Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
Arah Langkah


__ADS_3

~Sebab banyak orang berjalan, tapi mereka tidak kemana-mana~


...ΩΩΩ...


Peristiwa yang terjadi di kelas Bu Diah berbuntut panjang. Edy dilaporkan ke ketua yayasan kampus, ia disidangkan bersama PUKET, pembantu umum ketua kampus, dan beberapa dosen saksi. Kasusnya diakumulasi dengan pelanggaran-pelanggaran Edy yang lampau. Edy mendapat skorsing penuh satu semester. Semua mata kuliahnya di semester berjalan itu digugurkan. Edy juga dilarang untuk mengikuti seluruh kegiatan unit mahasiswa. UKM teater diminta untuk membuat musyawarah luar biasa untuk mencari pengganti Edy.


Edy dibuat benar-benar terluka oleh orang-orang dan kampus. Ia juga dilarang ke sanggar, nyaris menjalani hari tanpa aktifitas yang menurutnya produktif dan berguna.


Di pikiran Edy, berada di kota senyaman Bandung tanpa aktifitas produktif adalah sama dengan membunuh masa depan diri. Sebab perkuliahan semester baru masih harus menunggu tiga bulan lamanya, dan juga produksi dagangan kaosnya juga vakum, maka Edy memutuskan untuk menggunakan waktu skorsingnya guna meremajakan batinnya, merawat hati dan nuraninya yang dipenuhi kebencian akan kota.


Edy Pergi ke Gunung Gede Pangrango, Cianjur.


Kebun Raya Cibodas, Cianjur.


"Mampir,Pak" sapa Edy pada seorang porter yang melintas di dekat tempatnya beristirahat.


"iya.." jawab porter tersebut spontan.


"Pak Agus?" sapa Edy lagi.


Porter itu memutar badannya yang memanggul dua buah bakul dengan kayu penyangga di antara pundaknya.


"Edy bandung?" kata Pak Agus lagi setelah melihat Edy.


Pak Agus mendekat dan merendahkan badannya guna memastikan orang yang menyapanya.


"Wah benar, Edy Bandung" kata Pak Agus lagi sambil menurunkan bakul logistik di pundaknya.


"Pak Agus ini" kata Edy usai membantu meletakkan bakul yang dibawa Pak Agus.


Edy membuka kedua tangannya lebar-lebar. Pak Agus menyambutnya. Kedua Sahabat lintas generasi itu berpelukan melampiaskan kelelahan dan kerinduannya


"Edy Bandung.. Edy Bandung.." kata Pak Agus. Tangan kanannya menjabat erat Edy sedangkan tangan kirinya menepuk lengan anak muda itu berkali kali. "Kumaha Damang?"


"Alhamdulilah Saeee pak" jawab Edy sambil beranjak mencari posisi duduk yang nyaman untuk berbincang dengan Pak Agus.


"Bawa berapa tamu pak?" kata Edy sambil membuka head carriernya


Edy mengeluarkan botol air dan beberapa potong roti.


"Silakan pak" kata Edy lagi


"Empat orang" Pak Agus bergerak menuju bakul logistiknya. "ini..." katanya lagi sambil mengeluarkan splastik bekal kuenya. "ini kesukaan kamu kan"


"Wahh kueh nanas buatan si Ibu" kata Edy. "Saya ambil satu pak. Kangen ka si Ibu jadinnya"


"Candak weh sadayana" kata pak Agus. "eta kamu di cariin anak-anak. 'Kangen kang Edy bandung, kangen Kang Edy bandung' gitu terus katanya" lanjut Pak Agus dengan tawa keakrabannya.


"Saya oge kangen mereka,pak. Besok deh insya allah mampir"


"Rizal Fakhrurozzi ikut?" Pak Agus menanyakan Pejuh.


"Saya sendirian pak"


"Oalah sendiri. Ini mau naik atau turun?"


"Naik,pak. Saya naik dari Cibodas. Semalem udah nge camp di taman raya, ini baru aja sampe sini. Pengen aja kesini"


"Tumben naik dari sana? Biasanya naik Via jalur gunung putri.


Apa jangan-jangan kamu masih kesal dengan jalur Putri yang tidak sebersih Cibodas?"


"Ahh bukan gitu,Pak. Saya lagi pengen aja lewat Cibodas. Mengenai sampah, itu karena mungkin jalur Putri sekarang-sekarang mulai populer kali ya,pak. Lebih banyak di lewati karena tracknya lebih dekat, jadi ya begitu. Itu bukan salah Pak Agus, itu salah kami orang-orang kota."


Dari kejauhan, riuh rendah pendaki tamu Pak Agus mulai terdengar mendekat.


"Sudah Pak. Kita jangan saling mencari siapa yang salah. Gimana kalau kita salahkan mereka aja,pak. Haha." kata Edy sambil menunjuk sekelompok turis pendaki.


"Aduh, Ntongg ah. Mereka sumber penghasilan bapak" kata Pak agus membalas candaan Edy dengan tawa.


"Hello" salah seorang tamu Pak Agus menyapa Edy. Empat orang. Dua pria,dua wanita, kesemuanya menggendong daypack dan menggenggam sebuah tracking pole di tangan kirinya.


"Hello" Pak Agus berdiri dan menyapa tamunya. "Please introduce, the man who saved my life a years ago. His name is Edy" Pak Agus memperkenalkan Edy.


Satu persatu tamu Pak Agus menyalami Edy. Setelah sedikit menceritakan Edy kepada para tamunya, Pak Agus bergegas bangkit untuk melanjutkan perjalanan.


"Okay, We have to go" kata Pak Agus.


"Noo, santay aja dulu. Take a rest for a minute" seorang tamu yang lain meminta Pak Agus untuk tetap istirahat.


"No, we have to move. Sunset,sunset" Pak Agus memerintahkan tamunya untuk terus berjalan. "Our camp ground is there,near" kata Pak Agus lagi sambil menunjuk letak mereka akan mendirikan tenda .


"Duh, sebenernya Bapak ingin sekali ngobrol lebih lama dengan kamu" Pak Agus bangkit dari tempatnya bersandar.


"Santai aja,Pak. Saya sepertinya bakal lama disini"


"Berapa lama?"


"Gatau,Pak. Saya lagi gak terikat apa-apa di kota. Saya akan sangat lama disini, mungkin"


"Sudah, nanti kita lanjut lagi. Bapak nge-camp di dekat belokan setelah mata air di sana, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya kalau ketemu." kata Pak Agus lagi sambil mengangkat bakul logistik ke pundaknya dan bergegas berjalan melanjutkan tugasnya.


Pak Agus melangkah melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan, ia menoleh ke arah Edy dan memberi kode dengan tunjukkan jarinya bahwa ia menunggu Edy di camp ground.

__ADS_1


Tak lama. Edy pun turut


bergegas menyiapkan diri menyambut sore di Gunung Gede pangrango. Edy mendirikan tenda di lahan agak landai lumayan jauh dari tempatnya beristirahat tadi. Ia hadapkan tendanya menghadap matahari senja yang turun ke belakang bukit, di serong kiri bawah nampak kota cianjur mempertontonkan keindahannya dari kejauhan.


Edy memilih tidak mendekat dengan tenda Pak Agus sebab ia tidak mau mengganggu pekerjaan Pak Agus. Lagi pula, orang-orang yang luar biasa seperti Pak Agus itu, yang beralaskan sendal capit, berselimut kaos oblong partai dengan balutan sarung yang multifungsi, bisa sebagai handuk, alas, selimut dan lain sebagainya. Biasanya sehabis mereka mendirikan tenda, membuatkan toilet temporer dan memasak makanan bagi para tamunya, mereka langsung tidur guna mengistirahatkan badan setelah menempuh perjalanan satu hari, memanggul dua bakul dari basecamp menuju Pos 4 dengan berat masing-masing sisi bakul sekurangnya sama dengan carrier 80L yang dipake Edy.


Hubungan keakraban di antara Pak Agus dan Edy bermula dari Saat Edy menolong Pak Agus di peristiwa 2016 awal lalu. Pak Agus terperosok ke dalam jurang di jalur cibodas. Selain jalur yang sulit dan licin karena ada air terjun panas, kala itu beban di bakul Pak Agus melebihi batas yang biasa ia bawa. Pada peristiwa itu, bakul logistik Pak Agus jatuh ke dasar jurang, sementara Pak Agus masih bertahan tertahan akar dan bebatuan yang diraihnya. Edy bersama Pejuh, kala itu kebetulan berada tak jauh dari tempat Pak Agus jatuh. Mereka turun menyelamatkan Pak Agus dengan tali temali yang dibawanya.


Edy membopong Pak Agus sampai basecamp cibodas, sementara Pejuh berjalan turun terlebih dahulu menggantikan tugas Pak Agus untuk memandu dua tamunya turun kala itu.


.........


Alun-alun Surya Kencana. Minggu kedua Edy di Gunung Gede Pangrango.


Di Surya Kencana, teori relativitas waktu begitu bekerja. Rasanya baru saja ia dibangunkan kupu-kupu yang terbang tanpa rasa cemas di dalam tenda, mengajaknya keluar dan duduk di bebatuan di bawah pohon rindang, melihat kehidupan pagi, mengawini udara dingin bersama secangkir kopi panas, mengawini kehidupan hewan capung penanda kejernihan udara Surya Kencana, Bunga edelweis dan gemerlap kehijauan di pinggirnya, mengiringi matanya merekam pemandangan yang tenang di sebrang sana.


Usai di khianati Rara, di kota, Edy merasa semua orang menakutkan, tidak ada yang bisa di percaya. Di sini, di halaman surgawi yang dinamai alun-alun surya kencana, Suara angin, memekakan diri Edy tentang arti sederhana dan merdeka. Di sekitarannya,burung beterbangan menariknya untuk melompat ke dalamnya, biar luka larut dan naik ke langit di bawa panas matahari.


Edy pejamkan matanya, ia antarkan kedamaian ke jiwa, dan ketika ia membukanya kembali, sgalanya sudah merah memega. Senja tau-tau tiba, memeluk dia yang menolak untuk tergesa-gesa.


Sesekali ia bercanda pada apa-apa yang ia daulat menjadi kawan di Surya Kencana, bahwa duduk sembilan puluh menit di kelas sememuakkan kelas Bu Diah, adalah terasa jauh lebih panjang dari empat belas Pagi yang telah ia lewati sendiri.


Pagi Selanjutnya


Pak Agus yang memang rutin menyambangi Alun-alun Surya Kencana, untuk ke sekian kalinya kembali menghampiri tenda Edy. Ia datang membawakan biji-biji kopi dan beberapa bungkus Rokok titipan Edy.


"Nah, ini Edy ada yang ingin kenal kamu. Tamu saya, lokal, namanya Yasmine. Dari Jogja" kata Pak Agus sambil menunjuk jari ke arah tamu yang ia bawa.


"Yasmine" tamu Pak Agus menyalami Edy.


"Edy" kata Edy membalas salam Yasmine.


"Bawa berapa tamu pak?" kata Edy kepada Pak Agus.


"Cuman Yasmine ini" balas Pak Agus. "Yasudah ngobrol dulu deh mbak yaa, saya siapkan sarapan dulu" kata Pak Agus lagi sambil bergegas membuat perapian.


Yasmine baru sekali itu bertemu dengan Edy, hanya rasanya ia sudah mengenal Edy sangat dalam, mungkin karena Pak Agus. Bagaimana tidak, selama perjalanan bersama Pak Agus, dari cibodas ke basecamp, dari basecamp ke puncak, dari puncak ke Alun-alun Surya Kencana, Yasmine terus saja diceritakan tentang seluk beluk Edy. Tentu Pak Agus tidak akan melakukan itu jika Yasmine tidak antusias mendengarnya. Yasmine tertarik, dan karena itu lah ia ingin ikut bertemu Edy, seorang yang ia sebut, penjelajah patah hati.


"Patah hati?" kata Edy dengan wajah menahan tawa.


"Iya, patah hati pada kehidupan" balas Yasmine, "Sufi"


"Haha. Sufi? Ya nggak lah. Kalau kata orang bandung mah, da aku mah apa atuh" kata Edy sambil melepas tawa kecilnya.


"Kata Rumi, semua yang patah hati pada kehidupan adalah sufi" kata Yasmine sambil mengeluarkan buku dari tasnya.


"berperjalanan, suka baca buku...." Edy menimbang-nimbang sosok Yasmine.


Ketiganya tertawa kecil dengan pikirannya masing-masing. Dari cara Pak Agus menyambung, terlihat ia sedang mencoba menawarkan tamunya untuk dicintai Edy.


"Apalah arti kecantikan manusia di hadapan Surya Kencana ini" Yasmine menanggapi.


Pak Agus yang sibuk mengurusi perapian tidak mendengar tanggapan Yasmine. Sementara Edy masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Di hadapannya hadir seorang dengan karakter yang ia dambakan. Yasmine, perempuan yang dengan keputusannya berani menjelajah alam sendirian, telah berhasil menjadi tuan atas dirinya sendiri, menaklukan ketakutan, menghapus kemunafikan dari kecantikan wajahnya, memenuhi kepalanya dengan wawasan dan pengetahuan. Seorang perempuan ideal yang apabila Edy putuskan untuk mendapatkannya, dunia akan menyebut mereka berdua, sepasang yang melawan, benar-benar melawan.


"Kamu mikir apa?" kata Yasmine kepada Edy yang sejenak diam.


"Hah, gak ada"


"Mikir aku?" Yasmine menebak-nebak sambil bercanda. "Awas jangan mikir aku yang macam-macam" kata Yasmine lagi.


"Hah?" Edy bingung.


"Aku adalah apa yang kamu pikirkan"


"Kamu Adalah apa yang aku pikirkan" jawab Edy.


Pak Agus selesai dengan perapiannya. Edy dan Yasmine membantu menyiapkan bahan makanan dan bumbu untuk dimasak. Ketiganya menciptakan suasana yang orang kota biasanya menyebutnya dengan Quality Time.


...****************...


Pagi yang sama di Taman kampus


Rara membaca Catatan Edy :


Kalau negara gak bisa ngasih buku anak-anak pelosok, ayo kita yang kasih.


kalau negara gabisa merawat alam dan lingkungan, ayo kita yang rawat.


Kalau negara gabisa memelihara pedagang kecil, ayo kita yang pelihara.


Ayo rame rame lakukan yang tidak dilakukan negara. Ayo rame-rame gantikan peran negara, jangan berharap semuanya pada negara.


Sejak menghilangnya Edy, Rara menjadi pribadi yang gemar membaca. Bacaanya adalah catatan-catatan dari Blog sosmednya Edy yang sudah ia salin dan cetak sendiri agar bisa ia baca di mana-mana.


Rara merasa sangat bersalah. Telah ia cari Edy di mana-mana di luar kampus. Rara temui kawan-kawan Edy, ia datangi kosannya Edy, warung kopi kesukaan Edy, outlet Edy berjualan kaos, hingga ke sekolah informal binaan Edy. Semua tidak tau kemana perginya Edy. Mereka hanya meyakini bahwa Edy sedang berada di suatu tempat yang bukan kota,hanya, tidak ada yang tau dimana Edy berada.


Sesuatu yang menyinggung relung hati Edy sedang terjadi, dan Rara mempunyai andil besar dalam permasalahan itu, Rara menyadari itu. karena itulah ia mencari Edy. Secara natural, seiring usahanya mencari Edy, Rara telah selangkah lebih dalam mengenal Edy. Dari orang-orang yang mengenal Edy, Rara mendapatkan begitu banyak perspektif tentang Edy. Rara tau, ia telah salah menilai Edy.


Pagi menjelang siang itu, Rara duduk di kursi panjang yang dulu biasa Edy tempati. Kencing dan Pejuh lewat dari belakang, mereka menuju perpustakaan. Mereka sbenarnya sudah menyadari keberadaan Rara disana, namun Pejuh meminta Kencing untuk mengabaikan Rara. Pejuh yang tidak lain adalah teman Edy, merasa kesal dan sudah kehilangan respek pada apa yang telah Rara lakukan pada Edy.


Rara merasa seperti de javu. Beberapa hari sebelumnya, ia merasakan apa yang terjadi hari ini. Dimana Kencing dan Pejuh mendiamkannya seperti ini, di tempat yang sama dan posisi yang sama. Kencing dan Pejuh selalu lewat begitu saja seakan tidak ada Rara di sana.


Rara pun juga sama pengecutnya, tak ada satu katapun keluar dari bibirnya sebagai upaya untuk membuat Kencing Dan Pejuh berhenti dan menghampirinya.

__ADS_1


"Edyyyy" kata Rara sendirian saat Kencing dan Pejuh menghilang dari pandangannya.


Rara buka kembali catatan-catatan Edy di tangannya :


Kepadamu Angin Gede Pangrango.


tempat doa di lantunkan dari tenda dan bendera.


dimana harapan diterbangkan dari semangat yang pecah pecah.


yang diantarnya tubuh aduh dan peluh ke telinga para penjaga yang dipanggilnya tangan-tangan untuk berpegangan, mata-mata untuk saling memperhatikan, dan tubuh untuk jangan berjauhan.


Kepadamu Angin Gede Pangrango


barangkali kau lelah, ini aku yang tidak mudah lelah.


barangkali kau kesepian, ini aku, kesepian yang lainnya.


aku kehabisan tempat di kota sana.


Sertakan aku dalam silabusmu


tugaskan aku untuk mengibarkan, mengorbankan, menyebarkan, menebarkan, mendebarkan, mengaburkan


mungkin tugasku mengitari lembah mandalawangi, memuncak menyiuli para pejalan


meninggi membenahi taburan bintang


atau menukik membelai Alun-alun Surya Kencana dari dalam.


Angin Gede Pangrango, katakanlah


"Kemari kau manusia sisa-sisa"


aku akan tepat di antaramu,


kan ku hembuskan apa yang kupunya.



...****************...


"Edy, ini aku, Rara Novitri, sebuah kesepian yang lainnya" kata Rara lirih pada apa yang ia baca dengan mata berkaca-kaca.


Rara buka lagi lembaran catatan Edy berikutnya.


Individu itu.


khas, unik, satu.


Meski indah, matahari bukan apa-apa kalau jumlahnya ada seribu.


Kau, jadilah dirimu sendiri. Yang satu


Membaca catatan Edy tersebut, Rara buka kembali halaman-halaman pertama catatan Edy, ia ingat satu kutipan pembuka di blog sosmed Edy.


'Manusia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba waktu dimana ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri.'


Rara buka lagi catatan Edy yg lain.


Ada yang mencoba menasehatiku dalam dingiin peluk ini, "pulanglah sesekali kepada Bunda, Nak. Namun jangan singkirkan takdir bahwa tempat segala kenyataanmu ada pada kota. Jangan lari," katanya. Dan udara semakin dingin.


"Katamu, Ed. Tempat segala kenyataanmu ada pada kota," kata Rara sendirian lagi. "Maka pulanglah," katanya lagi.


Rara meletakkan kepalanya di atas meja, tepatnya diatas sebundel catatan tantang Edy yang selalu ia baca, matanya berkaca-kaca di dalamnya. Suara langkah orang-orang yang datang dan pergi berulang ia dengar, Rara seperti tak peduli.


Pejuh masih di dalam perpustakaan. Ia tidur. Kencing meninggalkannya dan keluar sendirian. Sesampainya Kencing di depan pintu perpustakaan, ia terdiam. Dilihatnya, Rara masih terduduk di tempat yang sama saat ia dan Pejuh berlalu mengabaikannya beberapa jam yang lalu.


Hatinya tersentuh seketika. Sekeras-kerasnya ia dibentuk oleh alam, Kencing tau betul bagaimana rasanya menjadi perempuan.


Di balik besarnya nama seorang Rara sebagai ketua HMJ dan mahasiswa dengan IPK 3,9 , Rara adalah seorang yang kesepian. Kencing mengetahui itu sejak mereka saling mengenal dekat saat Rara dirawat di rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Bahkan belakangan, berkali Kencing dihubungi Rara untuk minta ditemani dan mendengarkan curhatnya, namun Kencing mengabaikannya.


Pengabaian Kencing kepada Rara itu dilakukannya sebab ia merasa perlu menjaga respek pada Pejuh kekasihnya yang menolak percaya kepada apa kata Rara, Willy, dan kampus. Pejuh mengenal Edy, Pejuh merasa Edy tidak seperti apa yang telah dipersangkakan mereka di kasus kelas Bu Diah lalu.


Kencing kuatkan dirinya untuk berjalan melewati Rara. Jantungnya degdegan kencang, ia tidak berani melirik Rara sedikitpun. Ia berusaha keras menolak merasakan apa yang dirasakan Rara.


Satu, dua, tiga langkah, Kencing berhasil lewat dan membelakangi Rara. Merasa aman, Kencing hentikan langkahnya sejenak, ia elus dadanya guna meredakan degup jantungnya, ia hembuskan nafas kelegaannya. Hanya, sebelum bergegas melanjutkan langkah, ia dengar suara langkah dan dedaunan kering yang terinjak, seorang tengah berdiri dan menatapnya dari belakang.


"Edy bersama orang-orang yang melawan" Rara bersuara.


"Tidakkah kau bersamaku, Cing?" katanya lagi.


Kencing membalikkan badan perlahan. ia tetap belum mengeluarkan kata. Ia masih mencari apa.


"Aku akan mengundurkan diri dari ketua HMJ. Aku tidak peduli pada jabatan, beasiswa, atau angka-angka. Jika menurutku sesuatu itu benar, maka aku akan berkata benar. Jika menurutku sesuatu itu salah, maka aku akan berkata salah." kata Rara lagi.


Mata Kencing membelalak usai mendengarnya.


"Akan aku tebus kesalahanku. Aku akan melawan. Dan setelah semua itu, Cing...." Rara menahan kalimatnya. Ia melangkah mendekati Kencing. "Tidakkah engkau bersamaku?" Rara mengulangi kata-katanya.


Kencing membuka tubuhnya dan membiarlan Rara menghaburkan pelukannya ke sana. Pecah juga kedua tangis perempuan itu di taman sana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2