Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
Pulang (II)


__ADS_3

Alun-alun Surya Kencana Pagi Kedua


Kelelahan menanggulangi badai semalam membuat Edy terlalu lelap dan bangun terlalu siang lagi. Untuk kedua kalinya ia tidak menunaikan ibadah subuhnya.


sebagaimana nuansa setelah malam hujan, pagi itu cuaca cukup cerah dan menyegarkan. Dengan secangkir kopi, Rokok, dan rambut basah. Edy duduk di atas batu yang biasa. ia tengok tenda, pintunya masih tertutup. 'Rara lelah' pikir Edy.


Di dalam hati, Edy merasa dirinya 'Kelewatan' terhadap Rara perihal peristiwa kemarin. Hanya, Edy yang memang lelaki dengan ego yang tinggi di sisi-sisi tertentu, menolak untuk menyapa Rara terlebih dahulu. Ia menunggu Rara memulai kata terlebih dahulu, setelah itu Edy akan meminta maaf dan mengajarkan pengetahuan alam dengan lebih ramah dan sopan kepadanya.


Dari sesap ke sesap kopi, semakin dalam ia bertanya-tanya tentang bagaimana kabar Rara di dalam tenda sana. Sepagi itu Edy benar-benar dibuat sibuk memikirkan Rara. Hati kecilnya memerintahkan dirinya untuk menghampiri Rara, merawatnya hingga sehat betul, dan mengantarnya turun ke kota.


Dan terjadi juga. Edy mengalahkan egonya. Ia bergegas menyiapkan makanan. Meracik bumbu-bumbu. Dan siap memperlihatkan kepada Rara bagaimana wujud nasi yang ia buat.


Tak butuh waktu lama, sepiring nasi pulen dengan dua buah ikan segar siap ia sajikan untuk Rara. Tak cuma itu, pagi itu Edy juga menyiapkan sebuah kopi latte untuk dinikmati Rara seusai sarapan.


"Sepaket sajian dari kedai alam raya" kata Edy sendirian seselesainya ia menyusun alas dari dedaunan di atas batu besar, tempat favoritnya menikmati pagi, senja, dan malam.


Edy bergerak ke muka tenda. Berkali Edy panggili nama Rara agar lekas bangun dan membukakan pintu tenda. Hanya, tidak ada jawaban dan gerakan dari dalam. Hingga akhirnya Edy pun memutuskan untuk membukanya sendiri dan masuk membangunkan Rara.


'Kosong' batin Edy. Di dalam tenda tidak ada siapa-siapa


Edy mencoba untuk tenang dan berpikir positif. Ia bergerak mencari Rara di sekitaran mata Air, sebuah tempat dengan suasana menenangkan. Kadang Edy juga lupa waktu jika ia sedang berada di area tersebut. 'Rara mungkin tertidur di sana' batinnya lagi.


Kosong. Rara tak ada di mata air.


Edy beranjak ke sisi Timur Surya Kencana, di bukit belakang, di mata air, di puncak, dan tempat-tempat lain seputar Surya Kencana. sama. Rara tidak ada.


Edy tidak bisa lagi berpura-pura untuk tenang. Ia panik bukan kepalang. Sekuat tenaga ia berteriak memanggil nama Rara di segala titik Surya Kencana. hembusan angin benar-benar membuat Edy ketakutan di perjalanannya kembali ke tenda. Nasi di atas batu yang ia siapkan untuk Rara kini sudah dingin, lauk di atasnya pun sudah di curi binatang hutan.


Edy masuk ke dalam tenda mencari petunjuk yang bisa ia temukan. Di dalam tenda, daypack dan barang-barang Rara sudah tidak ada. Rara tidak hilang, melainkan menghilangkan diri. Di dinding layer tenda, sebuah surat tertempel dengan lakban. Edy membacanya dengan gemetaran.


Assalamualaikum Edy.


Edy. Mungkin kamu bosan mendengarkan kata maafku, tapi aku bener-bener minta maaf. Maaf banget. Maaf atas semuanya. Aku selalu merepotkanmu. Entah di kota, atau di alam, kehadiranku selalu membuat kacau hidupmu.


Benar kata kamu,Ed. Semua kata-kata kamu benar. Baik kata-katamu di catatan-catatanmu maupun kata-kata yang kamu sampaikan langsung ke aku. Kata-katamu dulu di kampus, juga kata-katamu kemarin di sini. Semua benar.


Aku putuskan untuk pulang, Ed. Jangan khawatirkan aku. Aku sudah sehat. Aku punya peta Gede Pangrango. Aku bisa pulang Edy. Nanti akan aku titip surat ke Pak Agus kalau aku sudah sampai bawah.

__ADS_1


O iya, aku lepas semua kuliahku semester ini. Jadi, kamu baik-baik yaa di Surya Kencana, dan lekaslah menyusulku pulang. Aku tunggu kamu di kelas semester perbaikan.


Terakhir, Maaf , tadi Aku mencium keningmu sebelum aku Jalan.


pasangan melawanmu. Rara Novitri.


Edy raih daypacknya. Flysheet, tramontina, tali webbing, obat-obatan, dan peralatan penting lain ia masukkan di dalamnya. Jam di tangannya menunjukan pukul 10.30. Dalam hitungan menit usai membaca surat, Edy melesat mengejar Rara. Intuisi Edy berkata bahwa Rara pulang lewat jalur yang sama saat kemarin ia datang. Jalur Cibodas.


Hujan semalam membuat Edy tidak bisa secepat yang ia ingin. Di beberapa titik, trek cukup licin. Satu jam setengah berlalu Edy sudah terpeleset dua kali salah satunya di tanjakan ekstrem yang bernama Tanjakan setan. Lututnya berdarah. Hanya syukurnya, itu tak membuat energinya berkurang. ia terus menyusuri trek menuju Pos bernama Kandang Badak mencari Rara.


Pukul 12.25 Edy sampai di pos Kandang Badak. persimpangan pos yang menghubungkan jalur antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango.


Nihil, tidak ada Rara dan sedikitpun petunjuk tentang keberadaanya. Edy meneriaki nama Rara dari Pos Kandang Badak. Seseorang menyahuti dari arah bawah. Mendengarnya, Edy meluncurkan diri sambil terus memberikan kode suara. Teriakan Edy terus mendapatkan balasan, hingga akhirnya kabut terbuka, dua orang pendaki beristirahat di bawah pohon menunggu Edy. Sayangnya, mereka adalah dua laki-laki dari pegiat lingkungan Cianjur. Tidak ada Rara di sana.


"Maaf Kang. Yang nyahut kode saya tadi siapa ya?" tanya Edy kepada kedua pendaki tersebut.


"Kita, Kang. Gimana? Ada yang bisa saya bantu?" jawab salah satu dari kedua pendaki tersebut.


"Lihat Rara, Kang?" tanya Edy. Kedua pendaki tersebut diam kebingungan, "Perempuan, Celana Jeans, sepatu sneakers, bawa daypack" jelas Edy.


"Enggak ada, Kang. Kita pikir cuma kita berdua manusia di sini. Ternyata ada Akangnya." jawab satu pendaki itu.


"Ohh kitu, yasudah Kang. Gak apa-apa. Saya mau langsung aja ya Kang. Marangga." kata Edy lagi lantas bergegas naik kembali ke Pos Kandang Badak.


Di pos kandang badak. Edy mengambil jeda sejenak. Ia tengok berkali-kali jam tangannya. Hampir pukul 1 siang. Ia menimbang-nimbang sesuatu. "Jalur putri" batinnya.


Edy pun kembali meluncur kembali ke Surya Kencana. Di pikirannya, ia mengaku salah terka, bahwa Rara rupanya tidak pulang lewat Jalur Cibodas, melainkan Jalur Putri.


Edy tau betul seluk beluk jalur kesayangannya itu, Jalur putri . Jalur yang cukup ekstrim dan menantang selain jalur salabintana. Oleh karena itu, Rara pasti akan berjalan sangat pelan. Edy merasa ia masih bisa menemukan Rara jika ia bergerak kembali ke Surya Kencana. Dan Lanjut mencari Rara di jalur Putri.


Edy kerahkan seluruh teknik dan kemampuannya untuk memacu waktu menuruni puncak dan kembali ke Surya Kencana. Ia melaju lebih cepat, ia sudah tau titik-titik trek yang licin. Selebihnya ia akan terus lari, lari, dan lari. Di kepalanya hanya ada satu tujuan yaitu, sebelum hari beranjak gelap, Rara sudah harus ditemukan.


Alam memang selalu misterius. Sefasih apapun seorang merasa mengenal alam, sewaktu-waktu ia (alam) selalu bisa membuat manusia merasa bodoh dan sadar, bahwa manusia adalah tempatnya keterbatasan dan ketidaktahuan. Hujan datang seketika menggantikan terik matahari sebelumnya. Edy melambatkan langkahnya sebagai penyesuaian trek.


Sial bagi Edy, salah satu jembatan di perjalan yang menghubungkan jalur trek yang terputus akibat pernah ada terjadinya longsor, kembali ambles. Entah apa penyebabnya. Banyak hal yang luput dari dugaan Edy siang itu.


Hanya, beruntung bagi Edy yang gemar membaca dan berdiskusi dengan orang-orang di sekitar pegunungan, bahwa tidak ada yang sia-sia dari membaca dan interaksi antar manusia. Pengetahuan dan pengalaman tidak pernah tidak berguna. Menyikapi jembatan yang putus itu, Edy ingat logika yang ia ketahui dari dari kawan-kawan Porter. Ada satu jalan lain, yaitu naik ke bukit kiri sebelum jembatan. Kemudian menyusuri sisinya sampai nanti bertemu kembali ke jalur yang sempat terputus tadi.

__ADS_1


Edy tau 'Perjudian' yang ia ambil ini berbahaya. Sebelum belok keluar jalur untuk naik ke bukit kiri, Edy buka daypacknya, dikeluarkannya tali-tali perusik. Dengan panjang sejengkal-sejengkal tangan ia potong tali-tali itu. Ia akan ikat perpotong tali-tali itu di titik atau kelokan trek yang akan ia lewati, agar apabila ternyata ia salah jalan, ia bisa kembali ke titik terakhir jalan yang menyesatkannya.


Berhasil. Jalan yang dipilih Edy ternyata benar. Ia menemukan kembali percabangan jalur trek ke Surya Kencana. Sebab waktu semakin menyempit, Edy lanjutlan lagi perjalanannya. 'Rara, Rara, Rara.' batinnya berkata terus.


Hujan dan jembatan yang terputus benar-benar mempengaruhi waktu tempuh Edy menuju kembali ke Surya Kencana. Pukul 5 sore Edy baru sampai kembali ke pintu Surya Kencana.


Ia turunkan tubuhnya, mengatur nafas sejenak. Dari tempatnya berhenti, ia dapat melihat tendanya yang ia tinggalkan. Kelelahan mulai mengganggu. Hanya, ingatan tentang Rara tidak bisa ia abaikan.


"Rara tidak bawa headlamp" kata Edy sendirian sambil melihat langit sore yang mulai gelap.


Ia hembuskan nafasnya keras-keras, ia bergegas maju ke arah tenda, melewatinya, dan lanjut kembali ke arah Jalur Putri. Beberapa langkah saat ia menyusuri Surya Kencana, sesorang memanggil namanya.


"Edy"


Seseorang keluar dari dalam tenda. Edy membalikkan badannya, matanya yang mulai sayu kini terbelalak seketika.


"Rara?" kata Edy sendiri memastikan apa yang dilihatnya.


Edy bergegas bergerak menuju Rara yang rupanya ada di tenda. Edy mendekat dengan langkah-langkah kecil yang cepat, nafasnya terengah-engah, kakinya terluka, pandangannya lurus kepada Rara.


Rara, di dalam hatinya ia sudah siap untuk dimaki, dimarahi, atau dipukul sekalipun, ia akan terima. Rara tahu, Edy mencarinya. Rara tau ia bersalah lagi. Rara benar-benar ditelanjangi oleh alam. Rara tau ia bukan apa-apa di sini. Uang, jabatan, dan kecantikannya tidak berarti apa-apa di hadapan rimba raya bernama Gede Pangrango. Keputusannya untuk mencoba pulang sendiri lewat jalur Putri adalah keputusan konyol, keputusan bunuh diri.


Rara yang kemarin merasakan bagaimana rasanya di hajar Trek cibodas, berpikir bahwa Jalur putri akan lebih baik dan mudah untuk dilewati. Itulah yang ada di kepalanya saat Rara memutuskan untuk pulang dengan bermodal peta sederhana jalur dan catper Putri yang ia dapat secara random dari internet. Beruntung, Rara yang akhirnya menyerah, ketakutan dan Chaos di sepertiga trek perjalanan menuju pos yang ada di jalur putri, segera memutuskan dan berhasil kembali ke tenda di Alun-alun surya Kencana.


Edy sampai di depan Rara. Wajahnya hanya berjarak sejengkal tangan dengan wajah Rara. Nafas Edy belum mereda, matanya yang berkaca bertamu ke mata perempuan di hadapannya. Mata Rara digenangi tanya. Dalam diam, Rara menunggu yang terjadi selanjutnya.


Edy menggerakkan tangannya. Sebuah pukulan barangkali akan terjadi oleh sebab akumulasi kebodohan-kebodohan yang telah Rara lakukan. Reflek, Rara memejamkan mata.


Yang terjadi, Edy memeluk Rara. Tepatnya, Edy memeluk Rara erat-erat.


Rara membuka mata. Di pundak Edy yang basah, nafasnya berhenti seketika. Edy, lewat keheningan dan pelukannya, seakan berkata 'Jangan pergi dariku. Sekali lagi, jangan pergi dariku!'


"Maaf, Rara" kata Edy lirih.


Gerimis jatuh di atas mereka berdua. Atas nama rasa terharu sedih atau apa, Edy tetap tidak menangis. Pelukannya yang sangat erat, menyiratkan jauh lebih dalam dari menangis. pelukan itu, pelukan paling erat di sepanjang hidup Edy.


"Di pelukanmu, aku merasa pulang" kata Rara lagi. Air matanya jatuh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2