
Hari Selasa. Entah mengapa Pavita sangat bersemangat hari ini. Dia datang awal sekali. Jam 6 dia sudah ada dikelas.
Dan ternyata, Mark, si ketua Osis juga sudah berangkat. Mark melewati kelas Pavita dan tersenyum pada Pavita. Pavita pun membalasnya.
'Rajin juga...' Batin Pavita dan Mark bersamaan.
"Hai kak!" Sapa Pavita ramah.
Tak disangka, Mark mampir ke kelas Pavita. "Hai! Sendirian ya?" Sapa Mark ramah didepan pintu kelas.
"Iya. Mungkin karena aku berangkat terlalu cepat." Jawab Pavita.
"Mau aku temani?" Tawar Mark yang sedang menghampiri meja sebelah Pavita dan duduk disitu.
"Boleh..." Jawab Pavita walaupun sebenarnya dia agak keberatan karena dia takut ada yang melihat mereka berduaan walaupun sebenarnya mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa dan tidak ada yang berhak melarang Mark berdekatan dengan perempuan lain selain pacar Mark sendiri.
"Kamu biasa berangkat jam segini?" Tanya Pavita.
"Ya, aku selalu mengusahakan untuk berangkat pagi-pagi sekali." Jawab Mark.
"Tak salah jika kamu dipilih untuk menjadi ketua Osis." Puji Pavita tulus dengan senyum khasnya yang bisa membuat berbunga-bunga setiap lelaki yang melihatnya.
"Hahaha... Bisa saja." Kata Mark yang sebenarnya malu.
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu berangkat dengan siapa? Sepertinya aku tadi tidak melihatmu saat berangkat." Sambung Mark.
"Oh, sejak SMP, aku selalu berangkat dan pulang sekolah naik bus." Jawab Pavita.
"Oh, memangnya kamu dari sekolah mana?" Tambah Mark.
"Dari sebuah SMP di kota Jogja." Jawab Pavita.
"Dan kamu?" Tanya Pavita.
"Oh, dulu aku sekolah di Sligo." Jawab Mark.
"Oh, dimana itu?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya dan memijat dagunya.
"Di Irlandia." Jawab Mark.
"Oh... Ok." Jawab Pavita.
Beberapa menit kemudian, datanglah murid-murid lainnya. Pavita ingin cepat-cepat menutupi wajahnya dengan buku. Tetapi bukunya masih ada ditasnya.
Mark yang melihat gerak-gerik Pavita yang mendadak pucat itu paham dan pamit kepada Pavita.
"Baiklah. Aku kekelasku ya..." Kata Mark.
"Ok, bye..." Kata Pavita.
Lalu, datanglah 2 gadis yang sedari tadi mengamati Pavita dan Mark berduaan yang salah satu diantaranya menatap Pavita tajam.
"Kak Mark itu pacarmu ya?" Tanya Thania, gadis yang membencinya dari awal masuk sekolah.
"Bukan." Jawab Pavita sambil menguap, pertanda Pavita malas menjawab Thania.
"Bagaimana kalian bisa sedekat itu?" Tanyanya masih curiga, tidak melepaskan pandangannya dari Pavita sama sekali.
"Karena kita sahabat. Lebih tepatnya seperti kakak dan adik." Jawab Pavita malas sambil memutar bola matanya.
"Bersyukurlah kamu masih bisa hidup Pavita."
"Maksudmu?"
"Ya, jika kamu memang pacarnya, kamu pulang tinggal nama!" Ancam Thania.
"Sudahlah Thania..." Ucap Shania, sahabat Thania yang juga anggota dari Pavita and Mikha's haters geng.
"Hoam... Whatever!" Kata Pavita tak acuh sambil pura-pura menguap.
"Dasar perempuan murahan!" Maki Thania.
"Ups..." Ejek Pavita sambil menyentuh bibirnya.
Kring kring kring!
Bel masuk sudah berbunyi tepat ketika Mikha baru saja masuk kelas. Hal pertama yang biasa Mikha lakukan saat masuk kelas adalah menyapa Pavita. Tapi kali ini dia menatap tajam Thania dan Shania. Seolah tau apa yang sudah mereka lakukan kepada Pavita.
"Hai Mikha..." Sapa Pavita yang membuyarkan tatapan tajam Mikha untuk kedua musuhnya itu.
"Eh, hai Pavita..." Sapa Mikha salah tingkah.
"Duduklah. Bel masuk sudah berbunyi." Kata Pavita.
"Baiklah..." Jawab Mikha.
Selama dikelas, walaupun pelajaran, Mikha dan Thania tetap saling melempar tatapan permusuhan dan tatapan mengejek. Sebenarnya Thania ingin melempar tatapan tajam kepada Pavita, tetapi karena Pavita sama sekali tidak menghiraukan, Mikha lah yang jadi sasarannya. Karena Mikha membalaskan tatapan tajam Pavita untuk Thania.
Ya, selalu seperti itu. Pavita tidak pernah mau membalas dengan menatap tajam Thania, tapi Mikha yang selalu membalas Thania. Padahal Pavita selalu menenangkan Mikha, tapi tetap saja gadis manis itu tidak terima jika dia dan sahabatnya mendapat tatapan tajam dari cacing kepanasan, panggilan kesayangan Mikha untuk musuh-musuhnya.
Kringgg!
'Asyik, istirahat pertama telah tiba!' Seperti biasa, kesenangan muncul saat jam istirahat sudah tiba layaknya murid-murid lainnya.
Ping!
From Kak Nick: Hai Pavita! Kita makan siang yuk...
To Kak Nick: Baiklah. Dimana?
From Kak Nick: Ditempat biasa, aku akan menjemputmu.
To Kak Nick: Oke...
'Hmmm... Tempat biasa? Tempat makannya biasa saja atau tempat yang kemarin itu? Sepertinya hanya sekali kami makan siang, yaitu kemarin. Hmmm... Lupakan.' Batin Pavita menerka-nerka.
"Mikha, kamu mau ke kantin?" Tanya Pavita.
"Iya. Ayo ikut!" Jawab Mikha dengan riang.
"Emmm... Maaf ya. Sebenarnya tadi aku mau bilang kalau aku tidak bisa pergi kekantin bersamamu hari ini. Aku ada janji dengan temanku lagi. Hehehe... Tak apa kan?" Tanya Pavita.
"Tidak masalah Pavita, tenang saja..." Jawab Mikha.
__ADS_1
"Baiklah dah..." Kata Pavita.
"Dah... Hati-hati!" Kata Mikha.
"Oke..." Jawab Pavita.
Didepan sekolah:
Tin tin!
"Hey Pavita! Ayo pergi sekarang..." Kata Nick dengan semangat yang membuat Pavita sempat kaget karena suara klakson motor KLX berwarna hijau dengan sedikit campuran corak putih miliknya.
"Baiklah..." Jawab Pavita.
"Jadi, kita mau kemana? Ke cafe yang kemarin?" Tanya Pavita.
"Bukan." Jawab Nick sambil terseyum.
"Katamu ditempat biasa. Tempat yang kemarin kita datangi baru cafe. Atau... Tempat yang kamu maksud itu biasa saja?" Tebak Pavita.
"Mungkin." Jawab Nick yang masih tersenyum penuh misteri.
"Hmmm..." Jawab Pavita yang sebenarnya masih penasaran.
Sampai di tempat "biasa":
"Disinilah kita!" Kata Nick penuh semangat.
"Oh, di taman... Bagus juga pemandangannya." Kata Pavita sambil melihat sekeliling taman.
"Baiklah. Karena ini istirahat pertama, kita makan makanan ringan terlebih dahulu. Lalu, istirahat kedua kita makan yang berat-berat." Kata Nick.
"Terserah..." Kata Pavita pasrah.
Lalu, Nick memesan junk food didekat taman untuknya dan Pavita.
"Ini milikmu..." Kata Nick sambil menyodorkan cola dan burger.
"Terima kasih..." Kata Pavita.
Setelah selesai makan, mereka berdua kembali ke sekolah.
Disekolah:
Teeettt!
Tepat saat Pavita sampai disekolah, bel masuk sudah berbunyi.
"Terima kasih atas makan siangnya..." Kata Pavita.
"Dan terima kasih waktunya..." Jawab Nick.
"Aku pergi dulu ya..." Sambung Nick.
"Baiklah. Hati-hati..." Kata Pavita. Pavita pun langsung berlari menuju kelasnya agar tidak terlambat ikut pelajaran.
Dikelas:
"Wah wah wah... Bagus sekali. Gadis playgirl mulai beraksi!" Kata Thania sambil tepuk tangan begitu Pavita masuk kelas.
"Hey, jaga mulutmu bedebah!" Teriak Thania yang bersiap-siap menyerang Mikha yang langsung Shania tahan.
"Thania, sadarlah! Kita ini disekolah!" Bentak Shania.
"Cih!" Jawab Thania tidak peduli.
"Hah, whatever! Kamu juga tidak bisa menjaga mulutmu!" Bentak Mikha.
"Bedebah laknat sepertimu harus mati!" Maki Thania yang mencoba melepas tangan Shania dari tangannya. Mikha hanya tersenyum sinis.
"Sudahlah Mikha..." Kata Pavita menenangkan sambil mengelus lembut bahu Mikha.
"Tidak bisa dibiarkan Pavita, jika kita diam terus dia semakin menginjak-injak kita!" Kata Mikha tidak terima. Pavita hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Selamat pagi anak-anak..." Sapa bu Ririn, guru bahasa Indonesia penyabar yang masuk kelas Pavita.
Sontak, seisi kelas langsung duduk dikursi masing-masing. Thania yang masih menyimpan dendam dengan Mikha masih menatapnya tajam. Sedangkan Mikha hanya tersenyum sinis pada Thania.
"Hari ini pelajaran bu Neta tidak bisa mengajar Matematika karena ada urusan keluarga. Jadi sementara pelajaran diganti bahasa Indonesia ya..." Kata bu Ririn menjelaskan.
"Yeeeyyy..." Seru 3/4 teman-teman Pavita.
"Yah, saya tidak membawa buku bahasa Indonesia bu..." Keluh 1/4 teman-teman Pavita.
"Tidak apa-apa. Pakai buku seadanya saja..." Kata bu Ririn. Dan pelajaran pun berjalan seperti biasanya.
Kringgg!
'Istirahat kedua! Saatnya aku kabur ke perpustakaan belakang sekolah! Aku sudah benar-benar rindu dengan perpustakaan itu!!!' Batin Pavita semangat.
Entah mengapa Pavita jadi sangat menyukai perpustakaan. Dia memang selalu suka perpustakaan, tapi kali ini dia benar-benar menyukai perpustakaan.
Diperpustakaan:
"Hmmm... Kemarin sudah membaca cerita horror. Sekarang cerita cinta saja deh. Hihihi..." Kata Pavita kepada dirinya sendiri sambil memilih buku mana yang akan ia baca.
Setelah merasa cocok dengan bukunya, ia pun mulai membaca dengan fokus. Saking fokusnya, ia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada lelaki yang menatapnya dari seberang mejanya bagian depan.
Pavita yang akhirnya merasa seperti ada yang mengawasinya pun langsung melihat lawan duduknya. Dan lelaki tersebut langsung menutup wajahnya dengan buku yang dibacanya. Lalu, Pavita tidak menghiraukannya lagi dan masih lanjut membaca.
Akhirnya, setelah berkali-kali menatap Pavita secara diam-diam, Pavita berhasil memergokinya dan ternyata lelaki tersebut adalah Mark. Mark yang malu-malu itu ternyata sangat pemalu. Dia tidak berani bicara dengan Pavita. Hanya memandangnya dari kejauhan yang Mark bisa. Tidak seperti Nick yang sangat berani mendekati Pavita. Lalu, Pavita pun tersenyum padanya. Dan Mark membalas senyumnya dengan malu-malu.
"Hai kak, mau membaca bersama?" Ajak Pavita yang sebenarnya juga lebih pemalu daripada Mark.
"Tidak, terima kasih... Aku disini saja." Jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah..." Kata Pavita.
Pavita sebenarnya sedikit risih karena Mark yang tidak berhenti menatapnya. Dan pura-pura membaca buku kalau ketahuan. Ahkirnya, Pavita pura-pura memilih buku yang lain agar dia tidak berhadapan dengannya lagi.
Tiba-tiba...
"Hey Pavita! Apa kamu sudah lama disini?" Tanya Nick sambil melirik kearah Mark dengan tajam yang juga dibalas dengan tatapan tajam dari Mark.
__ADS_1

"Yah, sekitar seperempat jam. Memangnya kenapa?" Tanya Pavita.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya rindu. Ups..." Kata Nick yang pura-pura keceplosan itu sambil menutup mulutnya sambil sesekali melirik kearah Mark lagi.

'Kenapa mereka berdua saling melempar tatapan seperti itu satu sama lain?' Batin Pavita heran yang memperhatikan tatapan permusuhan antara Nick dan Mark.
"Hmmm... Apa kamu mau baca buku juga?" Tanya Pavita mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja." Kata Nick terpaksa. Karena sebenarnya dia tidak terlalu suka membaca. Tetapi demi bisa dekat dengan Pavita, dia harus melakukan hal yang disukai atau yang sering Pavita lakukan agar tetap dekat dengannya.
Akhirnya, mereka berdua pun duduk berdua sambil membaca buku bersama-sama.
Tiba-tiba Mark keluar. Pavita sedikit bingung mengapa Mark keluar saat Nick datang, tetapi dia berfikir positif bahwa Mark keluar karena mungkin dia sudah selesai membaca bukunya, atau dia sedang lelah membaca buku.
Nick hanya tersenyum sinis melihat kepergian Mark.
"Oh iya, kamu pulang jam berapa?" Tanya Nick.
"Jam 3. Kenapa? Mau menjemputku? Hahaha..." Tanya Pavita percaya diri.
"Yeah..." Kata Nick.
"Eh, aku hanya bercanda, tidak usah. Aku bisa pulang naik bus." Kata Pavita yang merasa tidak enak.
"Tidak, aku akan tetap menjemputmu." Kata Nick dengan teguh.
"Hmmm... Baiklah, terserah." Kata Pavita pasrah.
Yah, begitulah Nick. Dia orang yang murah senyum, ramah, supel, friendly, mudah bergaul, cepat mendapat teman, dan mudah beradaptasi. Sama seperti Mark dan Pavita.
Tetapi perbedaan diantara mereka bertiga jika pertama kali bertemu dengan orang lain adalah:
-Nick sangat percaya diri dan selalu menjadi orang pertama yang mengajak berkenalan orang-orang yang ia temui. Siapapun itu, tua maupun muda selalu ia sapa.
-Mark sangat pemalu dan terlihat cool saat pertama kali bertemu seseorang, tetapi jika sudah akrab, ia akan cerewet. Jadi, harus ada yang orang yang mengajaknya bicara duluan.
-Pavita sangat supel, ramah, dan murah tersenyum kepada setiap orang yang ia temui dimanapun itu. Tetapi terkadang ia malu untuk mengajaknya bicara duluan. Jadi harus ada yang mengajaknya bicara duluan. Dia terlihat pemalu walaupun ramah. Tetapi semakin akrab, dia akan semakin cerewet.
Kring kring kring!
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Seperti biasa, murid-murid berbondong-bondong berlari keluar untuk cepat-cepat pulang.
Tin tin! Suara klakson motor Nick yang terkesan memanggil Pavita untuk cepat-cepat pulang dengannya sudah berada di depan Pavita tepat waktu.
"Naiklah." Perintah Nick.
"Sudah siap?" Tanya Nick.
"Sudah. Tapi jangan kebut-kebutan ya..." Kata Pavita sambil menyipitkan matanya.
"Tau saja kalau aku memang mau mengajakmu terbang. Hahaha..." Ledek Nick yang sebenarnya serius.
"Awas saja!" Ancam Pavita.
"Hahaha... Baiklah. Aku akan mengendarai sepelan mungkin." Ledek Nick yang sebenarnya serius.
'Agar aku bisa berlama-lama berdua denganmu. Hihihi...' Sambung Nick dalam hati.
Diperjalanan...
"Hey, ini terlalu pelan. Bisa-bisa aku berjenggot nanti sampai rumah." Kata Pavita.
"Katamu tidak boleh kebut-kebutan. Yasudah aku mengendarai motor sepelan mungkin. Hahaha..." Ledek Nick.
"Ufff... Aku turun saja." Kata Pavita kesal sekaligus mengetes Nick.
"Baik, baik. Aku serius sekarang daripada kamu turun lalu kamu pergi dengan Mark." Kata Nick yang takut dengan ancaman Pavita yang tanpa sadar membuat Nick merasa bodoh.
'Bodoh! Kenapa aku berkata seperti itu?' Umpat Nick kepada dirinya sendiri dalam hati.
"Hahaha... Kamu cemburu kan?" Ledek Pavita.
"Tidak. Mengapa aku harus cemburu dengannya? Mungkin dia yang cemburu padaku. Hahaha..." Kata Nick dengan percaya diri yang gengsi mengakui kecemburuannya.
"Hmmm..." Gumam Pavita pasrah.
"Belok mana?" Tanya Nick.
"Lurus, lalu belok kanan." Jawab Pavita.
Sesampainya dirumah:
"Mulai besok, aku yang akan mengantar dan menjemputmu. Jangan naik bus atau pergi dengan yang lain, ok?" Perintah Nick.
"Hmmm... Siapa cepat dia dapat!" Goda Pavita sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hmmm... Baiklah. Aku akan selalu menjadi orang pertama yang akan menjemputmu." Kata Nick sambil menyeringai.
"Hmmm... Kita buktikan saja. Hahaha..." Tantang Pavita.
"Oh iya, mau mampir sekalian tidak?" Tawar Pavita.
"Tidak, terima kasih. Kapan-kapan saja..." Jawab Nick ramah.
'Kata-katanya sama seperti kata-kata kak Mark...' Batin Pavita.
"Baiklah. Hati-hati..." Kata Pavita.
"Ok." Jawab Nick.
'Yah, padahal naik bus itu seru. Tapi tak apa lah, sepertinya aku bisa menghemat uangku jika jatah uang busku aku tabung.' Pikir Pavita.
"Oh iya, besok Sabtu aku ingin mengajakmu nge-date. Apa kamu bisa?" Tanya Nick yang membuat Pavita terkejut dari lamunannya.
"Emmm... Lihat saja besok." Kata Pavita yang sedang menimbang-nimbang ajakan Nick.
"Ok, bye..." Kata Nick.
"Bye..." Balas Pavita.
__ADS_1
Sejak saat itu, Nick selalu mengantar dan menjemput Pavita sekolah. Kalau terlambat sedikit, Mark selalu merebutnya. Yah, begitulah mereka berdua, selalu berlomba-lomba merebut hati Pavita.