
15:00.
Tok tok tok!
"Sebentar..." Kata Pavita yang sedang berjalan menuju pintunya.
"Hai Pavita, ayo kita ke pantai!" Seru Nick semangat.
"Ayo!" Seru Pavita tak kalah semangat.
Lalu, Pavita, Nick, dan Mark pergi ke pantai terdekat bersama.
Dipantai:
"Aku akan ganti baju." Kata Nick kepada Pavita kemudian pergi menuju kamar mandi.
"Kamu tidak sekalian ganti baju Pavita?" Tanya Mark.
"Memangnya mau pakai baju apa lagi?" Tanya Pavita bingung.
"Kukira kamu ingin memakai bikini seperti orang-orang disini." Kata Mark polos.
"Uh, menyebalkan!" Kata Pavita sambil memukul dada Mark.
"Hey, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi aku tidak tau jika itu memang baju yang akan kamu pakai." Kata Mark. Ya, Mark tidak bermaksud porno, dia benar-benar polos. Karena di negaranya, dia sudah biasa melihat pemandangan seperti itu.
"Hmmm... Sudahlah, lebih baik kamu cepat-cepat ganti baju." Kata Pavita malas.
"Baiklah. Aku tinggal sebentar ya..." Kata Mark ragu. Pavita hanya mengangguk-angguk.
Saat Mark hendak ke kamar mandi, dia berpapasan dengan Nick yang kembali hanya mengenakan kolor.
'Eh, ternyata kak Nick itu bertato...' Batin Pavita setelah Nick kembali dan menatap Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Kamu tidak memakai bikini Pavita?" Tanya Nick spontan tanpa basa-basi.
"Ufff..." Pavita melempar tas kecil yang ia bawa tepat ke wajah Nick.
"Hey, aku hanya bertanya. Kukira kamu akan memakainya seperti orang-orang disini." Kata Nick mengambil tas Pavita yang jatuh dan mengelus dahinya yang terkena lemparan tas Pavita.
"Hmmm..." Jawab Pavita malas.
"Yasudah, kita ke pinggir pantai saja yuk." Ajak Nick sambil merangkul Pavita dan mengembalikan tas Pavita.
'Tatonya banyak sekali...' Batin Pavita yang mencuri pandangannya ke arah tato-tato Nick di bagian dadanya, lengannya, dan entah dimana lagi.
"Kenapa? Terpesona? Atau kamu juga ingin ditato sepertiku?" Tanya Nick jahil.
"Cih! Tidak mau!" Kata Pavita malas. Nick hanya tertawa sambil mengacak rambut Pavita.
"Mau main voli?" Tawar Nick.
"Aku tidak bisa."
"Lempar curam?"
"Ah, tidak semuanya."
"Lalu apa?" Tanya Nick putus asa.
"Aku ingin becek-becekan saja." Kata Pavita kemudian berlari menuju pinggir pantai.
"Hey Pavita, disini rupanya. Aku mencarimu kemana-mana tadi..." Kata Mark sambil tertawa yang baru kembali setelah ganti baju. Ya, dia juga hanya memakai kolor seperti Nick.
'Good boy...' Batin Pavita sambil tersenyum kecil melihat badan Mark yang sama sekali tidak ada tatonya.
Mark yang merasa dadanya dilihat oleh Pavita pun menjadi salah tingkah.
"Kenapa?" Tanya Mark malu-malu.
"Tidak. Badanmu bagus." Goda Pavita sambil mengedipkan sebelah matanya.
'Ufff... Bilang saja jika badanku tidak bagus.' Batin Nick kesal.
"Sama seperti kak Nick." Sambung Pavita yang membuat Nick salah tingkah. Mark hanya memutar bola matanya.
"Kamu hanya bermain air saja Pavita?" Tanya Mark.
"Iya. Main apalagi memangnya? Tidak mungkin kan bermain api? Hahaha..." Kata Pavita.
"Hmmm... Maksudku, tidak mau bermain voli atau-"
"Dia tidak mau." Potong Nick.
"Dia lebih suka bermain air." Sambung Nick.
"Baiklah..." Kata Mark.
"Bagaimana jika kita saja yang bermain?" Usul Nick.
"Lalu Pavita jadi jurinya. Hehehe..." Sambung Nick sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Pavita yang sedang melotot kaget.
"Boleh juga..." Kata Mark setuju.
"Aku jadi penonton sekaligus penyemangat pasif saja deh." Kata Pavita.
"Ayolah..." Rengek Nick.
"Memangnya siapa yang akan kamu semangati?" Tanya Nick kemudian.
"Kalian berdua tentunya. Siapa lagi?" Kata Pavita sambil tertawa.
"Hmmm..." Jawab Nick malas.
'Seharusnya kan pilih salah satu. Kalau begini kurang semangat.' Batin Nick kesal.
"Yasudah, kita mulai bermain saja." Kata Nick.
"Ok." Kata Mark.
'Wao... Kemampuan kak Nick bagus juga. Apa karena dia tinggi? Mungkin kalau aku tinggi aku juga bisa bermain. Hihihi...' Batin Pavita.
'Dan kak Mark... Dia begitu antusias sampai dia tidak menyadari kalau yang dia tangkap adalah bola dari lapangan sebelah. Mpft...' Batin Pavita yang menahan tawa sambil menutup mulutnya.
"Ayo kak, semangat!" Kata Pavita kepada Nick. Nick pun tersenyum bangga karena kekasihnya menyemangatinya.
Setengah jam kemudian...
"Ayo kak Mark, sedikit lagi!" Teriak Pavita bersemangat. Mark pun terlihat lebih antusias daripada sebelumnya.
"4:5!" Teriak Mark bangga.
"Huft..." Keluh Nick.
"Selamat kak Mark..." Kata Pavita kemudian merangkul Mark.
"Terima kasih..." Kata Mark tersipu membalas rangkulan Pavita dengan merangkul pinggang kecil Pavita.
"Hey kak Nick, tidak apa-apa. Kamu tetap hebat bagiku." Kata Pavita yang kini sudah memegang bahu Nick.
"Hehehe..." Nick menggaruk kepala yang tidak gatal karena salah tingkah.
"Kalian sudah lelah ya? Tapi jangan pulang dulu... Biarkan aku melihat sunset terlebih dahulu." Kata Pavita.
"Aku memang lelah, tapi aku tidak akan pulang begitu saja Pavita." Kata Nick gemas kemudian mencubit pipi Pavita.
"Lagipula pergi ke pantai tanpa sunset itu mustahil. Karena sunset tidak boleh dilewatkan begitu saja." Kata Mark sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Yasudah, ayo kita melihat sunset sekarang!" Seru Pavita dengan semangat.
"Hahaha... Baiklah." Kata mereka berdua.
Mark, Pavita, dan Nick bersandar dipayung pantai yang beralaskan permadani sambil melihat sunset dan minum es kelapa muda yang Nick pesan.
"Aku ingin membakar seafood. Ah, lain kali aku akan membawa pemanggang." Kata Nick yang merangkul Pavita. Pavita hanya mengernyitkan alisnya.
"Hey, aku jadi ingat film Shrek." Kata Mark yang memeluk pinggul Pavita yang sebenarnya membuat Pavita sedikit geli tapi ia tahan.
"Oh aku tau, pasti karena dia akan menjadi beast lagi setelah matahari terbenam kan?" Terka Pavita dengan semangat.
"Iya." Kata Mark kemudian tertawa.
"Tapi aku jadi ingat ketika Shrek makan sate tikus. Iyuh..." Kata Pavita yang begidik sambil menjulurkan lidahnya. Nick dan Mark pun tertawa.
"Tapi saat Shrek yang memakannya terlihat enak." Kata Mark.
"Iyuh..." Kata Pavita jijik.
"Melihat Shrek makan tikus bakar seperti melihatnya sedang makan ayam panggang." Kata Nick sambil tertawa.
"Hey, sudahlah! Aku sedang minum." Kata Pavita sambil memasang wajah datar yang membuat Nick dan Mark malah semakin tertawa melihatnya.
__ADS_1
"Jam berapa ya sekarang..." Pavita mengambil ponselnya dan waktu menunjukkan pukul 16:45.
"Hah, masih lama berarti." Kata Pavita sambil menganga.
"Yasudah, lebih baik kita bermain air saja. Lagipula aku lihat kamu belum puas bermain air." Kata Mark.
"Peka sekali ya kamu." Kata Pavita kagum.
"Wah... Iya. Aku tidak peka." Kata Nick sambil tertawa kecut.
"Hey, kamu memang tidak peka." Kata Pavita malas.
"Hey!" Kata Nick tidak terima.
"Sudahlah, ayo kita becek-becekan." Kata Pavita dengan semangat sambil menarik tangan kanan Nick dan tangan kiri Mark.
"Hahaha... Baiklah, baiklah." Kata Mark pasrah.
"Dasar anak kecil." Kata Nick sambil tertawa.
"Waw... Ombaknya besar sekali! Yuhuuu..." Kata Pavita dengan gembira. Nick dan Mark hanya menatapnya dan menggelengkan kepalanya.
"Kyaaa..." Teriak Pavita sambil mencengkram tangan Nick dan Mark saat airnya mulai surut.
"Hey, kamu takut?" Tanya Nick tidak percaya dan merasa geli.
"Rasanya seperti terseret." Kata Pavita mengelus dadanya.
"Tenang saja Pavita, kamu tidak akan terseret begitu saja. Ini karena efek air yang kembali kepantai. Sehingga membuat pasir yang kamu injak tertarik pelan dan membuat kaki terasa sedikit terseret." Kata Mark sambil tertawa.
"Benarkah?" Tanya Pavita tidak percaya.
"Coba saja kamu buktikan sendiri." Kata Mark.
Pavita menunggu air pasang lagi. Setelah melihat air mulai pasang, Pavita berjongkok dan sengaja melihat kakinya.
"Hey, kamu benar!" Kata Pavita kagum setelah mengamati buliran pasir pantai yang bergerak karena terseret.
"Sudahlah, berhenti mengamati pasir pantai itu. Aku jadi cemburu pada pasir itu. Lebih baik pandangi aku saja." Goda Nick sambil mengangkat bahu Pavita untuk membangunkan Pavita yang sedari tadi berjongkok.
"Hahaha... Memangnya kamu mau menjadi pasir pantai?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Mungkin. Jika menjadi pasir pantai bisa membuatmu memandangiku terus, aku ingin menjadi pasir pantai saja." Kata Nick kemudian tertawa.
"Hmmm... Dasar keras kepala." Kata Pavita sambil tertawa.
Seperempat jam berlalu, mereka berdua hanya saling mencipratkan air pantai satu sama lain. Dan diantara pakaian ketiga orang itu, hanya Pavita lah yang basah kuyup. Bagaimana bisa? Ya, karena Pavita diserang oleh dua laki-laki. Ya, dua lawan satu. Hahaha...
"Hey, aku basah kuyup gara-gara kalian!" Kata Pavita kesal.
"Memangnya kamu tidak bawa baju ganti?" Tanya Mark khawatir.
"Aku bawa, tapi aku tak~maksudku malas ke kamar mandi." Kata Pavita.
"Malas atau takut?" Kata Nick sambil mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum sinis.
"Malas." Jawab Pavita membela dirinya.
"Lagipula kamu yang mulai menciprati kami. Tapi kamu juga yang kalah. Hahaha..." Ejek Nick.
"Ufff... Kalian cepat sekali membalasku. Aku belum sempat membalas kalian tadi!" Kata Pavita kesal.
"Hahaha... Gadis yang malang." Kata Nick sambil mengacak rambut Pavita. Pavita hanya memalingkan wajahnya.
"Nanti akan kutemani."
Krik krik... Krik krik...
"Maksudmu?" Tanya Pavita tidak mengerti.
"Kalau kamu tidak berani ke kamar mandi, nanti aku temani." Kata Mark.
"Oh, baiklah." Kata Pavita.
"Temani? Dimana?" Tanya Nick heboh.
"Hey, aku hanya akan menunggunya di depan pintu kamar mandi." Kata Mark sambil memutar bola matanya.
"Oh, terima kasih, tapi tidak usah repot-repot Mark. Aku yang akan menemaninya saja sebagai kekasih." Kata Nick dengan wajah sarkastik.
"Biar Pavita saja yang menentukan Nick." Kata Mark sinis.
"Ah, kalian berdua lebih baik mandi di sebelah kamar mandiku saja." Kata Pavita.
"Yap. Tapi jika kalian sudah selesai mandi, kalian berdua harus menungguku didepan pintu kamar mandiku. Jika kalian kabur, aku akan menjewer telinga kalian!" Kata Pavita sambil menyipitkan matanya.
"Baiklah baiklah..." Kata Nick dan Mark pasrah.
"Satu lagi, jangan coba-coba mengintipku ya!" Ancam pavita dengan tatapan tajamnya.
"Hey, tidak akan Pavita." Kata Nick sambil begidik ngeri.
"Tenang saja Pavita." Kata Mark tenang.
"Baiklah. Aku mandi duluan ya..." Pamit Pavita yang berlari menuju kamar mandi umum dan disusul oleh dua bodyguard-eh, dua lelaki berbeda status dibelakangnya.
Sekitar setengah jam kemudian...
Byurrr...
"Pavita, lama sekali kamu. Sudah setengah jam lebih kamu dikamar mandi. Kamu tidak pingsan kan?" Kata Nick malas yang setengah berteriak.
"Sebentar lagi. Aku sudah mau memakai pakaianku." Kata Pavita setengah berteriak.
"Dasar perempuan." Gumam Nick. Mark hanya bisa menatap Nick datar.
"Huaaa..." Nick berteriak karena dia hampir terjerembap kelantai kamar mandi.
"Kyaaa..." Teriak Pavita bersamaan dengan Nick karena terkejut dengan teriakan Nick. Mark yang sempat melotot kaget itu hanya bisa mengelus dadanya karena sebenarnya dia juga sangat terkejut.
"Hey, aku hampir saja jatuh." Kata Nick sambil mengelus dadanya.
"Kamu mengagetkanku saja. Makanya jangan menyandarkan kepalamu dipintu! Jangan-jangan kamu berniat mengintipku ya? Hah, kualat!" Maki Pavita.
"Hey, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengintipmu." Kata Nick begidik.
"Baiklah baiklah, ayo kita lanjutkan melihat sunset." Ajak Pavita.
"Uh, kamu tadi lama sekali. Apa yang kamu lakukan dikamar mandi sampai selama itu? Kamu tidak tidur kan?" Omel Nick.
"Oh, tadi aku tertidur. Hahaha..." Ledek Pavita.
"Aku heran kenapa perempuan selalu lama dalam hal apapun." Kata Nick sambil memijat dagunya.
"Hal apa misalnya?" Tanya Pavita tidak terima.
"Misalnya mandi, berdandan, makan, belanja, menerima cinta, move on, dan lain-lain." Kata Nick sambil tertawa.
"Hey, itu wajar. Tunggu~menerima cinta? Bukankah aku sudah menerima cintamu? Dan soal move on, aku sudah lama move on dengan mantanku. Mungkin kamu yang tidak bisa move on." Kata Pavita sinis.
'Menerima cinta ya...' Batin Mark sambil tersenyum kecut.
"Hey kak Mark~"
"Eeeh~" Kata Mark terkejut.
"Hey, kenapa diam terus dari tadi? Kamu tidak kerasukan kan di waktu surup begini?" Ledek Pavita.
"Aku hanya sedikit mengantuk." Kata Mark yang memang terlihat mengantuk.
"Hahaha... Dia memang pengantuk Pavita." Ledek Nick.
"Bagaimana kamu tau?" Tanya Pavita yang tanpa sadar mereka bertiga sudah sampai ditempat mereka duduk tadi untuk melihat sunset.
"Bagaimana aku tidak tau? Dia itu sahabatku dari SMP. Aku sangat mengenalnya." Kata Nick yang tersenyum jahil kepada Mark.
'Oh, ternyata mereka sudah saling kenal sejak lama...' Batin Pavita.
"Sudahlah Nick. Jangan membuka aibku." Kata Mark malas.
"Tapi kenapa kalian selalu terlihat bermusuhan?" Tanya Pavita sambil melipat tangannya didepan dadanya.
"Itu... Itu karena~ah biasalah. Soal cinta." Jawab Nick sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Oh, jadi mereka bermusuhan karena pernah merebutkan 1 perempuan?' Batin Pavita.
"Dan soal ketenaran tentunya. Hahaha..." Kata Mark.
"Maksudmu?" Tanya Pavita tidak mengerti.
"Yah, dulu di SMP dia jadi idola sekolah. Bukan hanya idola kelas, tapi idola sekolah! Bayangkan saja~"
__ADS_1
"Hey, kamu yang jadi idola sekolah."
"Kamu Nick..."
"Kamu Mark..."
"Sudahlah, aku tau pasti kalian berdua yang menjadi idola sekolah dengan kemampuan yang berbeda-beda mungkin...?" Kata Pavita.
"Ya, Nick anak basket terfavorit. Dan karena kami beda sekolah, dia menjadi saingan idola sekolah kita Pavita."
"Hey, Mark itu anak band terfavorit. Dan kita sempat bertengkar juga karena fans-fansnya yang provokator."
"Apa dulu kalian sekelompok?" Tanya Pavita.
"Ya, aku se-team dengan Nick."
"Dan aku juga se-band dengan Mark."
"Ah, berarti kalian berdua itu idola yang sangat sulit untuk dipilih karena sama-sama terfavorit." Kata Pavita. Nick dan Mark hanya menyeringai dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Oh iya, kalian mulai bermusuhan sejak kapan?" Tanya Pavita.
"Tentu saja sejak kamu masu~"
"Sejak berpisah." Sela Mark yang sempat melototi Nick.
"Oh, sejak kalian berdua beda sekolah ya..." Kata Pavita mengangguk mengerti.
"Iya." Jawab Nick.
"Dan selama 3 tahun, kalian baru baikan belum lama ini?! Ish ish ish..." Kata Pavita menggelengkan kepalanya.
"Hehehe..." Kekeh mereka berdua.
"Oh iya, ngomong-ngomong siapa sih gadis yang kalian perebutkan sampai bermusuhan seperti itu?" Tanya Pavita geli yang tidak habis pikir ada pertengkaran hanya karena 1 perempuan.
Glek! Nick dan Mark menelan salivanya bersama.
"Ah, itu rahasia." Kata Nick mencoba bersikap biasa saja.
"Rahasia? Kurasa gadis itu masih ada disekitar kalian atau sudah pergi dari hidup kalian belum lama ini." Kata Pavita sambil memijat dagunya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Mark sambil mengernyitkan alisnya.
"Karena kalian baikan belum lama. Ada dua kemungkinan. Pertama, bisa saja gadis yang kalian perebutkan itu sudah pergi dan tidak ada lagi yang harus diperebutkan. Kemungkinan kedua, karena kalian baikan belum lama, mungkin gadis itu masih ada di lingkungan kalian. Entah masih sering bertemu dengan kalian di tempat-tempat tertentu atau dimana aku tidak tau." Kata Pavita.
"Tapi Pavita, aku juga punya 2 teori.
Kami bisa saja baikan karena kami sadar bahwa kami bukan anak kecil lagi yang bermusuhan hanya karena 1 perempuan. Itu terlihat sangat konyol.
Jika perempuan itu masih ada, mungkin dia sudah menjadi milikku. Karena Nick sudah bersamamu kan?" Kata Mark.
'Hmmm... Masuk akal juga...' Batin Pavita sambil mengangguk-angguk.
'Harus kuakui, kamu memang pintar sekali mencari alasan!' Batin Nick yang kagum kepada Mark.
"Aku tau kak Nick sudah mempunyai kekasih, yaitu aku. Tapi tidak mungkin kan jika dia bisa melupakannya begitu saja?" Kata Pavita masih curiga.
'Keras kepala sekali dia...' Batin Mark geli sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau memang kamu yang bisa menggerakkan hatinya bagaimana?" Tanya Mark sinis.
"Iya. Semenjak bertemu denganmu, aku bisa melupakan masa laluku. Kamu berbeda. Tidak seperti perempuan lain yang selalu mengejar-ngejarku." Kata Nick setelah sedari tadi membungkam. Pipi Pavita pun memerah.
"Aku yang tidak mudah jatuh cinta bahkan tidak pernah tertarik dengan perempuan mana pun dan sering menolak banyak perempuan yang mendekatiku hingga aku pernah dianggap gay, kini aku bisa membuktikan bahwa aku masih normal. Karena kehadiranmu membuat hatiku yang sempat kosong terisi kembali." Kata Nick.
"Aku bersyukur bisa dipertemukan dengan dirimu. Jika tidak, mungkin aku akan menjadi perjaka tua. Atau lebih parah lagi, apa yang orang-orang katakan bisa saja benar. Hahaha..." Sambung Nick sambil tertawa. Pavita hanya tersipu malu.
'Huft...' Batin Mark lelah. Bukan lelah badannya. Tapi lelah hatinya.
"Hey, kamu terlihat murung kak Mark." Kata Pavita yang membuyarkan lamunan Mark.
"Pasti kamu sedang memikirkan gadis itu ya. Sabarlah, jika dia memang jodohmu, pasti dia akan kembali padamu." Kata Pavita sambil mengelus bahunya.
"Bantu do'akan aku." Kata Mark dengan wajah jahilnya.
"Ok. Semoga gadis yang selama ini kamu perebutkan dengan kak Nick jatuh kepelukanmu. Amin..."
"Amin..."
"Hey, apa-apaan?!" Kata Nick tidak terima.
"Hey, kamu belum bisa move on darinya ya?" Tanya Pavita sambil memegang pinggulnya.
"Bukan begitu..."
"Lalu apa salahnya jika aku mendo'akan kebaikan untuk kak Mark?" Tanya Pavita.
"Aku tidak mau kehilangan orang yang kusayang untuk kedua kalinya." Kata Nick. Pavita hanya mengernyitkan alisnya dan hendak bicara.
"Aku juga. Jadi semoga do'amu terkabul. Karena hanya dia yang bisa membuatku kembali jatuh cinta sebelum aku menjadi~ya... Kamu tau yang tadi Nick katakan kan?" Sela Mark sambil tersenyum kecut.
"Hey, itu tidak boleh terjadi dan tak akan terjadi! Jangan berkata seperti itu. Jika kalian sudah tidak tertarik dengan perempuan lagi, aku juga tidak tertarik dengan laki-laki lagi!" Kata Pavita emosi.
"Hey, jangan seperti itu Pavita..." Kata Mark dan Nick khawatir.
"Kalian harus berjanji padaku untuk tetap mencintai perempuan!" Kata Pavita sambil mengulurkan jari kelingking kanannya.
"Aku janji." Kata Nick sambil melengkungkan kelingkingnya ke kelingking Pavita.
"Aku berjanji." Kata Mark kemudian melengkungkan kelingkingnya ke kelingking Pavita setelah Nick.
"Bagus." Kata Pavita senang.
"Eeeh... Ngomong-ngomong tadi kamu bilang kamu tidak mau kehilangan orang yang kamu sayangi lagi ya?" Tanya Pavita kepada Nick.
"Iya. Memangnya kenapa?" Tanya Nick bingung.
"Memangnya kamu masih mencintainya ya? Sampai kamu tidak rela kalau kak Mark bisa bersamanya?" Tanya Pavita sedih.
"Jika kamu masih mencintainya, jangan cintai aku lagi. Aku tidak mau cintaku terbagi." Sambung Pavita sambil membuang mukanya.
"Bukan seperti itu Pavita, tapi... Ah, kamu tidak mengerti."
"Itu sebabnya, beritahu aku sekarang."
"Belum saatnya Pavita."
"Huft..."
'Jangan-jangan Britney? Ah, yang dia maksud itu Britney atau orang yang ia rebutkan dengan kak Mark sih? Jangan-jangan yang mereka perebutkan itu sebenarnya memang Britney?! Tapi apa kak Mark mengenalnya...?' Batin Pavita menerka-nerka.
"Hey, matahari sudah hampir tenggelam. Tak terasa..." Kata Mark mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya. Seharusnya tadi aku memotretnya." Kata Pavita kecewa.
"Hey, aku sudah memotretnya terlebih dahulu." Kata Mark sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Benarkah? Pantas saja dari tadi kamu hanya diam." Kata Pavita kagum.
"Bagaimana hasil jepretanku?" Tanya Mark sedikit bangga.
"Bagus sekali. Sepertinya kamu sudah pantas menjadi fotografer profesional." Puji Pavita. Mark hanya tertawa.
"Baiklah. Kapan kita akan pulang?" Tanya Pavita melihat jam sudah menunjukkan pukul 18:15.
"Sekarang saja." Kata Nick yang sedari tadi diam.
"Baiklah..." Kata Pavita.
'Memangnya kamu masih mencintainya ya? Sampai kamu tidak rela kalau kak Mark bisa bersamanya?'
'Jika kamu masih mencintainya, jangan cintai aku lagi. Aku tidak mau cintaku terbagi.'
'Apa-apaan dia? Dia tidak mengerti. Ya, memang salahku tidak mau mengatakannya.' Batin Nick yang masih terngiang-ngiang kata-kata Pavita.
'Bagaimana jika do'amu terkabul Pavita? Aku pasti akan sangat senang dan tidak akan bisa tidur.' Batin Mark yang kebetulan juga sedang terngiang-ngiang kata-kata Pavita.
'Tidak biasanya kak Nick diam terus seperti itu. Biasanya dia kan cerewet sekali. Jangan-jangan jiwanya tertukar dengan kak Mark?' Batin Pavita sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Kenapa?" Tanya Mark bingung melihat Pavita yang menutup mulutnya.
"Tidak apa-apa." Kata Pavita tersenyun sendiri.
"Hmmm..." Gumam Mark.
'Dasar perempuan.' Batin Mark.
__ADS_1
Lalu mereka bertiga pulang.