Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
Nasihat


__ADS_3

Kedai The Corner


"Si Rara ini gila loh, Ed. Udah tahu kan dia keluar dari HMJ dan kuliah semester ini dia lepas" kata Kencing di pertemuannya bersama Pejuh, Edy, dan Rara di The Corner.


"Iya lah gila. Kalau dia biasa-biasa aja, mana mau aku sama dia" Edy menanggapi dengan canda.


"Lebih gila lagi, dia terabas standar kependakian" Pejuh menyambung di sela tawa mereka semua. "Belum pernah naik gunung, tiba-tiba solo Hiking ke Gede Pangrango. Bunuh diri mana yang lebih konyol dari itu" kata Pejuh lagi.


"Maafin aku, Juh" Rara memohon.


"Aku harus gimana untuk menebus kesalahanku itu?" tanyanya Sendu.


"Kamu harus bahagiain dulurku ini" Pejuh menunjuk Edy.


"Tolong diurusin,hidupnya kacau" kata Pejuh lagi dengan tertawa.


"Gausah disuruh kalau itu sih" Rara lemparkan senyum-senyumnya pada Edy.


"Pokoknya utangku ke kalian 1-0. Aku pasti balas" kata Rara lagi.


"Aku diputusin Pejuh coba Edd" Kencing mengadu.


"Apaaa?" Edy dan Rara terkejut bersamaan.


"Iyaa sok-sokan banget tuh anak pake mutus-mutusin segala" jawab Kencing. "Panjang deh ceritanya, pokoknya Pejuh marah perihal Rara nekat Ke Gunung Gede Pangrango."


"Terus sekarang kalian? tanya Rara


"Udah balikan kok" Pejuh menyambung.


"Alhamdulilah" ucap Rara dan Edy hampir bersamaan. Keduanya lega.


"Salut pokoknya sama Rara. Rebel Abis" Pejuh memuji.


"Memang deh, Si Anying (Bu Diah) gak salah tentang mereka berdua. Edy dan Rara...." Kencing memberi aba-aba kepada Pejuh.


"Sepasang yang melawan!" ucap Kencing dan Pejuh bersamaan dengan gaya layaknya caleg-caleg di spanduk-spanduk atau televisi saat pemilu. Vokalnya meyakinkan, matanya tajam, alis beradu, dan tangan mengepal mantap ke depan.


Semua tertawa menyaksikan sepasang Mapala itu.


Malam berlalu dengan syahdu di The corner. Mereka, Edy - Rara - Pejuh - Kencing, dua pasang yang saling bersahabat itu terus bertukar cerita. Edy dan Rara menceritakan yang terjadi di Gede Pangrango dan perjalanan mereka berdua, sedangkan Pejuh dan Kencing bercerita tentang hal-hal yang dilewatkan Edy dan Rara di kampus dan Bandung.


Malam-malam mereka semakin ramai ketika Kang Yana, pemilik The Corner, datang bergabung bersama dua pasang pencinta alam itu.


"Edy dan Rara, Sungguh kalian!" kata Kang Yana.


Edy berdiri menyambut Kang Yana.


"Gimana-gimana?" tanya Kang Yana. "Rara ini, luar biasa" katanya lagi.


"Hehe, heboh banget yaa Kang aku kayaknya??" jawab Rara.


"Iya lah, memang Fakkkkk pisan Rara nih. Ampun!!" Pejuh menyambut.


"Mangga, Kang, dikasih pencerahan nih anak-anak" kata Edy pada Kang Yana. "Kasih tau idealnya kependakian itu seperti apa" lanjut Edy.


"Kemarin lama di puncaknya gak di Gede Pangrango??" Tanya Kang Yana.


"Enggak lama Kang, Lewat doang" Edy menjawab.


"Hanya, dia dapat puncaknya sendiri,Kang" lanjutnya.


"Puncak... Puncak Asmara" Kencing meledek.


Kelimanya tertawa lepas.


"Dia pingsan begitu sampe Alun-alun Surya Kencana" Edy mengembalikan perbincangan.


"Termasuk hebat lohh dia, belum pernah ada pengalaman mendaki, tapi nekat naik Gede Pangrango. Sampe Pos Kandang badak aja sebenernya udah bagus banget, ini sampe Puncak dan Alun-alun Surya Kencana lagi" kata Kang Yana.


"Mengenai mendaki gunung, orang nekat jangan diapresiasi Kang. Kali ini Rara yang ini lagi beruntung, Rara-Rara yang lain belum tentu loh bisa turun dan berkumpul dengan kawan sanak saudaranya lagi" kata Pejuh.

__ADS_1


"Tuh denger" kata Edy pada Rara.


"Maaf" Rara merengek meminta perlindungan di genggaman Edy.


"Loh loh. Edy dan Rara pacaran? Aku kira si Kencing cuman bercanda" Kang Yana merespon melihat kemesraan Edy dan Rara di depannya.


"Wahh, akhirnya ada juga di negeri ini, sepasang yang aku tunggu-tunggu.." Kencing menyenggol kaki Pejuh.


"Sepasang yang melawan!" kata Kencing dan Pejuh bersamaan lagi.


Untuk ke sekian kali, tawa di meja mereka pecah lagi.


"Misal nih. Aku ga sendiri. Aku naiknya ditemenin kamu gitu" kata Rara pada Edy. "Tetep ga boleh ya pertama naik langsung ke Gede Pangrango gitu?"


"Boleh atau tidak boleh mah gak ada yang absolut. Kontekstual. Hanya, kalau bicara general mana yang ideal, ya lebih baik mendaki gunung bertahap, jangan ujug-ujug ke Gede Pangrango" jelas Edy. "Menurut Kang Yana gimana?" lanjutnya.


"Kesan pertama selalu memainkan peran penting pada apa-apa setelahnya. Itu berlaku di semua konteks. Tidak terkecuali di dunia kependakian." kata Kang Yana.


"Di luar konteks Rara ini, Kang. Penting gak sih Kang, muncak tuh?? Tanya Kencing.


"Nah ini menarik. Ini relevan sama yang barusan saya bilang tentang kesan pertama" Kang Yana memulai argumentasinya.


Rara, Edy, Kencing dan Pejuh menyimak.


"Puncak itu Bonus. Hanya, tanpa kemunafikan harus kita akui bahwa kita semua suka bonus. Mendapatkan puncak adalah salah satu kesan pertama yang baik untuk seorang pendaki di permulaannya di dunia kependakian.


Ya, si pendaki baru tersebut mendapatkan pelunasan dari segenap proses yang telah ia jalani dari bawah. Puncak kerap dianggap sebagai *******, tempat di mana esensi dan eksistensi kawin dengan begitu seimbang.


Ada begitu banyak orang kapok mendaki gunung setelah melakukan pendakian pertamanya, beberapa alasannya adalah karena mereka tidak mendapatkan puncak, sehingga perasaan mereka seakan berkata bahwa kelelahan yang mereka keluarkan dengan hasil yang mereka dapatkan tidak seimbang. Mudahnya, mereka merasa hanya dapat lelah.


Argumentasi saya ini mungkin akan terdengar sangat kontroversial kalau dicerna secara tak utuh. Saya pribadi sepakat dengan kutipan-kutipan yang ada di luar, seperti misalkan, 'jangan mikir puncak, puncak bukan segalanya', atau 'Proses lebih utama', atau 'Puncak tertinggi adalah kembali ke rumah dengan selamat', dan lain-lain sebagainya.


Sekali lagi, saya sepakat dengan semua kata-kata itu. Sangat sepakat. Tapi plis, ayo singkirkan keakuan dan keangkuhan kita. Ingat satu hal deh, bahwa mereka para pendaki pemula yang baru naik gunung, adalah bukan kamu Juh, bukan Kamu Ed, bukan saya. Mereka bukan orang-orang yang sudah berpengalaman dan merasa mengerti hakikat penuh sebuah kependakian.


Kita gak bisa berharap dalam sekali pendakian mereka akan langsung menjadi seorang yang bijak dan memahami nilai-nilai alam. Semua butuh proses, biarkan saja jika yang mereka butuhkan di pendakian mereka yang pertama adalah mendapatkan keindahan. Itu dulu tidak apa. Sebab sekali lagi, mereka masih baru. Mereka butuh alasan untuk kenapa mereka harus harus mendaki lagi, untuk kenapa mereka harus mencintai alam, untuk kenapa mereka harus menjadi pendaki baik yang sepertimu, sepertimu, dan sepertimu. Ya pokoknya itu deh" Jelas Kang Yana.


"Lanjutin Kang Yana" Rara meminta.


"Terusin Kang" Edy mendukung. Kencing dan Pejuh mengangguk-angguk setuju.


Jadi, kalian, kita, yang memandu, guide, atau senior, harus memiliki pemahaman yang cukup sebelum akhirnya berani membawa atau mengantar pendaki pemula untuk mendaki gunung.


jangan sampai orang yang mengantar naik gunung adalah orang-orang yang 'mohon maaf' orang amatir. Yaitu orang-orang yang kerap mengabaikan kecerdasan, orang-orang yang mengabaikan keselamatan, kemampuan, dan lain sebagainya.


Nah kalau begitu ceritanya, maka yang terjadi, si pendaki baru yang dibawanya kemungkinan besar akan chaos di perjalanan.


Pendaki baru kalau salah pilih partner bisa kacau. Bisa chaos di tengah trek. Nah kalau chaos, yang dia dapat dari naik gunung apa coba? Hanya view hutan tertutup yang menjepitnya, nafas-nafas yang kehabisan gairah, pemandangan trek terjal yang melumpuhkan semangat, badai, dan sebagainya. Sehingga bisa ditebak..."


"Kapok dia. Gak mau naik gunung lagi" Pejuh memotong mendukung argumen Kang Yana.


"Nah!" kata Kang Yana lagi. "Jangankan puncak, keindahan alam, kenikmatan jeda di camp, indah kebersamaan dan lain sebagainya pasti mustahil didapatkan di pendaki baru itu."


"Bener banget Kang" Rara menanggapi.


"Rara kalau gak dibumbui cecintaan di Gede Pangrango kemarin" kata Pejuh. "Pasti kapok dia naik gunung"


"Sok Tau" Kencing membela Rara. "Kang Yana ni katanya orangnya agak susah ya nerima orang lain untuk naik bareng Kang Yana. Kenapa gitu Kang?" tanya Kencing pada Kang Yana.


"Bukan susah nerima orang lain, cuma saya lebih selektif aja. Saya gak mau ngajak sembarang orang naik gunung. Karena apa? Karena satu, ketika kita sudah berkata 'Ayo' kepada orang lain yang minta naik bareng kita, itu artinya orang tersebut sudah percaya ke kita, dia seakan-akan sudah menitipkan nyawanya pada kita. Dan kita wajib menjaganya, mengembalikannya lagi dan membawanya turun lagi dengan sehat dan utuh." kata Kang Yana.


"Haram hukumnya seorang leader turun tanpa orang-orang yang sudah ia bawa naik, gitu prinsipnya Kang Yana" Edy mendukung. "Kita Harus menjaga tim kita. Bahagianya temen kita, bahagia kita juga. Sakitnya temen kita sakit kita juga. Nyawanya temen kita, nyawa kita juga" lanjut Edy.


"Betul! Itulah kenapa saya selektif milih temen naik. Itu yang tadi alasannya satu. Nah yang kedua," Kang Yana melanjutkannya.


"Saya gamau naik gunung sama orang-orang yang gak mau diajak mencintai alam. Malas lah saya jalan sama orang yang nyampah, orang yang gak mengindahkan etika, nilai-nilai dan sebagainya. Naik gunung itu kan melelahkan, kalau partner kita itu asyik dan sejalan, maka kelelahan kita jadi gak kerasa. Nah kalau sebaliknya? Duh gak janji deh, mending tidur di kamar. Enak" jelas Kang Yana.


"Waktu naik ke Gunung Sindoro, pertama kali aku naik gunung. Sama Edy, aku didiemin coba Kang. Gara-gara aku cengengesan pas nyanyi indonesia raya di Puncak, aku gak ditegur Edy sampai basecamp Kang. Sama sekali ga ada ngomong apa-apa" Pejuh bercerita.


"Ya iyalah, kalau aku yang disitu, udah ku tempeleng kamu" Kencing menyambung. "Indonesia raya kan sesuatu yang sakral, perlakuanmu terhadap indonesia yang katanya kamu cintai itu, mencerminkan perlakuanmu kepadaku sebagai kekasihmu, yang juga katanya kamu cintai."


"Iya, iya, itu kan dulu yang. Dulu jaman pertama naik gunung" Pejuh merayu Kencing.

__ADS_1


"Sekarang mah udah enggak, sekarang udah cinta sama negeri , cinta sama kamu juga"


"Nah disitu!" Kang Yana memotong.


"Di mana, Kang?" Pejuh celingukan.


"Di situ. Di ceritamu tadi" kata Kang Yana.


"Oalah" jawab Pejuh lagi.


"Orang gak selalu bisa langsung jadi bijak dalam satu kali pendakian. Butuh proses" kata Kang Yana. "Pokoknya semua itu, tugas kalian, kewajiban kalian, untuk mengedukasi adik-adik kalian yang ingin menggeluti dunia kepencintaan alam" kata Kang Yana berkesimpulan.


Kang Yana pamit pergi selepas argumentasi terakhirnya. Pejuh dan Kencing pun bergegas pulang tak lama setelah Kang Yana pergi. 'kuliah pagi' kata mereka berdua. Sedangkan Rara dan Edy, yang belum memiliki kewajiban kuliah sebagaimana Kencing dan Pejuh, memilih untuk tetap tinggal di The Corner untuk menikmati malam sejenak lebih larut.


Edy berdiri memesan cangkir kopi keduanya.


"Aku dong, Ed Sekalian. Kopi sesean satu" Rara titip pesan. "Secangkir aja ya. Berdua" Edy menawarkan.


Rara tersenyum setuju.


Sesean adalah nama salah satu bukit toraja. Nama tersebut dipakai Kedai The Corner untuk mewakili nama menu kopi Toraja perindingan Arabika. Selain sesean, ada juga Puntang, nama menu untuk Robusta Banjaran. Ada gayo, papandayan, semeru, dan lain-lain. Semua menu di The Corner memakai penamaan nama nama alam, baik itu gunung, pantai, air terjun, atau danau.


tak lama, secangkir toraja arabika datang ke meja Rara. Edy belum kembali ke mejanya, ia masih memilih-milih buku di lemari atau Rak yang ada di The corner.


"Lanjut dulu aja ke HP nya, Non" kata Edy sekembalinya ke meja. Ia menyindir Rara yang menunduk serius.


"Hehe, nengok Facebook sebentar,Ed" kata Rara dengan wajah masih terpaku di layar Hpnya. "Hampir dua minggu gak buka Facebook. Facebookmu diupdate lahhh" katanya lagi.


"Update apaan?" kata Edy sambil membuka-buka Buku.


"Update status atau apalah, kasih tau ke dunia kalau kamu sekarang lagi bahagia. Lagi.. Hmm.. Kalau kata anak-anak, quality time, sama aku. Gitu. Hehe" kata Rara.


"Kamu bahagia?" tanya Edy


Rara tersenyum. Ia tolehkan wajahnya ke Edy.


"Dari pertama aku pulang ke pelukanmu" kata Rara.


"Bahagia tidak pernah tidak di sini" Rara menunjuk letak jantungnya.


Edy menghentikan gerak tangannya yang sibuk memindai lembaran-lembaran buku. Edy tersenyum menatap Rara. Tangannya bergerak mengacak-acak rambut kekasihnya itu.


"Bentar ya, update status dulu biar hits" Rara tertawa kecil.


"Sebelum kelupaan. Soalnya kalau sama kamu aku suka lupa sama apa-apa" kata Rara lagi.


"Bagus" jawab Edy sambil kembali mengurusi buku di tangannya.


"Kok?" tanya Rara yang multi tasking, ia bisa meladeni obrolan Edy dan bermain dengan Hpnya bersamaan dalam satu waktu.


"Udah kamu update status aja dulu" kata Edy.


Rara meletakkan Hp nya.


"Udah" kata Rara sambil menggerakkan tangannya dan menutup buku yang menyibukkan Edy.


"Apa??" tanya Rara.


"Apanya yang apa?"


"Tadi. bahagia bikin lupa dan hmm.. Apa tadi itu?


"Iya itu. Tadi kamu bilang kemarin pas sama aku, kamu bahagia dan lupa. Itu bagus" kata Edy.


"Itu bagusnya kenapa?" jawab Rara.


"Tingkat Quality Time paling tinggi adalah ketika saking nyaman atau bahagianya kamu, pada seseorang, pada keadaan, atau apa-apa, sampai kamu lupa mengabarkannya pada dunia bahwa kamu sedang bahagia" jelas Edy.


Rara tersenyum mendengarnya. Matanya menggenang haru. Ia topang dagunya dengan kedua tangannya, ia selami wajah Edy dengan kekhusyuan tertentu.


"Kopi nya Non , diminum" kata Edy sambil mengangkat cangkir. Belum sampai sesapan itu di bibirnya, Rara menarik cangkirnya dan meminta giliran pertama untuk menyesapnya.

__ADS_1


Selebihnya. Edy dan Rara terus berbagi dan berkata-kata hingga larut. HP rara tergeletak. Buku ditutup Edy. Jika ada orang ketiga di antara mereka, maka sudah pasti ia adalah secangkir kopi yang mereka suruput berdua.


...*****...


__ADS_2