
Pavita sedang tersenyum-senyum sendiri di kamarnya terbayang-bayang dengan tatapan Mark dan senyuman Nick tentunya. Tanpa sadar, sesimpul senyum pun terukir diwajahnya.
'Kak Mark sangat pemalu.' Batin Pavita yang masih mengingat bagaimana Mark menatapnya malu-malu.
'Tidak seperti kak Nick yang percaya diri mendekatiku.' Sambung Pavita dalam hati yang mendadak membuat pipinya menjadi merah.
'Tetapi mengapa kak Mark selalu menatapku seperti itu? Kenapa dia tidak pernah bicara padaku selama seminggu aku disekolah, hanya memandangku dan tersenyum malu sampai membuatku salah tingkah. Tetapi kenapa dengan orang lain dia tidak malu? Hmmm... Aku tidak tau apa yang ia pikirkan.' Pikir Pavita.
Tiba-tiba...
Ping!
'Pesan dari kak Mark? Jangan-jangan dia tau kalau aku sedang memikirkannya?! Hahaha...' Batin Pavita bercanda.
From Kak Mark: Hai Pavita, nanti malam kamu mau aku ajak jalan-jalan? Maaf, aku tau ini dadakan. Sebenarnya saat disekolah tadi aku ingin mengatakannya, tapi kamu sudah pulang. Dan karena sekarang aku ingat, jadi aku beritahu saja sekarang.
"Hah?! Dadakan sekali!" Kata Pavita kaget.
To Kak Mark: Jam berapa ya kak?
From Kak Mark: Jam 8.
'Cepat sekali dia membalas pesanku...' Batin Pavita.
To Kak Mark: Baiklah, aku mau.
From Kak Mark: Ok, tunggu aku.
To Kak Mark: Okay...
"Sudah jam 5 nih... Aku harus cepat-cepat dandan." Kata Pavita sambil memilih baju yang paling bagus yang ada dilemarinya.
3 jam kemudian...
Tin tin!
'Sepertinya kak Mark...' Pikir Pavita.
Pavita membuka pintu dan ternyata benar.
Mark hanya tersipu malu, tidak berani berbicara. Hanya senyuman manisnya yang ia perlihatkan kepada Pavita. Pavita yang sebenarnya lebih malu pun angkat bicara.
'Kak Mark benar-benar pemalu, bisa-bisa aku membeku kalau pergi dengannya berlama-lama. Bagaimana dia menjadi ketua Osis jika sangat pemalu seperti itu? Tidak seperti kak Nick yang percaya diri, sampai aku tidak sempat bernafas karena terlalu sering diajak mengobrol yang tak henti-henti itu. Hahaha...' Batin Pavita geli.
"Sudah siap?" Tanya Mark yang tidak usah dijelaskan lagi. Ya, seperti biasa, selalu tersenyum malu ketika sedang berbicara dengan Pavita.
"Sudah." Kata Pavita.
Mark mulai menyalakan motor CBR 150R berwarna merah dengan corak putihnya untuk membawa Pavita pergi.
"Pegangan yang erat ya..." Kata Mark malu-malu.
"Ok." Jawab Pavita.
'Apa dia akan kebut-kebutan?' Batin Pavita.
Mereka pun pergi ke restoran Italia dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Buonasera... Mau pesan apa?" Tanya pelayan restoran.
"2 porsi lasagna dan cappuccino." Jawab Mark. Kemudian, Mark membisiki pelayannya sesuatu sambil menatap jahil Pavita sebelum pelayan tersebut pergi.

"Hayo... Ada yang kamu sembunyikan dariku ya?" Tuduh Pavita curiga yang terkesan percaya diri sambil menuding Mark yang mencoba menahan senyumnya.
"Tidak." Kata Mark yang akhirnya tertawa. Pavita hanya menatapnya curiga.
Beberapa menit kemudian...
"Ini pesanannya tuan dan... nona..." Kata pelayan restoran tersebut yang sempat ragu ingin memanggil Pavita dengan sebutan adik atau nona yang akhirnya dipanggil nona.
Mereka berdua pun makan bersama-sama.
Mark yang sangat pemalu itu tiba-tiba tidak lapar karena dia sangat nervous berhadapan dengan Pavita. Pavita sebenarnya juga tidak nafsu makan karena gugup dan malu berhadapan dengan orang yang sama-sama pemalu.
Tetapi Mark memaksakan tangannya untuk memasukkan makanan kemulutnya agar Pavita juga mulai makan.
Tidak ada obrolan apapun selama mereka makan. Pavita yang biasanya selalu membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana pun tidak juga berbicara.
Akhirnya, setelah sekitar 15 menit. Mark membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana setelah 15 menit mengumpulkan nyawa dan nafas agar tetap teratur saat berbicara.
"Emmm... Bagaimana pengalamanmu selama belajar di sekolah?" Tanya Mark basa-basi walaupun sebenarnya dia sangat malu untuk mengajaknya bicara duluan.
"Sangat menyenangkan. Aku sudah punya sahabat baru yang sangat asyik bernama Mikha. Dia benar-benar sahabat yang seru dan baik hati." Kata Pavita mulai percaya diri setelah 15 menit menahan malu.
"Oh... Yang duduk disebelahmu itu ya? Yang pernah makan siang bersama kita saat hari pertama sekolah itu kan?" Tanya Mark sambil mengingat-ingat.
"Iya. Yang warna rambutnya sama sepertimu, coklat pekat." Kata Pavita sambil tersenyum.
"Oh..." Jawab Mark malu-malu.
Setelah selesai makan, pelayan restoran datang dan memberi Pavita es krim gelato. Pavita bingung tapi tetap menerimanya.
"Gelato spesial untuk gadis yang spesial..." Kata pelayan tersebut ramah dan senyum penuh arti sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Mark yang langsung ditepiskan tatapan tajam Mark.
Pavita tidak sempat mengucapkan terima kasih karena pelayan tersebut sudah kabur terlebih dahulu.
"Oh, jadi ini yang kamu sembunyikan dariku tadi..." Kata Pavita puas karena sudah tau.
"Kau menyukainya?" Tanya Mark senang.
"Yeah..." Jawab Pavita sambil terus menjilat es krimnya.
Setelah itu, Mark dan Pavita segera pergi kesebuah taman bunga yang ada danaunya.
Di perjalanan, Pavita mengernyitkan alisnya saat mengetahui bahwa jalannya tidak sesuai dengan arah jalan kerumahnya.
"Aku hampir lupa untuk mengajakmu jalan-jalan." Kata Mark yang tau apa isi pikiran Pavita terlebih karena melihat ekspresi kebingungan Pavita dari spionnya.
'Benar juga ya. Kita tadi kan baru makan malam.' Kata Pavita dalam hati.
"Jadi tenang saja, ini tidak akan lama." Sambung Mark meyakinkan Pavita agar tidak berfikir macam-macam.
"Baiklah..." Jawab Pavita.
Sampai ditaman:
Mereka berdua hanya duduk-duduk di kursi taman. Tiba-tiba Pavita berdiri yang membuat Mark sempat terkejut dan tentunya ikut berdiri.
"Lihatlah, ada bintang jatuh!" Kata Pavita girang.
"Make a wish..." Kata Mark sambil menggenggam tangannya yang terlihat seperti sedang berdo'a.
Pavita yang sempat bingung pun ikut berdo'a.
"Ya, aku tau. Bintang tidak akan mengabulkan do'a. Tetapi aku percaya bahwa bintang bisa menjaga do'a kita." Kata Mark tiba-tiba yang mengerti pikiran Pavita saat Mark berdo'a tadi.
Pavita yang sudah menyelesaikan do'anya pun merespon.
"Memangnya apa do'amu?" Tanya Pavita ingin tau.
"Kamu tidak perlu tau." Katanya sambil tersenyum jahil dan penuh teka-teki.
"Hmmm... Baiklah." Kata Pavita dengan nada malas.
"Dan apa do'amu?" Tanya Mark.
"Kamu tidak perlu tau..." Balas Pavita sambil tersenyum dengan posisi tangan yang menutup mulutnya menahan tawa.
"Hahaha... Baiklah." Jawab Mark.
Setelah itu, Mark tiduran diatas rumput.
"Kenapa kamu tidur disitu? Kan ada kursi..." Tanya Pavita heran.
"Tidak apa-apa. Aku sedang ingin melihat bintang-bintang sambil tiduran. Karena, terkadang aku lelah, jika duduk, aku harus mengangkat kepalaku hanya untuk melihat bintang." Kata Mark.
'Lebih baik mengangkat kepalaku untuk menatapmu.' Batin Mark.
"Oh..." Jawab Pavita sambil duduk disebelah Mark yang sedang tiduran dirumput.
"Kemarilah..." Perintah Mark kepada Pavita untuk tiduran bersamanya dengan sebelah tangannya yang sengaja ditelentangkan untuk bantalan tidur Pavita.
"Tidak usah." Kata Pavita merasa tidak enak.
"Cepatlah..." Paksa Mark.
"Hmmm... Baiklah." Kata Pavita pasrah lalu tidur berbantalkan lengan Mark.
"Pavita, kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?" Tanya Mark sambil memakaikan mahkota dari akar ke kepala Pavita.
__ADS_1
"Eh, apa ini?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Hanya mahkota akar biasa yang tidak ada apa-apanya." Jawab Mark sambil tersenyum simpul.
"Oh... Aku ingin menjadi dokter, perawat, atau guru bahasa Inggris." Jawab Pavita yang tersenyum karena membayangkan betapa bahagainya jika cita-citanya itu terwujud.
"Lalu apa cita-citamu?" Tanya Pavita.
"Aku ingin membuat film musikal seperti Grease dan menjadi boyband sungguhan." Jawabnya penuh percaya diri. Walaupun Pavita tidak tau Grease band apa dan darimana, tapi Pavita hanya bisa mengangguk-angguk lanyaknya orang paham.
"Semoga impian kita berdua terwujud. Amin..."
"Amin..."
Setelah melihat bintang, Mark mengambil sepasang dayung dan mulai menaiki perahu yang sudah dia pilih.
"Naiklah..." Kata Mark sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Pavita naik ke perahu.
'Wah... Perahunya~romantis sekali!' Batin Pavita kagum melihat lampu-lampu yang ada didalam perahu.
'Tapi... Kenapa harus perahu? Aku tidak mau tercebur lagi!' Batin Pavita takut mengingat dia pernah tenggelam saat berenang bersama keluarganya.
Mark yang melihat ekspresi wajah Pavita yang memucat mengerti dan berkata lagi.
"Tidak usah takut. Ada aku disini..." Kata Mark meyakinkan sambil mengulurkan sebuah lampu kepada Pavita.
"Memangnya kamu yakin bisa mengendarai perahu?" Tanya Pavita ragu setelah menerima uluran lampunya.
'Wah, dia meragukanku ya...' Batin Mark geli.
"Percayalah..." Kata Mark meyakinkan dengan tangan masih terulur yang baru Pavita sentuh.
Dengan sedikit takut, Pavita naik ke perahu dan Pavita langsung mencengkram tangan Mark yang belum Pavita lepaskan karena sedikit goncangan saat Pavita menaikinya.
Pavita duduk didepan, dan Mark duduk dibelakangnya sambil mendayung perahunya.
"Kamu mau coba mendayung?" Tawar Mark.
"Mau, tapi takut." Kata Pavita malu mengakui ketakutannya mendayung perahu.
"Cobalah..." Rayu Mark.
'Ufff... Dia ini menawarkan atau memaksa sih sebenarnya?' Batin Pavita agak kesal.
Pavita mulai mendayung, tetapi Pavita tidak bisa melawan ketakutan yang ada didalam hatinya dan pikirannya. Dia langsung memberi dayungnya kepada Mark.
"Hahaha... Kenapa?" Tanya Mark.
"Berat sekali ternyata." Kata Pavita beralasan.
"Baiklah..." Kata Mark yang sedari tadi memperhatikan punggung kecil yang sedikit lebar gadis didepannya itu yang sedang menggantungkan lampunya diatas air, tidak mau melihat kedepan.
"Jam pasir..." Kata Mark pelan secara tidak sadar yang masih terdengar oleh Pavita. Pavita pun menoleh kebelakang.
"Jam pasir?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Yap." Kata Mark sambil tersenyum sambil memakaikan kembali makhkota yang Pavita lepas.
'Kamu adalah jam pasirku.' Sambung Mark didalam hati.
"Maksudmu?" Tanya Pavita bingung sambil melepas mahkota akar yang ada dikepalanya.
"Hmmm... Lupakan." Kata Mark yang masih tersenyum sambil memakaikan kembali mahkota yang memang sengaja Pavita lepas.
"Hey, aku memang ingin melepasnya." Kata Pavita datar.
"Tapi aku ingin kamu tetap memakainya." Kata Mark santai.
"Hey, rasanya aku seperti anak kecil." Kata Pavita datar.
"Tidak. Kamu malah terlihat anggun Pavita..." Elak Mark.
"Hmmm..." Gumam Pavita sambil memutar bola matanya.
Lalu Pavita kembali ke posisi sebelumnya, yaitu duduk agak serong dan melihat air. Sebenarnya Pavita ingin sekali bertukar tempat dengan Mark karena dia sedikit risih jika berlama-lama berdekatan dengan laki-laki.
Dan sebenarnya Mark juga mengerti gerak-gerik Pavita. Tetapi dia tetap ingin duduk dibelakang Pavita.
Seperti biasa, Mark yang mengalah angkat bicara untuk memecah keheningan.
"Lihatlah bunga lily itu." Kata Mark sambil menunjukkan bunga lily air yang ada didepan perahunya. Pavita pun menoleh kedepan dengan posisi duduk yang masih agak serong.
"Cantik dan indah sepertimu." Sambung Mark sebelum Pavita bertanya kenapa.
"Hmmm..." Jawab Pavita sambil melihat ke arah air lagi yang tidak tau harus berkata apa karena salah tingkah.
'Tanpa sadar, kak Mark sudah tidak sedingin dan sepemalu pertama. Ternyata dia sangat romantis.' Batin Pavita sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Thania? Apa dia masih mengganggumu?" Tanya sekedar Mark basa-basi padahal sebenarnya memang peduli.
"Dia masih suka menatapku tajam dan menyindirku kadang-kadang. Tapi dia sudah tidak pernah kasar lagi." Jawab Pavita.
"Oh, aku tidak habis pikir dengan Thania. Hahaha..." Kata Mark sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, memang begitu. Sekeras kepalanya aku, aku tidak sekeras kepala dia." Kata Pavita sambil tersenyum sinis mengingat sifat Thania yang sangat menyebalkan.
"Ya, begitulah perempuan. Hahaha..." Kata Mark. Pavita hanya tertawa lalu menoleh kebelakang.
"Begitu apanya?"
"Tidak apa-apa."
"Hmmm..."
"Emmm..."
"Apa?"
"Apa... Besok kita bisa pergi lagi?"
'Wah wah wah... Dia tidak pernah puas bermain ya?' Batin Pavita geli kemudian kembali melihat air.
"Emmm... Kita lihat saja besok." Jawab Pavita.
"Ok." Kata Mark.
"Emmm... Kamu tinggal sendirian di kos-kosan?" Tanya Mark setelah beberapa menit diam.
"Iya." Jawab Pavita.
"Oh, berani sekali kamu untuk ukuran 13 tahun sepertimu. Hahaha..." Kata Mark sambil mengacak-acak rambut atas Pavita.
"Yah, untuk ukuran anak kecil kan?" Kata Pavita sambil memutar bola matanya. Mark hanya tertawa.
"Emmm..."
"Kenapa?" Tanya Mark.
"Tidak jadi."
"Yakin?"
"Iya."
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan." Kata Mark.
"Emmm... Tidak apa-apa kok." Jawab Pavita.
"Ayolah..."
"Baiklah. Emmm... Sebenarnya kenapa ya walaupun mereka sudah dimarahi bu BK tapi tetap saja mereka menatapku tajam? Memangnya apa salahku jika aku dekat denganmu?" Kata Pavita tidak habis pikir.
"(Siapa?) Oh, pasti geng yang memusuhimu itu ya? Aku juga tidak tau. Sebenarnya mereka sudah lama mengincarku sejak lama. Kecuali Thania, dia baru mengenalku tapi sudah posesif seperti itu." Jawab Mark geli. Pavita hanya tertawa.
"Memangnya kenapa?" Tanya Mark.
"Aku hanya heran. Apa sebaiknya kita tidak usah berdekatan saja ya..." Kata Pavita.
"Hey, tidak ada yang berhak melarangku dekat dengan siapapun, dan tidak ada yang berhak melarangmu dekat dengan siapapun kecuali... Pacarmu." Kata Mark tegas.
"Ya, itu benar." Kata Pavita menghargai walaupun sebenarnya dia sudah tau teori itu.
'Tapi apa dia sudah punya pacar?' Batin Mark yang ragu ingin bertanya.
'Apa kak Mark sudah punya pacar? Ah Pavita, memangnya mengapa jika dia belum punya? Lagi pula jika dia punya, itu tidak berpengaruh kan?' Batin Pavita yang sedikit munafik.
Tiba-tiba Mark memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Pavita pun terkejut dan memegang tangan Mark yang melingkari lehernya dan perutnya.
"Itu sebabnya, jangan meninggalkanku begitu saja hanya karena terpengaruh oleh mereka." Kata Mark lembut yang membuat Pavita sedikit merinding karena desiran angin dari bibir Mark.
Dug dug dug dug dug!
__ADS_1
'Uh, jantungku berdegub kencang sekali. Apa dia mendengarnya?' Batin Pavita ragu.
"Tidak akan." Kata Pavita sambil tersenyum tak berhenti yang masih berdebar-debar.
"Hey, kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Tanya Mark heran yang belum melepaskan rangkulannya.
"Ka-kamu... Membuatku geli!" Kata Pavita yang tidak bisa menahan tawanya.
"Padahal aku tidak menggelitikimu." Kata Mark yang malah semakin mempererat pelukannya dan menidurkan kepalanya di atas bahu kiri Pavita dan menghirup aroma Marine yang tercium dileher Pavita yang membuat Pavita semakin geli.
"Hey, berhentilah mengendus-endus leherku! Kamu malah membuatku semakin geli." Kata Pavita kesal karena dagu Mark yang membuat bahunya geli dan endusan Mark tentunya. Mark pun tertawa.
"Baiklah baiklah... Sepertinya tadi aku mendengar sesuatu yang berdebar didadamu kalau aku tidak salah dengar." Kata Mark jahil lalu melepaskan pelukannya. Pipi Pavita pun memerah.
"Sepertinya kamu salah dengar." Kata Pavita masih menahan malu.
"Oh, kamu benar. Tapi getarannya tidak berbohong." Kata Mark.
"Getaran apa?" Tanya Pavita malu.
"Saat tadi aku merangkulmu aku merasa ada degupan dari dadamu." Kata Mark jahil.
"Sudahlah, jangan menggodaku!" Kata Pavita kesal.
"Hahaha... Baiklah baiklah." Kata Mark yang senang sekali bisa mengerjai gadis kecil yang ada didepannya itu.
Tak terasa sudah jam setengah 10. Mark cepat-cepat mengantar Pavita pulang kerumahnya.
Sampai rumah:
"Terima kasih. Aku sangat senang..." Kata Pavita tersenyum dengan Mark.
"Aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah mau meluangkan waktumu hanya untuk pergi bersamaku." Kata Mark.
"Hey, tidak apa-apa... Aku sangat senang." Kata Pavita tulus.
"Emmm..." Mark ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Kenapa?" Tanya Pavita.
"Good night! Have a nice dream..." Kata Mark lembut didekat telinga Pavita kemudian mengecup kening Pavita.
Pavita sempat terdiam karena terkejut, tapi langsung ia tutupi.
"Eh... Tidak sekalian mampir?" Tanya Pavita.
"Tidak, terima kasih." Kata Mark ramah yang pergi menuju motornya.
"Hey..." Panggil Pavita. Seketika, Mark menghentikan langkahnya.
"Ya?" Jawab Mark.
"Hati-hati and... Good night too!" Kata Pavita malu-malu.
"Baiklah..." Kata Mark tersenyum yang mulai pergi tapi kembali lagi.
"Pavita, apa besok kita bisa pergi bersama lagi?" Tanya Mark ragu.
'Fyuh... Akhirnya terucap juga.' Batin Mark yang sedari tadi ingin mengatakan itu.
"Hmmm... Tentu saja." Kata Pavita yang sempat menimbang-nimbang.
"Baiklah. Kita akan berangkat jam 6 ya..." Kata Mark.
"Baiklah." Jawab Pavita.
"Yasudah, aku pulang dulu..." Pamit Mark.
"Hati-hati..." Kata Pavita.
Pavita masih diluar sampai tubuh, motor, dan suara motor Mark sudah benar-benar menghilang. Lalu Pavita masuk dan mulai tidur.
Dikamar:
"Ah, aku tidak bisa tidur." Kata Pavita yang mencoba memejamkan matanya.
'Apa karena kak Mark tadi ya?' Batin Pavita sambil mengingat-ingat kejadian saat Mark memeluknya dari belakang dan mengendus-endusnya.
'Ah, kamu terlalu terbawa perasaan Pavita.' Batin Pavita kesal dengan dirinya sendiri.
"Apa sebaiknya aku minum coklat panas saja ya?" Sambung Pavita.
Pavita pun pergi kedapur membuat coklat panas.
Ping!
From Kak Nick: Wah... Puas ya hari ini?
Glek!
'Jangan-jangan dia menguntitku?!' Batin Pavita.
To Kak Nick: Yap. Hari kedua sekolah sangat seru.
(Pavita mencoba mengalihkan pembicaraan)
From Kak Nick: Oh, kukira makan malamnya yang seru. (Emotikon sarkastik)
Pavita tertawa geli.
To Kak Nick: Hah, peduli sekali. (Emotikon sarkastik)
***
'Ufff... Bisa-bisanya!' Batin Nick agak kesal campur geli.
To Pavita: Jelas saja. Aku memang peduli padamu. Tapi kamu tidak peduli denganku. (Emotikon tak acuh)
From Pavita: Tidak peduli bagaimana? (Emotikon bingung)
To Pavita: Hmmm... (Emotikon memutar bola mata) Lupakan. (Emotikon wajah datar)
From Pavita: Baiklah. (Emotikon memutar bola mata) Hahaha... (3 Emotikon tertawa)
***
'Ada-ada saja...' Batin Pavita geli sambil menikmati coklat panasnya.
From Kak Nick: Oh iya, apa besok kamu sibuk?
To Kak Nick: Sepertinya iya. Kenapa?
From Kak Nick: Sudah kuduga... (Emotikon wajah datar)
To Kak Nick: Kenapa? (Emotikon mengernyitkan alis)
From Kak Nick: Tidak apa-apa.
To Kak Nick: Hmmm...
From Kak Nick: Jadi, kapan kamu tidak sibuk?
'Oh iya, kak Mark kan akan mengajakku pergi lagi besok. Untung saja aku menjawab lihat saja besok. Jadi aku bisa menolaknya dan pergi dengan kak Nick.' Batin Pavita. Ya, dia memang suka keadilan.
To Kak Nick: Mungkin Minggu depan... (Emotikon perempuan yang mengangkat kedua bahunya)
From Kak Nick: Baiklah. Aku akan mengajakmu pergi.
To Kak Nick: Ok.
Pavita langsung menghabiskan coklat panasnya dan mencuci gelasnya. Lalu ia pergi kekamar untuk tidur.
'Jam setengah 11! Biasanya aku bisa tidur sehabis minum coklat panas. Tetapi mengapa aku masih belum bisa tidur sekarang?' Batin Pavita yang sedari tadi menatap temboknya dan kini menatap jamnya.
From Kak Mark: Hey Pavita, kamu belum tidur?
'Eh, kak Mark!' Batinnya girang.
To Kak Mark: Aku belum bisa tidur... (Emotikon sebelah mulut yang turun kebawah)
From Kak Mark: Kenapa? Pasti karena aku memulangkanmu terlalu malam ya... (Emotikon tersenyum lebar dengan sebulir keringat di atas kepala)
To Kak Mark: Tidak. Mungkin memang mataku sedang tidak lelah seperti biasanya.
From Kak Mark: Oh, baiklah. Cepat-cepat tidur.
To Kak Mark: Ok. (Emotikon mengaitkan ibu jari dengan jari telunjuk) Oh iya, besok sepertinya aku tidak bisa pergi denganmu karena lupa jika aku sudah ada janji dengan kak Nick. (Emotikon tersenyum lebar dengan sebulir keringat di atas kepala) Maaf...
From Kak Mark: Oh, tidak apa-apa. (Emotikon tersenyum lebar dengan sebulir keringat di atas kepala)
To Kak Mark: Ok. (Emotikon tersenyum lebar dengan sebulir keringat di atas kepala)
__ADS_1
Pavita pun mematikan ponselnya agar tidak terlihat sedang online. Akhirnya, Pavita pun tertidur setelah beberapa lama melamun.