
'Tak terasa sudah 2 minggu aku sekolah disini...' Batin Pavita didalam kelas.
"Tumben, hampir jam setengah 7 belum ada yang datang." Gumam Pavita sambil melihat jam dikelasnya yang terlihat sudah jam 06:20.
Seperti biasa, Pavita selalu memperhatikan setiap hal kecil disekitarnya. Salah satunya memperhatikan orang-orang yang melewati kelasnya.
"Oh, anak-anak IPA 1 kelas 12."Gumam Pavita sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang melewati kelasnya.
'Dan... Ah, orang itu.' Batin Pavita malas setelah memperhatikan satu per satu orang-orang yang melewati kelasnya.
Yap, orang itu adalah Mark. Dia memandang kelas Pavita mencari Pavita dan akhirnya ketemu. Pavita pura-pura tidak melihat.
Tap tap! Suara langkah kaki yang datang ke kelas Pavita.
'Kenapa harus ada dia sih?!' Batin Pavita yang melihat Mark dari sudut matanya.
Pavita berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Mark langsung menahannya dengan memegang lengan Pavita. Pavita mencoba melepaskan, tetapi tidak bisa karena kekuatan tangan Mark lebih besar daripada tangan mungil Pavita yang mencoba melepaskan genggaman Mark.
"Pavita, dengarkan aku." Kata Mark.
"Maaf, aku sibuk." Kata Pavita datar.
"Beri aku 1 kesempatan untuk menjelaskan." Kata Mark.
Pavita yang sedari tadi tidak mau menatap mata Mark sekarang mulai menatap matanya dengan tajam.
"Aku tau kamu tidak sengaja, tetapi beri aku waktu juga untuk menyendiri." Balas Pavita singkat sambil melepaskan tangan Mark dan meninggalkan kelas.
Semenjak itu, Mark mulai menjauhinya untuk memberinya kesempatan untuk menyendiri. Mark hanya bisa memandangnya dari kejauhan seperti saat pertama kali bertemu dengan Pavita.
Hari berganti hari. Akhirnya, setelah 3 hari berdiam-diaman, Mark yang sudah tidak tahan berjauh-jauhan dengan Pavita memberanikan diri untuk menemui Pavita saat istirahat pertama ditempat andalan Pavita, yaitu perpustakaan dekat taman.
Sampai diperpustakaan:
"Tidak ada disini." Gumam Mark sambil mengernyitkan alisnya.
"Dimana ya dia?" Sambung Mark.
'Oh, mungkin sedang bersama Nick!' Pikir Mark.
Dia mencoba mencarinya ditempat andalan Nick. Dan benar saja, baru mencari di satu tempat dia sudah menemukannya.
'Fyuh... Untung saja aku tidak perlu mencari ketempat andalan Nick lainnya.' Batin Mark lega yang sebenarnya juga selalu teriris-iris melihat Pavita berduaan dengan Nick.
"Oh iya, bagaimana jika besok Sabtu kita makan malam?" Tanya Nick.
"Terserah." Jawab Pavita.
"Ah, kamu selalu bilang terserah." Kata Nick sambil cemberut. Pavita hanya tertawa.
"Baiklah. Besok Sabtu kita akan pergi jam 8 malam ya..." Kata Nick.
"Oke..." Jawab Pavita.
Kringgg!
Bel istirahat kedua sudah berbunyi. Seperti biasa, Pavita pergi keperpustakaan.
Grep grep grep! Suara langkah kaki yang terdengar sedang berlari.
"Pavita!" Panggil Mark yang terlihat kehabisan nafas dan sebelum Pavita menoleh.
"Ya?" Jawab Pavita menoleh.
"Aku cuma ingin tau-apa waktu yang sudah kuberikan sudah cukup atau belum." Kata Mark yang sempat kehabisan nafas.
"Sudah." Kata Pavita tersenyum.
"Sebenarnya sudah cukup dalam sehari." Sambung Pavita sambil meringis malu.
"Jadi..." Kata Mark dengan wajah tidak percaya mengapa Pavita tidak bilang padanya dan senang melihat Pavita kembali tersenyum padanya.
"Ya. Tentang 1 kesempatan padamu untuk menjelaskan itu..." Kata Pavita sebelum Mark mengatakannya terlebih dahulu.
"Sepertinya sudah tidak perlu." Sambung Pavita.
"Karena semuanya sudah jelas. Aku memang keras kepala. Maafkan aku..." Lanjut Pavita menyesal.
"Pavita..." Kata Mark dengan mulut menganga tidak percaya bahwa Pavita benar-benar sudah tidak marah lagi.
"Terima kasih..." Lanjut Mark yang langsung memeluk Pavita dengan erat yang membuat Pavita sempat terkejut.
"Aku berjanji aku tidak akan mengulanginya lagi..." Sambung Mark yang masih memeluk Pavita sambil memejamkan matanya.
"Baiklah... Aku pegang janjimu." Jawab Pavita sambil mengelus punggung Mark lalu melepaskan pelukannya.
"Apa kamu mau ke perpustakaan?" Tanya Pavita basa-basi yang sedikit canggung karena masih terbayang saat Mark menciumnya dan juga karena setelah 3 hari sempat tidak berbicara dengan Mark.
"Tentu saja." Jawab Mark dengan senyuman lebarnya.
Mereka berdua jalan bergandengan tangan menuju perpustakaan. Pavita sedikit merasa tidak enak karena banyak orang yang menatapnya sinis, tetapi Mark tidak peduli dengan tatapan sinis dari orang-orang yang melihat mereka bergandengan dan tetap tidak mau melepaskan tangan Pavita dari tangannya.
Diperpustakaan:
"Buku mana ya yang paling bagus? Kisah cinta yang berakhir begitu saja atau cerita horror?" Tanya Pavita pada dirinya sendiri.
"Tentang Cinta yang berakhir tanpa alasan saja." Kata Mark dengan sinis.
"Hey... Kamu membuatku kaget saja. Baiklah... Aku akan membacanya. Karena aku juga penasaran mengapa bisa berakhir begitu saja tanpa alasan yang pasti. Karena, cerita horror itu memang seru, tapi aku takut kalau nanti terbawa mimpi, apalagi aku tinggal sendirian dikos-kosan. Nanti aku tidak bisa tidur. Hehehe..." Jawab Pavita.
"Hahaha... Benar juga." Jawab Mark.
'Terutama tentang Cinta yang berakhir tanpa alasan tadi...' Batin Mark sedikit sinis entah mengapa.
"Kamu baca buku apa kak?" Tanya Pavita.
"Tentang cinta pertama dan terakhir." Jawabnya.
"Oh, sepertinya seru." Kata Pavita yang sedang sibuk dengan novelnya.
"Sebenarnya lebih seru bukumu itu Pavita..." Kata Mark.
Pavita menghentikan bacaannya sebentar dan mengernyitkan alisnya.
"Iya, seru. Karena menantang. Membuat pembacanya selalu penasaran." Jawab Mark santai sebelum Pavita sempat berfikir apa maksudnya.
"Hmmm..." Gumam Pavita yang mulai fokus ke novelnya.
"Heyyy...!" Sapa Nick kepada Pavita yang menggelegar membuat Pavita dan Mark sempat kaget. Terutama Pavita.
"Kak Nick! Mengagetkan saja. Ayo gabung bersama kami." Ajak Pavita.
"Hehehe... Maaf..." Kata Nick.
"Hey, kamu suka membaca novel cinta ya? Hahaha..." Ledek Nick kepada Pavita.
"Memangnya kenapa?" Tanya Pavita dengan wajah datar.
"Tidak tidak... Hehehe..." Jawab Nick sambil nyengir kuda.
"Emmm..."
"Kenapa?"
"Tidak jadi." Kata Nick.
"Hmmm..." Jawab Pavita.
"Aku duduk disebelahmu ya..." Kata Nick.
"Baiklah..." Jawab Pavita.

Selama diperpustakaan, Mark dan Nick hanya saling melempari pandangan mengejek dan tatapan tajam satu sama lain.
Kringgg!
"Ah, sudah masuk! Aku pergi dulu ya..." Pamit Pavita kepada Nick.
"Hati-hati, jangan terburu-buru..." Kata Nick.
"Hey, jangan terburu-buru. Masih ada aku kan?" Kata Mark.
"Baiklah..." Jawab Pavita kepada kedua lelaki tersebut.
Kring kring kring!
Bel pulang sekolah sudah berbunyi.
'Mana ya kak Nick? Biasanya selalu datang tepat waktu.' Pikir Pavita.
1 jam kemudian:
__ADS_1
'Hmmm... Kak Nick lama sekali sih.' Batinnya agak cemas.
'Sudah jam 4. Semoga saja tidak terjadi sesuatu padanya. Amin...' Lanjut Pavita cemas.
"Hey, masih disini? Mau pulang denganku?" Ajak Mark yang menghentikan motornya didepan Pavita yang sempat membuat Pavita sedikit kaget dari lamunannya.
"Emmm..." Kata Pavita yang sedang menimbang-nimbang.
'Bagaimana ya... Tadi kata kak Nick sih dia akan menjemputku. Tapi sudah 1 jam dia tidak datang-datang. Tetapi daripada aku menunggu sampai petang, lebih baik aku ikut kak Mark saja deh...' Batin Pavita.
"Bagaimana?" Tanya Mark yang menunggu jawaban Pavita terlalu lama itu.
"Baiklah." Jawab Pavita malu karena terlalu lama berpikir.
Diperjalanan:
"Kenapa kamu belum pulang selama 1 jam tadi?" Tanya Mark.
"Iya. Tadi kak Nick bilang dia mau menjemputku, tetapi sudah 1 jam dia belum datang-datang. Tadi aku sempat ingin pulang naik bus, tapi aku takut. Beruntung ada kak Mark..." Jawab Pavita.
"Oh... Keterlaluan." Kata Mark geram.
"Hmmm?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
'Jangan-jangan aku yang keterlaluan karena dia kira aku menganggapnya sebagai supirku ketika kak Nick tidak bisa menjemputku?' Pikir Pavita percaya diri walaupun masuk akal juga.
"Tidak apa-apa. Bukan kamu, tenang saja." Jawab Mark yang sepertinya mempunyai kemampuan mind reader.
Glek!
"Lalu, apa yang kak Mark lakukan sampai jam 4?" Tanya Pavita bingung untuk mengalihkan pembicaraan.
Bingung karena Mark pulang selama itu dan bingung bagaimana dia tau apa yang ada dipikiran Pavita.
"Oh, tadi ada rapat Osis dadakan." Jawab Mark.
"Oh..." Kata Pavita.
'Aku lupa kalau kak Mark adalah ketua Osis. Wajar saja jika dia pulang terlambat.' Batin Pavita.
Sampai rumah:
"Terima kasih kak..." Kata Pavita dengan sangat senang.
"Ok. Jika kamu butuh jemputan, kamu bisa mengirimiku pesan. Jangan menunggu terlalu lama." Perintah Mark.
"Baiklah..." Kata Pavita sambil nyengir kuda.
'Walaupun aku tidak akan melakukan itu.' Batin Pavita.
"Ok, aku pergi dulu. Bye..." Kata Mark.
"Ok, hati-hati. Bye..." Kata Pavita.
Dikamar:
From Kak Nick: Hai Pavita! Kita jadi pergi kan?
"Ah, aku hampir lupa kalau aku ada janji sama kak Nick! Aduh... Sudah jam setengah 8 pula..." Kata Pavita sambil menggigit bibirnya.
To Kak Nick: Tentu saja...
From Kak Nick: Baiklah. 30 menit lagi aku akan datang. Tunggu aku...
To Kak Nick: Ok.
Pavita pun langsung cepat-cepat ganti baju yang bagus dan memoles wajahnya dengan sedikit make up yang natural.
Tin tin! Suara klakson motor Nick sudah terdengar. Pavita pun langsung keluar dan menghampirinya.
"Ayo kita berangkat." Ajak Nick sambil memegang pinggangnya agar Pavita bisa merangkul lengannya.
"Ok." Jawab Pavita sambil merangkul lengan Nick yang sudah standby menunggu rangkulan dari Pavita.
"Apa yang kamu cari?" Tanya Pavita geli melihat Nick yang meraba-raba kantungnya dengan wajah bingung.
"Ah, ternyata aku lupa tidak mampir untuk beli lolipop untukmu." Kata Nick menyesal yang sudah naik diatas motornya.
"Hey, sepertinya memang tidak perlu." Kata Pavita yang juga sudah duduk dibelakangnya.
'Lagi pula aku tidak suka lolipop.' Batin Pavita saat motor Nick mulai melaju.
"Hmmm..." Gumam Nick sambil mengendarai motornya.
"Waiter!" Panggil Nick sambil menepukkan tangannya kepada pelayan restoran.
"Selamat malam tuan dan... (adik) nona. Mau pesan apa?" Kata pelayan tersebut yang sempat bingung ingin memanggil Pavita dengan sebutan adik atau nyonya.
'Hmmm... Rata-rata pelayan selalu bingung ingin memanggilku apa, adik tau nona. Huft...' Batin Pavita sedikit kesal yang tau bahwa pelayan tersebut pasti hampir memanggilnya dik.
"Seperti biasa." Kata Nick.
"Pesanan segera diantar..." Kata pelayan tersebut dengan sopan.
Beberapa menit kemudian...
"Ini pesanannya tuan... 2 porsi wine dan sushi." Kata pelayan.
"Terima kasih..." Kata Nick.
Glek!
'Sushi?!' Batin Pavita pucat.
"Silakan dimakan Pavita..." Kata Nick ramah.
"Emmm... Maaf, tapi aku tidak suka sushi. Untukmu saja." Jawab Pavita sopan yang merasa tidak enak.
"Oh, maaf. Kukira kamu menyukainya. Yasudah, aku pesankan steak saja." Kata Nick.
"Waiter! Pesan 1 beef steak ya..." Panggil Nick setengah berteriak kepada kepada pelayan.
"Ya..." Jawab pelayan tersebut yang juga setengah berteriak dari kejauhan.
'Dengan senang hati aku akan menghabiskannya.' Batin Nick senang. Karena biasanya, Nick selalu memesan 2 porsi sushi hanya untuk dirinya. Tapi karena sekarang dia membawa Pavita, dia hanya berniat makan 1 karena dia malu kalau terlihat rakus didepan Pavita. Tapi karena Pavita tidak mau, apa boleh buat? Perutnya memang sudah memberontak sedari tadi.
"Ini beef steaknya." Kata pelayan sambil mengulurkan steak yang datang setelah beberapa menit Nick memesan steak.
"Terima kasih." Jawab Nick.
"Ok." Jawab pelayan tersebut.
"Ayo makan." Ajak Nick.
"Terima kasih..." Kata Pavita. Nick membalasnya dengan senyuman.
"Aku lihat, dari tadi kamu belum minum. Apa kamu tidak haus? Atau tidak suka?" Tanya Nick.
"Emmm... Sebenarnya aku belum pernah minum wine. Dan aku tidak tau apa itu wine. Hehehe..." Jawab Pavita dengan polosnya.
"Oh, wine adalah minuman teh rasa anggur merah." Kata Nick sambil menyeringai.
"Oh..."
"Minumlah..."
"Terima kasih, tetapi aku tidak haus. Untukmu saja..." Jawab Pavita sedikit ketus. Entah mengapa dia begitu kepada Nick.
"Yasudah aku pesankan lemonade." Kata Nick. Lalu Nick memesan lemonade. Lalu beberapa menit kemudian pelayan datang membawa lemonade.
"Minumlah Pavita." Kata Nick.
"Baiklah, terima kasih." Kata Pavita.
Suara biola pun mulai terdengar ketika Nick menjentikkan jarinya kepada pemain biola yang ada di restoran tersebut.
"Pavita..." Kata Nick sambil menyentuh kedua tangan Pavita dan mengelusnya.
"Ya?" Jawab Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"I love you..." Kata Nick malu-malu sambil mengecup kedua tangan Pavita yang ia sentuh tadi.
Pavita hanya terdiam terkejut.
"Aku tahu kita baru kenal dua minggu. Tapi bolehkah kita membangun cinta?" Tanya Nick meyakinkan Pavita.
"Sebenarnya aku sudah sangat ingin mengungkapkan perasaanku ini seminggu yang lalu. Tapi kamu pergi dengan Mark. Yasudah, sepertinya ini saat yang tepat untukku." Sambung Nick.
"Emmm... Baiklah." Kata Pavita sedikit ragu.
"Tidak ada salahnya..." Sambung Pavita yamg sebenarnya juga memiliki perasaan kepada Nick.
"Jadi bagaimana?" Tanya Nick.
__ADS_1
"I love you too..." Jawab Pavita malu-malu walaupun masih sedikit ragu.
Nick menatap dalam wajah Pavita yang tanpa sadar malah semakin mendekatkan wajahnya di wajah Pavita.
"Kenapa?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya yang memundurkan wajahnya perlahan-lahan.
Nick yang tersadar dari lamunannya itu langsung menjauh dari wajah Pavita karena ia sadar bahwa Pavita anak yang baik. Dia tak pantas memperlakukannya seperti itu.
"Tidak. Aku lihat lipstickmu tidak rata. Mau aku bersihkan?" Kata Nick yang sedang beralasan.
"Benarkah? Aku tidak memperhatikannya..." Kata Pavita malu.
'Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau lipstickku tidak rata?!' Umpatnya kepada dirinya sendiri di dalam hati.
Entah iblis mana yang kembali merasuki Nick yang sempat Nick tepis, tetapi, belum sempat Pavita mengijinkan Nick untuk membersihkannya, Nick sudah menbersihkannya terlebih dahulu menggunakan bibirnya dan ********** dengan keadaan tidak sadar.
Pavita terkejut. Pavita pun menghapus bekas ciuman dibibirnya.
Slurp! Suara lidah Nick yang menjilat bibirnya sendiri seolah-olah tidak mau menyia-nyiakan bekas bibir Pavita yang ada dibibirnya membuat Pavita merasa jijik melihat dan mendengarnya.
Pavita masih speechless. Ingin sekali dia marah tetapi dia bisa berkata-kata karena dia baru pertama kali diperlakukan seperti itu.
Sebenarnya bukan yang pertama kali. Dia pernah dicium mantannnya yang sempat membuatnya marah selama seminggu kepada mantannya. Dan Mark, dia juga pernah menciumnya. Yap, saat menolong Pavita yang hampir jatuh. Dia juga sempat marah, tetapi Mark menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud begitu. Setelah 3 hari, Pavita sudah bisa move on dan baikan seperti biasanya.
Nick sangat lost control saat itu yang sempat mabuk tentunya karena karena bibir Pavita yang membuat kecanduan dan efek wine. Ya, 2 gelas wine sekaligus.
"Aku minta maaf. Tadi aku benar-benar tidak sadar." Kata Nick memohon setengah sadar.
"Aku ingin pulang!" Kata Pavita.
Sesampainya dirumah:
21:15.
'Uh, tadi itu benar-benar senam jantung! Bagaimana tidak? Kak Nick mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tapi dengan kak Mark tidak. Walaupun kak Mark mengendarai motornya diatas rata-rata, aku sama sekali tidak takut jatuh. Aku masih tidak menyangka dia akan seperti itu...' Pikir Pavita dalam hati yang terlihat sedih.
Entah apa yang ada dipikiran Pavita. Dia tidak menyangka Nick akan menciumnya, atau dia tidak menyangka Nick suka minum minuman seperti itu, atau mungkin keduanya. Yang jelas, Pavita sangat jengkel dibuatnya.
"Seharusnya aku tidak menerima cintanya!" Kata Pavita menyalahkan dirinya sendiri.
'Eh, menerima cintanya? Sepertinya dia baru mengatakan I Love You kepadaku, tetapi dia belum menembakku.' Batin Pavita sambil menyeringai yang terkesan jahat.
'Lagi pula, dari awal aku sudah mengklaim bahwa dia itu playboy, bahkan badboy! Dari wajahnya saja sudah terlihat. Tetapi kenapa aku masih menyukainya?!' Umpat Pavita kepada dirinya sendiri didalam hatinya.
Ping!
From Kak Nick: Pavita?
Ping!
From Kak Nick: Pavita?
Ping!
From Kak Nick: Pavita?
'Ufff... Dia memberiku pesan banyak sekali! Apa-apaan sih? Berisik! Aku buat getar saja ponselku.' Batin Pavita.
Drrrt Drrrt...
Drrrt Drrrt...
"Ah, aku buat hening saja deh ponselku!" Kata Pavita tidak sabar.
Tin tin!
'Jangan-jangan itu kak Nick?!' Batinnya percaya diri pada dirinya sendiri.
Pavita membuka pintunya pelan-pelan dengan sedikit ragu.
"Hey, Pavita..." Panggil lelaki yang masih menunggu didepan pintu rumahnya.
"Kyaaa..." Teriak Pavita terkejut.
"Hey, ada apa?" Tanya lelaki tersebut bingung yang ternyata adalah Mark.
"Kak Mark!" Kata Pavita agak teriak.
"Fyuh... Kukira kak Nick." Sambung Pavita lega yang langsung menutup mulutnya.
'Uh, kenapa harus keceplosan?!' Batin Pavita kesal.
"Memangnya kenapa kalau Nick?" Tanya Mark sambil mengernyitkan alisnya sambil melepas jaketnya dan menaruhnya diatas motor.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang muak dengannya." Kata Pavita tersenyun masam.
"Oh iya, ayo masuk kak." Kata Pavita yang lupa menyilakan Mark masuk sekaligus mengalihkan pembicaraan.

"Eh?"
"Untukmu." Kata Mark yang masih mengulurkan bunga mawar merah dominan pink kepada Pavita.
"Eh, terima kasih..." Kata Pavita tersipu malu.
"Sebentar, aku simpan dulu bunganya." Kata Pavita yang pergi menuju kamarnya.
"Aku buatkan minum ya. Mau teh hangat atau coklat panas?" Tawar Pavita setelah kembali dari kamarnya.
"Tidak usah repot-repot." Kata Mark merasa tidak enak.
"Ayolah..." Rengek Pavita.
"Hmmm... Baiklah, terserah." Jawab Mark pasrah.
"Sepertinya coklat panas saja. Malam-malam dingin begini enaknya minum yang panas-panas kan?" Saran Pavita.
"Ok." Jawab Mark.
Beberapa menit kemudian...
"Ini coklat panasnya kak..." Kata Pavita sambil mengulurkan secangkir coklat panas kepada Mark.
"Kamu tidak minum?" Tanya Mark.
"Tidak. Aku akan mengantuk jika meminumnya." Kata Pavita.
"Oh, aku baru tau kalau coklat panas bisa membuat mengantuk." Ledek Mark sambil tertawa lalu meminum coklat panasnya.
"Yah, memang seperti itu. Jika aku tidak bisa tidur, dengan minum segelas susu atau coklat panas akan membuatku bisa tidur lagi." Kata Pavita.
"Makan pisang juga bisa membuat tidur." Tambah Pavita.
"Oh, aku akan mencobanya jika aku tidak bisa tidur." Ledek Mark.
"Hmmm..." Jawab Pavita.
"Oh iya, maaf jika aku mengganggumu. Sebenarnya aku datang kesini ingin mengajakmu pergi dari sore tadi, tapi karena pulang sekolah pasti kamu sangat lelah. Aku datang jam 8 seperempat. Tapi kamu tidak ada, yasudah tidak jadi. Lagi pula juga sudah malam." Kata Mark agak kecewa.
"Tidak. Kamu tidak menggangguku. Memangnya kamu mau mengajakku kemana tadi?" Tanya Pavita.
"Pasar malam. Hehehe..." Jawab Mark malu-malu.
"Karena tadi aku melihat ada pasar malam telah dibuka tak jauh dari sini." Sambung Mark.
"Jadi...?" Tanya Pavita sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kapan kita akan kesana? Aku tidak memaksamu." Kata Mark penuh harap.
"Memangnya kamu sudah siap?" Tanya Pavita meyakinkan.
"Sebenarnya sudah." Jawab Mark sambil menyeringai.
"Baiklah. Ini kan masih jam 9. Tidak apa-apa. Lagi pula besok kan hari Minggu. Jadi aku bangun kesiangan pun tidak masalah." Jawab Pavita dengan senang hati.
"Serius?" Tanya Mark memastikan yang terlihat sangat senang.
"Yap." Jawab Pavita singkat.
"Yasudah, bersiap-siaplah..." Kata Mark.
"Jangan lupa habiskan coklat panasnya." Kata Pavita memperingatkan.
"Ok." Jawab Mark yang langsung meneguk semua isi dalam gelasnya.
Beberapa menit kemudian, Pavita sudah siap.
"Ayo kita pergi." Ajak Mark dengan wajah berseri-seri.
"Yuk..." Jawab Pavita.
Mereka berdua pun pergi bersama-sama naik motor Mark.
__ADS_1