pavita yang terlihat seperti air mendidih.


Nick hanya terdiam. Dia langsung memegang bahu Pavita.


"Aku tidak suka mereka mengganggumu. Siapapun yang mengganggu orang yang kusayang, akan kuhabisi! Tidak peduli siapapun itu!" Kata Nick geram sambil memberi tatapan membunuh kearah gadis-gadis itu.


"Sekarang aku tanya kepadamu, kamu masih ingin mendengarkan kata-kataku atau menuruti egomu?" Tanya Pavita serius.


"Mmm~mendengarkanmu."


"Baiklah. Sekarang dengarkan aku. Semakin kamu membelaku, semakin mereka keterlaluan kepadaku. Jadi tolong kontrol emosimu. Apalagi kamu laki-laki. Perempuan bukanlah tandinganmu. Kamu tidak mau terlihat lemah dihadapan para laki-laki dan orang-orang yang kamu sayangi kan?" Kata Pavita menasihati sambil mengelus bahu Nick dengan lembut.


'Kata-katanya persis seperti saat tadi pagi dia menasihatiku. Apa itu cara Pavita mengontrol emosi laki-laki? Tapi berhasil memang.' Batin Mark yang sempat lupa dengan kata-kata Pavita dan ingin membantu Nick menyerang gadis-gadis itu.


'Ah, benar juga. Aku ini laki-laki! Tidak seharusnya aku berbuat kasar kepada perempuan walaupun perempuan-perempuan itu sangat menyebalkan dan memancingku untuk membunuhnya.' Batin Nick sambil menutup matanya dan menarik nafas lalu menghembuskannya.


"Baiklah." Jawab Nick lalu mengacak pelan rambut Pavita.


Gadis-gadis yang sedari tadi diam ditempat entah berapa lama kini mulai mendekati Pavita.


"Mereka datang lagi. Jika mereka berani menyakitimu, aku tidak segan-segan melakukannya!" Kata Nick.

__ADS_1


"Dan jika kamu melakukannya, aku tidak segan-segan memusuhimu!" Kata Pavita.


"Hey... Baiklah. Aku tidak akan melakukan apapun." Kata Nick pasrah.


"Pavita..." Panggil Gladys, ketua geng pembasmi penyaing pecinta Nick yang juga sekelas dengan Nick.


Pavita tidak menoleh dan tidak mau menjawabnya sama sekali. Pavita bersikap tak acuh.


"Maafkan kami semua. Kami tau kami salah. Aku dan Marlin sudah bersekongkol untuk mengeroyokmu." Sambung Gladys sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda minta maaf.


"Baiklah. Lain kali jangan diulang..." Kata Pavita menyalami uluran tangan Gladys lalu berpelukan.


"Pavita awas!" Teriak Nick sambil menarik tubub Pavita dari pelukan Gladys yang berniat menusuknya.


"What the...?! Bedebah-bedebah laknat!!! Kalian memang iblis terkejam!" Maki Nick yang tangannya merasa gatal ingin menampar satu per satu gadis laknat tersebut.


'Uh, untung saja kak Nick melihatnya. Jika tidak, aku pasti sudah mati.' Batin Pavita sambil memegang dadanya karena shock.


"Hyaaa!"


"Jangan kak!" Cegah Pavita saat Nick hendak meluncurkan telapak tangannya ke wajah Gladys.


"Aaaargh! Aku tidak tahan lagi! Kenapa kamu masih mau membelanya?!" Teriak Nick.


"Kamu membentakku?" Tanya Pavita tidak percaya.


"Bukan seperti itu." Kata Nick menyesal yang mencoba menjelaskan.


Tiba-tiba...


"Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada yang boleh mendapatkanmu Nick!" Teriak Gladys sambil mengacungkan pisaunya kearah punggung Nick.


"Awas kak!" Teriak Pavita sambil menarik Nick sambil terguling-guling bersama Pavita diatas rumput.


Mark yang tidak tahan melihat tingkah gadis asing itu pun langsung merebut pisaunya dan mengacungkannya ke arah gadis tak dikenal didepannya itu.


"Hey! A-apa yang akan kau lakukan?" Kata Gladys gugup.


"Aku tidak akan melayangkan pisau ini kepadamu jika kamu segera pergi dari sini!" Bentak Mark. Ya, ini pengalaman pertama Mark membentak perempuan dalam hidupnya seperti saat dia membentak Marlin tadi pagi.


"Pavita, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Nick yang khawatir karena tubuh mungil Pavita sempat tertimpa badan Nick yang besar saat berguling-guling tadi.


"Uh, badanku rasanya seperti akan remuk. Badanmu besar sekali!" Amuk Pavita sambil memukul kecil dada bidang Nick.


"Maafkan aku." Kata Nick sambil menyentuh kedua tangan Pavita lalu memeluk dan mencium kening Pavita.


"Tidak apa-apa." Jawab Pavita datar.


Lalu, segerombolan gadis-gadis itu sudah kembali kesekolah mereka masing-masing. Entah kenapa saat Mark yang membentaknya Gladys mau pergi.


"Kamu tidak marah kan soal..."


"Tidak."


"Hey aku belum selesai, kamu tidak marah kan saat aku meneriakimu tadi?" Tanya Nick. Pavita hanya diam.


"Bangunlah Pavita. Jam istirahat hampir selesai. Kita harus segera kembali kesekolah." Kata Mark sambil memegang bahu Pavita dan mengangkatnya.


"Tenang saja, ada aku. Tidak usah takut..." Kata Mark menenangkan.


"Aku hanya sedikit trauma." Jawab Pavita.


"Ya, beginilah kehidupan SMA. Keras. Apalagi di kota Metropolitan seperti ini." Kata Mark.


"Yasudah, ayo kita kembali." Sambung Mark.


"Kak Nick, aku kembali kesekolahku. Sampai jumpa di istirahat kedua..." Pamit Pavita yang masih terlihat sedikit canggung. Nick hanya mengangguk dan tersenyum agak kecut.


'Ternyata benar kata orang-orang, Jakarta itu memang kejam. Dan katanya Jogja berhati nyaman, tapi sekarang Jogja sudah tidak seramah dulu. Banyak klithih (geng motor) yang membawa senjata dimalam hari. Ah, memang lebih baik aku tinggal di Jogja saja. Asalkan aku tidak keluar malam hari. Tapi apa boleh buat jika aku sudah terlanjur tinggal di Jakarta? Aku juga sudah terlanjur nyaman disini.' Batin Pavita selama berjalan menuju kelasnya dengan dituntun Mark yang mengundang tatapan tidak suka dari orang-orang yang Pavita lewati.


"Tetap tenang Pavita." Kata Mark menenangkan Pavita. Pavita hanya mengangguk-angguk dan tetap menunduk.


Dikelas:


"Terima kasih sudah menemaniku kak." Kata Pavita yang masih pucat.


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai laki-laki untuk menjaga dan melindungi perempuan." Kata Mark sambil tersenyum.


'Apalagi dengan orang yang paling kusayang seperti dirimu.' Batin Mark dalam hati.


"Baiklah. Aku kembali. Jika ada apa-apa, jangan segan-segan untuk menelfonku atau mengirimiku pesan. Ok?" Sambung Mark.


"Baiklah..." Jawab Pavita. Lalu Mark pun pergi dan sesekali menengok kebelakang entah untuk memandang atau mengawasi Pavita.


"Pavita!" Panggil Mikha heboh. Membuat Pavita terkejut dan membuat Mark menoleh kebelakang lagi untuk memastikan itu bukan Thania.


"Apa?" Tanya Pavita kesal karena sudah dibuat terkejut.


Tapi Mark tidak cemas lagi saat mendapati Mikha yang sedang melongok keluar kelas melihat siapa yang Pavita tunggu diluar.


"Sedang menunggu siapa kamu? Oh... Mpft..." Mikha tersenyum sambil menutup bibirnya.


'Ah, Mikha. Kukira Thania ingin berulah lagi.' Batin Mark lega setelah melihat Mikha yang membicarakannya dibelakang.


"Kamu selalu heboh." Kata Pavita agak kesal.


"Hehehe... Katakan padaku, apa itu benar?" Tanya Mikha sambil memegang kedua bahu Pavita dan menggoyang-goyangkannya.


"Apanya?" Tanya Pavita pura-pura tidak tau sambil jalan menuju kursinya lalu duduk.


"Tentang Thania and the geng." Bisik Mikha.


"Ya, tadi ada banyak orang yang mengeroyokku entah kenapa." Kata Pavita.


"Sudahlah Pavita. Lupakan saja... Fokus ke belajarmu saja." Kata Mikha menenangkan.


"Ngomong-ngomong dimana kakak tersayangmu?" Tanya Pavita sambil menutup mulutnya menahan tawa.


"Ufff... Sudah kubilang dia bukan kakakku jika itu Thania! Dia sedang di ruang BK." Kata Mikha malas.

__ADS_1


"Bagaimana bu BK bisa tau?" Tanya Pavita terkejut.


"Seperti tidak tau Aldo saja..." Kata Mikha sambil memutar bola matanya.


Sontak Aldo pun menoleh kesumber suara ketika mendengar namanya disebut. Tapi Mikha tidak menghiraukannya.


Well, Pavita adalah ketua kelas, dan Aldo adalah wakilnya. Sebagai pembantu ketua, dia juga siap melaporkan ketidak beresan yang terjadi kepada guru-guru.


Pavita hanya bisa menatap kosong tidak percaya kepada Aldo.


Aldo pun salah tingkah dan menutupi wajahya dengan buku yang sedang ia baca sedari tadi. Pavita pun kembali menatap Mikha.


"Padahal aku sudah merahasiakannya." Kata Pavita kecewa.


"Jika aku jadi Aldo, aku tidak hanya melaporkan murid-murid disekolah ini, tapi murid dari sekolah lain yang ikut berpartisipasi merencanakan ini juga." Kata Mikha sambil tersenyum sinis. Pavita hanya memutar bola matanya.


Kringgg!


Bel istirahat kedua sudah berbunyi. Tapi Pavita tidak bisa istirahat sekarang. Karena sekarang dia yang dipanggil oleh bu BK untuk ke kantor.


"Wah, kamu akan kenyang oleh nasihat bu BK." Goda Mikha. Pavita hanya memutar bola matanya.


Diruang BK:


"Permisi bu... Apa benar anda memanggil saya kesini?" Tanya Pavita sopan dan ramah.


'Bodoh, tentu saja. Kenapa masih bertanya Pavita?' Batin Pavita memaki dirinya sendiri.


"Masuk." Jawab bu BK dari dalam.


"Duduk." Perintah bu Bk saat Pavita sudah masuk ruangan BK.


Pavita melihat kesekeliling ruangan yang dipenuhi piala-piala.


"Ehm, ehm. Pavita, apa benar kamu tadi dikeroyok gadis-gadis tidak dikenal di taman dekat perpustakaan sebelah?" Tanya bu BK meyakinkan.


"I-iya bu..." Jawab Pavita gugup karena wajah bu BK terlihat sangat galak.


"Apa permasalahannya?"


"Saya tidak tau bu. Berawal dari Thania yang selalu membully saya jika saya dekat dengan kak Mark, lalu yang lain ikut menyerang saya."


"Apa Thania pernah melakukan kekerasan denganmu?"


"Belum bu."


"Benarkah?"


"Iya bu. Hanya pernah menjambak rambut saya satu kali."


"Sama saja Pavita..." Kata bu BK sambil memutar bola matanya.


"Hehehe... Iya bu." Jawab Pavita setengah terkekeh karena malu.


'Berarti Thania tidak berbohong jika dia pernah menjambak Pavita.' Batin bu BK.


"Apa ada pertanyaan lagi bu?" Tanya Pavita sopan.


"Oh, tidak ada. Yasudah, kembalilah. Ibu tau kamu juga ingin makan siang kan? Jika Thania masih mengganggumu, lapor saja ya..." Kata bu BK.


'Biar kusimpan sendiri saja bu...' Batin Pavita.


"Ya bu, terima kasih. Saya permisi..." Kata Pavita.


"Oh, ya..." Jawab bu BK.


'Wah, cepat sekali.' Batin Pavita girang setelah keluar dari ruangan BK. Karena dia tidak menyangka bu BK hanya akan bertanya seperti itu.


***


"Pavita lama sekali. Kuharap dia baik-baik saja..." Kata Nick yang menunggu Pavita diperpustakaan.


"Apa aku susul saja?" Sambungnya dengan cemas lalu beranjak dari tempat duduknya.


***


"Hai kak Nick. Maaf jika menunggu lama." Kata Pavita kemudian memilih kursi.


"Tadi aku dipanggil bu BK." Sambungnya.


"Apa kamu dimarahi?" Tanya Nick kemudian duduk disebelah Pavita.


"Hahaha... Tidak. Hanya diinterogasi sebentar lalu aku disuruh kembali lagi." Jawab Pavita.


"Baiklah." Jawab Nick.


'Apa dia sudah tidak marah?' Batin Nick.


"Kamu sudah tidak marah kan?" Tanya Nick memberanikan diri. Pavita hanya terdiam.


"Hey, tadi kamu tertawa, sekarang marah lagi." Goda Nick.


"Terima kasih sudah mengingatkanku untuk kembali~"


"Marah padaku?"


"Mungkin."


"Ayolah, tadi itu hanya karena emosi saja Pavita." Bujuk Nick.


"Ah, yayaya... Sudahlah." Kata Pavita malas kenudian beranjak mencari buku untuk dibaca. Nick hanya diam, takut disalahkan lagi.


'Aku heran dengan apa yang ada dipikiran perempuan. Kadang bisa cepat marah, dan kadang bisa cepat tertawa. Yasudahlah, aku turuti saja dia. Daripada aku salah lagi.' Batin Nick pasrah yang masih tidak habis pikir.


Pavita kembali duduk saat sudah mendapatkan buku yang cocok lalu mulai membacanya. Merasa dari tadi diperhatikan oleh Nick, Pavita pun menyembunyikan wajahnya dibalik bukunya dan meletakkan dagunya diatas meja agar tidak terlihat oleh Nick. Nick hanya tersenyum melihat gadis keras kepala yang ada didepannya.


"Kenapa senyum-senyum? Kamu kira aku tidak mendengarnya?" Tanya Pavita sinis yang masih menyembunyikan wajahnya.


"Lucu melihatmu bersembunyi seperti itu." Jawab Nick jahil.

__ADS_1


"Aku tidak bersembunyi, aku hanya sedang lelah." Jawab Pavita yang sempat menampakkan wajahnya kemudian meletakkan dagunya diatas meja lagi. Nick hanya tertawa geli.


"Baiklah..." Kata Nick pasrah.


__ADS_2