
"Nikmatilah Jeda. Terlalu banyak keindahan yang terlewatkan dalam ketergesa-gesaan."
......................
Tak Terasa sudah sabtu. Dua hari setelah Edy dan Rara menyatu, menjadi pasangan, sepasang yang melawan. Edy memutuskan untuk mengajak Rara turun. Di kota, ada banyak orang yang menunggu mereka. Edy tidak ingin Rara seperti dirinya, meninggalkan kota, keluarga, kawan-kawannya ,dan orang-orang lain yang mencintainya. Rara harus pulang
"Kalau kamu boleh merdeka, berani berkata tidak, dan meninggalkan semua kemunafikan di kota, kenapa aku tidak boleh?? Rengek Rara.
"Aku ingin seperti kamu" lanjutnya.
"Jangan kamu melakukan itu semua karena aku. Jangan jadikan dirimu menjadi aku. Setiap individu itu unik. Aku adalah sebuah keunikan, kamu adalah keunikan yang lain. Kita bisa bersama, tapi kita tetap dua individu. Aku jadi diriku,kamu jadi dirimu" jelas Edy.
"Kalau aku nyaman menjadi dirimu, kenapa tidak?"
"Oke, aku Jadi Edy. Kamu juga. Lalu Rara kemana?"
"Kan kita bersatu" Rara melawan.
"Bersatu? Bersatu adalah dua yang jadi satu. Kalau kamu jadi Edy dan aku juga jadi Edy. Itu namanya satu yang menjadi satu" Edy menjelaskan.
"Sekali lagi, individu itu khas, unik, satu. Meskipun indah, matahari bukanlah apa-apa jika jumlahnya ada seribu. Kamu, jadilah diri sendiri."
"Baiklah, kekasihku" Rara bercanda.
"aku tidak akan ngebuat kamu menjadi seperti diriku, tapi aku akan mengantarkan kamu menemukan dirimu sendiri. Ketika seorang menjadi diri sendiri, ia akan menjadi pribadi yang luar biasa. Bayangkan, aku menemukan diriku, kamu menemukan dirimu. Kita adalah dua yang saling menemukan. Kita adalah sepasang yang memulihkan dunia. Kita sepasang yang menyelamatkan dunia" kata Edy.
Rara tak bisa berkata-kata lagi. Ia sangat bahagia bersama Edy. Tak pernah ia duga, ia akan jatuh pada seorang yang telah menculik hidupnya. Semacam Stockholm syndrome. Rara mencintai Edy, laki-laki yang membuatnya meninggalkan popularitasnya, prestasi akademik, jabatan, dan banyak hal lain yang Rara miliki. Hanya, seperti kata John Krakaeur (penulis favorit Edy) dalam bukunya 'Rather than Money, than fame, give me truth'.
Begitu pula sebaliknya, siapa yang menduga bahwa Edy, laki-laki yang kawan-kawan Rara menyebutnya, seorang yang sakit, dapat jatuh cinta pada ketua organisasi yang melulu dilawannya, seorang perempuan yang datang dari kalangan orang-orang yang selalu Edy lawan dengan kritik dan sinisme-sinisme yang kental.
Apa yang terjadi adalah, Edy dan Rara telah serupa shakespeare dalam drama romansanya. Dimana Edy adalah Romeo, Mapala dan sanggar teathernya adalah montague, sedangkan Rara adalah juliet dimana HMJ adalah capulet. Jika keduanya menuruti mekanisme dan bermain dalam standar aman, maka tidak mungkin ada cinta yang luar biasa seperti yang terjadi di Gunung Gede Pangrango pagi ini di antara mereka berdua. Melawan adalah pondasi kemerdekaan seseorang.
Pagi itu di Gede Pangrango. Matahari datang lagi, ia memang selalu datang, tapi ia tidak pernah menunggu. Sedetikpun tidak menunggu keindahan, di kota atau di cinta, memang selalu berjalan cepat.
Edy dan Rara meninggalkan Alun-alun Surya Kencana , turun ke Desa, dan kembali ke Kota. Bandung.
...***...
Di Perjalanan menuju kota
Setelah menempuh Perjalanan dari Surya Kencana sampai basecamp Cibodas, Edy dan Rara melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung. Oleh sebab luangnya waktu mereka berdua, Edy memutuskan untuk mengajak Rara lewat jalur jalan Raya, tidak kereta Api.
Mereka menaiki Bis. Di antara lenggangnya kursi-kursi di dalam bis, mereka duduk di kursi smoking paling belakang. Dan hanya ada mereka berdua saja di kursi paling belakang tersebut.
Edy sengaja memilih perjalanan Sore, agar berjamjam waktu tempuh bis, dapat dilalui Edy dan Rara dengan menikmati pemandangan kota cianjur dengan balutan merah langit senja.
"Sampai mana?" Rara terbangun
"Tidur aja" kata Edy sambil mengeraskan genggaman tangannya di tangan Rara.
"Sampai mana?" Rara mengulangi kalimatnya.
"Sampai jalan" jawab Edy.
"Dari tadi juga Jalan semua isinya" Rara tertawa menanggapi. Ia bangkitkan sandaran kepalanya dari pundak Edy.
"Nah itu kamu Tai" kata Edy
__ADS_1
"Tau! bukan tai" Rara membenarkan
"Maaf Typo" canda Edy
"isshh" Rara memukul gemas.
Rara membalikkan badan. Ia naikkan lututnya ke kursi, wajah, dan kedua tangannya ia tempelkan di kaca.
"Itu di depan penumpang semua ya?" tanya Rara. Edy mengangguk.
"Kok orang-orang duduknya di depan?" tanya Rara lagi.
"Iya memang di depan" jawab Edy.
"Kok kita di sini?" Rara menolehkan kepalanya.
"Mereka kan orang biasa. Kita kan enggak" Edy bercanda dengan lagak yang dingin. "Kamu mau ke depan, gabung aja sana"
"Ahh enggak. Aku bukan orang biasa. Aku diluar mereka, aku luar biasa!" Rara balikkan tubuhnya lagi, ia turunkan kakinya dan duduk kembali di sisi Edy. "Hal paling menyedihkan di dunia adalah menjadi yang biasa-biasa saja" kata Rara lagi.
Rara menggenggam tangan Edy lagi. Keduanya mengabaikan pemandangan kota yang mengantar mereka pulang. Mereka menolehkan kepala dan saling bertatapan.
"Rara"
"Edy" Rara menjawab lirih.
"Situasi ini" Edy mendekatkan wajahnya. "Kalau ngikutin yang di tipi-tipi, sebentar lagi kita pasti ciuman terus begituan" kata Edy.
"Arrrghhh! Kamu ngerusak suasana," Rara gemas dan mendorong Edy terjungkal.
"Yeahh! Kita ciptakan standar kita sendiri. Cinta ala kita!" Rara berkata-kata dengan lagak ala Edy.
"Nah itu kamu Tai" Edy sepakat.
"Tau!" kata Rara.
"Tos" Edy menawarkan tangannya.
"Tos!" Rara menyambut.
"Tapi bukan berarti aku gak mau nyium kamu, loh!" Edy mengklarifikasi. "Tidak di sini" katanya lagi.
"Ishh Eddd!"
Rara tertawa lagi. Sebuah tawa lepas yang ia sendiri telah lupa kapan ia terakhir merasakan hal-hal sebahagia ini.
Rara benar-benar merasakannya, bahwa ternyata Edy tidak seangker yang orang-orang bilang. Di balik segala prinsip dan sikapnya yang terlihat keras, Edy adalah laki-laki yang lucu, terbuka dan bijaksana. ia tidak menakutkan, ia hanya cerdas, ia hanya seorang yang mempunyai sikap menolak kepalsuan-kepalsuan.
...----...
Sesampainya di Terminal Leuwi Panjang Bandung
"Bandung" Rara tersenyum terharu di pelukan Edy. Keduanya duduk di emperan loket menunggu Kencing Dan Pejuh datang menjemput.
"Tempat kita datang dan kembali. Tempat kita bermain dan pulang" kata Edy sambil berkali membelai kepala Rara yang bersandar di dadanya. "Bandung adalah sesuatu, di mana Tuhan menciptakan dengan Mood yang sama ketika ia menciptakan alun-alun Surya Kencana di gede Pangrango, Ranu kumbolo di semeru, dan Segara Anak di gunung Rinjani, dan Kamu"
"Edy aduhh" Rara kegemasan sendiri. Ia genggam tangan Edy semakin erat. "Kamu dari dulu kemana sih. kok aku baru nemuin kamu!"
__ADS_1
"Kamu yang kemana?" balas Edy.
"Loh, aku ada di sekre HMJ terus" Rara bangkitkan kepalanya di sandaran Edy.
"Aku juga ada di sanggar terus"
"Aku gak tau kamu. Kamu yang tau aku, aku kan terkenal. Harusnya kamu nyemperin aku dan bahagiain aku dari dulu" Rara berlagak sombong.
"Ehh sembarangan. Aku juga terkenal. Siapa anak kampus yang gak kenal aku. Harusnya kamu turun ke UKM bawah, dateng ke sanggar, panggil aku, terus bilang 'Edy I Love You'. Kan kita bisa bahagia dari dulu" Edy melawan kesombongan Rara.
"Enak aja aku yang nyamperin. Kamu tuh siapa?" kata Edy lagi.
"Aku siapa?" kata Rara mengulangi pernyataan Edy. "Aku orang yang ada di setiap catatanmu. Aku orang yang ada di kanvasmu, di lagumu, di celah pengintaianmu. Aku orang yang selalu di kamu. Hmmm apa lagi ya. Masih mau tanya aku siapa?" Rara tertawa memenangkan sesi adu kesombongan bersama Edy.
"Nyerah,Bosku. Aku nyerah. Aku mah apa atuh dibanding Rara. Edy mah siapa" Edy merendah mencandai kara-kata Rara.
"Edy siapa? Mau kujawab Edy siapa?? Rara menantang.
"Edy itu...." Rara memulai jawabannya. "Adalah laki-laki yang membuat Rara, Mahasiswa dengan IPK hampir sempurna, ketua HMJ, perempuan idaman anak-anak UKM, merasa bahagia dan ikhlas meninggalkan semuanya untuknya. Untuk Edy. Edy yang melakukan itu semua." kata Rara dengan bibir yang melengkung.
Terus seperti itu. Edy dan Rara seakan tak pernah kehabisan bahan bicara yang mereka berdua olah menjadi sebuah kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Hingga tak berasa, dua jam sudah berlalu dari saat pertama kali mereka turun dari Bis.
Kencing dan Pejuh datang.
"Rara!!" dari kejauhan kencing berlari menghampiri Rara. pejuh menyusulnya di belakang.
Rara berdiri menyambut Kencing dengan kedua tangannya yang terbuka lebar. Tangis haru keduanya pun pecah sesampainya pelukan Kencing mendarat di tubuh Rara.
"Oii Nyet, naha cicing siga patung kitu" kata Edy kepada Pejuh yang berdiri terdiam tanpa berani menghampiri Edy. "Juh!"
Pejuh mendekat.
"Hampura Edd. Semua di luar kuasaku.."
"Enggak bisa, teman yaa teman. Prosedur yaa prosedur" Edy memotong.
"Mangga Ed" Pejuh menawarkan pipinya untuk di tampar. Ia pejamkan matanya untuk itu.
Edy menarik Kencing dan membisikkannya sesuatu. Setelah itu, sebuah kecupan mendarat di pipi Pejuh yang masih terpejam menunggu tamparan Edy di pipinya. Kencing mencium pipi kekasihnya yang merasa sangat bersalah pada Edy, sebab membiarkan Rara menyusulnya ke Gede Pangrango.
Pejuh terkejut. Ia buka matanya. Hatinya tenang. Matanya menggenang haru ketika melihat Edy, Rara, dan Kencing tertawa bahagia.
"Kalem Juh. Kalau bicara prosedur, aku jauh lebih menyalahi prosedur. Aku malah terimakasih banget sama kamu" kata Edy sambil memeluk Pejuh.
"Ente emang Anjing,Ed. Anjing!" Pejuh gemas.
"Anjing anjing anjing!"
"Ssssttt!" Kencing berdesis, matanya melotot memperingatkan Pejuh sambil menunjuk-nunjuk keadaan sekitar.
Semua mata di terminal saat itu tertuju pada keempat pemuda itu. Menyadari itu, Pejuh menunjukkan gesture memohon maaf atas ketidaksopanannya.
"Hampura, Akang, Teteh, Mamang. Sobat lama Uih!" kata Pejuh sambil menundukkan tubuhnya dan menyapa beberapa orang di sekitarannya.
Orang-orang tersenyum. Bandung menyambut kepulangan dua manusia di pelukannya. Edy dan Rara.
...***...
__ADS_1