Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
TEMAN II


__ADS_3

Banyaknya pikiran, kerap tidur larut malam, dan tidak teraturnya pola makan belakangan ini, membuat Rara merasa tak enak badan. Pagi itu, Rara terbangun jam 10 tepat. Pada waktu yang sama, di kampus, perkuliahan ekonomi makro Bu Diah kelas Rara sedang berlangsung.


'Mati' batin Rara.


Rara panik bukan kepalang. tanpa mandi, Rara cuci muka sekenanya. ia meraih buku, menggunakan celana jeans kemarin, kaos oblong, dan mengambil kemeja flanelnya. Ia lesakkan kakinya ke sepatu, kemudian berangkat secepatnya menuju kampus.


Sesampainya di kampus, ia lanjut berlari dari parkiran menuju lantai tiga. Kepalanya semakin pusing, di perjalanan ia benar-benar merasa tubuhnya sedang tidak sehat.


Pukul 10.25 Rara mematung di depan pintu kelas. Ia lupakan keluhan seputar kesehatan tubuhnya. Kini kepalanya penuh dengan tanya dan rasa panik. Terlambat 25 menit adalah sebuah tinta merah dalam sejarah perkuliahannya. Sialnya lagi, ini adalah kelas Bu Diah.


Batinnya bertempur tentang pilihan untuk maju meraih gagang pintu dan masuk, atau mundur. Rara tak bergerak sedikitpun hingga akhirnya HPnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Willy.


"Kalian kemana?" kata Willy dalam Hp Rara.


"Kalian?" balas Rara yang tak mengerti apa yang dimaksud 'kalian' dalam pertanyaan Willy.


"Kalian, kamu dan Edy kemana?" balas Willy lagi.


'Sempurna. Mati aku.' batin Rara. Matanya melotot kosong. Badannya melemas seketika. Rupanya Edy tidak masuk kelas juga.


Rara tidak bisa membayangkan apa yang ada dipikiran kawan-kawannya tentang keadaan yang di luar rencananya ini. Terlebih Bu Diah. Setelah 'spasang yang melawan' akan ada ungkapan apa lagi yang ia berikan pada Rara dan Edy yang bolos kuliah bersama.


Pilihan untuk membuat semua itu tidak terjadi, sbnernya ada. Yaitu Rara harus masuk kelas. Hanya, itu sama dengan Rara menjadi mahasiswa terbodoh pertama yang berani masuk di kelas Bu Diah setelah kini ia terlambat hampir setengah jam.


Pusing di kepalanya semakin parah. Rara memundurkan langkah kakinya menjauhi pintu. Hp yang baru saja menyampaikan pesan dari Willy itu belum juga turun dari tangan Rara. Pikirannya pun masih penuh dan kalut saat akhirnya ia antarkan tubuhnya untuk melunglai duduk di kursi panjang dekat loker di sisi kelas.


"Lihat apa yang kamu lakuin padaku, Edy," katanya lirih entah pada siapa.


...***...


Sebab ia merasa tidak enak badan, Rara berniat untuk pulang. Mencoba menghindar dari kawan-kawan dan ruangan HMJ, Rara pulang memutar lewat pintu dekat taman. Rara bertemu dengan kencing di jalan menuju taman. 'Habis ngehibur temen, kasihan dapat musibah,' kata kencing sambil menunjuk seorang laki-laki yang dari kejauhan Rara melihatnya duduk sendirian di taman dekat gedung perpustakaan. 'Edy' ucap Rara dalam hati.


Tidak membaca buku, tidak mendengarkan musik, Edy terduduk sendirian di taman dekat perpus. Matanya redup, tubuhnya gemetar sesekali, kepalanya menghadap langit sembari ia hisap dalam-dalam rokok di tangannya. Tanpa memainkan kepulannya, ia hembuskan asap-asap itu seketika dan tanpa irama.


"kenapa gak nangis aja?" naluri kewanitaan Rara yang penuh kasih keluar seketika. Ia menyapa Edy yang jelas terlihat sangat kacau dan berantakan.


Dari tampilannya, siapapun yang mengenal Edy pasti tau, sesuatu yang berat sedang terjadi pada Edy.


"Semua orang menangis ketika sedih, dan itu gak ada kaitannya dengan kekuatan seseorang. Gak gak serta merta kehilangan kelelakianmu ketika nangis," kata Rara lagi.


"Semua orang menangis ketika sedih?" tanya Edy. Ia menoleh ke arah Rara. Edy tersenyum, matanya yang menggenang dan memandangi Rara dari rambut sampai sepatu.


Rara mengangguk sambil beranjak duduk di bangku sebelah Edy.


"Kapan kamu sedih dan menangis?" tanya Edy.


"Banyak. Aku menangis ketika dimarahin ayah, katika nilai jelek juga aku menangis, ketika dulu disakitin pacar juga menangis, dapet kasus Bu Diah juga aku menangis," Rara tersenyum mengakrabkan diri kepada Edy.


"Aku wanita, aku lumayan sering menangis. Ketika bersedih aku menangis." Rara menjelaskan sambil menggoyang-goyangkan kakinya agar enggak grogi.


Keduanya hening beberapa saat.


"Palsu" kata Edy mengembalikan percakapannya.


"Palsu?" Rara mengulangi.

__ADS_1


"Di jalan ada rumah-rumah digusur, di stasiun ada pedagang-pedagang diusir, di jembatan ada anak-anak kecil kelaparan, di gunung ada sampah berserakan, kamu enggak sedih ngeliat itu semua?" tanya Edy. Rara menghentikan goyangan kakinya.


"maksud kamu apa?" Rara menoleh ke arah Edy.


"maksudku,ya itu, apa kamu nggak sedih ngeliat itu semua?" edy mengulangi pertanyaan.


"Iya sedih, lalu?" jawab Rara sambil bertanya di dalam hati apa maksud edy menanyakan itu.


"Lalu, apakah kamu memangis?" kata Edy.


Rara terdiam mendengarnya.


"Kemungkinan besar kamu mungkin sama dengan kebanyakan orang, bahwa kamu mengaku merasa sedih tapi tidak menangis melihat itu semua. kamu dan kebanyakan orang hanya menangis ketika diri disakiti, dikhianatin, atau apa-apa yang buruk menimpa kamu." kata Edy lagi melanjutkan.


apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya?" Rara mulai tidak nyaman meski telah ia ubah letak duduknya berkali-kali.


"Orang-orang gak fair. Gak bersungguh-sungguh merasa sedih pada banyak hal. Kecuali kalau sesuatu menimpa dirinya barulah mereka benar-benar merasa sedih, lalu nangis. Apa yang lebih egois dari orang-orang itu. Orang-orang berpura-pura. Termasuk ketika bersedih, mereka tidak benar-benar merasakannya." lanjut Edy.


Rara tersinggung dan spontan beranjak meninggalkan Edy.


"Aku wajib malu pada kehidupan, jika merasa bersedih dan bisa menangis saat diri tersakiti namun baik-baik saja melihat segala kekeliruan yang menyedihkan di dunia,"lanjut Edy.


"Mungkin benar..."kata Rara sambil menahan langkahnya, "Kamu sakit,Ed." Rara meninggalkan Edy.


"Mungkin benar.." kata Edy sendirian. "Soe Hok Gie. Dapat mencintai, dapat iba, dapat merasakan duka. Tanpa itu semua ,maka kita tidak lebih dari benda."


'selamat jalan, abah. Titip salam untuk emak di sana, bilang, Edy bakal tepatin janji Edy. Edy bakal lulus.' Batin Edy yang sedih bersedih sebab kakeknya meninggal dunia.


...***...


Hari berlalu. Berita mengenai prilaku 'tidak patut' Rara bersama Edy tersebar semakin luas dan menjadi topik asyik untuk bergosip-gosip di kantin dan gelanggang mahasiswa. Selain ungkapan 'spasang yang melawan' yang menjadi headline, ntah siapa yang mengambilnya, Foto Rara dan Edy duduk berdampingan di taman perpus menjadi gambar yang menyita banyak perhatian di mading dan buletin mingguan UKM jurnalistik kampus.


Kesempatan itu digunakan beberapa musuh, baik musuh Edy di kampus, maupun musuh Rara di HMJ untuk mengkudeta dan menyuarakan isu untuk memaksa Rara mundur dari jabatan ketua HMJ.


Sementara Willy dan Sarah yang ia harapkan dapat memberinya dukungan moril malah turut serta menyudutkan lewat kata dan perilaku,baik tersirat maupun tersurat.


Rara jatuh pingsan di rumah sakit saat ia hanya berniat untuk sekedar periksa dan meminta resep obat. Tipes, kata dokter.


Demi kebaikannya, Rara dipaksa untuk tinggal dan dirawat beberapa hari. Selama hari-hari itu, tidak ada satupun kawan-kawan Rara yang tau mengenai itu.


Sebelum Rara akhirnya memutuskan untuk mematikan HPnya, sbenarnya Rara tidak benar-benar sendirian. Ia kerap diberikan perhatian, salam, dan semangat oleh beberapa rekan di HMJ dan kawan lainnya. Hanya, Rara merasa semua hanya basa-basi. Semua tidak sedang benar-benar peduli, terlebih kebanyakan dari mereka adalah laki-laki, yang Rara ketahui semuanya memiliki kepentingan masing-masing dengannya, entah itu kepentingan asmara, studi, atau terkait posisi di HMJ.


Selain IPK yang tinggi, Rara menyadari bahwa potensi di dirinya ada pada jabatan dan kecantikannya. Rara merasa bahwa laki-laki manapun pasti akan melakukan itu, memberi perhatian, mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mendekat dan berharap dianggap pahlawan. Hanya, sepenakut-penakutnya dan sebagaimanapun sepinya Rara, hati kecilnya masih bisa berkata tidak untuk kemunafikan. Dan kini, tidak ada pilihan lain yang bisa ia dengarkan melainkan suara hatinya sendiri. Rara sudah siap jika keputusannya itu sama dengan berarti Rara harus kesepian.


...***...


Sore di Rumah Sakit, Hari keenam Rara dirawat


"Rara?" terdengar suara yang tidak asing memanggil Rara dari depan pintu yang baru saja terbuka.


"Kencing...!" kata Rara dengan wajah yang senang.


"Hallo Rara," Pejuh menyapa usai menutup pintu.


"Pejuh...!" Rara balas menyapa.

__ADS_1


Diterimanya tubuh Kencing yang bergegas menghampirinya dengan pelukan. Rara sangat senang bertemu Kencing dan Pejuh.


"Tau dari mana aku disini?" tanya Rara.


"Kita habis donor, ga sengaja ngeliat nama kamu di daftar pasien di papan informasi di depan sana," Kencing menjelaskan.


"Rara Novitri, tertulis di sana. Yasudah kita iseng ngecek, ternyata benar kamu,"lanjutnya.


"Oh.. Donor apa disini? Darah?"


"Donor hati,"kata Pejuh.


"Hah seriusan?" Rara keheranan.


"Wo iya, Hatiku Kaleuwihan nih. Rara mau? Aku kasih satu," Pejuh bercanda. Rara tertawa akan lelucuan Pejuh.


"wooo iya, Tubuh utuh dari kaki, ************, ketek, sampai rambut kamu kudonorin nanti lama-lama," Kencing meresponnya dengan cubitan sebagai peringatan. "Mau?"


"Duhh, nggak, Kencingg kanya'ahku. Ampun," jawab Pejuh sambil menyilangkan tangan dan mempertemukannya di resleting celana jeansnya yang sobek-sobek.


"Iya Rara, donor Darah," kata kencing kepada Rara.


Dalam hati, Rara benar-benar merasa sangat senang bertemu dengan dua orang di dekatnya itu. Kehadiran Kencing dan Pejuh, selain membasuh rindunya akan interaksi dengan orang, juga membuka pikiran Rara tentang apa yang selama ini ia dengar dari kawan-kawannya dan dosen-dosen mengenai anak-anak Mapala.


Sebagaimana diketahui bahwa syarat donor darah adalah tubuh yang sehat dan bersih dalamnya. Apa yang telah dilakukan Kencing dan Pejuh selain menjelaskan tentang rasa kemanusiaan tinggi dari kawan-kawan mapala, juga menampik segala stigma. Mereka berdua seakan mengklarifikasi tanpa kata-kata, bahwa mereka terbebas dari alkohol dan obat-obatan terlarang.


'Ya. persepsi orang-orang di jaman sekarang memang jauh lebih bisa membunuh seseorang ketimbang peluru atau apa-apa,' kata Rara dalam hati.


"Pantas kemarin gak keliatan di kelas penganggaran," kata kencing.


"Kamu dicariin sama orang-orang loh," sahut Pejuh.


"Sakit apa,Rara? Sudah berapa lama?" tanya kencing.


"iya nih, Tipes kambuh," Rara mencoba bangkit dan duduk. Kencing membantunya. "Kemarin penganggaran ngerjain lembar kerja apa?" tanya Rara.


"Eh buset dah Rara ya, sakit gini masih mikirin lembar kerja mata kuliah penganggaran," Pejuh menggeleng-gelengkan kepala, "santai, besok aku ajarin," lanjutnya.


"Halah, Pejuh bacot, kamu aja nyontek ke aku," kata Kencing pada Pejuh.


"Jangan mikirin itu,Rara. Besok kubantu ngejar ketinggalannya," kata Kencing pada Rara dengan senyum yang bersahabat.


"Edy juga jago penganggaran loh," Pejuh menyahut.


Kencing melotot dan menginjak kaki Pejuh seketika. Pejuh menangkap maksud Kencing agar ia lebih hati-hati ketika bercanda tentang Edy dan Rara.


Rara terdiam menghening mendengar candaan Pejuh yang tak tau apa-apa tentang ia dan Edy.


"Maaf Rara. Keceplosan," kata Pejuh.


Rara berlagak tersenyum untuk mencairkan keadaan.


"Makasih ya, kalian baik banget," kata Rara.


"Aku kemana aja selama ini, kok aku baru kenal kalian," kata Rara lagi.

__ADS_1


Mereka bertiga terlibat sebuah percakapan yang hangat. Saling memperhatikan dan berkata tentang apa-apa. Bila dilihat dari Fisiknya, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari Pejuh dan Kencing di mata Rara, kecuali satu, mereka tidak Palsu.


Hingga malam, kencing menyuruh Pejuh untuk pulang dan membiarkan Kencing tinggal di rumah sakit untuk nemenin Rara. Bersama Kencing, untuk pertama kalinya di rumah sakit itu, Rara benar-benar baru merasakan bahwa dia sedang mendapatkan pemulihan dan perawatan


__ADS_2