Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
Adaptasi lingkungan Baru


__ADS_3

Edy, mahasiswa angkatan 2013 yang merasa 'tersesat' Di kampus Ekonomi swasta yang lumayan ternama di bandung, pencetak banyak lulusan cum laude, sekolah tinggi ekonomi bandung (STIEB), Sekolah tinggi ilmu bahasa bandung (STIBB), Sekolah tinggi teknologi bandung widyatama. Penggabungan sekolah tinggi ke dalam universitas yang dikenal dengan nama widyatama. Menerima Edy sebagai mahasiswa, barangkali adalah kesialan tersendiri bagi Widyatama. Dari semester ke Semester, protes dan perlawanan edy baik kepada birokrasi maupun dosen-dosen kerap kali hadir menghiasi Widyatama.


Pilihan Edy yang menolak 'main aman' dan kerap melawan, akhirnya membuatnya mendapat cap sebagai ikon mahasiswa urakan, tak bermasa depan, dan tentu tak menyenangkan untuk dijadikan kawan di sekolah ekonomi yang orang-orang bandung melabelinya dengan nama ; kampus hedon.


Oktober 2013


Dari gunung sindoro, setelah sempat ke sanggar UKM teaternya untuk meletakkan tas gunung dan mengambil tas daypack dan buku buku kuliah, Edy langsung menuju kampus dan masuk kelas ekonomi makro. Edy menahan langkahnya usai melewati pintu kelas. Mahasiswa berambut undercut itu melihat jam dinding. Satu kelas melihat Edy. Bu Diah menyipitkan matanya. Edy tau ia melebihi batas toleransi waktu masuk kelas, karenanya ia siapkan dirinya untuk diam dan mengangguk beberapa kali saja untuk aman. Tidak ada pilihan lain. Mengikuti cara main Bu Diah adalah satu satunya jalan agar Edy dapat mengikuti kelas .


"boleh saya ikut kelas,Bu?" Edy putuskan untuk memulai dialog. Akhirnya ada juga kata di kelas itu. Tidak hanya edy, seisi kelas menanti apa yang akan segera terjadi selanjutnya. Jangankan notifikasi ponsel atau bunyi kursi, bunyi hembusan nafas pun seakan benar benar tidak ada. (hehehe)


"Kamu mau kuliah?" Kata Bu Diah dengan senyum sinisnya yg kental. Tatapannya melihat Edy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gesture bu Diah membuat siapapun yg ada disana sadar bahwa itu adalah semacam ancaman mantap, yg cepat atau lambat, pasti akan menjadi sebuah serangan yang meletus dari Dosen yg menurut Edy, bermental Feodal, tersebut.


"Menurut kalian..." Bu Diah Mencari Dukungan kelas.


"Si Edy ini mau kuliah apa mau kemping?"riuh tawa seisi kelas pecah,datang mendukung Bu Diah. "Orang Tua susah payah mencari Uang untukmu kuliah,kamunya...."


"maaf, saya kuliah dengan biaya sendiri," Edy menyela. Kelas seketika hening kembali.


pintu terbuka. Tak biasa,Rara dan willy, Ketua dan pengurus HMJ (Himpunan mahasiswa jurusan) kampus itu datang terlambat juga. Dengan wajah patuh nan meminta pengampunan, keduanya menundukan kepala dan meminta ijin mengikuti kelas.


Rara Novitri. Mahasiswa asal bandung, melalui jalur prestasi ia masuk widyatama pada tahun yg sama dengan Edy,2013. Dengan catatan prestasi yang nyaris sempurna; 3.9 , kampus seakan tidak salah memberikan beasiswa penuh kepada seorang terbaik di kampus widyatama itu. Berkebalikan dengan Edy, rara adalah potret populer bagi banyak Pihak. Kecantikan, kepintaran dan kepatuhannya adalah alasan kenapa laki laki,perempuan, perusahaan, anak anak, orang tua,dan siapa siapa selalu ingin mendekatinya.


Bu Diah tak ingin urusannya dengan Edy terganggu, tanpa banyak kata, menyuruh rara dan willy untuk Duduk.


"terus kalau sudah biaya sendiri boleh masuk kuliah terlambat,rambut seperti anak berandalan,kalung, gelang, dan celana sobek sobek, kemeja gak dikancing, dan semua keurakanmu ini,"Bu diah kembali kepada Edy. Ia semakin menjadi sejak Edy berani menjawab statementnya. "dan kamu masih bisa bilang bahwa kamu mau kuliah?"


"Tidak sekalian Ibu komentarin kuku tangan saya,bu?"Edy putuskan untuk melawan. Ia akui kesalahannya perihal terlambat masuk kelas, namun ia tidak terima argumen lain di luar itu. "Kalau mau ngedandanin saya,jadi guru SD Aja bu. Jangan dosen. Sebab kuliah mah transfer ilmu, bukan pembentukan karakter sperti SD hingga SMA. Ibu ga ada hak buat membentuk penampilan saya!".


"kamu ! Keluar!"Bu Diah kehabisan kata. Hanya pengusiran jurus andalannya saat ia merasa di telanjangi bulat bulat oleh mahasiswanya sendiri.


"Bagaimana bisa ibu melakukan itu? Ibu gak punya hak untuk mengusir saya hanya karena penampilan saya di luar standar yang bisa memuaskan ibu, gabisa!"


"kamu terlambat. Saya punya hak dan aturan untuk tidak menyertakanmu di kelas,"Kata Bu Diah dengan nada sentimen yang begitu tinggi. "Keluar!" Tertebak, Edy diusir dari kelas tanpa argumentasi yang dapat diterima.


Edy keluar. Kebisuan kelas tercipta kembali beberapa saat.


Belum juga tenang nafas bu Diah, tiba-tiba rara berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ia berdiri menahan langkahnya di tempat yang sama dengan saat tadi ia memohon untuk masuk. Rara membelakangi pintu,lalu membungkukan badan ke arah bu Diah.


"maaf bu,saya juga terlambat. permisi," kata Rara sebelum ia melangkah meninggalkan kelas.


Beberapa hari setelah Edy melawan di kelas Bu Diah, dosen yang di lingkungan teater & mapala Widyatama, anak anak menyebutnya "Si Anying", Rara datang ke sanggar menemui Edy, seorang yang kata anak-anak HMJ mah, ia tidak asyik untuk diajak berteman seperti mahasiswa kebanyakan.


Sialnya,Rara tidak ada Pilihan. Bu Diah yang tersinggung pada kelas ekonomi makro minggu lalu,melaporkan Rara dan Edy kepada pembimbing prodi, yg akhirnya memerintahkan mereka berdua untuk menghadap dan meminta maaf pada Bu Diah. 'Rara bersekongkol dengan Edy untuk mempermalukan Bu Diah Di Depan para mahasiswa," begitu bunyi tuduhannya.


Selain karena tekanan internal HMJ, memiliki catatan buruk terkait penyelenggaraan kuliah kampus adalah juga merupakan sebuah aib yang tak sepele bagi mahasiswa terbaik widyatama, tidak bisa tidak, bagaimanapun caranya Rara harus menemui Edy dan mengajaknya menghadap Bu Diah.


"Ed," kata Rara kepada Edy yang sedang berjinjit di atas kursi mencari kunci sanggar yang biasa ia letakkan di lubang ventilasi di atas pintu.


Edy tidak mendengar sapaan Rara, hanya dari pantulan kaca jendela ruang mapala di depan sanggar, Edy tau seseorang mendekat di belakangnya. Saat Edy turun dari kursi dengan sebuah kunci di tangannya, Rara sudah pergi dari depan sanggar.


Edy Sudah di dalam sanggar saat Rara kembali datang dengan dua cangkir kopi di tangannya. Rara berdiri dan kembali memanggil Edy dari depan pintu. Sama seperti sebelumnya, kali ini Edy yang sedang berbaring membaca buku dan mendengarkan musik dengan headset di telinganya, tidak mendengar salam dan panggilan Rara.


Dani pitak, anak mapala yang ruang sekrenya persis di depan sanggar teater, masuk ke dalam sanggar menghampiri Edy.


"Budak luhur,Ed. Ketua HMJ," kata dani pitak.


Edy meletakkan buku dan melepas headsetnya .


"ada yang nyari," kata Dani pitak lagi sambil menunjuk ke arah pintu. "wanjingg geulis Ed, urang daek narima mun maneh mbung mah".


Edy berjalan ke depan pintu menghampiri Rara.


"Rara," Rara tersenyum menyapa Edy. "Rara Novitri."


Dengan sangat dingin Edy pandangi Rara dari ujung sepatu sampai ujung rambutnya. Dari cara memandang yang seperti itu,seseorang akan menjadi tau betul apa simpul tali yang diikat rara di sepatunya, ukuran lingkar pergelangan kakinya, bahkan kancing jumlah kemeja yang digunakan Rara.


"Kopiii..." Rara memberikan secangkir kopi di tangannya untuk memecah kebekuan di antara mereka.


Edy menyambut kopi pemberian Rara. Rara tersenyum untuk itu. Dengan membawa kopi,Rara berharap obrolan dan perkenalannya dengan Edy akan menjadi lebih santai.


Dani pitak pamit pergi,ia merasa tak enak berada di sanggar.


"Lurrr," Edy memanggil dani pitak sebelum ia pergi ke sekre, "Mau sirup gak nih,"Edy memberikan kopi pemberian Rara ke Dani pitak.

__ADS_1


Rara kaget, ia tengok cangkirnya. "kopi kok,"batinnya.


"Kopi... Ed," kata Dani pitak sambil menyambut pemberian Edy.


"sirup rasanya apa?" tanya Edy.


"manis." jawab dani pitak


"Teh?"


"sepat"


"Kopi?"


"Pahit"


"Nah, eta rasana naon? Tanya Edy lagi.


Dani pitak menyeruput lagi kopi dalam cangkir berbahan plastik di tangannya.


"manis,hehehe," kata Dani pitak, "kopi manis,"lanjutnya.


" Udah bawa sana,"kata Edy.


Mendengarnya, Rara yang sudah sangat berusaha keras untuk terus memberikan senyum terbaiknya dan membangun sikap santai,hancur seketika. Ditambah lagi tatapan Edy yang tajam dan masuk jauh ke dalam mata Rara sesudahnya. Sungguh, Rara semakin dalam tak bergerak. Kakinya terpaku, bibirnya membeku, sepasang mata indahnya kosong ke arah Edy.


gambaran sosok Edy yang keras dan tak bersahabat yang telah di tanamkan kawan kawan Rara di kepalanya, benar-benar menyempurnakan ketakutan Rara di hadapan Edy.


"Rara," Kata Edy membuyarkan pikiran Rara.


Rara kaget mendengarnya, cangkir kopi di tangannya terlepas dari genggaman dan jatuh tepat di atas sepatu kesayangannya.


Rara tidak sanggup lagi menahan semuanya. Seketika ia hamburkan tubuhnya pergi meninggalkan sanggar. Rara lupa, ia butuh Edy.


Lantai dua kampus Widyatama, sekre HMJ


Di jeda pergantian kelas, Rara bercerita terkait masalahnya di kelas Bu Diah seminggu yang lalu kepada Kang Dendy, Kakak angkatan dan dewan pembina di HMJ.


"aku gatau. Aku beranjak dan meninggalkan kelas itu begitu saja,"Rara bercerita kepada kang Dendy . "Sejujurnya aku aku takut, aku gaberani menatap wajah Bu Diah. Jantungku berdegup cukup kencang,hanya ..."


"apapun itu," kang dendy memotong. Ia menunduk memutar mutar HP di tangannya. "inget,kamu ketua HMJ. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan,"katanya lagi sebelum mengangkat Hp yang berdering.


Suara langkah sepatu mendekat. Pintu sekre HMJ terbuka. Willy memperlihatkan kepala dan dua genggam tangannya di sisi pintu.


"Ayo masuk lebih awal,nanti telat lagi, walk out lagi,hahaha." Willy bercanda pada Rara. Kang Dendy berdehem kecil di sela percakapannya di Hp. "Eh kang Dendy, maaf saya ga liat," spontan Willy membuka sepatunya dan masuk menyalami kang Dendy.


Selesai dengan Hpnya,Kang Dendy pamit Pulang oleh karena suatu urusan, selain itu kang Dendy juga tidak ingin mengganggu jadwal kuliah Rara.


"Kang Dendy mau dengar perkembangannya, besok lusa saat rapat anggota, Kita lanjutkan ini ya," kata Kang Dendy sambil menawarkan tangannya untuk disalami.


Setelah Kang Dendy,Willy turut pergi juga meninggalkan Rara dan menuju kelas kuliah Bu Diah. Rara yang takut dan Malu pada Bu Diah, memilih untuk tak ingin masuk kelas.


Rara sendirian di sekre HMJ. Tak lama,Edy nampak berjalan menuju gedung perkuliahan. Rara berjalan di depan pintu untuk memastikan bahwa laki laki yang dilihatnya adalah Edy.


"Ed," kata Rara spontan, kedua tangannya menyilang menutup mulutnya, lalu secepat kilat ia tarik tubuhnya sendiri untuk masuk ke dalam sekre. Edy menoleh mencari suara yang memanggilnya,hanya kemudian ia lanjutkan langkahnya lagi oleh sebab tak ada siapapun yang ia lihat di belakangnya.


sesampainya di depan kelas,Edy menengok jam di tangannya. 'Jam sepuluh kurang,'Batin Edy. Ia merasa terlalu cepat memasuki kelas. Dan karena masih ada waktu,sebelum masuk kelas yang menurutnya membosankan itu, Edy putuskan untuk menghisap sebatang rokok terlebih dahulu di toilet belakang.


Sementara Rara, di dalam sekre ia berpikir keras. Edy yang baru saja dilihatnya,langsung atau tidak telah menularkan keberaniannya kepada Rara untuk tetap masuk kelas Bu Diah. 'Harus berani!!' batin Rara. Ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk.


Jam 10 tepat. Sesampai Rara di depan kelas, ia pandangi gagang pintu kelasnya dengan degup jantung yang luar biasa. Ia hembuskan nafasnya dengan kencang sebagai aba aba. Ia dorong pintu itu. Rara masuk kelas.


'Sial,' Batin Rara. Kelas memang belum dimulai,hanya Bu Diah ternyata sudah duduk di kursinya. Rara masih berdiri dan belum menutup pintu,tatapan Bu Diah dan seisi kelas benar benar melemaskan dan menahan langkahnya. Rara menundukan kepalanya, pandanganya tepat ke ujung sepatunya sendiri,dari situ, Rara melihat sepasang sepatu Lain tepat di belakangnya. Rara menolehkan kepalanya, Edy berdiri tepat di belakang Rara.


"kamu!" Kata Rara yg kaget melihat Edy.


"Kamu," Balas Edy.


Rara semakin bingung. Ia tidak tau harus bereaksi bagaimana. Ia lihat lagi wajah Bu Diah dan seisi kelasnya. 'Tidak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan,' Kata rara dalam hatinya.


Sial bagi Rara, susunan tempat duduk di kelas yang tidak seperti biasanya membuat dia ingat sesuatu. 'Kelompok!' batinnya.


Willy tempo hari berkata bahwa minggu lalu saat Edy dan Rara keluar dari kelas, Bu Diah meminta para mahasiswa untuk membentuk kelompok presentasi beranggotakan tiga orang perkelompoknya. Seluruh kelas telah mendapatkan kelompok, kecuali empat orang,dua di antaranya Edy dan Rara,sedangkan sisanya adalah dua orang yang hampir tidak pernah masuk kelas.

__ADS_1


Keadaan itu sama artinya dengan tidak bisa tidak, Edy dan Rara tergabung dalam satu kelompok presentasi dan duduk berdampingan untuk kemudahan diskusi dan klasifikasi.


Kelas Bu Diah Selesai


"Kita perlu bicara,"Kata Rara setengah berbisiknya kepada Edy.


Bu Diah lewat di depan mereka untuk meninggalkan kelas, Rara berpura sibuk merapikan buku. Segaris wajah sarat perang dikirimkan Bu Diah terhadap Edy dan Rara, yang Bu Diah sebut sebagai 'Sepasang yang melawan'.


Edy berdiri beranjak meninggalkan kelas. Rara memanggilnya, namun Edy keburu hilang dari balik pintu. Rara berlari ke luar, dilihatnya Edy berjalan menuju tangga. Rara mengejarnya. 'Dapat!' kata Rara dalam hati saat Edy berhenti usai Rara meraih tasnya dari belakang.


"wah,wah,wah, sepasang yang selalu ibu tunggu akhirnya ada di kampus ini,"Bu prinawati, dosen pancasila,menyapa Rara dan Edy ketika mereka bertemu di tangga. "sepasang yang melawan," Kata Bu Prinawati lagi.


Rara tak Tau ekspresi apa lagi yang harus ia tunjukan. Untuk kesekian kalinya hari ini, ia dilanda kebingungan lagi. Edy menyalami Bu Prinawati dengan penuh respek. Spontan Rara mengikuti.


"Mau pada kemana Ed, sanggar?" tanya Bu Prinawati. "Nggak Bu. Saya mau ke taman depan perpus."


"ini Rara, ke taman juga?"


"Oh enggak,Bu. Saya mau ke Lobby,"jawab Rara sekenanya.


"wah kebetulan. Sini bareng ibu. Ibu juga mau ke lobby." Bu prinawati mengayunkan tangannya merangkul lengan Rara.


"Saya duluan Bu," Edy berpamitan.


"iya Ed, O iya, mengenai permasalahan kalian,"kata Bu Prinawati. "Ibu di pihak kalian, sepasang yang melawan,"Bu Prinawati memberi kode dengan jari dan senyumnya yang bersahabat.


"Sepasang yang melawan?" spontan Rara mengulangi Kata kata Bu prinawati.


"itu dari Bu Diah. Obrolan tentang kalian,belakangan cukup ramai di ruang dosen."


"Di HMJ juga cukup ramai,Bu." Keluh Rara.


"Ahhh sudahlah, yang penting kalian tetap tenang,"Bu Prinawati menenagkan Rara, "dan,laki-lakimu itu,Rara. Seorang yang otentik. Seorang yang pantas didapatkan oleh perempuan secantik kamu."Bu prinawati menunjuk Edy yang berjalan menuruni tangga meninggalkan mereka berdua.


"Bu, aku Dan Edy hanya..."


"Hanya masih saling mengenal," Bu Prinawati memotong.


"tidak masalah. Semua percintaan melewati Fase itu. Hanya,Ibu berani bertaruh, kau sedang mengenali orang yang tepat."


"Ibuuuuu!" Jawab Rara.


"ngomong-ngomong, awal mula kamu


menyukai Edy dari mana?"Tanya Bu prinawati


"Maaf bu,maksudnya?"


"Iya, kamu suka Edy dari wajahnya? Karyanya? Kamu membaca blog di sosmednya? Atau kamu suka pribadinya yang humanis,atau?"


"Blog? Humanis?" Rara bertanya.


"Oh dari blognya, Blog pejalan fakir ilmu itu ya?" Bu Prinawati mengangguk-angguk. "Bagus,dari sikap dan catatan-catatan edy disana,kamu bisa mengenali jiwanya. Tidak seperti kawan-kawanmu yang lain dalam memilih pasangan. Mereka melihat fisik saja. Tidak sesuai dengan indonesia raya. Sudah bagus yang kamu lakukan ke Edy itu,membangun jiwanya dahulu. Baru ,bangunlah badannya."


"berasa kuliah ya kita, Bu," Rara tertawa kecil.


"loh iya, bagusnya begini. Belajar itu dari mana saja, dari cinta,dari alam,dari lingkungan dan apa-apa",Bu prinawati menanggapi serius,


"jangan pernah berhenti belajar. Belajar itu selamanya,seumur hidup, bukan hanya sembilan tahun, dan bukan hanya ketika kamu duduk di bangku kelas kuliahmu."


"iya,Bu." Jawab Rara.


"Terlebih mata kuliah Ibu. Pancasila. Makanya Ibu kalau ngajar jarang bawa buku,nyatat atau apa. Ibu lebih sering cerita. Pancasila itu ada di setiap kita kok, gaperlu lagi ditambah banyak-banyak ngapal teori kayak mata kuliah lainnya,tugas ibu hanya mengajak para mahasiswa untuk merawat nilai-nilai pancasila yang sudah ada di dalam diri mereka. Ya itu tadi,Pancasila.


Nah,lelakimu itu, Edy. Mahasiswa favorit Ibu. Wajar kalau dia berhasil mengalahkan kawan-kawan HMJ mu dalam debat tahunan terakhir kemarin. Orang dia bergaulnya di Desa-desa, di lereng gunung, di pasar tradisional,dan semacamnya. Uniknya, selain kreatif, pikirannya terbuka. Jadi konsep ekonomi yang dia pelajari di sini dia saring , Dia kawinkan dengan nilai-nilai pancasila. Dalam bahasa kampus, namanya ekonomi pancasila. Dengan itu, kawan kawanmu yang turun hanya dengan teori angka-angka dan hafalan ekonomi-ekonomi yang internasional itu,keoklah di debatnya.


Hanya , Edy kadang kurang luwes, emosinya kadang kurang matang. Padahal Ibu sudah menasehati dia satu hal, bahwa kematangan emosional itu berdiri satu tingkat di atas idealisme."


"idealis," Rara menanggapi Bu Prinawati.


"Sangat" Kata Bu prinawati lagi lantas menghentikan langkahnya yang tak terasa telah sampai di lobby. "itulah sebabnya ia punya banyak masalah dengan dosen-dosen yang secara rujukan atau referensi pengetahuannya memang bersebrangan dengan ideologi Edy,"Lanjut Bu Prinawati.


Bu Prinawati kemudian pamit meninggalkan Rara untuk pergi menghampiri beberapa mahasiswa yang sudah menunggunya. Sedangkan Rara yang memang tidak ada rencana untuk ke lobby, memilih duduk di kursi lobby. Rara terdiam memikirkan Edy. Telah masuk menyita tempat kecil di kepala Rara apa-apa yang dibilang Bu Prinawati tentang Edy di sepanjang jalan tadi.

__ADS_1


__ADS_2