
Sabtu.
"Anak-anak, setelah ujian tengah semester ini sudah selesai. Kalian akan libur selama 2 minggu. Jadi, gunakanlah waktu libur kalian untuk hal-hal yang berguna ya..." Kata bu Neta, guru Matematika super killernya setelah selesai mengawasi ruangan ujian kelas X IPA 1.
"Iya bu..." Jawab murid-murid.
"Ah, liburannya hanya 2 minggu." Keluh Pavita kepada Mikha.
"Setidaknya otak kita bisa beristirahat kan?"
"Iya sih."
"Lagi pula 2 minggu sudah sangat cukup untuk mengencani 2 lelaki sekaligus kok." Goda Mikha sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Maksudmu?" Tanya Pavita agak pucat.
"Hahaha... Siapa lagi kalau bukan Nick dan Mark?" Kata Mikha mengedipkan sebelah matanya lagi.
"A~apa-apaan?!" Tanya Pavita dengan pipi yang agak memerah.
"Kulihat, mereka berdua..."
Klontang!
"Kyaaa..." Teriak beberapa murid termasuk Mikha dan Pavita yang otomatis menoleh kesumber suara.
'Uh, jantungku hampir copot!' Batin Pavita yang mengelus dadanya karena kaget.
"What the...?!"
"Maaf, aku tidak sengaja." Kata Roy, anak basket paling tampan disekolah (setelah Mark) dengan santainya.
"Tidak sengaja apanya? Mana mungkin bola basketmu bisa sampai jendela kelas kami? Kamu sengaja ya?" Amuk Thania, si ketua anggota geng yang masih selalu memusuhi Mikha dan Pavita.
"Tadi bolanya meleset." Jawab Roger, teman Roy santai.
"Dia itu anak basket paling tampan bodoh!" Maki Shania, sahabat Thania yang agak mata keranjang.
"Aku tidak peduli!" Jawab Thania sambil terus memaki-maki Roy yang sedang menatap Pavita dan Mikha.
'Cantik sekali mereka berdua. Aku jadi bingung memilih yang mana...' Batin Roy yang tidak sadar jika Thania masih ada didepannya sedang memaki-makinya sedari tadi.
"Hey!" Bentak Thania yang kemudian melihat arah mata Roy.
"Aku akan mengganti rugi jendelanya." Kata Roy santai untuk menghentikan ocehan Thania.
Thania sambil memutar bola matanya. "Cih!"
Entah karena dia kesal dengan Roy yang berlagak seperti orang kaya, atau karena dia kesal karena yang dimakinya itu tidak menganggapnya ada karena 2 gadis yang sangat dibencinya itu.
"Hey mau kemana kamu?!" Tanya Thania yang hendak menghampiri Roy yang meninggalkan kelas.
Lalu Thania pun langsung ditahan oleh teman-temannya. "Hey hey... Sudahlah Thania." Bujuk Shania.
"Cih, bisa-bisanya dia pergi begitu saja!"
"Sudahlah, sudah..."
"Cih! Dia terlalu berlebihan." Kata Mikha kesal dengan sifat Thania yang sangat arogan dan antagonis itu.
"Wah wah wah... Kamu membela lelaki tersebut?" Goda Pavita.
"Bukannya membela. Tapi itu juga tidak sengaja kan? Lagipula jendela juga tidak mahal!" Kata Mikha kesal.
"Hmmm... Aku no comment." Kata Pavita sambil mengangkat kedua bahunya.
Pulang sekolah...
"Hey... Mau pulang denganku?" Kata Roy menawari tumpangan kepada Mikha dan Pavita dengan mobilnya.
"Maaf, tapi-"
"Tentu saja." Sela Mikha.
'Lumayan, daripada aku harus menunggu Papa menjemputku.' Batin Mikha.
"Kamu yakin tidak mau ikut juga?" Tanya Roy.
"Tidak, terima kasih." Jawab Pavita sopan sambil tersenyum ramah.
"Baiklah. Aku tidak memaksamu..." Kata Roy.
'Fyuh... Lagipula aku belum terlalu mengenalnya.' Batin Pavita lega.
"Aku pulang Pavita..." Kata Mikha dan Roy sambil melambaikan tangannya kepada Pavita yang juga dibalas oleh Pavita.
"Dasar playgirl..." Gumam Pavita pelan yang merasa geli dengan tingkah sahabatnya itu sambil menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba...
"Hey, apa yang kamu tunggu?!" Panggil Nick agak kesal yang sedari tadi sudah menunggunya diseberang gerbang sekolah Pavita.
"Eh, kukira belum datang." Kata Pavita sambil nyengir kuda yang langsung mempercepat langkahnya.
"Hah, bagus sekali! Kamu hampir pulang dengan lelaki lain. Untung saja aku mengawasimu dari tadi." Kata Nick sarkastik.
Pavita menekuk kedua tangannya diatas pinggangnya "Jadi kamu marah denganku?!" Tanya Pavita agak kesal.
Glek!
"Bukan begitu. Tapi aku hanya ingin tau, jika aku tidak mengawasimu, apakah kamu akan pulang dengannya?" Kata Nick dengan sebulir keringat dikepalanya.
"Memangnya aku tipe orang yang seperti itu?!" Tanya Pavita sambil memicingkan matanya.
"Tidak sih. Ah, kita langsung pulang saja." Kata Nick mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm..." Jawab Pavita.
'Tapi entah mengapa saat pertama kali aku mengenal kalian (Nick & Mark) aku tidak pernah merasa ragu untuk diajak pergi.' Batin Pavita agak geli.
Sampai rumah:
"Terima kasih kak..." Kata Pavita.
"Ok. Jika ada yang menawarimu tumpangan, tolak saja dan katakan: maaf, tapi pacarku yang akan menjemputku." Tegur Nick.
"Whatever." Jawab Pavita malas sambil memutar bola matanya.
"Hahaha... Baiklah. Ngomong-ngomong, liburan semester besok kita main sepuasnya ya..." Kata Nick geli.
"Jika kak Mark tidak menghampiriku duluan." Goda Pavita.
"Aku akan yang pertama kali mendatangimu." Kata Nick percaya diri.
"Kita buktikan saja." Kata Pavita sambil tertawa.
Beberapa menit kemudian...
"Aku ingin pulang..." Kata Nick.
"Yasudah pulanglah, tunggu apa lagi?" Kata Pavita sambil tertawa.
"Hey, kamu mengusirku?" Tanya Nick sambil memanyunkan bibirnya.
"Hahaha... Tidak sekalian mampir?" Tanya Pavita.
"Nah, kata andalanmu akhirnya keluar juga. Hahaha..." Kata Nick.
"Tapi aku masih ingin disini..." Kata Nick manja dengan puppy eyes-nya.
"Diluar?" Tanya Pavita.
"Yap." Jawab Nick sambil menyodorkan lolipop ke bibir Pavita.
'Ah, kukira kebiasaannya sudah berhenti.' Batin Pavita agak kesal.
"Baiklah..." Kata Pavita pasrah sambil mengantungi lolipopnya kedalam saku baju seragamnya.
Beberapa detik kemudian...
"Kenapa?" Tanya Pavita agak salah tingkah karena Nick menatapnya terus.
Nick meraih kedua tangan Pavita dan mengelus-elusnya. "Memandangimu. Memangnya apa lagi yang kulakukan?" Jawab Nick yang belum mengalihkan pandangannya sama sekali yang sesekali mencium tangan Pavita.
"Kukira kerasukan." Jawab Pavita malas. Nick pun tertawa.
"Sial, kenapa kamu semakin cantik saja?!" Kata Nick masih memandangi Pavita.
"Ufff... Berhentilah menatapku seperti itu!" Kata Pavita dengan pipi yang memerah lalu membelakangi Nick.
"Hahaha... Boleh aku..."
"Apa?"
Nick menggenggam kedua tangan Pavita lagi lalu memajukan bibirnya. "Muah muah..."
"Apa? Ulangi lagi!" Kata Pavita sambil mengacungkan kepalan tangannya.
"Tidak apa-apa." Kata Nick nyengir kuda sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Sebenarnya aku masih ingin disini. Tapi aku juga harus mandi. Emmm... Nanti sore aku akan datang." Kata Nick yang masih dilanda kerinduan itu.
"Baiklah, tapi jangan terlalu cepat, aku juga harus mandi, dan aku akan lama kalau mandi. Hahaha..." Kata Pavita. Nick pun tertawa.
"Baiklah. Aku pulang dulu..." Pamit Nick sambil melepas tangan Pavita kemudian menyalakan motornya setelah sebelumnya mengecup kening Pavita.
"Baiklah, hati-hati." Kata Pavita sambil melambaikan tangannya.
"Ok." Kata Nick.
"Ufff... Kamu selalu membuat pipiku memerah!" Teriak Pavita kepada Nick yang kini hanya terlihat punggungnya saja. Lalu Pavita masuk dan siap-siap mandi.
30 menit kemudian...
Tin tin! Suara klakson motor Nick sudah terdengar. Pavita membuka pintunya dan...
"Kak Mark?" Kata Pavita terkejut.
'Bagaimana bisa? Suara klaksonnya mirip sekali dengan klakson motor kak Nick.' Batin Pavita.
"Kenapa? Oh, kamu kira dia ya..." Kata Mark yang tersenyum kecut.
"Dia siapa?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya walaupun sebenarnya Pavita tau siapa yang Mark maksud.
"Lupakan. Kulihat kamu terlihat sangat rapi hari ini. Itu tandanya kamu sibuk. Baiklah, aku akan pulang." Kata Mark panjang lebar tanpa memberi kesempatan Pavita berbicara.
"Kamu marah?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Tidak, kenapa harus marah?" Kata Mark sinis tanpa menoleh kebelakang (kearah Pavita).
Pavita berlari dan memeluk Mark dari belakang. "Aku tau kamu marah."
Mark terdiam. Jantungnya berdegub kencang. Pavita benar-benar membuat Mark speechless.
Brum brum!
Pavita melepas pelukannya ketika Nick sudah datang kerumahnya.
"Oh, jadi selama ini kalian selalu begini dibelakangku." Kata Nick dengan raut wajah sangat kecewa dan emosi.
"Hey, kamu hanya salah paham." Kata Pavita yang menghampiri Nick.
"Lebih baik aku pulang saja daripada hatiku teriris-iris." Kata Nick tanpa menoleh kearah Pavita sedikitpun lalu pergi begitu saja.
"Kak Nick!" Panggil Pavita yang tidak Nick dihiraukan.
Pavita pun menangis. Mark pun merasa sangat bersalah karena sudah cemburu padahal dia bukan siapa-siapa Pavita.
"Maafkan aku." Kata Mark yang memeluk Pavita.
Pavita hanya menaikkan kepalanya dengan matanya yang sembap lalu masuk kerumahnya meninggalkan Mark sendirian diluar.
"Hey Pavita..." Panggil Mark yang tidak Pavita hiraukan itu.
Dikamar:
"Lebih baik aku memblokirnya saja!" Kata Pavita kesal dan tidak berhenti menangis diatas kasur.
"Kenapa aku harus menangisinya?! Padahal aku sendiri yang selalu menganggapnya sebagai playboy." Kata Pavita yang masih terisak.
Setelah berjam-jam menangis, Pavita pun tertidur sampai pagi.
Kukuruyuuuk...
"Hoam... Sudah pagi." Kata Pavita yang baru bangun tidur.
"Oh, semalaman aku menangis ya..." Sambung Pavita ketika melihat ponselnya yang tergeletak dibawah kolong kasurnya karena Pavita melemparnya tadi malam.
Pavita meremas rambutnya. "Uh... Kenapa 2 lelaki yang sangat berarti bagiku dan selalu ada untukku tiba-tiba begini?!"
"Argh!!! Aku kesal!!!" Teriak Pavita sambil mengacak-acak kamarnya.
Tin tin!
"Ufff... Siapa yang pagi-pagi datang kesini?!" Kata Pavita kesal.
Ngek!
"Eh..."
"Hai Pavita..."
"Kak Roy?!"
'Bagaimana dia tau rumahku?! Jangan-jangan Mikha yang memberitaunya?' Batin Pavita agak kesal.
"Kamu habis menangis ya? Atau baru bangun tidur?" Tanya Roy sambil mengernyitkan alisnya.
"Eh~iya... Aku baru saja bangun. Hehehe..." Jawab Pavita sambil tersenyum masam.
'Pagi-pagi sudah bertamu, tidak sopan!' Batin Pavita agak kesal.
Entah mengapa Pavita tidak terlalu suka dengan orang itu. Padahal dalam kamus Pavita, tidak ada sejarahnya Pavita menolak tamu. Tapi entah mengapa kali ini dia tidak terlalu suka dengan tamunya.
"Silakan masuk kak..." Kata Pavita ramah.
"Oh, ya..." Jawab Roy.
"Aku buatkan minum."
"Ini minumannya kak." Kata Pavita yang mengulurkan secangkir teh untuk Roy setelah beberapa menit dari dapur.
"Terima kasih... Oh iya, aku datang kesini ingin mengajakmu pergi." Kata Roy.
'Benar-benar keterlaluan! Dia tidak peka sama sekali jika aku baru bangun tidur.' Batin Pavita kesal.
"Bagaimana? Tidak bisa? Maaf jika sudah mengganggu." Kata Roy.
Glek!
"Tidak kok." Jawab Pavita masam.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Pavita.
"Aku ingin mengajakmu ke villa dekat sini. Tidak jauh kok." Kata Roy.
"Untuk apa ke villa?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Ya~sekedar menghabiskan waktu bersama. Hanya beberapa hari." Jawab Roy.
"Maksudmu kita menginap?!" Tanya Pavita kaget.
"Tenang saja, kamar kita terpisah." Jawab Roy menenangkan.
'What the...?! Aku baru mengenalnya dan dia sudah mengajakku untuk menginap di villa?!...' Batin Pavita kesal.
"Maaf, tapi aku agak sibuk selama liburan semester ini." Kata Pavita jujur.
"Sibuk dengan siapa? Maksudku sibuk apa?" Tanya Roy.
"Aku sudah ada janji dengan pacarku." Jawab Pavita tersenyum masam.
"Kamu sudah memiliki pacar?" Tanya Roy agak terkejut.
Antara percaya dan tidak percaya. Dia masih tidak percaya karena Pavita terlihat begitu pendiam. Tapi disisi lain, ah, Pavita kan cantik. Wajar saja jika dia sudah punya pacar...
'Ufff... Dia sangat ingin tau sekali dan banyak bertanya.' Batin Pavita kesal.
"Yap." Jawab Pavita agak malas.
"Kalau boleh tau, siapa namanya? Dan dimana rumah atau sekolahnya?" Tanya Roy.
"Kalau tidak boleh tau, namanya sangat rahasia, rumahnya aku tidak tau, sekolahnya pun tidak perlu tau." Jawab Pavita agak sinis.
"Oh,menurut firasatku, pacarmu adalah Nick atau Mark." Kata Roy sambil tersenyum sinis.
Glek!
"Bagaimana~bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Pavita.
'Fyuh... Untung saja aku tadi tidak jadi bertanya bagaimana kamu tau? Tapi siapa yang memberitahunya? Jangan-jangan Mikha?! Tapi sepertinya tidak mungkin.' Batin Pavita kesal.
"Hah, Nick si lelaki playboy itu tidak mungkin tidak tertarik dengan gadis secantik dirimu." Kata Roy. Pavita hanya mengatupkan gerahamnya.
'Ufff... Aku tidak suka dia berkata seperti itu walaupun aku sendiri pernah mengklaim bahwa kak Nick adalah seorang playboy.' Batin Pavita kesal dengan ucapan Roy.
"Tidak percaya? Banyak perempuan yang jadi korban laki-laki playboy itu." Sambung Roy memprovokasi.
"Tau darimana? Kamu kan beda sekolah." Jawab Pavita mencoba santai.
"Oh, berarti benar dugaanku kalau kamu memang pacarnya Nick. Kukira Mark." Kata Roy sambil tertawa. Pavita hanya mendengus sambil memutar bola matanya.
'Hah, sifat aslinya sudah terlihat!' Batin Pavita sinis.
"Sekarang memang beda sekolah, tapi saat di SMP dulu, dia terkenal suka mempermainkan perempuan. Yap, dulu aku teman sekelasnya Nick dan Mark."
"Oh, itu kan dulu. Mungkin sekarang dia sudah berubah jadi lebih baik."
__ADS_1
"Tapi kamu belum mengenalnya jauh, aku belum selesai. Dia selalu mengajak pacarnya kekamarnya. Bisa kamu bayangkan kan apa yang dia lakukan?"
Pavita hanya speechless. Kali ini dia tidak tau harus membela dirinya dengan cara apalagi.
'Hah, perempuan keras kepala itu akhirnya diam juga.' Batin Roy sinis.
"Pacarnya hanya aku." Kata Pavita percaya diri setelah mengulang kembali kata-kata Roy dalam pikirannya.
"Oh, really?! Berarti kamu memang pacarnya! Wah wah wah... Selamat, kamu sudah dipermainkan oleh laki-laki tersebut." Kata Roy memprovokasi Pavita sambil tertawa.
"What the... Apa yang lucu?!" Bentak Pavita. Baru kali ini Pavita bicara kasar. Ya, dia terpaksa berkata seperti itu jika tidak ada yang keterlaluan memulainya duluan.
"Wow... Pantas saja dia memilihmu. Ternyata mempermainkan anak kecil itu sangat seru ya..." Kata Roy sambil tertawa.
"Jika dia playboy, dia tidak akan meluangkan waktunya untukku!"
Roy pun terdiam mencari alasan.
"Jika kamu kesini hanya ingin menjadi iblis diantara kami, maka jangan pernah muncul!!!" Bentak Pavita kasar.
"Wah... Kamu mengusir tamumu ya?" Kata Roy sambil menyeringai.
"Biarlah dia playboy jika memang playboy. Yang penting dia bukan badboy!" Sambung Pavita.
"Huahahahaha..." Tawa Roy menggelegar yang sempat membuat jantung Pavita hampir tertinggal.
'What the...?! Menjijikkan sekali tawanya.' Maki Pavita dalam hati.
"Baiklah, aku akan pulang." Kata Roy yang langsung mengecup sudut kanan bibir Pavita karena Pavita yang langsung menghindar.
"Uh, menjijikkan sekali!" Maki Pavita yang hanya ditertawai oleh Roy.
"Pergilah dan jangan pernah kembali!!!" Teriak Pavita setelah dia mendorong Roy keluar dari rumahnya.
Dikamar:
"Apa yang Roy katakan tadi itu benar?"
"Tapi jika itu benar, mengapa kak Nick selalu punya waktu untukku?"
"Jika itu benar, aku tidak akan segan-segan memutuskannya!"
'Walaupun sebenarnya aku tidak tau apa dia masih bisa disebut pacar atau lebih pantas dianggap teman, sahabat, atau kakak.' Sambung Pavita dalam hati.
"Intinya aku sangat benci! Entah siapa yang harus kubenci. Roy, kak Nick, atau diriku sendiri yang mau menjalin hubungan dengan playboy itu!"
"Lebih baik aku mandi sajalah!"
Setengah jam kemudian...
"Fu fu fu fu fu..." Pavita bersiul sambil mencuci pakaiannya.
Tin tin!
"Ufff... Siapa lagi?! Sudah hampir jam 8." Kata Pavita kesal.
Ngek!
'Kak Mark?!' Kata Pavita terkejut dalam hatinya sambil menutupi mulutnya yang menganga menggunakan kedua tangannya.
"Hey Queen... Good morning." Sapa Mark ramah.
'Ufff... Queen! Jangan buat pipiku memerah untuk kesekian kalinya lagi.' Batin Pavita agak malu.
"Kenapa?" Tanya Pavita pura-pura tak acuh.
"Kamu masih marah?" Tanya Mark sedih.
"Apa benar kemarin kamu cemburu?" Tanya Pavita mengalihkan pembicaraan tanpa menatap Mark sedikitpun.
"Jika iya kenapa?" Tanya Mark jahil, tapi juga serius. Pavita hanya menganga tidak percaya dengan pernyataan Mark.
"Kenapa hanya diam saja?" Tanya Mark tersenyum simpul.
"Ya, aku tau aku bukan siapa-siapamu. Tapi Nick... Ah, dia kan pacarmu." Sambung Mark agak sinis.
"Maaf, aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang-orang keras kepala seperti kalian!" Kata Pavita sinis yang hendak menutup pintunya kembali yang langsung ditahan oleh Mark.
"Hey..."
"Pavita, aku minta maaf. Tolong maafkan aku..."
"Hah, setelah kalian membuatku..."
"Menangis? Waw... Kamu menangisi dia?! Dan aku?!..." Tanya Mark tidak percaya.
"Tidak. Jika iya kenapa? Kalian berdua memang sama-sama menyebalkan!" Jawab Pavita kesal.
"Jika iya, aku minta maaf." Jawab Mark yang merasa bersalah telah membuat Pavita menangis sambil memeluk Pavita.
"Jika aku ada disampingmu, aku tidak akan membiarkanmu menangis." Sambung Mark. Pavita langsung melepas pelukan Mark.
"Aku tidak mau ada yang salah paham lagi." Kata Pavita sambil tersenyum masam.
"Maaf..." Kata Mark merasa tidak enak sudah memeluknya.
"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu." Jawab Pavita yakin.
"Memaafkan yang mana? Karena aku memelukmu tadi atau kemarin?" Tanya Mark bingung.
"Menurutmu?"
"Dua-duanya. Terutama soal kemarin." Jawab Mark percaya diri.
"Hmmm... Yap." Jawab Pavita malas.
"Jadi itu benar?" Tanya Mark berbinar-binar tidak percaya.
"Yasudah kalau tidak mau kumaafkan."
"Bukan itu, aku sangat senang." Kata Mark masih berseri-seri.
"Hmmm..."
"Yasudah, aku pulang."
'Eh, tumben tidak mampir.' Batin Pavita.
"Tidak sekalian mampir?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
"Kukira kamu tadi mengusirku." Jawab Mark agak jahil.
"Hmmm... Kenapa terburu-buru?"
"Iya. Aku ada urusan."
"Tumben. Urusan apa?"
"Hahaha... Tenang saja, ini urusan ketua Osis. Bukan kencan dengan gadis lain." Jawab Mark jahil yang percaya diri.
"Hey, aku tidak pernah mempermasalahkanmu kencan dengan gadis lain." Kata Pavita datar yang hanya ditertawai Mark.
"Tapi ini kan sudah mau liburan semester. Memangnya anggota Osis masih sibuk apa?" Sambung Pavita mengernyitkan alisnya.
"Ada deh. Besok kamu akan tau." Jawab Mark.
"Hmmm..."
"Baiklah, aku pulang." Kata Mark yang langsung mengecup kening Pavita tanpa aba-aba agar Pavita tidak bisa menolaknya lalu terkekeh.
"Hmmm... Hati-hati." Jawab Pavita yang tidak terkejut karena sudah terbiasa dengan kecupan Mark yang tiba-tiba itu.
"Ufff... Kamu masih saja dekat dengannya!" Kata seorang laki-laki dari balik semak-semak seberang rumah Pavita sambil mengepalkan tangannya.
"Lihat saja, aku akan pergi jauh darimu entah kapan!" Sambungnya.
Liburan semester hampir tiba setelah berhari-hari Pavita hanya mengurung diri dirumahnya (kos-kosan yang ia tinggali).
"Hey Pavita. Kenapa melamun? Kulihat sudah lama dia tidak menjemputmu." Kata Mikha yang sontak membuat Pavita terkejut sambil mengelus-elus dadanya.
"Hey Mikha. Kamu mengagetkan saja." Kata Pavita masih memegang dadanya.
"Kenapa kamu masih disini? Dan kulihat, akhir-akhir sering melamun dan terlihat murung. Apa Thania mengganggumu lagi? Atau ada masalah dengan pacarmu?" Tanya Mikha yang begitu cerewet itu.
Pavita pun menjawab satu persatu pertanyaan Mikha yang terlalu banyak. "Satu, aku belum mau pulang. Dua, aku sedang sangat sedih. Tiga, Thania memang selalu menggangguku, tapi aku tidak pernah menganggapnya ada. Keempat..."
"Berarti benar, kamu pasti sedang ada masalah dengan pacarmu. Ngomong-ngomong ada masalah apa?" Tanya Mikha.
"Hanya salah paham. Tapi marahnya berhari-hari." Jawab Pavita agak malas dan lesu.
"Jangan bilang... Gara-gara kak Mark?!" Terka Mikha.
"Bagaimana (kamu tau?) kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Pavita.
"Yah, selain hobiku yang suka menguping, diam-diam aku sering lihat ada 2 ekor, maksudku 2 lelaki yang berlomba-lomba menjemputmu."
"Mungkin saja karena kamu mendekati kedua lelaki tersebut yang membuat salah satu diantara mereka ada yang salah paham."
"Benar kan?" Kata Mikha panjang lebar. Yang belum sempat Pavita jawab.
"Yeah... Awalnya kak Mark yang cem~maksudku marah padaku-"
"Hey, aku salah bicara. Entah kenapa dia tiba-tiba marah padaku. Lalu aku memeluknya. Disaat yang bersamaan, kak Nick datang dan melihatku memeluk kak Mark. Dia marah dan langsung pulang begitu saja tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan."
"Fix, kak Mark memang cemburu. Hahaha..."
"Tapi hingga saat ini kak Nick sama sekali tidak terlihat." Kata Pavita cemas.
"Apa dia sudah kembali ke New York ya..." Sambung Pavita.
"Wao... Cepat sekali. Sepertinya tidak mungkin. Memangnya dia tega meninggalkanmu begitu saja tanpa berpamit?" Kata Mikha tidak percaya.
"Hey, aku hanya mengira." Kata Pavita malas.
"Lagi pula, liburan semester hanya 2 minggu. Dia juga hampir lulus, jadi tidak mungkin dia tidak kembali lagi karena pindah ke New York jika sudah terlanjur nyaman pulang kampung." Sambung Pavita.
"Yeah... Apa kamu tidak coba datang kerumahnya saja?" Tanya Mikha.
"Jika saja aku tau rumahnya, mungkin sudah dari kemarin aku datang." Jawab Pavita datar.
"Hehehe... Apa kamu suruh dia share loc saja?" Usul Mikha.
'Ah benar juga! Betapa bodohnya aku. Eh...' Batin Pavita.
"Tapi... Jika dia tidak membalas bagaimana? Jujur saja, aku sudah memblokirnya terlebih dahulu sebelum dia memblokirku. Hehehe..."
"Ah, dasar keras kepala. Bagaimana dia tidak marah berhari-hari jika kamu saja tidak ada keinginan untuk menjelaskan walaupun hanya lewat pesan atau telepon agar lebih sopan?"
"Hey, aku juga sudah berencana seperti itu. Tapi aku tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dia menolak permintaan maafku."
"Jangan takut ditolak selagi itu baik. Ayolah, kamu belum mencobanya kan?"
"Huft... Baiklah. Kalau dia tidak memaafkanku, kamu yang akan kusalahkan!"
"Hey, kenapa jadi aku yang disalahkan?!"
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
Nick: Halo...
Pavita: Ha-halo...
Nick: Kenapa? Tumben menelfonku.
Pavita: Apa kamu masih marah?
"Hey, jangan bertanya seperti itu. Langsung minta maaf saja..." Bisik Mikha kepada Pavita.
Nick: Siapa itu? Seperti Mikha...
Pavita: Iya. Hehehe...
Nick: Oh...
Pavita: Jadi bagaimana?
Nick: Apanya? Soal marah tadi? Hmmm... Aku tidak marah kepadamu.
Pavita: Benarkah? Aku masih ragu.
Nick: Tidak percaya? Yasudah, aku akan mengatakannya langsung kepadamu kalau aku memang tidak marah padamu.
Pavita: Eh...
Nick: Ya, aku serius.
Tin tin!
Pavita: Kak Nick!
"Hey, tidak pulang dengannya?" Tanya Nick agak sarkastik.
"Kak Nick, sejak kapan kamu ada disini?" Tanya Pavita masih heran.
"Sejak tadi, kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi." Jawab Nick santai.
"Katakan padaku, dimana laki-lakimu? Mengapa dia terlambat menjemputmu? Apa dia memang tidak menjemputmu?" Sambung Nick sinis.
"Si-siapa?" Tanya Pavita agak kesal.
"Lupakan." Kata Nick malas sambil memainkan kukunya.
"Ayo pulang denganku." Ajak Nick. Pavita hanya menganga tidak percaya.
Diperjalanan...
"Kenapa diam saja? Biasanya kamu cerewet." Tanya Nick.
'Bukannya aku lebih sering diam? Kan biasanya dia yang cerewet.' Batin Pavita.
"Kamu tidak tidur kan?" Tanya Nick memastikan.
"Eh, tidak kok." Jawab Pavita.
"Lalu kenapa diam saja?" Tanya Nick.
"Aku masih ragu, apa kamu masih marah kepadaku?" Tanya Pavita ragu-ragu.
"Sejak kapan aku marah padamu? Memangnya aku marah padamu ya?" Tanya Nick pura-pura lupa karena salah tingkah.
"Sepertinya... Karena sejak saat itu kamu tidak pernah muncul lagi." Jawab Pavita.
"Hey, ini bukan jalan pulangku." Sambung Pavita.
"Mau kemana kita?" Tanya Pavita.
"Mau kerumahku." Jawab Nick santai.
"Hey, kamu selalu mengajakku pergi tanpa ijin dariku." Kata Pavita tidak terima.
"Yasudah, sekarang aku minta ijinmu. Pavita, aku mau mengajakmu kerumahku. Sudah." Kata Nick.
"Ufff... Terlambat!" Jawab Pavita kesal. Nick hanya tertawa.
Dirumah Nick:
"Selamat datang... Ayo masuk." Kata Nick sambil menggandeng tangan Pavita untuk masuk kerumahnya.
"Eh, ruang tamunya kan disini."
"Memangnya aku mau mengajakmu keruang tamu?"
"Entahlah..."
Ngek!
Nick membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Pavita masuk.
"Tunggu apa lagi? Ayo masuk." Kata Nick menarik tangan Pavita.
"Kenapa harus dikamar?" Tanya Pavita ragu yang menahan tarikan Nick.
"Ayolah... Aku tidak akan macam-macam." Kata Nick meyakinkan.
"Janji...?" Kata Pavita meyakinkan Nick sambil mengulurkan jari telunjuknya.
"Janji." Jawab Nick mantap sambil meraih uluran jari kelingking Pavita dengan jari kelingkingnya.
"Eh, jangan ditutup."
"Kenapa?"
"Aku gerah." Jawab Pavita beralasan.
"Hey, jika kamu gerah, aku akan membuka jendela~aha! Aku nyalakan kipas angin saja." Kata Nick.
"Ufff..." Pavita agak kesal.
"Eh, jangan dikunci!" Kata Pavita melihat Nick hendak mengunci pintunya.
"Kenapa?"
"Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu harus mengunci pintunya?"
"Agar kamu tidak kabur ketakutan."
Glek!
"Me-memangnya takut kenapa?"
Cklik! Krek krek krek.
"Kenapa lampunya dimatikan? Sudah kubilang jangan dikunci!" Amuk Pavita. Nick hanya tertawa dan menuntun Pavita kepinggir kasurnya dan mendudukkannya. Lalu Pavita berdiri lagi.
__ADS_1
Klik!
"Eh...?"
"Duduklah."
"Kita menonton film?"
"Yap."
"Film apa ini?" Tanya Pavita heran sambil kembali duduk dengan ragu-ragu.
"The Awakening." Jawab Nick.
"Oh, sepertinya aku pernah menontonnya."
"What? Kamu juga menyukainya?" Tanya Nick kagum.
"Yeah... Aku suka film horror."
'Aneh, mengapa dia mengajakku menonton film horror disaat seperti ini? Kukira setelah dia marah dia akan memutuskanku. Hahaha...' Batin Pavita heran dan geli.
"Film horror...?" Kata Nick bingung.
"Iya. Ini tentang anak kecil yang menghantui seorang wanita itu bukan?" Tanya Pavita.
"Ah, tonton sajalah." Kata Nick sambil membuka jaketnya.
"Eh~apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Pavita panik.
"Aku sedang melepas jaket Pavita..." Jawab Nick geli melihat Pavita yang berpikir macam-macam.
"Oh, baiklah..."
"Minumlah." Sambung Nick setelah ia memasukkan bubuk berwarna putih kedalam botolnya.

'Apa yang dia masukkan itu? Racun?' Batin Pavita.
"Tidak usah."
"Ayolah, aku mengajakmu kesini untuk menemaniku minum dan nonton film. Tenang saja, ini bukan racun."
"Oh, jadi karena itu? Jika bukan racun, lalu apa?" Tanya Pavita.
"Minum saja..." Kata Nick mengalihkan pembicaraan.
"Jika kubilang tidak ya tidak!" Bentak Pavita.
"Hahaha... Baiklah."
'Uh, dia minum sebotol sekaligus. Eh~tapi jika itu racun, tidak mungkin dia mau meminumnya kecuali dia sudah gila atau mencoba meyakinkanku agar aku percaya bahwa itu aman agar aku mau meminumnya. Tapi minuman apa itu? Wine? Ada banyak sampah botol seperti itu berserakan disini. Jorok sekali...' Batin Pavita memandang Nick dengan sebelah mata.
"Jangan menatapku seperti itu." Kata Nick percaya diri.
"Kamu sangat aneh!" Maki Pavita yang hanya ditertawai oleh Nick.
Beberapa menit kemudian...
'Kenapa filmnya jadi seperti ini? Ini seperti film dewasa!' Batin Pavita heboh.
Di tengah-tengah film...
"Iyuh... Jijik sekali! Kamu suka menonton film seperti ini?" Tanya Pavita tidak percaya saat melihat adegan tidak senonoh dalam film itu. Nick hanya terkekeh geli.
'Sepertinya dia mabuk. Aku harus cepat-cepat kabur sebelum dia lost control!' Batin Pavita.
Selama Nick mengoceh tidak jelas, Pavita mencuri-curi pandang kearah Nick. Berharap Nick tidak sadar dan pingsan lalu Pavita bisa kabur.
'Ah, kapan kamu tidur? Aku sudah tidak sabar ingin kabur!' Batin Pavita kesal.
Pavita melihat mata Nick yang sesekali Nick memejamkan matanya perlahan-lahan seperti orang mengantuk setelah sedari tadi mengoceh. Dan ini adalah kesempatan bagi Pavita untuk kabur.
Saat Pavita beranjak hendak pergi diam-diam, tiba-tiba... "Hey, mau kemana?"
Glek!
"Kamar mandi dimana ya?" Tanya Pavita beralasan.
"Hahaha... Kamu salah jalan, kamar mandinya disitu." Kata Nick antara sadar dan tidak sadar.
"Oh, baiklah." Jawab Pavita pucat.
'Ya Tuhan, tolong aku...' Do'a Pavita dalam hati.
Saat Nick sedang membereskan botol-botolnya, Pavita langsung pergi kearah pintu keluar dan membuka kunci pelan-pelan.
'Pelan-pelan, jangan berisik.' Batin Pavita memenangkan dirinya sendiri.
Krek krek krek.
'Sial, kenapa masih bersuara?! Eh, salah memutar?!...' Batin Pavita kesal.
"Pavita?" Panggil Nick ketika mendengar seperti suara kunci yang diputar.
'Aduh, dia mendengarnya!' Batin Pavita.
Krek krek krek.
'Akhirnya terbuka!' Batin Pavita girang.
"Tunggu!"
Krek krek krek.
'Sudah terkunci belum ya?' Batin Pavita sambil membuka pelan pintunya untuk memastikan pintunya benar-benar terkunci.
"Pavita, buka pintunya!" Teriak Nick dari dalam kamar.
'Ah, lagi-lagi aku salah memutar kuncinya!' Batin Pavita panik lalu berlari kearah ruang tamu.
"Sial, sejak kapan pintunya dikunci?!" Umpat Pavita kesal.
"Pavita...?"
'Mati, dia sudah sampai sini. Cepat sekali!' Batin Pavita.
Pavita langsung melompat-lompat meraih kunci paling atas hingga jarinya tergores lalu membukanya. Kemudian ia langsung membuka kunci pintu paling bawah, dan terakhir kunci yang tergantung dipintunya.
Grep!
"Kamu mau kabur?" Tanya Nick.
"Lepaskan aku!" Teriak Pavita yang akhirnya berhasil membuka semua kunci walaupun tangannya harus terluka karena tergores bagian tajam kunci paling atas tadi.
Pavita pun berhasil lepas dari cengkraman Nick dan lolos begitu saja.
'Eh, kak Mark?' Batin Pavita tidak percaya jika yang saat ini ada didepan rumah Nick adalah Mark.
Mark segera turun dari motornya dan menghampiri Pavita. "Pavita, ayo kita kabur!" Kata Mark panik sambil menggandeng tangan Pavita lalu membawanya lari menuju motornya yang tidak jauh dari mereka berlari.
"Hey!!!" Teriak Nick.
"Sial! Dia pasti marah besar kepadaku." Sambung Nick.
Diperjalanan...
"Kak Mark, bagaimana kamu bisa ada disitu?" Tanya Pavita masih tidak percaya.
"Emmm... Aku tadi... Tidak sengaja lewat situ. Dan... Entah kenapa aku ingin mampir." Jawab Mark.
'Jangan-jangan dia menguntitku? Menjawab seperti itu saja lama sekali.' Batin Pavita percaya diri.
"Apa yang dia lakukan padamu?"
"Dia tidak melakukan apapun. Entah tidak atau belum. Karena aku tidak tau apa yang akan ia lakukan, tapi dia mabuk berat."
"Dia tidak menyentuhmu dan menyakitimu kan?" Tanya Mark khawatir.
"Tidak. Tenang saja..." Kata Pavita meyakinkan lalu memeluk Mark.
Mark pun melihat kearah perutnya yang sedang dipeluk oleh Pavita. "Bagaimana aku bisa tenang~eh... Kenapa tanganmu? Kamu pasti berbohong!" Kata Mark cemas. Pavita melepas tangannya dan mengamati jarinya yang terluka kemudian kembali memeluk Mark.
"Oh, itu tadi karena aku berusaha meraih kunci pintu paling atas dan aku tidak tau apa yang menggores tanganku. Tiba-tiba saja berdarah. Dan itu baru terasa perih sekarang. Apalagi jika terkena keringat. Uh, rasanya perih sekali." Kata Pavita menjelaskan.
"Kamu yakin?"
"Kenapa aku harus berbohong?"
"Baiklah."
Dirumah Mark:
"Maaf, aku membawamu kesini tanpa ijinmu." Kata Mark sebelum Pavita mengamuknya.
"Huft... Baiklah." Jawab Pavita pasrah.
Mark membuka pintu rumahnya dan membawa Pavita masuk lalu berjalan menuju kamarnya.
"Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu atau macam-macam denganmu." Kata Mark meyakinkan sebelum Pavita bertanya mengapa dia membawanya kekamar.
"Hmmm..." Jawab Pavita.
"Jangan ditutup." Cegah Pavita saat Mark hendak menutup pintunya.
"Oh, baiklah." Jawab Mark menurut.
"Kemarilah." Ajak Mark sambil menepuk-nepuk pinggir kasurnya agar Pavita duduk disebelahnya.
"Maaf jika aku sedikit canggung, karena aku baru pertama kali masuk kekamar laki-laki." Kata Pavita.
"Tidak apa-apa." Jawab Mark memaklumi.
"Akan kuobati tanganmu."
"Baiklah."
Mark beranjak mencari kotak obatnya.
'Baik sekali kak Mark. Entah kenapa, aku selalu merasa aman dan nyaman ketika bersama kak Mark. Tapi dengan kak Nick, aku merasa cemas dan risih.' Batin Pavita. Mark kembali dengan membawa alkohol, obat merah, kapas, dan plaster untuk mengobati jari Pavita.
"Tenang saja... Aku akan pelan-pelan." Kata Mark melihat wajah Pavita yang terlihat ragu kemudian membersihkan luka dijari Pavita menggunakan alkohol.
"Awww... Uhhh..."
"Sakit?"
"Perih." Kata Pavita sambil meringis kesakitan.
"Oh maaf, yasudah. Akan kubuat sepelan mungkin."
"Ini memang perih, tapi setelah itu kamu akan membaik." Sambung Mark.
Pavita hanya menatap wajah Mark yang kini sedang menuangkan obat nerah ke kapas dan menempelkannya ke jari tengah dan telunjuk Pavita.
Kini Pavita sama sekali tidak merasa perih karena menatap Mark yang ternyata sangat tampan. Mark yang merasa ditatap oleh Pavita pun membalas menatap Pavita sambil tersenyum manis sekali. Pavita langsung menundukkan kepalanya karena malu dan salah tingkah.
"Dan... Selesai." Kata Mark setelah memakaikan plaster kejari tengah dan telunjuk kanan Pavita.
'Cepat sekali.' Batin Pavita.
"Terima kasih kak Mark." Kata Pavita yang memeluk Mark tanpa aba-aba yang membuat Mark terkejut bahagia.
"Sama-sama..." Jawab Mark dengan senang hati.
"Maaf jika kemarin aku marah kepadamu. Aku memang keras kepala. Tidak bisa~maksudku belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk." Sambung Pavita. Mark hanya mengernyitkan alisnya.
Tes tes tes!
Tanpa sadar Pavita menitikkan air matanya diatas bahu kiri Mark.
"Hey, jangan menangis." Kata Mark menenagkan Pavita dan melepas pelukan Pavita untuk mengusap pipi Pavita yang basah karena air matanya kemudian mengecup kening Pavita.
Lalu Mark berkata lagi. "Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah..."
"Cemburu?" Tanya Pavita jahil ditengah isakannya.
'Disaat seperti ini.' Batin Mark geli.
"Hahaha... Aku hanya kebanyakan pikiran waktu itu." Kata Mark beralasan.
"Bohong. Apa hubungannya denganku? Kenapa tiba-tiba marah begitu saja? Dan mengungkit-ungkit tentang kak Nick?"
'Please... Jangan sebut namanya.' Batin Mark.
"Lupakan." Jawab Mark agak malas.
Pavita hanya menatapnya kosong, membuat Mark tidak tega melihat matanya yang sembap.
"Hey, jangan menatapku seperti itu." Kata Mark tertawa untuk mengalihkan pembicaraan.
"Menyebalkan!" Kata Pavita masih terisak.
"Hey, kenapa masih menangis? Jangan menangis..." Bujuk Mark lalu memeluk Pavita dan mengelus-elus punggung kecilnya.
'Aduh, dia malah tambah menangis. Apa aku sudah membuat nangis anak orang?' Batin Mark menyesal.
"Ya, aku akui. Aku memang cemburu." Aku Mark. Pavita pun langsung melepas pelukan Mark.
"Benarkah?" Tanya Pavita tidak percaya.
'Syukurlah jika dia tidak menangis lagi walaupun aku harus terpaksa mengakuinya.' Batin Mark lega campur menyesal mengakuinya.
Padahal kenyataannya, Pavita menangis bukan karena Mark. Tapi rasa sesak didadanya masih terasa. Dan isakan tangisnya pun belum mau berhenti. Ya, bisa membayangkan kan bagaimana rasanya mencoba menahan atau menghentikan tangisan?
"Yap. Karena kamu selalu sibuk dengannya. Kamu melupakan sahabatmu ini. Mikha mungkin juga merasakan hal yang sama seperti saat kamu selalu pergi ke perpustkaan dan meninggalkannya." Kata Mark beralasan sambil senyum jahil.
Pipi Pavita memerah karena malu. "Eh~maaf. Karena dia selalu datang awal sekali. Dan menolak tamu itu tidak sopan kan?" Kata Pavita beralasan karena tidak tau harus menjawab apa.
"Hmmm... Baiklah."
"Oh iya, ngomong-ngomong, aku belum pernah liat foto keluargamu. Coba perlihatkan padaku."
"Sebentar..."

Saat Mark hendak mengambil ponselnya dikantong celananya, Mark tidak sengaja menemukan fotonya bersama perempuan berambut pirang dominan cokelat yang keriting, berkulit gelap alias sawo matang, berbibir pink tipis, bermata almond, dan berhidung mancung yang memakai pakaian serba pink (selendang dan baju tipis) yang sangat minim.
"Siapa itu?" Tanya Pavita sambil mengernyitkan alisnya.
'Seksi sekali...' Batin Pavita yang terus memperhatikan tubuh perempuan difoto tersebut.
"Hey, kenapa bisa sampai sini? Padahal aku ingin mengambil ponsel. Hahaha... Untung saja tidak rusak." Kata Mark sambil mengelus foto tersebut.
"Pacarmu ya?" Tanya Pavita jahil sambil tersenyum kecut.
'Apa dia cemburu?' Batin Mark geli.
"Hahaha... Menjadi pacarnya hanyalah sebuah mimpi. Lagi pula dia itu lebih pantas menjadi kakak atau bibiku. Karena umurnya 10 tahun diatasku. Ini satu-adalah satunya fotoku bersama idolaku. Dan aku sangat bersyukur bisa berfoto dengannya." Kata Mark panjang lebar.
"Oh..." Jawab Pavita.
'Fyuh... Eh, Apa yang kau pikirkan Pavita? Kenapa kamu lega jika ternyata perempuan itu bukan pacarnya kak Mark?' Batin Pavita tidak habis pikir dengan apa yang ia pikirkan barusan.
Lalu Mark menyimpan foto berharganya di dompetnya dan mulai mengeluarkan ponselnya.

"Tebak, yang mana aku?" Kata Mark setelah mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya foto masa kecilnya kepada Pavita.
"Yang memakai baju putih sambil merangkul adikmu kan?" Tanya Pavita.
"Hebat! Kamu langsung mengenaliku." Kata Mark sambil tertawa. Pavita pun ikut tertawa.
"Ngomong-ngomong siapa saja nama adik-adikmu dan orang tuamu?"
"Ibuku Marie Feehily dari keluarga Verdon, ayahku Oliver Feehily, Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Yang disampingku itu Barry. Selisih umur kami 5 tahun. Mungkin seumuran denganmu. Dan yang ayah gendong itu Colin, selisihnya 9 tahun denganku." Kata Mark.
"Aku lupa ini foto waktu aku umur berapa." Sambung Mark sambil tertawa.
"Kalian semua berawajah menarik." Puji Pavita. Mark hanya tersenyum malu.
"Dan siapa nama adik-adik dan orangtuamu?" Tanya Mark.
"Aku urutkan dari adikku yang tertua beserta kelasnya. Hehehe... Sasha berumur 12. Dia selisih 1,5 tahun denganku. Tapi dia kelas 1 SMP. Karena hanya aku yang sekolah terlalu cepat. Gilang berumur 10. Selisihnya 3 tahun denganku. Kelas 5 SD, Narnia, umurnya 4 hampir 5 tahun besok Februari. Dia belum sekolah. Dia akan masuk TK tahun depan. Dan Kanaya, dia berusia 1 tahun. Dan besok Januari dia berumur 2 tahun. Kata dokter, calon adikku besok adalah laki-laki. Dan orang tuaku akan memberi nama Ken. Mungkin saat aku berumur 15 tahun, dia sudah lahir." Jawab Pavita.
"Ayahku bernama Gara, dan ibuku bernama Dania." Sambung Mark.
"Oh, kamu juga anak pertama? Kukira anak tunggal atau anak bungsu. Ngomong-ngomong, nama kalian bagus-bagus. Boleh kulihat foto mereka?"
"Sayangnya kami tidak pernah berfoto." Kata Pavita menyesal.
"Oh, baiklah..." Jawab Mark.
"Oh iya..." Ucap mereka bersamaan.
"Kamu duluan..."
"Tidak, kamu duluan. Lady first..."
"Hahaha... Baiklah. Emmm... Apa aku bisa pulang sekarang? Aku ingin segera mandi. Hehehe..." Kata Pavita merasa tidak enak berlama-lama berada dirumah laki-laki.
"Hey, tadi aku juga mau bertanya seperti itu. Yasudah, ayo kuantar pulang." Ajak Mark.
"Baiklah..." Jawab Pavita.
Sampai rumah:
"Terima kasih kak. Maaf aku selalu merepotkanmu." Kata Pavita merasa tidak enak.
"Hey, sama sekali tidak." Jawab Mark santai.
"Yasudah, aku pulang dulu ya..." Sambung Mark.
"Baiklah, hati-hati..." Kata Pavita.
__ADS_1
"Ok." Jawab Mark.
Setelah Mark sudah tidak terlihat, Pavita pun masuk kerumahnya dan langsung mandi.