Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
Gerbang


__ADS_3

..."Selalu ada titik dimana sesuatu bermula."...


...ΩΩ...


Oktober 20**13


Parkiran basement Kampus**


Rara ke kampus lagi untuk pertama kalinya sejak Rara yang sakit dan dianggap lari dari masalanya. Seusai mematikan mesin motor, ia rasakan betul bunyi degup jantungnya semakin mengencang dan menulikan telinganya pada suara-suara lain di parkiran.


setelah terdiam berdiri beberapa saat, ia tarik nafasnya dalam-dalam, pundaknya naik, ia hembuskan nafasnya kencang. Rara mulai melangkah meninggalkan Parkiran untuk menuju lantai tiga.


Dalam setiap langkahnya yang berat, pikiran Rara terus mengajaknya menebak-nebak tentang apa yang akan terjadi padanya hari ini di kelas.


'Bu Diah, mahasiswa, HMJ, beasiswa, smua, seluruh kampus, apa yang akan mereka lakukan padaku." batinnya.


"Ssssst.."


Suara desis menghentikan langkah Rara. Seorang mendekat dari belakang. Rara memejamkan mata, ditebaknya dalam hati, yang di belakangnya itu pasti seorang yang akan memberinya kata-kata tajam dan menyakitkan.


"nihh pake.. biar tenang," kata seorang tersebut.


Rara membalikan badannya. Edy berdiri di belakangnya mengulurkan sebuah MP3 portable lengkap dengan headsetnya.


"Gausah dengerin kata orang," kata Edy sambil lebih dekat menyodorkan MP3 di tangannya. "Nanti di kelas balikin lagi," lanjutnya sambil berlalu setelah Rara menyambut tawarannya.


"Ed," panggilan Rara menghentikan Langkah Edy. "barengg," kata Rara lagi sambil berjalan cepat menyusul Edy.


Merekapun berjalan bersama menuju kelas. Edy melangkah dengan tenang dan biasa, meski semua yang ditemuinya di jalan memperlihatkan wajah memendam terka dan duga yang luar biasa. Sementara Rara yang sedang berusaha mengabaikan segalanya dengan musik dari Edy di telinganya, akhirnya dapat melangkah dengan perasaan yang sama seperti Edy.


Melewati pintu kelas, Rara melepas headset di telinganya lalu duduk bersama Edy di bangku paling belakang. Tanpa musik di telinganya, suara-suara dan kenyataan kembali menjatuhkan mental Rara. Ia merasa takut pada semua orang. Willy datang, Sarah datang, orang-orang satu persatu datang. Rara terus menunduk dan menyibukkan diri dengan berpura-pura membuka buku.


Saat masuk kelas, dari pintu sampai tempat duduk, Willy terus saja melihat ke arah Rara. Setelah meletakkan tas dan minuman kemasannya, Willy menghampiri Rara dan mengajaknya keluar sebentar. 'Ada kepentingan yang harus dibicarakan', katanya. Dan oleh sebab kelas belum dimulai, Rara menuruti Willy.


Rara dan Willy pun bicara di luar kelas, sampai akhirnya Bu Diah datang.


"Selamat pagi," Bu Diah melintas tak lama setelah Rara dan Willy sudah kembali ke tempat duduknya masing-masing. "Presensi kelompok enam ya," Kata Bu Diah lagi sesampainya di meja.


Bu Diah mengambil daftar presensi lalu berjalan ke deretan meja tengah terdepan. Sekilas ia tengok isi kelas, pandangannya berhenti dan menajam ke sudut belakang, tempat Edy dan Rara duduk pagi itu.


"Tenang," Edy menggenggam tangan Rara yang gemeteran. "Orang dengan kebenaran, tidak ada alasan untuk tidak tenang."

__ADS_1


"itu gak berlaku di negara ini," balas Rara sambil melepaskan tangannya dari genggaman Edy.


Kelompok presentasi maju ke depan. Lembar presensi diberikan Bu Diah untuk seperti biasa digilir memutar kelas guna ditandatangani oleh mahasiswa yang hadir.


"Annjinng!" kata Edy pelan setelah lembar presensi sampai di tangannya.


"Ed??" ucap Rara spontan. wajahnya penuh tanya.


Edy menunjukan lembar presensi kepada Rara.


Nama Edy dan Rara dicoret Bu Diah dari daftar. Rara terkejut dan bingung melihatnya. Matanya memerah berkaca-kaca, ia tak tau harus berbuat apa.


"Punya Tipe-ex?" tanya Edy pada Rara.


"Hah?" Rara masih bingung.


Edy membuka kotak pensil Rara. Ia tip-ex namanya di lembar presensi yang dicoret Bu Diah. Kemudian ia tulis ulang lagi namanya di absensi dengan pulpen.


"Ini. Dengerin hatu kamu," kata Edy sambil mengangkat tip-ex dan menawarkannya kepada Rara. "Socrates," kata Edy lagi sambil menatap mata Rara dan menanamkan keberanian di dalamnya.


Rara pejamkan matanya beberapa saat. Dan dengan sedikit keraguan, akhirnya Rara meraihnya juga. Dia timpa coretan Bu Diah dengan Tip-ex. Melihat Rara yang masih sedikit takut, Edy membantunya. Edy tuliskan nama Rara kembali di Absensi.


'Rara Novitri' tulis Edy.


Sabtu sore. Rapat Anggota di Sekre HMJ


Setelah yang terjadi pada kelas Bu Diah tentang insiden Tipe-ex beberapa waktu yang lalu, perlahan nama baik Rara kembali pulih. Kawan-kawannya yang dulu hilang kini kembali dengan pelukan dan jabat tangan yang hangat kepada Rara. Tidak ada lagi cibiran-cibiran dan pandangan tajam yang menghampiri Rara lagi.


'Rara kembali' begitulah headline di buletin mimgguan kampus itu.


"Dari awal, saya sudah yakin Rara bisa menyelesaikan masalah ini," Kang Dendy mengapresiasi. "Saya itu kenal Rara,kok. Dia itu anak baik, kalau gak baik tidak mungkin dia bisa duduk di sini sebagai ketua kita."


"Terimakasih, Kang," kata Rara pelan dengan kepala yang terus menunduk.


"Iya kang, Rara itu orang baik, kita semua tau itu," Willy menyambung Kang Dendy.


"Willy !!" Rara menolak ditinggikan.


"Semua masalah yang kemarin-kemarin itu, memang lagi sialnya si Rara aja yang ketemu dengan Edy. Semua itu ulah si Edy urakan itu." kata Willy dengan percaya dirinya di lingkaran kawan-kawan HMJ. "Ahh andai Kang Dendy dan semua yang di sini melihat Wajah Edy di kelas itu," lanjutnya.


"Udahh, willy" Rara mencoba memotong.

__ADS_1


"Baru pertama kali aku lihat Edy tersudut dan gak berkata-kata kayak gitu," Sarah menyambung Willy.


Seluruh anggota yang hadir di pertemuan itu penasaran. Dan oleh karena sudah tidak ada agenda yang dibahas, Willy diminta menceritakan kejadian terakhir di kelas Bu Diah terkait Edy dan Rara.


"Presensi itu kembali Ke Bu Diah" Willy bercerita dengan antusias.


"Beliau marah dan meneriaki nama Edy dan Rara. Bu Diah yang sangat tersinggung, memerintahkan Edy dan Rara keluar dari kelas, tapi ya seperti biasa, Edy melawan" kata Willy.


"Edy mempertanyakan alasan Bu Diah kenapa namanya dan Rara dicoret dan kenapa Dia Dan Rara diusir dari kelas," Willy melanjutkan ceritanya. "Bu Diah tidak mau menjawabnya, ya orang sudah jelas, seluruh kampus tau kesalahan Edy dan Rara. Yang ada, Bu Diah semakin marah dan kembali meminta Edy dan Rara keluar dari kelasnya." lanjut Willy lagi.


"aku dengar, ini semua berkat kalian berdua," kata Kang Dendy kepada Willy dan Sarah. "Kok bisa? Bagaimana ceritanya?"


"Sekali lagi, seperti halnya Kang Dendy, aku juga yakin bahwa Rara itu orang baik," kata Willy sambil melemparkan senyumnya kepada Rara, yang sedari tadi hanya menunduk dan tak banyak bicara.


"Waktu itu, aku merasa perlu untuk berdiri dan bicara," Willy melanjutkan. "Aku katakan kepada Bu Diah bahwa semua adalah kesalahpahaman. Dari hari pertama masalah ini di mulai, Rara ini sama sekali gak terlibat. Rara dijebak Edy. Mengenai mereka bolos bersama, isu mereka saling jatuh cinta, dan mengenai foto mereka berdua yang dipakai untuk kawan-kawan jurnalistik itu pun semua adalah perbuatan Edy. Mana mungkin Rara mau sama Edy.


Kusampaikan pada Bu Diah bahwa mengenai coretan yang ditulis ulang di absensi itupun adalah juga sama, semua perbuatan Edy. Aku meminta Bu Diah untuk berpikir kembali dan mengingat tentang siapa Rara dan siapa Edy. Aku minta Bu Diah ngelihat track-record mereka. Aku katakan bahwa tidak mungkin Rara ngelakuin semua ini atas kemauannya. Sekali lagi kusampaikan, ini semua perbuatan Edy.


Mendengar penjelasanku, Bu Diah bertanya kebenarannya kepada Rara. Tapi Rara diam saja."


"Mungkin karena Rara takut," sahut Sarah. "Sebab waktu itu ia duduk di sebelah Edy."


"Yaa" willy mengambil alih ceritanya kembali. "Tapi aku tidak tinggal diam. Aku terus bicara meyakinkan Bu Diah. Meski berkali-kali Edy menunjuk-nunjukku dan mengancamku, tapi aku tidak takut, aku tidak berhenti.


Bahkan di kelas itu aku mendapatkan dukungan dan kesaksian. Seorang mahasiswa yang duduk di samping Rara ikut bicara, katanya ia melihat Edy menggenggam tangan Rara,namun Rara gak mau dan menarik tangannya kembali. Selain itu ia juga pernah mendengar Edy bicara kasar pada Rara, saksi itu bilang ia mendengar Edy berkata 'Annjingg' pada Rara di sana.


Semua yang di kelas mendukung Rara. Aku buka satu hal lagi ke Bu Diah. Aku katakan ke Bu Diah bahwa si Edy itu di luar kelas, selalu menyebut Bu Diah dengan sebutan Si Anying. Aku minta dukungan kelas untuk menguatkan tuduhanku. Seluruh kelas tertawa dan mengangguk-angguk. Edy tidak bisa berkata-kata kala itu. Di waktu yang sama, Sarah berjalan menghampiri Rara untuk memberikan dukungan dan membujuknya untuk bicara.


Dan akhirnya, Bu Diah yang udah sangat kesal, bertanya lagi kepada Rara, "Apakah betul semua itu, Rara?"


Alhamdulilah, Rara pun berbicara. 'Ya, ini semua perbuatan Edy'. Yah singkatnyaz begitulah cerita pada pagi yang menakjubkan itu," Willy menutup ceritanya.


"Hebat kamu Willy" kata salah seorang anggota di sana. "Sunggu berani" sahut anggota lainnya.


"Semua udah lewat" kata Willy lagi.


"Yang terjadi, di sore yang bahagia ini, Rara kembali di antara kita. Rara kembali," kata Willy lagi mengakhiri ceritanya yang dramatis.


"Luar biasa, kami semua berhutang padamu," kata Kang Dendy kepada Willy. "Juga pada Sarah. Kalian tidak hanya menyelamatkan Rara, melainkan juga menyelamatkan muka HMJ."


Kecuali Rara, semua yang hadir di sana bertepuk tangan dan mengapresiasi Willy dan Sarah. Dua orang itu dianggap telah menunjukan sosok keberanian dan solidaritas yang luar biasa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2