
sudah seminggu lebih Raka dirawat di rumah sakit, penyakit yang sudah lama di tutup Dari orang lain pun kini kembali lagi sindrom panic attack.
keadaan Raka setiap harinya semakin memburuk, semua orang sudah berusaha untuk menemukan diva, karena dialah obat satu-satunya untuk Raka sembuh.
"nak, kamu harus berusaha sembuh yah... yang kuat yah sayang.." ucap bunda Erlin sambil menangis tersedu-sedu melihat anaknya yang tak kunjung sembuh.
"Diva...!! bunda mana diva..?!" lirih raka memohon kepada bunda Erlin
" ya sayang nanti kita cari diva, bersama-sama asalkan kamu sehat dulu.." balas bunda Erlin.
Raka mengatupkan kedua tangannya dan melihat kearah ayahnya "Raka minta tolong ayah, tolong Carikan diva untuk Raka.." mohon Raka
ayahnya tersenyum tipis, dia sudah mencari keberadaan diva sebelum putranya memohon kepadanya. " iya, ayah lagi berusaha mencari diva, tapi kamu harus sehat dulu biar kita cari sama-sama.." jelas ayah
Raka hanya mengangguk lesu, ia sangat rindu dengan kekasihnya itu, ia berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi,. cukup sekarang saja ia begini.
ckiet....
pintu ruangan terbuka, semua orang langsung menatap seorang gadis yang masuk dengan membawa buah tangan sambil tersenyum.
"hai raka..!! aku Dateng nih, bawa buah-buahan buat kamu..." ucap Nina berjalan menuju ranjang Raka dan menaruh parsel buahnya di meja.
semua orang di situ merasa khawatir jika Raka mengamuk lagi dan mengusir Nina tapi disatu sisi mereka kasihan kepada Nina.
Nina yang melihat Raka yang acuh kepada nya hanya bisa menghela nafasnya." kamu mau makan buah apa..? oh, aku tau, kamu suka buah apel kan dari kecil, aku kupas kan yah.. nanti kamu aku suapin.." ucap nina mencoba membujuk Raka, ia merasa senang Raka tak mengusirnya, biasanya ketika di baru diambang pintu Raka langsung membentaknya untuk keluar.
Nina pun dengan sabar dan telaten mengupas buah apel untuk Raka.
Raka tak bergeming pikirannya berkelana disaat, kejadian pertengkarannya terjadi dengan diva, disaat ia membentak diva dan membela Nina dan berakhir diva menjauhinya lalu menghilang entah kemana, Raka yang mengingat itu merasa tubuhnya bergetar hebat, berkeringat dingin lalu nafasnya terasa sesak.
semua orang merasa khawatir melihat keadaan Raka yang tiba-tiba seperti itu termasuk Nina, yang sedari tadi mengupas buah.
bunda Erlin langsung menggenggam tangan putranya.." sayang, kamu kenapa..?? jangan bikin bunda khawatir.." ucap bunda menangis, ayah Reno hanya bisa memeluk istrinya berusaha menguatkannya.
__ADS_1
"Raka..!! kamu kenapa ka..??" tanya nina yang merasa khawatir..
"rak Lo kenapa lagi..??" tanya sahabat-sahabat Raka pun sama khawatirnya.
Raka berusaha merilekskan semuanya, ia melihat sekelilingnya entah kenapa ketika ia melihat Nina kepingan memorinya tentang pertengkarannya dengan diva teringat kembali.
"Raka, syukur lah kamu bisa ngembalikan keadaan kamu seperti biasa lagi.."ucap Nina merasa lega begitu pun semuanya.
"nih aku sudah siapin apelnya untuk kamu...!!" Nina pun menyodorkan sepiring potongan apel yang penuh.
"oh aku tau.. kamu mau aku suapin Raka..!! sini aku suapin, buka mulutnya aaa..." Nina menyodorkan apelnya kearah Raka .
Nina hanya menghela nafas panjang berusaha untuk bersabar.." ayo Raka..!! buka mulutnya..!!" bujuk Nina dengan lembut.
prang....
piring yang berisi buah apel pun pecah berkeping-keping dengan potongan apel yang berserakan. akibat Raka yang menepisnya tadi, semua orang yang di ruangan itu pun kaget termasuk Nina yang merasa sakit hatinya, ia berusaha untuk tidak menangis.
"PERGI...!! PERGI...!!" bentak Raka dengan keras, Nina pun terlonjak kaget dengan bentakan Raka dan melihat wajah merah Raka yang menyeramkan karena emosi amarahnya.
**********
sedangkan di dalam ruangan Raka terus saja berteriak histeris, kala mengingat diva." DIVA....!! teriak Raka histeris sambil menangis.
sahabat nya berusaha menenangkan Raka dan memegang tubuh Raka yang sedari tadi memberontak.
plak...
satu tamparan keras mendarat di pipi Raka. "STOP RAK, LO JANGAN SEPERTI INI, LO NYADAR DENGAN LO KAYAK GINI SEMUA ORANG SEDIH TERMASUK ORANG TUA LO, " teriak Ikhwan dengan nafas memburunya. sudah cukup ia muak melihat sikap egois Raka selama ini, ia mencoba bersabar dan memahaminya keadaan Raka disaat ia memperlakukan kasar Nina, tapi Raka sangat keterlaluan ia tak bisa menahannya lagi.
Raka yang sadar dengan semuanya pun terdiam dengan pandangan kosong, semua orang yang di ruangan itu pun merasa canggung, termasuk Ikhwan ia juga merasa bersalah kepada orang tua Raka karena menampar anaknya.
Ikhwan pun mendekat ke arah orang tua Raka " maafin, wan Bun, wan...."ucap Ikhwan menangis tersedu-sedu sambil mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
bunda pun langsung memeluk Ikhwan ia sudah mengganggap dia seperti anaknya." iya sayang, bunda tau kamu lakukan ini karena kamu sayang sama Raka, bunda maklumi kok.."jelas bunda Erlin.
Ikhwan pun menatap ayah Reno.." maafin wan yah..."ucap Ikhwan.
ayah hanya tersenyum mengangguk " bener kata bunda. kalo kamu itu sayang sama Raka, tapi ingat pesan ayah seberapa besar amarah mu kepada seorang, kamu harus bisa mengendalikannya karena kita harus bersikap dewasa, karena ketika emosi kamu jangan lawan dengan emosi juga, kamu mengerti nak..?" jelas ayah sambil memeluk Ikhwan, Ikhwan pun mengangguk ia mengerti semuanya.
"bunda..."panggil Raka lirih.
Ikhwan pun melepaskan pelukannya dan melihat kearah Raka, begitu pun semuanya.
"iya sayang, kenapa hmm..??" tanya bunda lembut sambil mengusap-usap rambut anaknya.
"maafin Raka yang egois dan bikin ayah sama bunda khawatir dan sedih.."ucap Raka memeluk bunda.
"iya sayang bunda maafin kok, kamu harus cepet sembuh ya sayang..."balas bunda.
Raka hanya mengangguk.." Raka...!!" panggil dimas.
Raka pun menoleh.." gue ada rencana agar Lo bisa ketemu dengan diva tapi ada syaratnya Lo harus sembuh dulu..." jelas dimas.
"apa...?!" tanya Raka.
Dimas menghela nafas, sebaiknya ia katakan rencananya agar Raka memiliki semangatnya kembali.." gua sama sahabatnya diva lagi berencana agar diva datang ke acara ulang tahunnya Afi, karena sebentar lagi Afi ulang tahun, kita yakin diva pasti akan datang dan ngga akan nolak permintaan Afi sebagai sahabatnya.." jelas dimas.
Raka yang mendengar itu pun tersenyum dan mengangguk cepat. " sayang..!! bunda obatin bibir kamu yahh.." ucap bunda melihat bekas tamparan Ikhwan dan mengakibatkan bibir Raka berdarah.
"iya, bund.." balas Raka dengan tersenyum ia sangat senang mendengar rencana Dimas ia tak sabar menunggu hari itu, ia ingin sekali bertemu dengan diva.
"syukur lah.." kata-kata itu yang dirapalkan semua orang melihat senyuman yang terbit di bibir Raka.
bunda pun mengambil kotak P3K, dan mengobati luka di wajah anaknya dengan hati-hati.
**thank kak, sudah mampir ke novel ku.. Jangan lupa like komen dan vote yah...😘
__ADS_1
aku berusaha up 2 hari sekali yah..
dan jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya**