I'M Not A Bad Girl!

I'M Not A Bad Girl!
Malam Minggu


__ADS_3

Sampai di Pasar Malam:


"Kamu mau naik apa?" Tawar Mark.


"Terserah." Jawab Pavita.


"Selalu saja terserah." Kata Mark bosan. Pavita pun tertawa.


'Seperti kak Nick saja.' Batin Pavita geli.


Mark membeli permen kapas untuk Pavita dan mengajaknya naik kora-kora.


"Kamu tidak makan?" Tanya Pavita yang mencomot permen kapasnya dan memakannya.


"Aku tidak terlalu suka makanan yang terlalu manis." Jawab Mark.


"Oh, baiklah..." Kata Pavita.


Pavita agak takut saat menaiki bianglala, tapi tangan Mark yang memeganginya itu membuat Pavita merasa yakin dan berani.


"Lihatlah pemandangan dibawah." Kata Mark sambil melihat yang ada dibawah bianglala yang mereka naiki.


"Sangat indah kan?" Sambung Mark.


"Iya." Jawab Pavita mengangguk ceria.


"Lihatlah anak yang menangis itu!" Sambung Pavita sambil tertawa melihat anak kecil yang menangis tidak mau masuk rumah hantu.


"Sudah tau takut tetap saja dipaksa!" Lanjut Pavita tertawa tapi juga agak kesal melihatnya. Mark hanya tertawa melihat ekspresi Pavita.


"Kamu mau kerumah hantu?" Tanya Mark.


"Mau, tapi... Aku takut aku tidak bisa tidur nanti." Jawab Pavita agak ragu.


"Kamu kan bisa minum coklat panas nanti." Ledek Mark.


"Huft..." Pavita mendengus kesal dan agak malu dengan perkataannya tentang coklat panas konyolnya.


"Baiklah. Aku akan mengajakmu nanti." Kata Mark sambil tertawa.


"Tapi tidak menyeramkan kan?" Tanya Pavita meyakinkan.


"Tidak. Lebih menyeramkan kamu ketika marah. Seperti harimau lepas." Kata Mark sambil tertawa.


"Hey! Dasar Mr. Dimples menyebalkan!" Kata Pavita manyun.


"Waw... Kamu punya nama panggilan untukku!" Goda Mark percaya diri.


'Eh~lagi-lagi dia seperti kak Nick.' Batin Pavita agak kesal.


Mark hanya tertawa melihat wajah Pavita yang sedang manyun itu.


Setelah beberapa menit naik bianglala, mereka berdua pun bersiap-siap pergi kerumah hantu.


"Ayo masuk." Ajak Mark setelah sampai didepan pintu rumah hantu tersebut.


"Ok." Jawab Pavita sedikit ragu.


Mark dan Pavita memilih kursi kereta paling depan dan kereta pun mulai melaju.


"Hihihihihihihihihihi!"


Kekehan hantu sudah terdengar saat kereta yang Mark dan Pavita naiki sudah sampai tengah. Pavita pun mencengkram lengan Mark dengan erat sambil menutup matanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Mark. Mark hanya menahan tawa melihat gadis yang kepalanya ada dipelukannya.


"Hey, nanti kamu tidak bisa bernafas jika terus menyembunyikan wajahmu." Goda Mark.


"Hantunya sudah pergi." Sambung Mark.


Pavita mulai mengangkat kepalanya lagi dan membuka matanya.


"Kyaaa...!" Teriak Pavita saat melihat hantu yang tiba-tiba ada didepan kereta tersebut. Hantu tersebut memegang tangan Pavita. Refleks Pavita langsung menjauhkan wajah hantu tersebut dari pandangannya dengan mendorong kencang tubuh hantu tersebut. Mark hanya tertawa melihat Pavita jumpscare.


"Hey, jangan seperti itu. Kasihan dia." Goda Mark yang membela hantu tersebut.


"Refleks. Kamu membohongiku!" Kata Pavita tidak terima yang masih sedikit pucat dengan jumpscare tadi.


"Baiklah... Aku minta maaf." Kata Mark tertawa sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


Setelah keluar dari rumah hantu, Pavita hanya terdiam dan masih pucat.


"Hey, ada apa? Kamu tidak kerasukan kan?" Tanya Mark cemas. Pavita hanya menggelengkan kepalanya.


"Yasudah, kita akan naik roller coaster setelah ini." Bujuk Mark. Pavita hanya diam.


Lagi-lagi, mereka berdua yang mendapat kursi paling depan.


Awalnya pelan, lama-lama keretanya semakin kencang.


Dan...


"Kyaaa!!!" Pavita sangat takut dan kali ini dia benar-benar mencengkram kedua sisi jaket Mark untuk menyembunyikan wajahnya kedalam dadanya yang bidang yang dibalas dengan pelukan penuh lembut penuh kasih sayang Mark.


'Fyuh... Kukira tadi kamu kerasukan.' Batin Mark lega.


Setelah selesai naik roller coaster, Mark membeli es krim untuk Pavita dan mengajaknya naik kora-kora.


"Hey, kamu juga harus makan." Kata Pavita saat Mark mengulurkan es krim coklat untuknya karena Mark tau Pavita suka coklat.


"Baiklah. Aku akan membeli 1 lagi." Kata Mark pasrah sambil memesan 1 es krim coklat lagi.


Lalu, mereka naik kora-kora sambil makan es krim bersama. Terlihat wajah Mark yang sangat tersiksa saat makan es krim. Pavita yang menyadari itu hanya menahan tawanya.


Beberapa nenit kemudian...


"Kenapa? Takut lagi? Kapan kamu tidak takut?" Ejek Mark.


"Siapa yang takut? Aku hanya sedang mual!" Jawab Pavita kesal.


"Oh, maaf. Aku tidak tau..." Kata Mark menyesal.


"Hmmm..." Jawab Pavita datar.


"Setelah ini kita makan sup ya." Ajak Mark.


"Untuk menghangatkan perutmu dan meredakan mualmu." Sambung Mark.


"Tidak usah. Aku hanya butuh air mineral dan 1 sachet obat masuk angin." Jawab Pavita yang sebenarnya sedang tidak ingin bicara.


"Ok." Jawab Mark menuruti.


Setelah naik kora-kora, Mark membeli air mineral dan obat masuk angin untuk Pavita di toko terdekat.


"Terima kasih banyak kak." Kata Pavita setelah minum obat sambil memeluk Mark dengan erat.


"Ok." Jawab Mark merasa senang karena Pavita sudah sembuh dan juga karena dia baru pertama dipeluk Pavita (pelukan tulus, bukan saat ketakutan dirumah hantu tadi). Karena biasanya Mark yang memeluknya duluan.


"Mau pulang atau lanjut bermain?" Tawar Mark.


"Terserah." Jawab Pavita.


"Hmmm... Baiklah. Sudah jam 11. Jadi lebih baik kita pulang saja." Kata Mark yang agak bosan dengan kata terserah Pavita.


"Ok." Jawab Pavita.


Di parkiran:


"Kamu kedinginan? Pakai jaketku saja ya. Tidak boleh menolak!" Paksa Mark sambil melepas jaketnya dan memakaikannya ke Pavita.


"Apa boleh buat..." Jawab Pavita memutar bola matanya. Mark hanya tertawa.


Lalu, Mark menyalakan motornya dan bersiap-siap mengantar Pavita pulang.


Sampai rumah:


"Terima kasih banyak kak Mark." Kata Pavita dengan senyum lebar sambil melepas jaket Mark yang ia pakai dan mengembalikannya kepada Mark yang hanya Mark sampirkan diatas bahunya.


"Ok. And thanks for your time..." Kata Mark sambil mengecup kening Pavita.


"Ok." Jawab Pavita.


"Baiklah, aku pulang." Kata Mark sambil menyalakan motornya dan bersiap-siap pergi.


"Baiklah, hati-hati..." Kata Pavita sambil melambaikan tangannya dan Mark pun mengacungkan ibu jarinya.


Seperti biasa, Pavita selalu menunggu Mark pergi baru ia masuk seperti saat menunggu Nick pergi dan Mark selalu melihat Pavita dari spionnya sampai tidak terlihat lagi seperti yang Nick lakukan juga.


Dikamar:


Pavita terbayang-bayang saat hantu tadi mencengkram tangannya. Tetapi bayangan tersebut langsung hilang ketika mengingat-keromantisan Mark yang secara tidak sadar membuat Pavita tersenyum-senyum sendiri.


Tiba-tiba...


Ping!


From Kak Mark: Hey Pavita, kamu belum tidur?


"Ah, kak Mark!" Batin Pavita dengan pipi yang bersemu merah.


To Kak Mark: Hehehe... Belum. Kamu harus tanggung jawab karena sekarang aku tidak bisa tidur! (Emotikon merajuk)


From Kak Mark: Hahaha... Kamu memikirkanku ya? (Emotikon menahan tawa dengan menutupi mulutnya)


'Hahaha... Percaya diri sekali dia.' Batin Pavita geli walaupun sebenarnya Mark memang benar.


To Kak Mark: Aku terbayang-bayang yang tadi.

__ADS_1


From Kak Mark: Oh, saat kamu memelukku? (Masih dengan emotikon yang sama seperti tadi)


'Ufff... Kamu selalu membuat pipiku memerah!' Batin Pavita kesal.


To Kak Mark: Ufff... Dasar tidak peka! (Emotikon merajuk)


From Kak Mark: Hahaha... Baiklah baiklah. Karena hantu tadi kan? Yasudah. Aku minta maaf ya... (Masih menggunakan emotikon yang sama_-)


To Kak Mark: Hmmm...


From Kak Mark: Kenapa? (Emotikon bingung)


Sudah beberapa jam tapi Pavita tidak membalas. Ternyata dia baru sedang tidur dengan nyenyak setelah beberapa jam tidak bisa tidur.


00:00.


Mark mengirim pesan setelah jam 12 malam.


From Kak Mark: Aku tau kamu baru tidur. Jadi...


From Kak Mark: Good night.


From Kak Mark: Have a nice dream...


Kukuruyuk...


"Hoam..." Pavita baru bangun tidur. Seperti biasa, Pavita selalu mengecheck ponselnya untuk melihat barangkali ada pesan dari Mikha atau temannya yang lain.


"3.029 pesan dari 2 obrolan?!" Kata Pavita yang sempat lupa kalau tadi malam Nick memberinya pesan banyak sekali dan dia membuat ponselnya menjadi hening.


Pavita lebih memilih membuka pesan Mark terlebih dahulu.


From Kak Mark: Kenapa? (Emotikon bingung)


From Kak Mark: Aku tau kamu baru tidur. Jadi...


From Kak Mark: Good night.


From Kak Mark: Have a nice dream...


'4 pesan dari kak Mark? Oh, aku tidak tau kalau dia mengirimiku pesan lagi.' Batin Pavita agak merasa bersalah.


To Kak Mark: Tidak apa-apa.


To Kak Mark: Maaf. Tadi malam aku ketiduran.


To Kak Mark: Hehehe...


Beberapa detik kemudian...


To Kak Mark: Kamu tidak marah kan? (Emotikon tertawa lebar dengan sebulir keringat diatas kepala)


Kemudian, Pavita pun membuka pesan Nick yang isinya sama semua. Tetapi, pesan terbawah / terakhir dari 3.025 pesan Nick membuat Pavita sempat membelalakkan matanya.


From Kak Nick: Kamu marah dan menyesali hubungan kita ya?


Glek! Pavita menelan salivanya.


'Bagaimana dia tau?! Apa dia datang ke penyihir menebak perasaanku?!...' Pikirnya


buruk kepada Nick.


To Kak Nick: Berhentilah mengirimiku pesan! Atau aku akan memblokirmu!!!


Pavita pun langsung memblokirnya sebelum Nick sempat membacanya yang mungkin masih tidur karena lembur menunggu balasan dari Pavita.


***


Nick sudah terbangun dari tidurnya.


"Satu pesan dari Pavita?" Katanya yang melihat notifikasi dari Pavita dengan perasaan campur aduk. Dia deg-degan apa isi pesan itu. Apa Pavita berubah pikiran, atau malah marah kepadanya.


Dia pun langsung membuka pesan Pavita.


From My Unicorn♥: Berhentilah mengirimiku pesan! Atau aku akan memblokirmu!!!


Seketika, jantung Nick serasa tidak berdetak. Namun dia masih tidak menyerah. Dia mengiriminya pesan.


To My Unicorn♥: Baiklah. Aku berjanji tidak akan mengganggumu dengan pesanku yang banyak seperti tadi malam. Tapi aku masih ingin berhubungan denganmu, jadi jangan blokir aku. Please...


Pesan gagal terkirim!


"Apa?!... Dia sudah memblokirku duluan?!" Kata Nick panik.


"Baiklah. Aku akan mendatanginya saja." Sambung Nick mantap.


***


From Kak Mark: Tidak kok. Kenapa harus marah? (Emotikon tertawa)


To Kak Mark: Hehehe...


Lalu, Pavita tidak menghiraukan ponselnya lagi dan meninggalkannya diatas kasur lalu mulai melakukan aktifitas kesehariannya seperti mandi, sarapan, dan bersih-bersih.


Tiba-tiba...


Tin tin! Dengan malas Pavita keluar untuk melihat siapa yang pagi-pagi berkunjung kerumahnya di hari Minggu yang seharusnya menjadi waktu hibernasi Pavita untuk melepas lelah selama seminggu sekolah.


Ngek! Pavita membuka pintu.


Glek!


'Kak Nick!' Batinnya sambil menelan ludahnya. Dia langsung menutup pintunya kembali tetapi tangan Nick sudah lebih dulu menahan pintunya.


"Hey, menolak tamu itu tidak sopan..." Kata Nick yang mencoba menggoda Pavita dan berharap ia akan luluh.


"Kamu bukan tamuku. Jadi aku berhak menolakmu masuk kerumahku." Kata Pavita ketus sambil mencoba menutup secara paksa pintu yang ditahan oleh Nick.


"Ya, memang. Aku bukan tamumu, tapi aku kekasihmu..." Kata Nick menggoda.


'Kekasih?!' Batin Pavita.


"Hah, kamu bisa menganggapku kekasih dalam 1 hari. Bahkan kurang dari 1 hari. Yap, hanya tadi malam saja kamu bisa menganggapku kekasihmu. Sekarang? No way!" Kata Pavita panjang lebar sebelum Nick merebut pembicaraannya.


"Hey..." Kata Nick tidak percaya dengan tatapan sangat sedih.


"Tadi malam itu aku tidak sengaja..." Lanjut Nick dengan sangat-sangat sedih yang terlihat dari tatapan penuh harapnya itu.


"Tidak sengaja?! Pura-pura membersihkan lipstikku kamu bilang tidak sengaja?!..." Tanya Pavita yang mulai naik darah.


"Tolong maafkan aku Pavita..." Kata Nick memohon sambil memegang kedua tangan Pavita.


"Dan jangan blokir aku. Tolong buka blokirannya..." Sambung Nick.


"Ok. Aku akan membuka blokirannya. Tetapi jangan harap aku bisa memaafkanmu." Kata Pavita ketus sambil melepaskan tangan Nick dari tangannya.


"Hey..." Kata Nick melas.


"Kamu bisa memilih. Kamu mau aku maafkan atau aku buka blokir. Pilih saja..." Kata Pavita santai.


"Itu bukan pilihan. Baiklah, aku pilih dua-duanya." Kata Nick.


"Hey, itu juga bukan pilihan! Baiklah... Tidak keduanya kan? Yasudah." Kata Pavita sambil menutup pintu dan kembali masuk ke rumahnya.


"Hey, jangan seperti itu." Kata Nick yang tidak Pavita hiraukan.


"Baiklah. Aku akan datang kesekolahmu besok!" Kata Nick yakin yang masih ada didepan pintu rumah Pavita kemudian pulang kerumahnya.


***


"Pavita sedang apa ya..." Tanya Mark kepada dirinya sendiri sambil merenung duduk didekat jendela.


"Aku akan menyusulnya saja." Sambung Mark mantap lalu bersiap-siap ke garasi.


***


09:45.


Tin tin! Motor Mark sudah terpakir di depan rumah Pavita. Pavita pun bergegas keluar.


"Eh kak Mark. Masuklah..." Sambut Pavita ramah.


"Apa aku mengganggu waktu liburmu?" Tanya Mark merasa tidak enak.


"Sama sekali tidak. Justru aku sedang bosan saat ini. Hahaha... Yasudah, ayo masuk." Jawab Pavita santai dengan ramah.


"Terima kasih..." Kata Mark ramah.


"Ok." Jawab Pavita. Pavita pun bergegas kedapur dan mengambil teh yang sudah ia buat daritadi pagi yang masih hangat dan memberikannya kepada Mark.


"Diminum dulu kak." Kata Pavita mempersilakan setelah kembali dari dapurnya.


"Terima kasih..." Kata Mark merasa tidak enak.


"Ya..." Jawab Pavita sopan.


"Oh iya, aku datang kesini ingin mengajakmu ke pameran yang tak jauh dari sini. Disana ada banyak bazar. Tentunya kamu akan senang melihat bazar buku disana." Kata Mark membuka pembicaraan setelah sempat menyeruput teh hangatnya.


"Maaf, aku tau ini dadakan." Sambung Mark merasa tidak enak.


"Wah... Aku suka pameran. Tentu saja aku mau." Kata Pavita girang.


"Tidak apa-apa kok." Sambung Pavita.


"Baiklah. Dan sepertinya kulihat kamu juga sudah rapi." Kata Mark mengamati penampilan Pavita.

__ADS_1


"Iya. Jadi kita bisa berangkat sekarang. Tapi habiskan dulu tehmu. Hahaha..." Kata Pavita.


"Baiklah." Jawab Mark. Lalu Mark langsung menghabiskan tehnya dengan sekali minum.


"Ayo, kita berangkat. Aku akan menunggumu kalau kamu mau membawa sesuatu." Kata Mark.


"Baiklah. Aku akan membawa tas." Kata Pavita yang langsung berlari kearah kamarnya dan kembali lagi setelah beberapa menit.


"Yuk kita berangkat." Kata Pavita.


Lalu, Mark menyalakan motornya dan mulai berangkat ke pameran.


Dipameran:


"Ayo..." Ajak Mark setelah memarkirkan motornya. Pavita yang sedari tadi melihat kesekeliling area pun sedikit terkejut.


"Yuk..." Jawab Pavita. Mereka berdua pun jalan bersama mengelilingi tempat pameran tersebut.


"Hey, lihat lukisan itu." Kata Mark sambil menunjuk ke bazar yang tak jauh dari mereka berdiri.


"Wah... Lukisan abstrak!" Kata Pavita kagum.


"Yuk kita kesana." Ajak Mark yang kemudian diangguk-angguki Pavita.


"Selamat datang... Silakan masuk." Sambut gadis manis ramah yang kira-kira berumur seperti Pavita yang menjaga bazar tersebut.


"Terima kasih..." Jawab Mark dan Pavita.


"Kebanyakan disini lukisannya abstrak. Kalau kalian mau beli, pilih saja..." Kata gadis tadi.


"Oh, ya..." Jawab Mark.


"Hey, yang ini bagus." Kata Pavita kagum sambil menunjuki salah satu lukisan abstrak yang ada disitu.


"Kamu mau?" Tanya Mark.


"Tidak sih. Hehehe..." Jawab Pavita.


"Tidak apa-apa. Jika kamu memang mau, aku akan membelikannya untukmu." Kata Mark.


"Hey, aku hanya kagum. Hahaha..." Kata Pavita meyakinkan.


"Lagi pula lukisan sebagus ini mungkin tidak akan awet jika sudah berada ditanganku. Hahaha..." Sambung Pavita.


"Baiklah. Kita ketempat lain saja." Ajak Mark.


"Maaf mbak, kami permisi ya..." Pamit Mark merasa tidak enak.


"Oh, ya... Tidak apa-apa kok." Jawab gadis tersebut sopan.


"Tes tes tes... 1,2,3. Ayo... Beli dream catchernya. Murah meriah..." Suara bapak-bapak menggunakan mickrofon dari salah satu pemilik bazar yang mempromosikan produknya. Pavita dan Mark pun menoleh.


"Yuk kita kesana." Ajak Mark.


"Ok." Jawab Pavita.


"Dream Catchernya berapaan pak?" Tanya Mark kepada pemilik bazar tersebut.


"Murah-murah ini. Harganya mulai Rp.10.000-Rp.250.000-an." Jawab bapak-bapak paruh baya tersebut.


"Mau yang mana Pavita?" Tanya Mark.


"Tidak usah kak." Jawab Pavita merasa tidak enak.


"Ayolah..." Kata Mark memaksa.


"Baiklah, yang ini berapa?" Tanya Mark menunjuk ke dream catcher besar berwarna pink.



"Oh, itu Rp.105.000 mas..." Jawab bapak tersebut.


"Itu handmade." Sambung bapak tersebut.


"Kamu mau?" Tanya Mark.


"Terlalu mahal. Tidak usah." Jawab Pavita.


"Yang ini?" Tanya Mark kepada bapak-bapak tersebut sambil menunjukkan dream catcher yang sangat indah.



"Ini Rp. 232.000." Jawabnya.



"Atau mau yang itu?" Tawar bapak tersebut.


"Itu Dream Catcher Spiral + bulu benang. Harganya Rp.250.000 mbak..." Sambung bapak tersebut kepada Pavita.


"Yang mana yang mau kamu pilih?" Tanya Mark.


"Yasudah, yang itu saja." Jawab Pavita terpaksa karena Mark memaksanya sambil menunjuk ke dream catcher berwarna pink yang agak jauh dari tempatnya berdiri.



"Oh, itu Pink Diamond Painting Dream Catcher. Yang itu hanya Rp.80.000 saja." Sahut bapak-bapak tersebut.


"Baiklah. Yang ini kan?" Tanya Mark memastikan.


"Yap." Jawab Pavita yakin walaupun sebenarnya ia sedikit ragu.


"Baiklah. Yang ini saja pak." Kata Mark.


"Terima kasih..." Jawab bapak-bapak tersebut.


Lalu, Mark dan Pavita berjalan-jalan dan Mark yang tidak sengaja melihat bazar makanan pun langsung mendatangi bazar tersebut.


"Selamat datang... Kami punya jus segar, salad buah, dan makanan-makanan sehat disini. Silakan dipilih..." Sambut pemilik bazar ramah dengan percaya diri.


"Oh, ya..." Jawab Mark. Mark pun membeli 2 botol jus mangga, 2 cup salad buah, dan 1 es krim rasa coklat. Mark langsung membayarnya.


"Ini untukmu." Kata Mark sambil mengulurkan 1 botol jus mangga, salad buah, dan es krim kepada Pavita.


"Terima kasih..." Jawab Pavita. Lalu, mereka berdua pun makan salad buah dan minum jus mangga dan kembali mengelilingi bazar. Pavita sebenarnya malu jalan sambil makan es krim. Tapi apa boleh buat, daripada mencair, lebih baik langsung dimakan.


Setelah beberapa menit mengelilingi bazar, Mark berhenti di bazar buku.


"Yuk kita lihat-lihat buku..." Ajak Mark.


"Ayo..." Jawab Pavita.


"Buku mana yang paling bagus ya..." Kata Mark sambil mengelus-elus dagunya.


"Sepertinya yang ini bagus." Kata Pavita menyarankan novel yang bersampul suasana malam.


"Once Again?!" Kata Mark sambil mengernyitkan alisnya.


"Coba lihat deskripsinya..." Sambung Mark yang mengambil buku yang telah Pavita ulurkan.


"Ketika cinta tidak membuatmu jera..." Mark membaca tulisan yang ada di sampul buku dibawah judul sambil mengernyitkan alisnya.


"Ketika kamu belum pernah merasakan jatuh cinta, dan ada seseorang dalam hidupmu datang yang membuatmu bisa jatuh cinta lagi. Ya, itulah yang dialami Pingkan.


Akankah orang tersebut benar-benar bisa membuat Pingkan jatuh cinta lagi?


Baca sampai selesai!" Lanjut Mark yang membaca sampul belakang novel tersebut yang berisi deskripsi cerita.


"Sepertinya memang bagus." Sambung Mark mengangguk-angguk menyetujui saran buku yang Pavita pilih.


"Yasudah. Aku akan beli ink saja. Kamu juga mau? Pilih saja buku mana yang mau kamu pilih..." Tawar Mark.


"Boleh?" Tanya Pavita girang meyakinkan Mark.


"Yap." Jawab Mark mantap.


"Baiklah. Aku ingin buku itu juga." Jawab Pavita.


"Apalagi? Komik mau tidak?" Tawar Mark lagi.


"Sudah, itu saja kak." Jawab Pavita.


"Baiklah." Jawab Mark lalu membayar kedua buku tersebut kemudian mengulurkan 1 bukunya kepada Pavita.


"Terima kasih..." Kata Pavita.


"Ok." Jawab Mark.


"Masih mau lanjut atau pulang saja?" Tanya Mark.


"Pulang saja. Aku sudah mengantuk. Hehehe..." Jawab Pavita.


"Hahaha... Baiklah." Jawab Mark. Lalu, mereka berdua pun pulang.


Sampai rumah:


"Terima kasih kak Mark. Aku sangat senang..." Kata Pavita setelah turun dari motor Mark dengan wajah berseri-seri dan agak mengantuk.


"Ok. Terima kasih juga sudah meluangkan waktumu." Jawab Mark.


"Ok." Jawab Pavita.


"Aku pulang ya. Dah..." Kata Mark pamit.


"Dah... Hati-hati." Jawab Pavita.

__ADS_1


"Ok." Jawab Mark. Mark pun bergegas pulang. Lalu Pavita masuk kerumahnya setelah Mark sudah tak terlihat lagi dan mulai tidur siang.


__ADS_2