Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
Petualang (I)


__ADS_3

"Kalau ada yang nyari, bilang aja, aku ada di tengah di antara titik aman dan hal-hal tak terduga. Aku di petualangan"


...~Edy...



Waktu terus berlalu, Edy masih bertahan di penyendiriannya di Alun-alun Surya Kencana, Gede Pangrango. Perpanjangan simaksinya selalu dibantu oleh Pak Agus. Di hari jumat,sabtu, minggu, Edy selalu mendapat kawan baru. Beberapa kelompok pendaki lain datang ke Surya kencana. Termasuk Pak Agus. Minggu kemarin Pak Agus tidak datang, mungkin tidak ada tamu. Biasanya setiap kali datang, Pak Agus dititip Edy sesuatu, entah itu baterai, rokok, atau kopi.


Desember kala Itu


Pada suatu siang. Di salah satu lembahan di rerimba Gede Pangrango, agak jauh dari alun-alun Surya Kencana, Edy mencari kayu-kayu dan medokumentasikan beberapa tumbuh-tumbuhan di Gede Pangrango dengan catatannya. Dari kejauhan, di track yang menuju ke Surya Kencana, Edy melihat porter berjalan dengan membawa seorang tamu di belakangnya.


'Pak Agus?' batin Edy menebak-nebak saat matanya memicing menangkap wajah dan gerak porter yang dilihatnya dari kejauhan itu. Ia tersenyum dan senang, jika benar itu adalah Pak Agus maka itu berarti, titipan rokok dan kopinya datang lebih cepat.


Edy meninggalkan pandangannya, 'Jika benar itu Pak Agus, dia pasti akan menunggu di tenda seperti biasa' Pikir Edy. Ia pun melanjutkan aktifitas produktifnya di Gede Pangrango dengan terus bergerak naik ke atas bukit untuk melanjutkan pencatatannya, sekaligus mencari rerambatan guna mengikat ranting yang telah ia kumpulkan.


Hampir 20 menit berlalu saat Edy keasyikan mengeksplorasi keaneka ragaman Gede pangrango akhirnya ingat bahwa Pak Agus mungkin menunggunya di tenda.


Saat Edy berdiri, berbalik badan, dan bergegas menuju ke tenda, Edy melihat seorang porter yang tadi dilihatnya menuju Surya Kencana, kini telah berbalik dan berjalan kembali menuju bawah. 'Rupanya bukan Pak Agus' batin Edy sambil tetap melangkah kembali menembusi ilalang-ilalang tinggi dan bergegas kembali ke tenda.


Sesampainya Edy ke area tenda, ia kaget melihat tendanya bergerak-gerak sendiri. Spontan Edy lemparkan badannya ke balik batu besar di dekatnya. Kayu kayu yang di ikat Edy terjatuh akibat gerakan spontannya.


Mendengar suara gaduh dari kayu kayu yang terjatuh, tenda itu diam gak bergerak lagi. Edy kuasai degdegan jantungnya, ia genggam tramontina di tangannya sambil menggeser kepalanya untuk mencari celah mengintip kearah tenda. Bayangan hitam bergerak dari dalam tenda, Edy melihatnya dari balik batu, seseorang keluar dari dalam tenda. Seorang dengan jaket hitam dan selendang di kepala.


Edy terus bertanya tanya dan mempersiapkan diri atas kemungkinan terburuk yang ada di pikirannya. Hingga akhirnya, seorang di depan tenda tersebut menoleh dan berjalan ke arah Edy, tepatnya ke arah kayu kayu berserakan di samping batu besar tempat Edy menyembunyikan badannya.


Seorang berjalan terseok-seok mendekat, di tengah langkah ia buka selendang yang mengikat kepalanya.


"Edyy" Sebuah suara lelah menyebut nama Edy.


Edy keluar dari balik batu. Matanya terbelalak. Edy jelajahi apa yang ada di depan matanya. Sepatu sneakers, celana jeans, kemeja flanel, dan selembar kain tenun tradisional melingkar di leher seorang di depan Edy.


"Rara?"kata Edy terpatah-patah keheranan. Dengan wajah pucat, Rara tersenyum menatap Edy.


"Pak Agus" kata Rara yang matanya menyipit.


Rupanya benar tebakan Edy bahwa porter yang tadi ia lihat dari atas adalah Pak Agus. Dan seorang tamu yang dibawanya adalah Rara. Bukan kopi, rokok, atau yang lainnya. Rara adalah titipan yang di bawa Pak Agus siang itu.


"Apa kabar?" kata Rara lagi. "Aku kemari untuk..."


"Untuk menunjukan kebodohanmu!?" kata Edy memotong. Ia kumpulkan lagi kayu-kayunya yang tergeletak. "Sumpah kalau kamu hanya ingin menunjukan itu, kamu gak perlu jauh jauh kesini" kata Edy lagi sambil berlalu menuju tenda.


Edy lewati Rara begitu aja. Keduanya kini saling membelakangi, Rara masih tak bicara sejak Edy memotong penjelasannya.


Brugg.. Edy jatuhkan ranting kayu di pelukannya ke depan tenda. Ia terus berkata-kata melanjutkan patahan emosinya. Ia kutuki Rara berulang kali tentang kebodohan Rara yang memutuskan untuk mendaki gunung tanpa persiapan, pengetahuan, dan kecintaan terhadap lingkungan. Kekonyolan yang dilakukan Rara tidak bisa Edy terima.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya..."

__ADS_1


Spontan Edy berhenti dan berlari menuju Rara. Baru ia sadari saat ia menolehkan kepala, Rara tersungkur jatuh ke tanah tak sadarkan diri.


...***...


Posko Mapala Kampus


"Syukurlah kalau Edy baik-baik aja" kata Pejuh di sela waktunya bersama Kencing di Posko. "Si edy beneran sendiri di Gunung Gede Pangrango?" tanya Pejuh.


"Iya" jawab Kencing yang sedang sibuk bermain dengan tali prusiknya..


"Eh , si Yasmine itu siapa sih, yang?? Kok dia bisa tau Edy di Gunung Gede pangrango?" Pejuh duduk mendekat di samping Kencing.


"Yasmine itu...travel blogger gitu deh. Hits banget di sosmed pokonya. Yasmine.." kencing diam sejenak. "Yasmine Anindya" lanjutnya.


"Oh iya iya. Sekilas kayak pernah denger namanya. Gimana ceritanya?" Pejuh meminta perhatian Kencing untuk bercerita. Tali prusik di tangan Kencing ia tarik dan simpan di atas meja.


"Ceritain ,yang" Pinta Pejuh.


"Yasmine.." Kencing bangkit, ia timang-timang tangannya sendiri sambil bergerak menuju sofa panjang di samping lemari alat-alat. "Sini sini" katanya sambil menepuk-nepuk bantalan sofa.


Pejuh lemparkan tubuhnya ke sebelah Kencing. Ia serongkan tubuh dan kepalanya menghadapi wajah kekasihnya itu.


"Kemarin terakhir aku cerita tentang Edy dan Rara sampai mana?" tanya kencing.


"Sampai yang Rara ngajak ke rumah Edy" jawab Pejuh.


"Rara tau dari Blog. Ya itu tadi, dari blognya Yasmine. Di sana Yasmine memposting sebuah catatan solo travellingnya dari Jogja, Bandung Cianjur.


Di dalam catatan itu Yasmine mengunggah foto-foto, di antara foto-foto itu ada foto dirinya di Gede Pangrango. Ada Edy di foto itu" Kencing menjelaskan.


"Aduhh, Edy..Edy.." Pejuh menggeleng-gelengkan kepala.


"Yasmine pun menulis sesuatu tentang Edy, aku lupa detail kata-katanya kayak gimana. Pokoknya inti tulisannya, Si Yasmine respek sama pemuda yang ia temui itu, Si Edy. Yasmine di antar Pak Agus.


"Ya allah kangen aku sama Pak Agus" Pejuh merespon. "Terus terus gimana selanjutnya?" pinta Pejuh lagi.


"Rara samperin si Yasmine. Hari itu juga dia samperin Yasmine yang sedang singgah di rumah saudaranya di padalarang,yang" kata Kencing semangat. "Paginya dia dapet kabar tentang Edy itu,siangnya dia samperin aku, sorenya langsung berangkat dia"


"Halah, cuma di Padalarang doank aja kok. Tinggal lompat" kata Pejuh santai.


"Ya gitu. Dia ke padalarang. Aku kontak temen-temen mapala yang berdomisili daerah sana buat jemput, jagain dan nemenin dia nyari alamatnya rumah saudaranya Yasmine" jelas Kencing.


"Ketemu?" tanya Pejuh.


"Iya langsung ketemu"


"Syukur, deh. Masih disana gak nih Raranya? Nitip ini donk yang, kopi aroma" kata Pejuh.

__ADS_1


"Rara...." Kencing nampak bingung. "Jangan marah ya, sayang" lanjut Kencing dengan wajah yang aneh.


Mendengar dan melihat keanehan Kencing, Pejuh mengubah letak duduknya. Ia lepaskan pangkuan kepalanya dari tangannya sendiri.


"Apaa?" kata Pejuh.


"Rara ke Gunung Gede Pangrango nyusul Edy" kata Kencing.


"Hahaha" Pejuh tertawa. Ia anggap Kencing bercanda.


"Aku serius" kata Kencing lagi.


Secepat kilat Pejuh bangkit dari tempat duduknya. Ia pandangi wajah Kencing. Dari tatapan Kencing, Pejuh tau bahwa Kencing memang tidak sedang bercanda.


"Kamu gila, Cing. Demi apa. Sumpah, kamu Gilaa!" Pejuh berjalan dan menyandarkan badannya ke pintu. Moodnya berbalik drastis.


seketika ia merasa perlu mencari udara segar sehabis mendengar kabar dari Kencing.


"Aku udah titipin dia ke Pak Agus" Kencing menenangkan. "Aku nelfon Pak Agus"


"Bilang apa ke Pak Agus? Kamu bawa-bawa namaku dan edy kan?" Pejuh marah.


Pejuh mengungkapkan pada Kencing bahwa hanya karena seorang telah berbuat baik, bukan berarti seorang itu bisa seenaknya menerabas nilai-nilai dan etika kepada yang berhutang budi.


"Kasihan Rara, Juh" Kencing menghampiri Pejuh.


"Kasihan kenapa? Cinta? Hah, iya kasihan, nanti mati dia di track ! Konyol !" kata Pejuh sambil melepaskan diri dari Kencing yang memeluknya.


"Kamu Mapala. Kamu tau aturan mainnya lah, Cing! Kamu tau prosedur dan lain-laijnnya"


"Ada Pak Agus, Juh. Pak Agus anter Rara ke Surya Kencana, selebihnya Edy yang urus."


"Ya itu kan Pak Agus, ya itu kan Edy. Nah bagaimana dengan Rara? Apa dia kuat? Apa dia tau teknik? Apa dia ngerti alam? Ngerti gunung? Ngerti standar? Nggak kan?!" nada Pejuh semakin menaik, Kencing terdiam. "Teori-teori, jurnal dan neraca keuangan yang dikuasai Rara gak kepake di sana" kata Pejuh lagi.


"Aku cuman pengen bantu Rara dan Edy. Gak ada maksud lain" Kencing melembut sendu.


"Oke seandainya , ajaib, sebut aja Rara bisa dan kuat sampai Surya Kencana. Mereka kembali kemari, nah apa yang harus aku bilang pada Edy?" Pejuh makin emosi. "Aku kenal Edy,Cing ! Aku pernah dihantamnya nih, di pipi. Hanya karena aku ninggalin rekan pendakianku di belakang saat Ekspedisi gunung Ciremai tahun lalu. Edy jauh lebih mapala dari kita! Aku respek sama dia. Apa katanya nanti"


"Oh jadi semua emosimu ini hanya karena kamu takut sama Edy? Karena ego itu?" Kencing balik menyerang.


"Astaga, Kencing! Arggh!" Pejuh memukuli pintu sekre dengan emosi. "Sudah, aku mau keluar nyari angin. jangan sampai ada yang tau ini sebelum kita bicara lagi nanti ! Bikin malu" katanya lagi.


Pejuh marah dan pergi.


Kencing, dibalik rasa bersalahnya, sbenarnya sudah memperkirakan ini semua. Kencing tau apa yang sudah ia putuskan. Ia siap menerima semua resikonya.


semua dimulai sejak malam di The Corner itu, saat Rara menceritakan kepada Kencing sebermula permasalahannya. Semakin hari, semakin Kencing tau dan fasih betul bagaimana jatuh bangunnya Rara mencari Edy. Terlebih setelah Kencing mengerti bahwa yang terjadi antara Rara dan Edy adalah lebih dari sekedar permasalahan kelas Bu Diah, mereka berdua lebih rumit dari itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2